∞CHEF∞ #Chapter 7 #END

∞Tittle      : ∞CHEF

∞Author  : Jung Yoojin

∞Cast       : -Kim Myungsoo  -Lee SungJong, others

         

∞Genre    : bromance, love,  friendship, work life,

∞Rate       : T+ (For bad Language)

∞Disc        : Their self but this fict is mine,

∞Warning :  boyslove, typos, don’t like don’t read.

                   Please no silent reader :’3

*

 

*

 

-Beberapa jam sebelumnya-

 

Woohyun masih bertahan di depan restauant tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Myungsoo diculik di hadapan dirinya tanpa bisa ia cegah. Dan jika sesutu yang buruk terjadi pada Myungsoo dia akan sangat merasa bersalah. Woohyun terus memutar otaknya apa sebaiknya yang harus dia lakukan. Apakah lapor polisi adalah yang tepat? Namun bagaimana jika…ahh tidak ada jalan lain.

Tepat saat Woohyun hendak melangkah masuk ke dalam restaurant, seorang pemuda bertubuh lebih tinggi darinya dan memakai setelan jas menghampiri. Woohyun langsung bisa mengenalinya. “Lee Sungyeol-ssi, annyeong haseyoo….” Sapanya.

“Ahh ya Nam Woohyun-ssi…” wajah Sungyeol terlihat lelah sekali. Mungkin ini untuk kedua kalinya Woohyun bertemu dengan Sungyeol secara langsung, karena namja itu memang jarang ke restaurant ini.

“Apakah Myungsoo masih ada di dalam? Aku harus menemuinya…”

Woohyun tercekat. “Baru saja…aku dan dia tadi disini membicarakan sesutu dan tiba-tiba ada beberapa orang datang dan memaksanya untuk ikut mereka, aku yakin Myungsoo sedang di culik!”

“Ahh seperti itu…” anehnya tidak ada raut cemas dari wajah Sungyeol, Woohyun semakin tidak sabar. “Apa yang harus kita lakukan??? Tidak mungkin kan kita melaporkan ke polisi, maksudku mereka terlihat seperti….”

“Tidak perlu, Myungsoo sudah merencanakannya…”

Sepasang bola mata Woohyun membulat. Tiba-tiba perasaannya jadi buruk, bukan mencemaskan Myungsoo namun hal yang lain. Dia memberanikan diri untuk bertanya kepada Sungyeol. “Apakah ini ada hubungannya dengan….Choi Minho…??”

“Hmm? Kau mengetahuinya?” Sungyeol bertanya. Woohyun segera berkelit. “Yaahh Myungsoo sedikit bercerita padaku tentang perbuatan yang dilakukan Minho terhadapnya…”

Sungyeol mengangguk-angguk. Ada kilatan tak suka setiap nama Minho disebut. “Kuharap kali ini kami bisa menangkapnya….” Gumamnya.

“Maaf.. kami?? Kami siapa?”

“Myungsoo, aku, SungJongie, dan Hoya hyung tentu saja,dua keluarga yang ditindas oleh Minho dan juga keluarganya…” tanpa perlu di tanya langsung, Sungyeol bercerita begitu saja. Seolah dirinya benar-benar sudah lelah dengan semua hal yang disebabkan oleh Minho.

Bohong jika Woohyun tidak terkejut mendengar cerita itu.Dia sangat mengenal Minho dan juga aboejinya, dia juga tahu watak dan sikap mereka. Namun dia tidak menyangka separah yang diceritakan Sungyeol. Minho pasti mewarisi banyak semua yang ditinggalkan oleh aboejinya termasuk semua harta dan apapun yang di lakukan oleh nya pada Minho.

“Lalu…Minho akan masuk penjara..?” tanyanya hati-hati.

Sungyeol menarik nafas gusar. “Setelah apa yang dia lakukan penjara sepertinya masih terlalu ringan untuknya, ahh bahkan dia membuat Hoya hyung terluka…” sahutnya, Sungyeol terlalu sibuk memikirkan Minho sehingga dia tidak menyadari Woohyun yang berubah pucat. Namja itu segera meminta izin pada Sungyeol untun segera pergi dari sana.

Woohyun bingung, Minho dan Myungsoo adalah sahabatnya. Dan juga dia sudah berjanji pada SungJong untuk membantunya dalam hal apapun, namun dia tidak menyangka jika mereka semua saling terhubung satu dengan yang lain. Minho memang harus berubah, namun jika harus di penjara…kasihan Minho, dia tidak bisa sendirian, namja itu sebenarnya rapuh.

“Kau bingung, sedari tadi kuperhatikan….” Woohyun menengok, dan mendapati Sunggyu sudah berdiri di depannya. Ohh, demi apapun, Woohyun butuh seseorang untuk berkeluh kesah sekarang. “Kau bisa bercerita padaku…”

Tangan hangat itu menyentuh jemari Woohyun dan menggenggamnya, tatapan matanya terlihat tulus. Untuk sesaat Woohyun merasa pedih dalam hatinya, sejak dulu Sunggyu selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah, termasuk saat dirinya masih berpacaran dengan Kibum. Woohyun kemudian membalas genggaman hangat itu dan tersenyum.  “Aku hanya merindukan masakanmu, kkaja kita membuat sesuatu dari sisa bahan tadi…”

“Oh…?” Woohyun tidak membiarkan Sunggyu untuk tercengang, dirinya segera menarik namja itu untu pergi dari sana. Setelah ini mungkin dia harus segera meminta penjelasan pada Minho. Jika kali ini dia tidak bertindak, bukan tidak mungkin sahabatnya itu akan masuk ke dalam penjara.

 

***

Berbeda hal-nya dengan Hoya, namja itu tidak bisa untuk diam dan menunggu. Lukanya sudah tidak terasa sakit atau lebih tepatnya dia memaksa untuk tidak merasakan sakit pada lukanya. Mana bisa dia tenang sementara dongsaengnya ada pada seseorang yang selama ini mengganggu kehidupannya. Hoya tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi.

“Siapkan mobil, aku harus ke kantor sekarang!” ucap Hoya pada sang driver. Ada banyak sekali yang harus ia kerjakan daripada berdiam diri dan menunggu. Sebuah mobil hitam mulus terlihat memasuki gerbang rumahnya dan berhenti disana. Dari dalam mobil itu terlihat seseorang yang keluar, terkejut melihat Hoya yang terlihat akan pergi. Dia berlari menghampiri. Sementara mobilnya ia biarkan terparkir disana.

“Kau akan pergi? Andwae! Lee sajangnim akan kemari nanti, kau tidak boleh kemanapun, dan lagian Sungyeol mengatakan kalau kau terluka…” ucap namja yang tidak lebih tinggi dari Hoya tersebut.

Hoya mengacuhkan. Dia sudah bosan dilarang-larang seperti ini. dan lagian dia hanya pergi ke kantor, tidak untuk menemui Choi Minho. “Sudahlah, aku tidak bisa diam saja disini sementara di luar sana mungkin dongsaengku sedang dalam bahaya…”

“Tidak, Lee sajangnim akan membantumu, kau harus menunggunya, dan lagi dongsaengmu itu sudah mempunyai rencana, kau harus menunggu sebentar saja..” bujuk namja itu lagi, Jang Dongwoo, sekretaris Paman-nya.

“Paman tidak perlu membantuku, ini sudah terlambat, jika Paman ingin membantuku seharusnya sudah dari dulu dia melakukannya, tanpa harus menunggu semuanya telambat…”

Tatapan Dongwoo melunak, dia kemudian menarik Hoya untuk duduk di kursi di belakang mereka. “Jangan merusak rencana yang sudah disusun donngsaengmu…” ucapnya. “Saat ini Sungyeol sedang mencoba untuk mendapatkan pengakuan dari jaksa jika surat yang sudah ditanda tangani Minho itu bisa digunakan, aku yakin sebentar lagi aka berhasil, dan jika seperti itu maka kalian bisa menuntut Minho dan mengirimnya ke penjara, kau hanya harus menunggu sebentar saja…”

Hoya menarik nafas panjang, jika memang semua itu benar tentu saja dia harus membantunya. Ada banyak sekali bukti kecurrangan Minho yang selama ini ia kumpulkan, jika semua itu dibawa sebagai bukti mungkin akan cukup kuat untuk menyeretnya ke penjara. “Baiklah, aku akan memberikan bukti tambahan pada Sungyeol yang sudah aku kumpulkan selama ini….”

*

*

 

 

 

SungJong mengerjabkan mata beberapa kali ketika mendengar suara yang sedikit berisik. Dia masih mengantuk namun tempat tidur ini tidak nyaman. Ketika dia membuka mata, dia menyadari bahwa tempat ia tidur ini bukanlah kamarnya. SungJong teringat semua apa yang terjadi. Namja itu kemudian bangkit, menengok ke sisi kiri.

Di dekat jendela Myungsoo terlihat sedih mengarahkan ponselnya ke sisi atas jendela, terlihat disibuk sekali. Entah apa yang sedang dilakukan kekasihnya itu. Yang pasti saat ini mereka berdua masih berada di tempat Minho. “Kau sedang apa?” SungJong mendekat.

Myungsoo menengok sebentar. “Hey baby, kau sudah bangun…” sapanya, lalu dia naik ke sisi jendela dan kembali mengarahkan ponselnya ke atas. SungJong menyipitkan matanya tak mengerti, dia ini sedang mencari jaringan atau apa. “Kapan kita keluar dari sini? Aku sudah bosan…”

“Sabarlah baby, aku malah lebih sering bisa menyentuhmu saat kita dikurung disini…” Myungsoo tersenyum licik.

“YAA!!! Sudah kubilang jangan memulainya lagi, jika Minho tahu mungkin dia akan lebih marah lagi…”

“Salah dia sendiri mengurung kita disini…Yeees dapat!”

Myungsoo menurunkan ponselnya kemudian mengetikkan sesuatu disana, wajahnya terlihat puas. Setelah itu dia melompat turun ke hadapan SungJong. Dia tersenyum kemudian menarik SungJong dan mengecupnya. “Kita akan segera keluar dari sini dan menyeret Minho ke penjara…”

“Bagaimana bisa? Apakah kau sudah berhasil memberitahu Sungyeol hyung dimana kita berada?”

“Selama dalam perjalanan kemari mataku tertutup sehingga aku tidak tahu dimana ini, aku juga sudah mencoba untuk memberitahu mereka tapi disini sama sekali tidak ada jaringan, tapi aku sudah mengaktifkan alat pelacak diponselku dengan susah payah, kuharap Sungyeol-ssi bisa menemukan kita…”

SungJong tersenyum kemudian mengusap pipi Myungsoo lembut. “Aigoo, kau sudah berbuat banyak…aku harap kita bisa segera keluar dari sini..”

“Lalu…apa yang akan kau berikan padaku hmm…??” tanya Myungsoo sembari mendekatkan wajahnya, hidungnya mulai bersentuhan lembut dengan hidung SungJong.

“Apapun untukmu…”

Myungsoo menarik pinggang SungJong kemudian mencium bibirnya. Tidak seperti sebelumnya, kali ini SungJong membalas kecupan itu dengan senang, dan Myungsoo sangat menyukai ini. Bibir SungJong adalah sesuatu yang membuatnya selalu gila olehnya. Namja ini…dia sangat mencintainya.

Pintu terbuka dengan perlahan, jika tidak ada suara yang terdengar mungkin baik Myungsoo maupun SungJong masih berciuman dengan panas disana. Namun tautan itu terlepas karena merasa ada seseorang yang masuk. Benar saja, Minho yang datang dari balik pintu sana sembari bersedekap tangan. Matanya seperti biasa menyorotkan tatapan tajam yang menusuk. “Sudah selesai…?” ucapnya.

Myungsoo menggenggam tangan SungJong. “Aku harus mengucapkan banyak terima kasih padamu sajangnim, karena jika kau tidak mengurung kami..mungkin Hoya hyung tidak akan pernah membiarkan kami bermesraan seperti ini…” ucap Myungsoo santai lalu mendekap pinggang SungJong dengan mesra. Hal ini sedikit membuat SungJong merasa tak nyaman.

“Kau benar-benar tidak tahu malu…”

“Benar sekali dan aku tidak berniat untuk menjaga sikapku ketika ada dirimu sajangnim…”

Minho mendengus tampak kesal. “Tunggulah sebentar lagi, tunggu hingga aku berhasil mendapatkan kembali dokumen itu, kalian akan mendapatkan sesuatu yang lebih mengerikan…”

 

“Ohh itu mengerikan sekali…” Myungsoo berpura-pura bergidik ngeri. Minho tidak menyahut, dirinya segera berbalik dan pergi dari sana. Mengunci kembali pintunya dengan rapat. Myungsoo hanya tersenyum melihatnya, kemudian dia menghadapkan kembali tubuh SungJong lalu mengecup bibirnya.

SungJong mendorong dadanya pelan. “Sudah kubilang jangan memprovokasinya, jika dia menyeretku dan mengenggelamkanku di kolam renangnya aku mungkin tidak akan selamat…”

“Selama ada aku, dia tidak akan bisa menyentuhmu baby…OHH!” Myungsoo terlonjak dan melihat ponselnya. “Dapat balasan! Mereka mendapatkan pesanku baby!”

“Maksudnya..?”

Myungsoo tersenyum puas. “Aku yakin Sungyeol-ssi dan yang lainnya akan segera mengetahui lokasi rumah ini baby…dan sementara itu kita harus melakukan sesuatu…tapi….” Ucapan Myungsoo terhenti, udara tiba-tiba menjadi panas, pendingin ruangan mati, oksigen seolah menghilang dari tempat itu. Suasana yang terang tiba-tiba berubah gelap. “Apa yang terjadi…???” ucap SungJong panik.

Myungsoo tidak tersenyum, kali ini dia merasa sesuatu yang salah telah terjadi. “Minho mungkin……memblokir kamar ini dan tidak mengizinkan kita mendapatkan udara untuk bernafas…”

“APAA?”

***

***

 

 

Jinri sudah pulang sejak dua jam lalu dan langsung ke kamar, dia tidak berbicara sama sekali dengan Minho. Minho tahu jika Jinri sudah mendengar semua yang terjadi, termasuk tentang dirinya yang membuat Hoya terluka. Minho bisa menebak jika dongsaengnya itu marah padanya. Namun Minho tidak ingin memperpanjangnya. Baginya terus menekan mereka untuk mengembalikan dokumen itu adalah yang terpenting.

Minho bahkan sudah menyelesaikan video ancaman pada Sungyeol dan Hoya. Dia yakin sebentar lagi tujuannya akan tercapai. Ponselnya sekali lagi berdering, dia berharap Hoya yang menghubunginya, namun ketika melihat tulisan tertera di layarnya dia menarik nafas kecewa. Dan dengan malas dia menjawabnya.

“Hmm….??” Dari seberang sana Minho dapat mendengar suara nyaring yang menanyainya macam-macam, namun Minho sepertinya sedang malas menanggapinya. “Aku sedang sibuk Kibum-ah…” jawabnya singkat. Namun jawaban itu sepertinya tidak membuat seseorang di seberang sana puas. Minho berkali-kali menghembuskan nafasnya pelan. “Nanti malam aku akan kesana, sekarang aku harus bekerja dulu…”

Cara yang terbaik bagi Minho untuk memutuskan pembicaraan adalah dengan ucapan itu. Walaupun dia tidak yakin nanti malam dia bisa memenuhi ucapan itu, karena banyak sekali yang harus dikerjakan dari pada sekedar menemani kekasihnya menghabiskan malam. Namun Minho juga sebenarnya mempunyai perasaan rindu akan sesuatu saat melihat Myungsoo dan SungJong bermesraan tadi.

Seorang pengawal nampak datang dan memberi hormat pada Minho, Minho terlihat sudah menunggunya sejak tadi. “Bagaimana?” tanyanya singkat.

“Lee Sungyeol-ssi tidak ada tanda-tanda cemas atau bagaimanapun….” Ucapnya dengan takut-takut. “Sementara Lee Hoya-ssi masih tidak bergerak, sepertinya dia mengerjakan semuanya dari dalam rumah….”

Jemari Minho mengepal erat, dan  sang pengawal tahu bahwa ini pertanda tidak baik. Benar saja, sedetik dia berpikir seperti itu, sebuah asbak melayang ke arahnya dan tepat mengenai pelipisnya. Dan sang pengawal itu sedikt terhuyung, namun dengan cepat dia kembali berdiri tegap. “Jeosohamnida…”

“KELUAR DAN CARI CARA BAGAIMANA AGAR LEE SUNGYEOL ITU MENYERAH!!!” Minho membentak.

“B-baik…” tanpa disuruh lagi pengawal itu segera pergi dari sana.

Minho benar-benar kesal, dia tidak tahu kapan terakhir kali dia merasa tenang. Sepertinya para pengawal yang sudah ia bayar mahal tidak ada yang bisa bekerja sesuai dengan keinginannya. Dia harus mulai merekrut orang-orang baru.

“Choi Minho!!!!”

Satu lagi, Minho harus menahan emosinya, sepertinya hari ini banyak sekali yang membuat dirinya kesal. Woohyun yang biasa keluar masuk ke tempatnya terlihat kembali datang,yaah wajar saja karena sudah beberapa waktu ini Minho mengabaikannya.

“Minho-ya…”

“Ada apa…?”

Woohyun mendekat dan menatap Minho lekat, sungguh dia tidak tahu bagaimana untuk memulainya, namun yang pasti dia harus menyelesaikannya. Dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Myungsoo. “Minho-ya…kau…kau sembunyikan dimana Myungsoo…??”

“Apa…?” tentu saja Minho sedikit kaget karena Woohyun menyinggungnya, dia tidak pernah bercerita apapun tentang Myungsoo, dan lagi Woohyun tidak pernah mencampuri urusan bisnisnya selama ini.

“Katakan padaku Minho-ya, kau yang menculik Myungsoo kemarin, dimana sekarang dia? Kuharap kau segera melepaskannya…”

Minho jelas tidak menyukai ini, dia menegapkan badannya dan menatap Woohyun. “Dari mana kau mengetahuinya…?”

“Myungsoo adalah rekan kerjaku, kami sudah berteman sangat lama Minho-ya, dan para pengawalmu itu menculik Myungsoo tepat di depanku…” jelas Woohyun. Dia berharap Minho masih mau mendengarnya sebagai sahabatnya.

Namun Minho terlihat tersenyum kemudian bersedekap tangan. “Jadi maksudmu…kau akan memihak temanmu itu Woohyun-ah…?”

“Tidak, aku tidak memihaknya, kau tahu aku selalu berada disisimu, namun kau harus tahu aku tidak akan membiarkan kau melakukan sebuah kejahatan…”

“Kau tidak perlu menasehatiku!!”

“Aku harus Minho-ya!!!” bentak Woohyun. “Tidak tahukah kau apa yang sedang direncanakan oleh Lee Sungyeol di luar sana? Kau bisa masuk penjara, kau bisa terkena hukuman berat Minho-ya!!” jelas Woohyun dengan emosional. “Dengar!  Aku sudah tahu apa yang kau dan aboeji mu lakukan pada keluarga Myungsoo dan juga Sungyeol, aku benar-benar tidak menyangka kau begitu tega, namun itu sudah berlalu aku tidak ingin kau jatuh semakin jauh, berhentilah jebal!”

Minho adalah tipe seseorang yang susah untuk mendengarkan orang lain, dia sama sekali tidak menganggap ucapan Woohyun itu adalah penting. Terlebih lagi Woohyun menasehatinya tentang dunia bisnisnya. Bagi Minho, Woohyun tidak tahu apapun tentang bisnis, karena Woohyun tidak pernah tertarik.

“Apakah…..mereka ada di tempat ini?” tanya Woohyun sekali lagi, matanya melihat kesekeliling berharap menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menyelamatkan Myungsoo. Tiba-tiba namja itu tersentak. “Mungkinkah…. Seseorang yang kau tenggelamkan kemarin adalah Lee SungJong???”

Tarikan nafas kesal mulai dilakukan oleh Minho, Woohyun mulai menyebalkan. Dan dia tidak mau memperpanjangnya. “Sudahlah, kau pulang saja, apa yang aku lakukan tidak ada hubungannya denganmu, Kim Myungsoo dan Lee SungJong adalah urusanku!” tegasnya, dia kemudian berdiri dan berbalik pergi, namun dengan cepat Woohyun mencengkeram lengannya.

“Tidak Minho-ya!! Ini demi kebaikanmu….”

“DEMI KEBAIKANMU ATAU KAU INGIN MEMBANTU TEMAN BARUMU ITU HAH???” Minho membentak dengan tatapan tajamnya, hal ini tentu saja membuat Woohyun tersentak, Minho tidak pernah membentaknya seperti ini sebelumnya. “Minho-ya…”

“Jika temanmu itu lebih penting, kau tidak perlu untuk mencemaskanku! Dari awal aku memang sudah sendiri, tidak pernah mempunyai teman, dan silahkan saja jika kau ingin membantu Kim Myungsoo itu!!” Minho tersenyum sinis.

Woohyun menggelengkan kepalanya beberapa kali. Bukan ini yang dia maksudkan, dibandingkan Myungsoo, tentu Woohyun tetap akan selalu berada disisi Minho sebagai sahabatnya, namun perbuatan Minho yang salah juga tidak bisa ia benarkan. “Jika kau melakukannya, kau akan kehilangan semuanya, segalanya setelah semua usaha keras aboejimu!!”

“Aku tidak peduli, aku bisa membangunnya lagi!! Sangat mudah bagiku untuk mendapatkan uang!” ucap Minho angkuh.

“Tidak dengan cara menindas orang lain, dan jika kau masuk penjara kau tidak akan pernah bisa melakukannya…”

Lagi-lagi Minho tersenyum meremehkan. “Itu tidak akan terjadi, aku sudah memiliki banyak cara untuk jauh dari penjara sialan itu! Dan aku tidak peduli jika aku mati!!”

“Lalu bagaimana dengan Jinri? Dia akan sendirian, apakah menurutmu dia akan baik-baik saja jika sesuatu yang buruk terjadi padamu hah???” balas Woohyun lagi. “Kumohon Minho-ya, jika kau mau berhenti aku bersumpah aku akan membantu mu meringankan hukumanmu! Kau bisa memulainya dari awal, dengan sikap yang lebih baik lagi..”

“Kenapa aku harus melakukannya??” tantang Minho. “Jika terjadi sesuatu denganku masih ada kau yang bisa merawat Jinri, bukan kah kau bilang kau temanku hah??”

Woohyun benar-benar tak percaya dengan ucapan itu. Bahkan Minho sama sekali tidak peduli dengan dongsaengnya sendiri. “Minho-ya…” ucapnya dengan nada yang lunak. “Aku tidak apa-apa jika memang harus merawat Jinri, tapi bagaimana dengan….Kibum?” tanyanya menatap Minho sayu. Harus diakui, bahwa Minho sedikit tersentak dengan ucapan itu, raut wajahnya berubah, namun dengan cepat ia bisa kembali angkuh.

“Bagaimana dengan Kibum? Apa yang akan terjadi padanya jika kau sampai di penjara dan terluka??” tambahnya lagi. “Jika kau tidak peduli dengan semua orang termasuk terhadapku, sahabatmu sendiri, setidaknya pikirkan Kibum..apakah kau juga akan meninggalkannya..?”

Minho tak menjawab, namun dia juga tidak lepas menatap Woohyun dengan tatapan tajamnya. Dan Woohyun bisa menggunakan ini untuk membujuk Minho. “Apakah kau juga akan menyuruhku untuk…menemani Key…??”

“Apa??” jelas sekali sorotan itu sorot kemarahan.

Woohyun tersenyum. “Jika seperti itu aku akan senang sekali, karena sejak awal aku sangat mencintainya, jika kau masuk penjara…kau akan mengembalikannya padaku lagi kan..? kurasa Kibum juga masih…..”

Ucapan Woohyun terhenti saat Minho tiba-tiba menarik kerah baju nya dengan kasar. “JANGAN COBA-COBA MENDEKATINYA!!!!” bentaknya. “Dia milikku, hanya milikku!! Dan aku tidak akan membiarkan kau menyentuhnya!!”

“KALAU BEGITU BUKTIKAN!!!” bentakan Woohyun tidak kalah keras. “Kau pikir kenapa waktu itu aku mengalah padamu tentang Kibum hah? Karena aku tahu kalian saling mencintai, dan jika terjadi sesuatu terhadapmu apakah Kibum akan baik-baik saja??? Tidak! Aku pun tidak akan pernah bisa menggantikan mu!!”

Minho tak membalas, hanya saja nafasnya naik turun menandakan amarahnya belum mereda, namun sesaat kemudian dia melepaskan kerah Woohyun. Tatapan Woohyun pun melunak. “Maka dari itu bebaskan mereka berdua Minho-ya, minta maaflah pada Hoya-ssi, kembalikan apa yang menjadi hak mereka!”

Tangan Woohyun kemudian bergerak dan menyambar tangan Minho. “Kkaja, bebaskan mereka lalu serahkan dirimu, aku bersedia membantumu Minho-ya, aku temanmu….”

Tanpa di duga Minho menyentakkan tangan Woohyun dengan kasar, ini membuat Woohyun terkejut. Minho memang kasar secara ucapan namun dia tidak pernah kasar secara fisik padanya. “Kau pikir aku tidak bisa mengatasinya sendiri hah…????”

“Aku tahu!!!!” Woohyun membentak. “Aku sangat tahu kau bisa mengatasi semuanya, namun caramu tidak bisa kubenarkan, Minho-ya jebal!!”

“PERGI!!!!!!” Woohyun kembali terdorong ke belakang.

Belum sempat mereka meneruskan percakapan, tiba-tiba gemuruh langkah kaki terdengar memasuki rumah itu. Mata buat Minho terlihat lebih memancarkan amarah luar biasa. Sekitar sepuluh orang berpakaian polisi mengepung dirinya dan juga Woohyun, menodongkan pistol dengan tepat ke arah mereka.

“Choi Minho-ssi, menyerah dengan baik-baik atau dengan paksaan….??”

Seorang berpakaian rapi memakai setelan jas serta penuh wibawa datang dari balik sana. Di temani seorang namja bertubuh tinggi. “Choi Minho-ssi! Aku datang dari Kejaksaan Seoul, Lee Jinki Imnida, setelah menindaklanjuti apa yang sudah dilaporkan oleh Lee Hoya-ssi dan Lee Sungyeol-ssi maka kami harus membawamu untuk mendalami kasus ini…” namja itu menunjukkan secarik kertas yang semua orang tahu itu adalah surat penangkapan….”

“Kau juga akan ditahan atas tuduhan penggelapan uang, pemalsuan dokumen, penyuapan saksi atas kasus Kim Jong Woon….”

Untuk sesaat Minho terkejut, namun kemudian dia tertawa. “Kalian ingin menangkapku???”

“Dasar sinting!!” Sungyeol yang berada di samping Jaksa itu mulai geram. “Kau juga akan dihukum karena penculikan dongsaengku!!!!”

“Kalian semua tangkap dia!!!”

Beberapa polisi bergerak mendekati Minho. Namun dengan gerakan yang cepat sekali Minho menarik sesuatu dari balik saku jas-nya, kemudian dia mendekati Woohyun. “MAJU SELANGKAH LALU AKU AKAN MELEDAKKAN KEPALA ORANG INI!!!” bentaknya, dia mengarahkan pistol yang selalu ia bawa kemana-mana itu ke arah kepala Woohyun. Tentu saja Jaksa Lee mengisyaratkan semua untuk berhenti.

“Minho-ya…ini tidak akan berhasil…” ucap Woohyun tanpa merasa takut sedikitpun. “Menyerahlah, kau bisa terluka nanti!”

“DIAM!!! KAU PIKIR AKU TIDAK BISA MEMBUNUHMU HAH????” Minho kalut dan semakin marah. “Dan sebaiknya jika kalian tidak ingin melihat dia mati, kalian minggir!!” dia menarik Woohyun dan perlahan melangkah keluar dari kepungan polisi. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, karena Minho bisa saja melukai Woohyun.

Sungyeol tersentak ketika melihat sebuah kamar yang berada tidak jauh dari sana, dia mengecek ponselnya lagi. “Lee SungJong!!!”

***

BRAAAK!! Setelah beberapa kali percobaan akhirnya para polisi itu bisa mendobrak masuk kamar yang ditunjuk Sungyeol tadi. Sungyeol segera berhambur masuk, nafasnya seketika tercekat. Ruangan ini benar-benar parah, pengap dan sangat panas, mustahil bisa bertahan bernafas lebih dari ini.

“SungJong-ah!!!” dirinya terpekik begitu melihat dua orang disana dengan keadaan lemas. Myungsoo mungkin sedikit lebih baik, karena dia masih mencoba untuk membuat SungJong tetap bertahan. Sungyeol segera menghancurkan pemblokiran pada pendingin di ruangan itu.

“Kalian berdua tidak apa-apa??”

“Aku tidak apa-apa, tapi SungJongie…” Myungsoo kemudian mengangkat tubuh SungJong ke pangkuannya, kemudian menepuk-nepuk pipinya. “Baby bangunlah, kau bisa mendengarku…?”

Bibir SungJong hanya bergerak-gerak namun tidak keluar suara. Myungsoo mengusapnya perlahan. “Dia akan baik-baik saja! Bagaimana Minho?”

“Entahlah dia menyendera Woohyun, polisi masih berusaha untuk membebaskannya….”

“Jangan cemas,Minho tidak akan melukai sahabatnya sendiri…” gumam Myungsoo. “Baby…bangunlah!” ucap Myungsoo sekali lagi. Kelopak mata SungJong mulai bergerak, dan membuka dengan perlahan, udara bersih rupanya sudah bisa membuatnya sedikit lebih baik.

“Ohh hyung…Sungyeol hyung kau datang…” ucapnya sembari bangun, Myungsoo membantunya dan segera merangkulnya dengan sayang.

Sungyeol tersenyum kemudian berdiri. “Baguslah jika tidak ada yang terluka, aku harus keluar dulu, memastikan namja itu tertangkap…” ucapnya dan pergi.

“Waah tadi itu menyeramkan sekali, aku bahkan tidak bisa bernafas dengan baik, bagaimana kau bisa bertahan dengan udara seperti itu..??” tanya SungJong sembari merapikan rambut Myungsoo yang sedikit berantakan.

“Aku sudah sering berada di tempat dengan udara yang kotor, di apartement ku malah lebih parah, aku sudah hidup miskin selama lima tahun baby…”

Hati SungJong sedikit trenyuh. “Mianhae….itu semua karena aboeji…”

“Tidak, kau tidak perlu meminta maaf baby…” ucap Myungsoo membelai lembut kepala SungJong lalu mengecup keningnya. “Kita semua tahu, Minho dan aboejinya dibalik semua itu baby…”

“Tapi jika aboeji tidak memberikan kesaksian palsu itu….”

“Sudahlah, tidak ada yang perlu disalahkan…”

Myungsoo menangkupkan pipi SungJong dan menatap bola matanya. Namja itu tersenyum, saat ini hampir mendekati akhir. Jika Minho berhasil ditangkap mereka semua bisa memulai hidup dengan baik. Myungsoo kemudian menarik wajah SungJong dan mengecup bibirnya. Bibir namja itu sedikit dingin karena suhu ruangan yang sudah dikembalikan seperti semula oleh Sungyeol tadi. Namun Myungsoo tetap menyukai bibir yang manis dan nikmat itu.

Letusan pistol terdengar beberapa kali membuat Myungsoo dan SungJong terkejut. “Apa yang terjadi…???”

“Woohyun hyung??? Kkaja!!”

Myungsoo menyambar tangan SungJong kemudian berlari keluar. Tidak hanya dua tembakan saja yang terdengar, namun beberapa kali lebih dari tujuh kali, dan SungJong takut jika Sungyeol terluka.

 

Suasana di luar benar-benar ramai, beberapa polisi masuk ke dalam mobil dengan cepat dan mengejar sebuah mobil putih yang sudah melesat jauh disana. Dan yang membuat sangat kaget adalah darah yang berceceran dimana-mana, sedangkan Woohyun terjatuh disana.

“Woohyun-hyung!!!” Myungsoo segera berhambur menghampiri. “Kau tidak apa-apa?? Dimana yang terluka???” dia bertambah panik ketika melihat darah disekitar pakaian Woohyun

Woohyun menggeleng. “Tidak, ini bukan darahku….ini darah Minho, dia-dia terluka…” ucapnya dengan tangan gemetar.

“Gwanchana, ambulans akan segera datang! dan Minho tidak akan bisa lari jauh!” Sungyeol menyahut.

“Ini salahku….salahku Minho terluka…h-harusnya aku bisa menenangkannya, harusnya aku bisa…Minho-ya,….jebal jangan melukai Minho lagi!!” raung Woohyun.

Myungsoo mendekat dan menenangkan Woohyun. Dari darah yang tercecer disana luka Minho cukup serius, sangat luar biasa jika dia bisa berlari kabur dari kejaran mereka.

“YAA!! LEPASKAN!!! DIMANA OPPA???”

Dari dalam terlihat Jinri yang harus di paksa beberapa polisi wanita untuk ikut. Yeoja itu nampaknya sangat tidak suka dengan paksaan. Ketika melewati SungJong, dia berhenti dan menatapnya penuh benci. Namun tatapan SungJong hanya melunak, entah kenapa dia merasa kasihan. “KAU!! KAU AKAN MENYESAL TELAH MELAKUKAN INI!!!” teriaknya histeris.

“Sebaiknya kau berdoa agar kau dan oppa mu bisa mendapatkan hukuman yang ringan meskipun itu mustahil!”

Jinri tidak bisa membalas lagi karena polisi wanita itu segera menariknya untuk masuk ke dalam mobil. Jinri mungkin akan mendapatkan hukuman, namun tidak seberat Minho. Suara ambulans mulai terdengar, dan tiba-tiba saja rumah Minho yang semula sunyi dan sepi itu menjadi ramai.

***

***

 

 

 

 

Sungyeol menutup ponselnya dan menarik nafas panjang. Dia pikir setelah ini dia akan bisa tenang namun sepertinya masih banyak sekali yang harus di selesaikan.

“Bagaimana? Polisi sudah menemukan Minho?” tanya Hoya penasaran. Sungyeol mengeleng pelan. “Masih belum, polisi kehilangan jejaknya! Tidak ada cctv di jalanan tempat ia melarikan diri…”

Hoya menghembuskan nafas pelan. Saat ini dirinya dan juga Sungyeol berada di rumah sakit, memang tidak ada yang terluka, namun Myungsoo serta SungJong harus sedikit mendapatkan perawatan karena siksaan yang Minho berikan. Woohyun juga harus istirahat di rumah sakit karena terguncang., bahunya terkena luka yang tidak terlalu parah.

“Lhooh, kalian kenapa kemari??” tegur Sungyeol. Myungsoo dan SungJong terlihat berjalan mendekati mereka. Dua orang itu sudah terlihat lebih baik, meskipun SungJong masih sedikit agak pucat.

“Bagaimana Woohyun hyung? Apakah dia sudah lebih baik?” tanya Myungsoo. “Kudengar dia sudah ditemani Sunggyu hyung…”

Hoya mengangguk. “Dia sudah lebih baik, aku menghubungi Kim Sunggyu-ssi karena hanya nomor dia yang berada di kontak ponselnya selain nomor kalian berdua dan Choi Minho…”

“Dia pasti masih sangat syok, Minho sahabatnya…” gumam Myungsoo. SungJong kemudian menarik tangan Myungsoo. “Kkaja, aku ingin melihat keadaannya….”

 

Woohyun tampak sudah lebih baik, Sunggyu sedang membantunya untuk makan ketika Myungsoo dan SungJong datang. Sedikit agak canggung bagi Sunggyu karena ini pertama kalinya dia bertemu dengan SungJong diluar pekerjaannya. Dan ia benar-benar tidak mengerti, SungJong begitu berbeda. Sikapnya terlihat wajar seperti seumurannya.

“Maafkan aku, aku tidak bisa menghentikan Minho…” ucap Woohyun dengan muram. Dia merasa bersalah dengan semuanya, termasuk pada Jinri karena dia tidak bisa melindungi adik dari sahabatnya itu.

Myungsoo menggelengkan kepalanya. “Tidak kau tidak bersalah, kau bahkan disandera oleh dia hyung, dia tidak memikirkan perasaanmu saat melakukan itu…:

“Minho tidak akan mencelakaiku meskipun aku ia jadikan sandera percayalah…aku tahu Minho keterlaluan, dia menghancurkan keluarga kalian, akan tetapi aku…..”

“Sudahlah…” potong SungJong. “Semua sudah terjadi, apa yang sudah dilakukan oleh Choi Minho harus dia bayar, dan kau hyung…sebagai sahabat yang baik kau harus merelakan dia untuk menebus kesalahannya, dan tugasmu membantunya menjadi manusia yang lebih baik lagi!” ucapnya dengan tegas. Hal ini membuat Sunggyu menatap SungJong kagum, sungguh dia benar-benar bukan sekedar anak kecil. Namun dia juga sangat pintar dan dewasa.

Woohyun mengangguk. “Aku memang akan melakukan itu, kasihan Minho, dia tidak boleh terjerumus semakin dalam lagi…”

“Jika begitu kau pasti tahu tempat persembunyian Minho sekarang…” Sungyeol bersama dengan Hoya muncul. Hoya memperlihatkan wajah yang masih kalem dan lunak. Sementara Sungyeol sebaliknya, namja itu terlihat sudah lelah dengan semuanya dan ingin Minho segera ditemukan.

Sungyeol mendekat. “Saat ini Choi Minho tidak bisa ditemukan, kau pasti tahu dimana dia sekarang, atau paling tidak kau mengetahui tempat dia biasa bersembunyi…”

“Aku…” Woohyun nampak ragu, dia menatap SungJong dan Myungsoo secara bergantian. Kemudian menatap Sunggyu, Sunggyu tersenyum dan mengangguk.

“Aku tidak yakin…” gumam Woohyun. “Minho mempunyai banyak sekali rumah, namun…dia tidak pernah mengunjungi satupun rumahnya selain rumah yang tadi…”

Sungyeol terperangah, dan Hoya nampak tertarik. “Mungkin di apartement atau dimanapun tempat dia biasa berkunjung kecuali rumah dan kantornya…” desak Sungyeol tak sabar.Woohyun berpikir keras, dan beberapa saat kemudian dia tertegun. “Hanya ada satu tempat…tempat dimana Minho selalu berkeluh kesah selain padaku….”

“Dimana itu…??”

“Minho…jika dia tidak datang padaku dia pasti datang padanya…” gumam Woohyun. Sungyeol semakin tidak sabar. “Siapa? Dan dimana…?”

“Di rumah kekasihnya…di rumah Key….”

 

 

 

*********

Beberapa jam sebelumnya…

Mobil berwarna putih bersih itu melaju dengan kecepatan maksimal, dedaunan yang tergeletak di jalan berhamburan begitu saja ketika sapuan angin dari mobil itu berhembus. Memasuki jalanan kecil mobil itu semakin kencang saja.

Namun ketika sudah melewati lebih dari sebuah jajaran pohon kecepatan mobil itu menurun. Sang pengemudi, Choi Minho nampak menekan perut sebelah kirinya dengan keras, darah mengucur deras dari sana. Nafasnya tersengal-sengal, sementara di bawah bahu nya beberapa senti juga mulai mengalir darah yang deras. Minho hampir tak bisa menahannya.

Sepanjang perjalanan tadi ia mencoba untuk tidak peduli, namun sekarang rasa sakit itu benar-benar menyerangnya, seolah semua darah di dalam tubuhnya terkuras habis dari luka itu.

CKIIITT….Kakinya dengan lemah menginjak gas ketika sudah sampai di depan sebuah rumah yang tidak begitu besar namun tampak indah disana. Dengan langkah yang ia seret dengan susah payah Minho menuju tempat itu, darah berceceran disepanjang ia berjalan. Minho benar-benar sudah bermandikan darah.

Bruukk….tepat di depan pintu bercat coklat itu Minho terjatuh, rasa sakitnya itu semakin menjalar semakin cepat. “Shh…K-kibum-ah….” Suara seraknya mencoba memanggil seseorang, namun mustahil bisa terdengar sampai dalam, Minho hampir kehilangan kesadarannya. “K-Key …”

Tap tap tap… dari arah selatan rumah terdengar langkah kaki yang berlari. Disusul teriakan histeris dari sana. Minho masih sangat sadar ketika seseorang mendekatinya lalu mengangkat kepala Minho ke pangkuannya mencoba menyadarkan dirinya. “K-kau…kau kenapa…? M-Minho-ssi….” Minho dapat melihat wajah yang menatapnya kesakitan itu, entah kenapa Minho tersenyum kemudian mengangkat tangannya dan mengelus pipi namja itu, bercak merah darah mulai menghiasi pipi yang halus itu.

“K-kibum-ah….a-aku….sshh…a-aku datang…”

Beberapa tetes air mata menjatuhi wajah Minho. “hiks…kau harus bertahan, aku akan mengobatimu….jebal bertahanlah….” Ucapnya parau.

*

Sudah hampir setengah botol alkohol Kibum tuangkan pada perut dan bahu Minho, mencoba mengeluarkan dua peluru yang bersarang disana. Minho masih terjaga kesadarannya, wajahnya pucat pasi, nafasnya terputus-putus, berkali-kali dia merintih kesakitan setiap pisau tajam itu menggores kulitnya.

“AKKKKH….” Tidak bisa di tahan lagi, Minho terperanjat setengah bangun dan mencengkeram ujung sofa dengan kuat, nafasnya lebih memburu, matanya sayu, terdengar bunyi dentingan jatuh ke lantai. Sebuah peluru di perutnya berhasil Kibum keluarkan. Minho kembali berbaring dan mengatur nafasnya.

“Tahan sebentar lagi…k-kau akan sembuh, kau akan sembuh honey…” beberapa kali Kibum mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca. Dia tidak boleh menangis hingga dia selesai mengobati kekasihnya itu.

Minho memejamkan matanya erat dan jemarinya tergenggam erat, Kibum mulai menyayat dan mengeluarkan peluru dan bahunya. Rasanya sakit dan perih luar biasa. “K-kibum-ah…..K-kibum-ah…a-aku tidak tahan lagi…..h-hentikan, jebal….”

“Tidak, tahan sebentar lagi, sebentar saja…kau akan baik-baik saja….” Ucap Kibum sembari memantabkan hatinya dan berusaha keras untuk mengeluarkan peluru itu. Dia sudah sangat sering melakukan hal ini, namun ini adalah pertama kalinya dia melakukannya pada Minho. Dan dia sangat tidak tega melihat kekasihnya kesakitan seperti ini.

Peluru terakhir berhasil di keluarkan, dengan cekatan Kibum segera mensterilkan luka itu, menutupnya dengan perban, sangat hati-hati ia melakukannya. Minho sudah mulai tenang, nafasnya sudah stabil meskipun wajahnya masih pucat. Minho beruntung masih bisa bertahan setelah terluka begitu dalam.

 

Hening. Suasana di kamar itu hening, mungkin yang terdengar hanyalah jarum jam yang sedang bekerja menunjukkan waktu demi waktu. Kibum terduduk bersandar di ujung kepala tempat tidur dengan Minho yang barbaring di pangkuannya. Dengan sabar ia mengelus wajah kekasihnya itu berharap rasa sakitnya berkurang. Minho memang memejamkan mata, namun dia tidak tidur, hanya sejenak untuk menahan rasa sakit yang sangat terasa.

Berkali-kali Kibum mengusap air matanya yang hendak jatuh, sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. Kibum tidak berani bertanya, dia bisa merasakan sakit yang di derita kekasihnya itu.

Minho merasakan sesuatu yang hangat menjatuhi kulit wajahnya, dia segera membuka matanya. Menatap kekasihnya yang tengah berkaca-kaca dan tampak ketakutan itu. Minho kemudian menyentuh jemari Kibum yang sedang membelainya.

“Kenapa…kau selalu menatapku dengan tatapan takutmu itu…. Key..?” tanyanya dengan pelan. Kibum hanya menggelengkan kepalanya. Minho tahu, Kibum takut padanya, dia sering mengasarinya, dan terkadang menyakiti hatinya, namun Kibum tidak pernah meninggalkannya, Kibum selalu berada di sisinya.

Minho kemudian mengecup tangan itu dan menggenggamnya hangat. “A-aku.. sadar, aku terlalu jahat untukmu…aku sangat lemah sekarang, kau bisa melampiaskan kekesalanmu padaku…aku akan menerimanya…”

Namun Kibum menggeleng kuat. “Tidak…aku tidak akan melakukannya, a-aku…a-aku tidak bisa melihatmu terluka seperti ini…hiks…kenapa kau terluka….”

“Kibum-ah…” Minho mencoba menggapai wajah Kibum lalu menghapus air matanya. “Kau setiap hari mengobati orang terluka, apakah kau selalu menangis seperti ini saat melakukannya hmm…?”

“I-ini berbeda…a-aku hampir tidak bisa mengobatimu, a-aku tidak bisa melihatmu terluka…a-aku takut…”

Minho terdiam, mata cekung sayu nya itu menatap Kibum dengan lekat. Saat hatinya di penuhi rasa cinta seperti ini perasaannya akan menghangat. Ada sebuah kebahagiaan yang selama ini tidak pernah ia bisa ungkapkan. Minho memang selalu meragukan apakah Kibum benar-benar mencintainya mengingat dia merebutnya dari Woohyun, terkadang dia juga menjadikan alasan itu untuk menyiksa Kibum. Namun Kibum tidak pernah meninggalkannya.

Dan mata itu…mata yang sedang berkaca-kaca itu menjelaskan segalanya, itu adalah perasaan cinta yang tulus. “Kukira…kau tidak akan menolongku tadi, kukira kau akan mengabaikanku dan membiarkanku mati…”

“Mana mungkin aku melakukan itu…” pekik Kibum. “Bagaimana bisa aku membiarkanmu mati…a-aku selalu menunggumu datang, setiap hari…aku ingin melihatmu setiap hari, tapi aku tidak berani…aku tidak berani mengatakan ini padamu…aku takut kau membenciku…”

Minho terpaku, dia kemudian mencoba untuk bangkit, melupakan rasa sakitnya lalu merengkuh bahu Kibum. “Kibum-ah, mana mungkin…aku akan membenci seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidupku…?? Jika kau menginginkanku katakan maka aku akan datang, sesungguhnya aku menginginkanmu lebih dari apapun….” Ucap Minho mengusap kembali air mata Kibum.

“Jika a-aku…memintamu untuk datang…a-apakah kau akan datang…?” tanya Kibum takut-takut. Dia masih belum berani menatap Minho. Minho tidak ingat kapan terakhir ia tersenyum tulus, namun senyumannya kali ini terasa tanpa beban, dia menarik dagu Kibum dan mata mereka bertatapan.

“Kapanpun kau menginginkanku, aku akan selalu datang…”

Minho kemudian menarik tubuh Kibum ke pelukannya dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menahan luka di perutnya agar tidak tersentuh. Dia pun juga tidak bisa mengingat kapan ia terakhir memeluk Kibum dengan sayang, selama ini selalu di penuh dengan nafsu. Minho menarik nafas lega, harusnya memang dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan kekasihnya ini. “Aku mencintaimu…” gumamnya sembari mengecup kepala Kibum hangat.

 

 

******

“Kau yakin ini jalan yang benar??” Sungyeol nampak ragu-ragu sembari menengok ke arah belakang. Woohyun, Sunggyu, dan Myungsoo tampak disana. SungJong tidak ikut serta karena harus menemani Hoya yang luka di perutnya harus kembali diobati.

Woohyun melihat ke sisi jendela. “Aku yakin, Key adalah seorang dokter ilegal, ahh maksudku izin prakteknya di cabut sehingga dia hanya mengobati orang-orang secara ilegal, Minho memberinya sebuah rumah di perbatasan sana….”

“Menurutmu Minho ada disana?” Myungsoo menyahut.

“Entahlah, namun tidak ada tempat bagi Minho untuk lari, selain aku dan Jinri…orang yang dekat dengan Minho adalah  Kibum…” jelasnya. “Key akan dengan senang hati membantu menyembunyikan Minho jika dia benar lari kesana….”

“Dari penjelasanmu itu….kau sepertinya sangat mengenal…Kibum itu…?”

Woohyun terpaku, wajahnya muram, hanya Sunggyu mungkin yang menyadari hal itu. “Apapun tentang Kibum aku tahu….karena dulu dia adalah kekasihku…”

“MWOOO….?” Tiga orang disana minus sang driver sangat terkejut mendengar penuturan Woohyun. “K-kau dan Minho bergantian kekasih…?? Apakah kalian benar-benar sedekat itu??” Myungsoo tidak habis pikir.

“Tentu saja tidak, saat aku tahu Minho mencintainya…aku mengalah, dan Kibum kurasa dia juga menyukai Minho, aku memang sangat menyayangi Kibum hingga aku rela dia bersama dengan Minho, aku tahu dia lebih bahagia jika bersama dengannya…”

Myungsoo menggelengkan kepalanya heran. Kisah cinta Woohyun ternyata lebih miris dan tragis.

 

***

“Kita sudah sampai….itu mobil Minho…” ‘

Semua polisi segera bergerak dan mengepung tempat itu. Darah yang berceceran di sekitar sana menambah Kibumakinan bahwa Minho berada di tempat itu. Jaksa Lee mengawali langkahnya diikuti oleh yang lainnya. Sementara para polisi bersiaga dengan pistolnya.

Jaksa Lee mengetuk pintu beberapa kali. Namun tidak ada jawaban, dan juga sepertinya pintu itu tidak terkunci. Dengan perlahan mereka masuk ke dalam rumah yang indah dan bersih itu.

“Sepi sekali…” gumam Myungsoo.

Namun anggapan itu segera berakhir ketika mendengar seseorang. “Apa yang kalian lakukan disini???? kalian masuk tanpa izin!!” seorang namja bertubuh kecil seperti SungJong serta bajunya yang dipenuhi darah mengering muncul dari sebuah ruangan dan menatap mereka tidak suka.

“Key…” ucap Woohyun.

“Kami mendapat laporan bahwa Choi Minho-ssi berada di sini, mohon serahkan pada kami atau anda bisa kami tangkap dengan tuduhan menyembunyikan buronan…”

Kibum terlihat mengusir rasa takutnya dengan menatap mereka semua tajam. “Ini rumahku!!! Lebih baik kalian segera pergi dari sini!!!!”

“Kibum-ah…” Woohyun angkat bicara. “Aku tahu Minho berada disini, cepat katakan pada mereka Kibum-ah…Minho harus menebus semua kesalahannya….”

“TIDAK!!!!” bentak Kibum. “Kau sungguh tega Woohyun-ah, Minho sahabatmu kenapa kau melakukan ini padanya??? Kau sangat jahat!!”

“Apa yang aku lakukan semua demi kebaikannya semata! Aku tidak pernah berniat untuk membuatnya menderita, namun Minho harus menebus semua kesalahannya!!”

Kibum menggeleng kuat hingga air matanya kembali jatuh. “Tidak, Minho tidak pernah melakukan kesalahan, kalian semua pergilah! PERGI!!”

“Jika anda tidak bisa bekerja sama, kami harus menggunakan kekerasan untuk memaksa anda!!” Jaksa Lee mulai kehilangan kesabarannya.

“PERGI!!!”

Dari belakang Kibum terdengar suara langkah yang diseret, kemudian terdengar sebuah suara. “Cukup baby, kau bisa terluka….” Minho disana, berjalan dengan sangat pelan, sepertinya dia menahan sakit.

Kibum memekik. “Kenapa kau kesini?? Kau harus pergi, kau tidak boleh tertangkap oleh mereka…” ucapnya panik. Minho menyeringai. “Mereka tidak bisa menangkapku sayang, mereka tidak cukup pintar….”

“BERHENTI BERMAIN-MAIN DAN SERAHKAN DIRIMU!!”

“TIDAK!! JIKA KALIAN INGIN MENANGKAPNYA KALIAN HARUS MEMBUNUHKU LEBIH DAHULU!!” Kibum memposisikan dirinya untuk melindungi Minho.

“Kibum jangan bertindak bodoh!!” Woohyun hampir putus asa. Sementara pistol para polisi terus tertuju ke arah mereka.

Minho mendekati Kibum lalu merengkuh pinggangnya. Minho mungkin sangat kesakitan, namun dia tidak ingin semua tahu jika dirinya sedang lemah. “Jangan terluka hanya kerena diriku, kau pergilah, aku akan mengurus mereka…”

“Tidak…” Kibum menggelengkan kepalanya kuat. “ Jika mereka ingin menangkapmu mereka harus melukaiku dulu, jadikan aku sanderamu, jebal, kau harus selamat…” air mata Kibum kembali jatuh.

“CUKUP!!!! DAN SERAHKAN DIRIMU!!!”

Minho tersenyum, dia tidak berkata apapun, dia hanya mengecup kepala dan pipi Kibum dengan lembut. Hati Myungsoo sedikit trenyuh, untuk sesaat Myungsoo teringat dirinya dengan SungJong saat melihat mereka berdua. Namun, ini sungguh berbeda. Minho itu orang jahat.

Berbeda dengan Woohyun, dia merasa Minho sedang merencanakan sesuatu, atau mungkin memang Minho hanya berpura-pura saja? Sungguh dia tidak bisa menebaknya dengan pasti.

“Choi Minho-ssi!!!” gertak Jaksa Lee.

“Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi baby…” bisik Minho tepat di telinga Kibum. Dengan gerakan yang cepat, Minho menarik sebuah laci yang tidak jauh dari nya kemudian mengambil sesuatu dari dalam sana.

Minho menahan lukanya, mengarahkan tangannya kemudian…DOOOR!! Satu dua peluru meluncur deras ke arah para polisi tersebut, suasana menjadi kacau, Minho tertawa keras. Myungsoo menarik Sunggyu untuk berlindung, Woohyun dan Sungyeol melakukan hal yang sama.  Tak butuh waktu lama, terdengar kembali…DOOR…DOOR….DOOR!

Tiga tembakan terdengar, suara tawa Minho menghilang. Kembali dari persembunyian, semua mata melihat apa yang terjadi. Minho terpaku dengan mata terbelalak, pegangan pada pistolnya melemah, beberapa detik kemudian pistol itu terjatuh. Dia hendak kabur setelah menembakkan peluru ke arah polisi tadi, namun naas, lukanya masih menyulitkan dirinya untuk bergerak hingga dia tidak bisa menghindari serangan balasan dari para polisi itu.

“ANDWAE!!!” Kibum berteriak menyadarkan semua orang, dia segera berlari menghampiri Minho, tepat saat Minho ambruk. Darah kembali membasahi seluruh tubuhnya. “Tidak, tidak boleh!!! Kau tidak boleh terluka…”

Minho kejang, matanya terbelalak, yang bisa ia lakukan sekarang hanya menatap wajah kekasihnya itu. “sshhh…..K-kibum-ah…..aakh….uhuuk….” Minho muntah darah, hingga kini dirinya benar-benar penuh akan cairan merah.

“Kau harus bangun…hiks….jebal…a-aku akan menyembuhkanmu, a-aku akan mengeluarkan peluru ini….a-aku akan….” Kibum panik luar biasa, air matanya mengalir deras, Minho menggelengkan kepalanya susah payah. Nafasnya seperti tinggal beberapa hembusan saja. Semua yang ada disana tertegun dan syok.

“T-tidak boleh…hiks, jangan membuatku takut…hiks…jebal…”

Minho terbatuk sekali lagi, darah semakin deras, dia menggerakkan tangannya yang gemetar dan menyentuh wajah Kibum. “K-kau sangat manis…a-aku selalu terlambat me-menya…darih…nya, uhuuukkk….” Desis Minho susah payah. Kibum menangis semakin menjadi. Minho sedang berusaha tersenyum padanya.

“A-aku….mencintaimu….a-aku sangat  mencintaimu…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Minho, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Kau harus hidup…kau sudah berjanji padaku hiks…mana boleh kau mengingkarinya lagi, aku akan sendirian….a-aku tidak bisa tanpamu…”

Namun, Minho hanya mampu menatap Kibum dengan sayu. Tidak ada kata yang bisa ia ucapkan.

“Minho-ya….” Woohyun mendekat setelah rasa syoknya berakhir. “Bertahan, kau harus bertahan, pikirkan Kibum, kau harus hidup! Aku, Kibum, dan Jinri membutuhkanmu…jebal…”

Minho memberikan tatapan terakhirnya pada Woohyun, dan tersenyum. Tangannya mulai melemah kemudian jatuh terkulai lemas. Matanya mulai terpejam dengan perlahan. Kemudian tertutup dengan sempurna.

“T-tidak….t-tidak boleh…kau…bangunlah!! TIDAKKKK!!!!” Kibum mengguncangkan tubuh Minho yang sudah lemas itu, darah semakin deras mengalir, mata Minho terpejam rapat, nafasnya sudah tidak terasa. Polisi menurunkan semua pistolnya. Jaksa Lee segera memeriksa Minho.

Dia menggelengkan kepalanya pelan. “Panggil ambulans, jenazahnya harus segera dibawa ke rumah sakit…”

“TIDAK!!!! CHOI MINHO!!! KAU BRENGSEK!! KAU BERBOHONG PADAKU! KAU MANA BOLEH PERGI!!! CHOI MINHO!!!”  Kibum meraung, menangis dengan sangat kencang. Myungsoo dan Sungyeol benar-benar tidak menyangka semuanya menjadi seperti ini, hanya tangisan dan raungan Kibum yang terdengar.

“Minho-ya, hikss…..k-kau…k-kau berbohong lagi…hiks….bangun!! kubilang bangun!!”

Woohyun mendekat dan menarik Kibum untuk menjauh dari Minho. Dirinya memang sedih namun tidak akan baik jika terus berlarut. “Sudah, kau harus tenang, dia sudah…memilih jalannya sendiri….”

“Kalian membunuhnya….hikss…kalian membunuhnya…” isak Kibum. “Dia satu-satunya yang aku miliki…k-kau tahu itu Woohyun-ah…dan k-kau membiarkan mereka membunuhnya hiks….Minho-ya….hiksss…..” Kibum berusaha melepaskan tangan Woohyun yang berusaha untuk menenangkannya.

“Tidak Key….aku juga tidak ingin ini terjadi…jebal…Minho mungkin bahagia jika seperti ini….”

“Andwae…..a-aku…a-aku akan sendirian…aku sudah tidak memiliki siapapun…a-aku sendirian…”

Woohyun menggelengkan kepala lalu menarik Kibum kepelukannya, kali ini Kibum tidak menolaknya. Namun isakannya jelas masih terdengar. “Tidak  apa-apa, masih ada aku, kau tidak sendirian…aku selalu disini untukmu, aku menyayangimu….” Bisik Woohyun mengusap kepala Kibum lembut.

“Choi Minho….hikss…” Kibum lemas, matanya terpejam. Dia terlalu syok untuk tidak sadarkan diri. Woohyun menahan tubuhnya dan memeluknya semakin erat. Disana ia dapat melihat tubuh Minho yang sudah tidak bernyawa. Air matanya jatuh, bayangan akan dirinya dan Minho kecil mulai berputar, bermain bersama, berangkat sekolah bersama, mengganggu anak perempuan. Kepala Woohyun pun pusing, seolah ada beban berat yang menimpanya. Tidak lama kemudian Woohyun merasakan limbung, tubuhnya seringan kapas, dan….sedetik kemudian dia tidak ingat apa-apa lagi.

 

****

****

 

 

 

 

Langit  lebih dari sekedar cerah untuk sekedar menikmati makan siang. Seperti biasa, dapur di restaurant mulai sibuk sedari tadi pagi. Tidak ada yang sempat beristirahat karena yang paling utama bagi mereka adalah melayani pelanggan.

Teriakan memberikan komando juga cukup nyaring terdengar. Dan ini hampir jam istirahat. Memikirkan waktu istirahat seperti memberikan cambukan penyemangat.

“Hidangan terakhir telah selesai! Silahkan nikmati waktu istirahat kalian dan kembali satu jam lagi!” suara nyaring itu terdengar kembali. Suara milik Chef Lee SungJong. Semua  patuh dan segera bergegas meninggalkan dapur.

“Wahh kekasihku ini rupanya baru selesai…”

Myungsoo muncul, dia tidak memakai pakaian chef seperti biasanya, namun memakai setelah jas yang rapi berwarna hitam. Tentu saja dia dan Hoya memiliki posisi yang sama dalam perusahaan masing-masing. “hyung…kau datang, aku lapar sekali, aku merindukan masakanmu…”

“Ayolah baby…kau tidak ingin menyuruh kekasihmu yang tampan ini memasak kan?” ucap Myungsoo sembari menarik pinggang SungJong dan mencium keningnya.

SungJong merenggut. “Dasar pelit, tapi ya sudahlah…” SungJong kemudian menatap kesekeliling dapur. “Ini sudah satu tahun lebih, dan dapur ini terlihat sepi sekali…” ucapnya. Myungsoo pun terpaku, namun sesaat kemudian tersenyum.

“Kau bisa memimpin tempat ini dengan baik, itu sudah lebih dari cukup…”

“Aku merindukan Woohyun hyung…dapur ini sangat sepi tanpanya…juga Sunggyu hyung!”

Myungsoo menarik SungJong dan mendekapnya lembut. “Woohyun hyung dan Kibum hyung sedang dalam perjalanan kembali ke Seoul, kau hanya perlu menunggunya baby…”

“Benarkah??” SungJong tiba-tiba riang.

“Tentu saja, dan Sunggyu hyung…dia sedang sibuk mengurus perusahaannya juga, seperti diriku, semuanya sudah berakhir…kita harus berbahagia…”

SungJong tersenyum, kemudian dia melingkarkan tangannya pada leher Myungsoo. Kemudian mengecup bibirnya. “Aku bahagia sekarang…”

Myungsoo membalas senyum itu dan mengacak rambut SungJong, jemarinya kemudian bertautan mesra dengan jemari SungJong. “Kkaja kita makan siang…”

Dua orang itu kemudian bergandengan lembut keluar dari tempat itu, yaah benar sekali, hari sudah berubah, semua telah berubah. Membawa suasana baru yang berbeda.

 

-END-

∞CHEF∞ #Chapter 6

∞Tittle      : ∞CHEF

∞Author  : Jung Yoojin

∞Cast       : -Kim Myungsoo  -Lee SungJong, others

         

∞Genre    : bromance, love,  friendship, work life,

∞Rate       : T+ (For bad Language)

∞Disc        : Their self but this fict is mine,

∞Warning :  boyslove, typos, don’t like don’t read.

                   Please no silent reader :’3

*

 

*

Baik Myungsoo maupun Hoya masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Sikap SungJong yang terkesan sangat tenang itu membuat mereka cemas. Mereka berdua paling tahu bagaimana Minho jika marahnya tersulut. SungJong bisa dalam bahaya yang besar. Sementara itu sajangnim yang sangat berkuasa itu masih mencoba untuk membangunkan dongsaengnya yang semakin tidak karuan. Amarah, panik, dan semuanya terlihat jelas dari raut wajah Minho.

Sreet… SungJong menyodorkan sebuah map berwarna hijau kepada Minho. “Batalkan seluruh perjanjian itu lalu aku akan menyembuhkan dongsaengmu!”

“Mwoo…?” Minho menatap SungJong dengan bengis. “Aku tidak sudi, dan lebih baik aku segera membawa Jinri ke Rumah sakit!” bentaknya. “Kalian! Cepat bawa Jinri ke mobil, dia harus segera ke rumah sakit!” perintah Minho pada pengawalnya.

Tidak menunggu dua kali, beberapa dari pengawalnya segera maju ke depan menghampiri Jinri. SungJong tersenyum sinis pada Minho. “Bagus sekali Sajangnim, ketika kau sudah sampai di rumah sakit nanti maka kau sudah tidak akan mendengar detakan jantung dari dongsaengmu…”

“Apa kau bilang….??”

“Bukankah sudah dengan jelas aku mengatakan kalau aku bisa memberikan penawar untuk Jinri…..? hanya lima belas menit, dan kau butuh waktu setengah jam lebih untuk mencapai Rumah sakit dari sini…” jelasnya masih santai. “Dan astaga sajangnim….kau sudah melewatkan lima menit dengan sia-sia, aigoo…”

Minho mengepalkan tangannya keras lalu dengan secepat kilat dia menyambar SungJong dan menekan lehernya kuat-kuat, hal ini membuat SungJong sedikit terdorong ke arah meja dengan Minho yang masih mencekik lehernya.

“SungJong-ah…” sekali lagi SungJong berhasil membuat para hyung-nya dan juga Myungsoo kaget bukan main. Namun mereka masih belum bisa ikut campur.

“Kau berani-beraninya mengancamku hah…? Kau pikir kau siapa…?? Aku bisa membunuhmu sekarang juga jika aku mau…” ancam Minho menekankan kuku tajamnya pada kulit leher SungJong. Wajah mereka begitu dekat hingga SungJong dapat merasakan hembusan nafas Minho yang penuh dengan amarah. Tatapan Minho tidak main-main, mungkin memang benar Minho bukan lawan yang bisa diremehkan.

SungJong membalas ucapan Minho dengan senyum sinis nya, dirinya sedikit menahan tubuh Minho sementara tangan kanannya mencekeram map yang dia gunakan sebagai alat pertukaran tadi. Melihat Minho yang seperti ini mungkin SungJong tidak akan berani jika dirinya tidak mempunyai senjata. “satu menit juga sudah terbuang sia-sia sajangnim…” SungJong mengingatkan.

“Kau brengsek!! Aku benar-benar akan membunuhmu!!” meskipun dia masih mengancam namun SungJong yakin jika Minho cemas bukan main. Namun di sisi lain dia juga enggan menuruti kemauan SungJong untuk membatalkan semua yang sudah dirancangnya selama ini.

“Uhuuukkkk…..o-oppa!”

“Boss!!”

Suara rintihan Jinri dan juga suara pengawalnya membuyarkan ancaman Minho, namja itu segera melepaskan tangannya dari leher SungJong dan berlari menghampiri Jinri. “Jinri-ya….kau tidak apa-apa..???” Minho melihat kondisi dongsaengnya itu semakin mencemaskannya, benar-benar pucat pasi dan nafasnya juga tersengal-sengal.

“Kau sialan!!”  Minho kembali menatap SungJong yang telah bangkit kembali dengan tajam. “Berikan obatnya!!!!!”

“Kau tahu harus melakukan apa sajangnim!!”

Minho menggeram dan menatap mereka satu persatu, mulai dari Hoya. Dia bahkan sudah membuat mereka semua bertekuk lutut selama ini, dan sekejab hancur hanya karena ulah SungJong. Dia benar-benar tidak menginginkan ini semua terjadi, namun dia pun juga tidak bisa jika sesuatu yang buruk menimpa Jinri. Jinri terlalu berharga untuk tersakiti. Setidaknya itu yang ada di dalam pikiran Minho.

Pelan namun pasti, Minho kemudian berdiri, dan dengan suara yang berat ia berucap. “Baiklah, jika kau berani membohongiku, kau akan mati saat itu juga…” ucapnya. SungJong tersenyum lalu mendekati Minho untuk kemudian menyerahkan map itu. “Silahkan di tanda tangani dan tentu saja harus dengan stempel perusahaanmu yang kau bawa kemana-mana itu, dengan ini semuanya akan beres sajangnim…” tutur SungJong terdengar manis namun menyebalkan bagi Minho.

SungJong pikir Minho akan langsung mengguratkan tinta pada kolom tanda tangan, namun namja itu terlihat masih mencermati apa yang tertulis disana, seolah sudah melupakan jika dongsaengnya tengah sekarat. Sementara Minho terdiam sejenak, Hoya beranjak untuk mendekati SungJong. “Kau…bagaimana bisa kau melakukannya? Siapa yang membuatkanmu surat pembatalan itu…?” tanyanya dengan nada yang pelan, sedikit takut Minho mendengarnya.

“Myungsoo hyung tentu saja…” SungJong memandang Myungsoo yang jeuga tengah memandangnya kemudian tersenyum manis. Tentu saja hanya sebatas pembatalan surat saja, perihal racun jamur ini Myungsoo tidak pernah terlibat, semuanya murni ide SungJong sendiri.

Hoya tersenyum memaksa kemudian mengacak pelan rambut SungJong. “Kau memang…gila SungJong-ah…” ucapnya. Hoya tidak berkata sekarang dia sedikit lebih tenang, namun dia semakin cemas karena bukan tidak mungkin Minho akan melakukan hal lain setelah ia membubuhkan tanda tangannya disana. Setidaknya sebagai yang tertua dia harus melakukan sesuatu, sesuatu yang berguna jika Minho berhianat nanti.

“Sajangnim, kau sudah membuang sekitar dua setengah menit…” SungJong kembali mengingatkan. Minho bertambah berang. Dia kemudian meraih bolpoin dan juga sebuah stempel dari dalam sakunya. Rupanya ini benar-benar keputusan yang sangat berat baginya.

SungJong terus mengawasi, dengan pergerakan lambat Minho segera menggoreskan tanda tangannya pada kolom disana. Semua itu hanya bisa sah setelah dia memberikan cap stempel di atas tanda tangannya. Dan lagi-lagi Minho melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati.

Sajangnim itu terlihat putus asa begitu semua telah selesai. Sementara SungJong tersenyum puas kemudian mendekat. “Kerja bagus Sajangnim, kau mengambil keputusan yang tepat…” ucapnya sembari menutup map itu. “hyung, seperti apa yang aku katakan tadi…” SungJong menyerahkan map itu pada Sungyeol dengan segera.

“Yaa!!!” Minho kemudian mencengkeram lengan SungJong dan menghadapkan padanya. Kali ini SungJong bisa melihat kilatan emosi dari mata Minho lebih besar dari pada yang tadi. “Cepat lakukan apa yang harus kau lakukan!!” bentaknya sembari mendorong ke depan.

SungJong menatap Jinri yang masih tergeletak di lantai dengan kesadaran yang hampir hilang. Matanya yang setengah terpejam terlihat mencoba melihat SungJong, SungJong tahu apa maksudnya itu, dia pun hanya tersenyum sinis.

“CEPATLAH!!” Minho kembali membentak.

Namja itu melirik jam yang tergantung di dinding, kemudian melangkah menuju meja makan. Mengambil segelas air kemudian menuangkan sebuah serbuk putih lalu mengaduknya. Myungsoo memperhatikannya dengan seksama, mata elangnya sedikit membulat melihat apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Bohong jika dia tidak tahu. Namun sesaat kemudian ia tersenyum.

SungJong kemudian menghampiri Jinri, Myungsoo pun sedikit membantu dengan mengangkat kepala perempuan itu. “Yaa, jamur itu…tidak beracun kan?” bisik Myungsoo dengan suara yang sangat pelan.

“aku hanya memasaknya dengan bumbu yang salah kemudian menghasilkan efek seperti ini, Jinri sendiri sudah pernah menjebakku dengan hal seperti ini, aku cerdas kan..?” SungJong tersenyum berbangga diri.

“Jika Minho tahu mungkin dia akan bertambah marah baby…”

“Aku tidak peduli, yang penting dia sudah melakukan apa yang menjadi rencanaku…”

Myungsoo menggelengkan kepalanya takjub. Tidak heran kenapa semalam namja itu menungguinya dalam membuat surat pembatalan itu. Jenius sekali. Jinri minum perlahan minuman itu beberapa kali, di bantu SungJong dan Myungsoo . wajah perempuan itu berangsur pulih, tidak lagi pucat dan sedikit lebih berseri.

Jinri mengusap sekitar wajahnya dan segera bangun. Berhadapan langsung dengan SungJong. Tatapan mereka beradu dan seperti musuh lama yang kembali bertemu lagi. “Apakah sekarang kita sudah impas Jinri-ssi?” tanya SungJong.

“Yaak kau!!!” seperti dugaannya, Jinri membentak sembari melotot, gadis ini benar-benar pemarah. “Kurang ajar sekali kau, aku bersumpah akan….”

“Sudahlah…” potong SungJong. “Dari pada kau repot untuk bersumpah lebih baik kau dan oppa-mu pergi jauh-jauh dari hidup kami, jangan selalu menjadi parasit yang menyebalkan…!”

Jinri mengangkat tangannya hendak membalas SungJong, namun sepertinya dari belakang sana Minho memberinya instruksi. Terbukti dari Jinri segera berdiri kemudian bergegas pergi dari sana dengan sedikit terhuyung.

“Sudah cukup main-mainnya dan sekarang terima hukuman dariku!!”

Myungsoo membulatkan matanya kaget. “Yaa!!! Apa yang kau lakukan..???” ucapnya ketika melihat Minho mengarahkan pistolnya pada kepala SungJong. SungJong berdiri dengan perlahan dan berbalik, kali ini ujung pistol itu mengarah tepat pada kepalanya. Kilatan mata Minho menunjukkan amarah yang luar biasa.

“Kau tidak bisa melakukan hal itu, kau sudah menyetujui perjanjiannya, dan lagian Jinri sudah selamat!!” ucap Myungsoo sembari berjalan ke samping SungJong dan menggenggam tangannya.

Minho menyeringai. “Oh ya, coba saja! Setelah aku membunuhnya aku akan merebut kembali dokumen itu dan menghancurkannya, kau pikir aku mau mengalah pada anak kecil seperti mu..??”  ucapnya kejam.

“Kau seperti seorang yang pengecut yang tidak menepati janjimu!” celetuk SungJong mencoba tidak memperlihatkan kecemasan terhadap Minho, namun hal ini seolah seperti memberikan semangat terhadap Minho untuk menekankan ujung pistol itu apda kepala SungJong.

Dorr…Dorr…Dorr..Dorr terdengar empat suara tembakan, diiringi suara erangan. Empat pengawal Minho terkapar di lantai dengan kaki yang terluka. “Lepaskan dongsaengku kita selesaikan berdua…” Minho merasakan sebuah benda menempel pada pelipisnya. Dirinya sedikit menengok, Hoya disana.

“Jangan ikut campur Hoya-ssi, jangan kira karena Jinri menyukaimu maka aku tidak bisa untuk melukaimu?”

“Jika memang begitu lepaskan dongsaengku, kita berduel hingga salah satu dari kita mati, kau pikir aku takut padamu…?”

Tentu saja SungJong dan Myungsoo terkejut mendengar hal itu. “hyung!!”

“Tidak masalah baby, kau sudah melakukannya dengan baik, kini aku yang akan menyelesaikan semuanya…”

Minho tertawa sinis, dia benar-benar malas jika harus meladeni Hoya sekarang. Jika dia melukai namja itu tentu dongsaengnya akan bersedih, namun jika tidak membereskannya harga dirinya yang akan terluka. Minho tentu bukan baru sekali ini menghadapi pemberontakan. Ini memang selalu menjadi resikonya. Dan selama ini dia tidak pernah kalah dari siapapun.

Perhatian Minho  teralih pada Sungyeol yang baru saja turun dari lantai dua. Dia yakin namja itu telah selesai menyimpan dokumen ke tempat yang aman. Dia masih ingin bermain-main dengan SungJong, sementara Hoya..seberapapun dia ingin membunuhnya tetap saja dia kesayanganya Jinri. Dengan gerakan cepat, Minho mengarahkan pistolnya pada Sungyeol lalu….

Door…Minho membulatkan matanya kaget, dengan cepat pula seseorang mencengkeram pergelangan tangannya dan mengarahkan pistolnya ke atas, hingga peluru tersebut tidak mengenai Sungyeol.

“hyung!!!” suara SungJong dan juga Sungyeol menjadi suara kedua setelah suara letusan tadi. Hoya sudah membaca apa yang dipikirkan oleh Minho tadi, beruntung dia tepat waktu hingga tak ada yang luka untuk saat ini.

Minho dan Hoya kembali bertatapan penuh tatap sinis. Sekuat tenaga Hoya mencoba merebut pistol itu dari Minho. Dia tahu Minho tidak akan pernah mau untk mengalah. “Kau brengsek Lee Hoya-ssi, aku sudah berbaik hati membiarkanmu untuk tidak terluka!!”

“Tidak dengan melukai dongsaengku Minho-ssi!!!” tegas Hoya menarik tangannya lebih kuat lagi, namun Minho menahannya, dia tahu jika sampai pistol itu jatuh ke tangan Hoya dia sudah tidak memiliki senjata apapun di tangannya.

Tidak ada yang dapat dilakukan oleh Myungsoo selain menarik SungJong dan juga Sungyeol sedikit menjauh dari sana. Setidaknya para pengawal Minho sudah tumbang akibat peluru Hoya tadi, mereka tidak akan bisa untuk membantu Minho.

“Lepaskan!! Kau tahu aku tidak bisa untuk melukaimu!!!” Minho membentak. Hoya tidak peduli dengan hal itu, baginya lebih baik dirinya yang terluka dari pada siapapun, dalam hal ini mungkin dia sedikit lebih beruntuk karena Jinri bisa menjadi senjata untuknya.

Namun…keadaan berkata lain, ketika Hoya menarik tangan Minho lebih keras lagi, jari Minho turut tertekan dan….door! sebuah suara yang keras terdengar. Letupan peluru itu terdengar dua kali. Minho dan Hoya saling menjauh, Minho dengan refleks menyentuh bahunya dan menekannya, cairan kemerahan nampak mulai mengalir, namun peluru yang yang mengarah padanya hanya menyerempet di bahu nya saja.

“hyung!!!”

Minho mendongak, dan sebaliknya, peluru yang terlontar dari  pistolnya mendarat tepat di sisi kiri perut Hoya. Hoya nampak terhuyung dan memegangi perutnya yang mulai mengeluarkan darah. Minho gusar dan tampak lebih marah, dia tidak sengaja melakukannya, meskipun dia sangat senang bisa melukai musuhnya namun jika itu Hoya tentu tidak akan berakibat baik.

“Hyung!!” semua segera berhambur mendekati Hoya. Sungyeol menangkap tubuh Hoya yang terhuyung lemas. “kau tidak apa-apa??? Katakan padaku?? Astaga! Kau…kau terluka….”

Hoya menggeleng. “Tidak, aku tida apa-apa aku bisa menahannya…aakh…”

Tidak bisa dibiarkan lagi, Minho segera melangkah da mendekati SungJong. “Kau ikut aku!!!” ucapnya sembari mencengkeram lengan SungJong dan menyeretnya. “Mwoo…??”

“YAAAK!! LEPASKAN DIA!!!” Myungsoo membentak.

Namun SungJong menggeleng. “Tidak hyung, aku akan baik-baik saja, kau selamatkan Hoya hyung, dan apapun yang terjadi jangan pernah memberikan dokumen tadi pada orang ini!” seru SungJong dengan cepat. Minho terus menyeret SungJong utnuk keluar dari rumah itu.

Myungsoo bingung. Namun SungJong selalu memutuskan sesuatu dengan benar, dan akan lebih baik jika menolong Hoya lebih dahulu. “Kita bawa ke rumah sakit Sungyeol-ssi….”

“Tunggu…” ucap Hoya sambil menekan lebih dalam perutnya, namun percuma karena cairan merah itu terus keluar seperti mata air yan mengalir deras. “A-aku tadi sudah memberikan pesan pada Dongwoo hyung untuk memanggil polisi, tapi….kenapa dia belum sampai…???”

“hyung, jika itu menyangkut Minho akan sulit…” sahut Myungsoo. “Kau harus mendapatkan perawatan lebih dahulu, kau bisa kehilangan banyak darah!!”

Tidak ada pilihan lain bagi Hoya selain menuruti Myungsoo, lukanya akan semakin parah jika tidak segera di jahit. Minho memang bukan lawan yang seimbang untuknya.

 

*

*

*

 

Dengan terseok-seok SungJong mengimbangi langkah Minho yang begitu cepat dan panjang. Pergelangan tangannya mungkin sudah memerah dan menimbulkan bekas akibat cengkeraman Minho yang terlampau kuat. Dari langkah demi langkah yang ia lalui, SungJong tahu bahwa dirinya saat ini mungkin berada di rumah Minho.

Rumah itu begitu besar dan bagus, ada banyak sekali pengawal yang berjaga, seperti rumah ini di tempati orang penting saja. Sebenarnya rumah itu terlihat indah namun juga da sedikit aura kejahatan disana. SungJong dapat merasakannya.

Braaakk…. ”aduuhh….” Minho menghempas SungJong ke sofa dengan begitu keras. ”Jinri-ya, kau masuk ke dalam dan segera obati dirimu!” perintahnya.

Jinri mengangguk patuh. ”Baik oppa….” ucapnya sembari melangkah, ketika tatapannya dengan SungJong beradu, Jinri memberikan tatapan mengejek padanya, karena dia sangat senang jika SungJong disiksa oleh oppa-nya itu.

Setelah Jinri berlalu, Minho segera kembali mengalihkan perhatiannya pada SungJong, dia mendekat dan menarik rambutnya dengan keras.

”Petualangan sudah selesai anak kecil, kau sudah membuatku benar-benar merasa marah!!”

SungJong memandang dengan tanpa takut sedikitpun. ”Kenapa? Apa yang akan kau lakukan padaku sajangnim? Membunuhku??” sedikit bergidik SungJong mengucapkan hal itu, karena seberani apapun dirinya tetap tidak akan bisa mengalahkan namja itu.

Minho tersenyum sinis. ”Intinya sangat mudah, aku akan menyiksamu hingga para hyung mu memohon padaku dan menyerahkan dokumen tadi padaku….” tegas Minho sembari menarik rambut SungJong lebih kuat.

”Mimpimu saja, kau sudah tamat, kau akan segera masuk ke dalam penjara!! Dasar penjahat tidak tahu diri……”

Plaaakkk…. Satu pukulan keras mendarat di pelipis SungJong membuatnya terjerembab menabrak meja kaca dan terjatuh di lantai. Tidak cukup sampai disana, Minho segera menarik baju SungJong dan memaksanya berdiri.  “Kau sudah mempermalukanku hari ini, apakah kau tidak berniat untuk meminta maaf padaku..??”
“Maaf?” SungJong tersenyum sinis. “Kau bahkan sudah menyebabkan aku kehilangan aboeji-ku, membuat keluargaku menderita, bukankah seharusnya kau yang meminta maaf padaku…??”

Duuuk!! Minho membenturkan kepala SungJong pada tepi kursi dengan keras kemudian menariknya lagi. “Oh ya, lalu kau akan menuntut balas? Lee Sungmin sajangnim sudah tinggal kerangkanya saja, dia tidak bisa apapun, dia sudah mati!!” ucap Minho dengan bangga  yang luar biasa, dari nada dan juga tatapannya dia seolah meremehkan dan menganggap jika dirinya adalah orang yang paling hebat.

“Kau….mulutmu sama sekali tidak berpendidikan!!” SungJong tersulut. Dia mengangkat tangan kirinya kemudian…srreeeet, kukunya menggores ringan di pipi sebelah kanan Minho. Hal ini justru membuat Minho semakin marah.

“Kurang ajar!!!” Minho kembali mendaratkan pukulannya pada wajah SungJong dan membuat namja itu terjatuh ke lantai. Minho mengejarnya kemudian mencekeram bajunya kemudian memberikan pukulan berkali-kali pada wajah SungJong.

Dari sudut bibir dan pelipis SungJong mulai mengeluarkan darah, wajahnya memar, Minho benar-benar kuat, dan juga dia sedang dalam emosi yang luar biasa. SungJong tidak bisa melawannya, karena ini bukan bidang keahliannya. Tubuhnya terasa lemas dan sakit luar biasa. Bahkan saat Minho menarik dirinya untuk mendekat, dia merasa seperti boneka tali yang dikendalikan oleh pemiliknya.

“Bagaimana? Sudah bersedia untuk meminta maaf padaku…??” tanya Minho sembari menyingkirkan beberapa rambut SungJong yang berkeliaran di keningnya kemudian menekan luka di pelipisnya. “Arrghh…” tindakan itu membuat SungJong meringis kesakitan.

“Katakan maaf padaku, lalu serahkan dokumen tadi, mungkin aku akan sedikit berbaik hati untuk melepaskanmu…”

Di sela-sela sakitnya SungJong tersenyum mengejek. “Aku tidak akan pernah meminta maaf padamu sialan!! Dalam mimpimu saja!!”

“Kurang ajar!! Kau memang ingin disiksa lebih kejam lagi!! Ikut aku!!” Minho memaksa SungJong untuk berdiri dan kembali menyeretnya. Dia tidak peduli jika langkah SungJong sudah tidak bisa menyamai lagi langkahnya karena sudah lemas. Yang Minho inginkan sekarang adalah SungJong meminta ampun padanya dan meminta hyung-nya untuk menyerahkan dokumen yang ia tanda tangani tadi.

***

BYUUURRR! Minho tersenyum puas setelah mendorong tubuh yang lebih kecil darinya itu ke kolam renang miliknya. Disana dia dapat melihat SungJong begitu susah payah berontak disana, luka di wajahnya mungkin perih sekali terkena air, juga air tersebut sangatlah dingin meskipun cuaca sedang tidak begitu dingin.

Minho kembali menyeringai, dengan perlahan dia melepas jas, baju dan celana nya untuk kemudian mengganti dengan bathrobe berwarna biru laut. Kolam renang ini adalah khusus untuknya, di desain dengan seperti keinginannya, siapapun tidak akan berani berenang disini termasuk Jinri, karena kedalaman kolam ini tidak main-main.

Byuurr…Minho melompat dengan lihai dan berenang mendekati SungJong yang tengah berjuang di tengah kolam, rontaannya sedikit melemas karena mungkin sudah lelah. Minho berenang mendekat lalu meraih pinggang SungJong dan mengangkatnya ke permukaan.

“Hosshhh…..uhuk…uhukk..uhukk….” SungJong menarik nafas dalam-dalam dengan terbatuk beberapa kali, jika dia tidak segera terangkat oleh Minho mungkin dia bisa pingsan karena kehabisan nafas. SungJong bisa berenang sebenarnya, namun kolam renang ini sangat dalam serta airnya begitu dingin membuatnya susah untuk beradaptasi.

“Kau suka kolam renang ku baby…??” tanya Minho kemudian.

SungJong tersadar bahwa yang ada di hadapannya ini adalah seorang iblis. Dia begitu tidak suka saat menyadari Minho mendekap pinggangnya dan membuat tubuhnya dan tubuh Minho menempel di antara air yang dingin. Namun SungJong tahu jika Minho melepaskan pinggangnnya dia akan langsung tenggelam.

“Sebenarnya aku ingin sekali berenang dengan kekasihku di sini, namun tak apa, kurasa untuk sekedar bermain-main denganmu akan lebih menyenangkan…”

“K-kau…benar-benar kejam…”

Minho mengangkat tangan kirinya dan mengusap wajah SungJong. “Benar, dan jika kau tidak meminta maaf atas apa yang telah kau lakukan tadi aku bisa lebih kejam lagi sekarang…” ucapnya. “Jadi SungJong-ah, kau mau meminta maaf sekarang…??”

“Dalam mimpimu brengsek!!”  SungJong menghentakkan kakinya dan mencoba melepaskan diri dari Minho kemudian berenang susah payah. Dada Minho naik turun menahan amarah, tak butuh waktu yang lama bagi Minho untuk menangkap kembali SungJong.

Minho menekan bahu SungJong ke dalam air hingga seluruh tubuh namja itu masuk ke dalam genangan kolam itu. SungJong berontak, menghentakkan kaki dan juga tangannya, namun semakin dia melakukan itu Minho semakin mendorong dirinya lebih dalam ke air.

Hosshhh…..beberapa saat kemudian Minho mengangkat SungJong ke permukaan, membuat pergerakan yang sangat luar biasa pada air. Tidak berlangsung lama, Minho kembali menenggelamkan SungJong yang masih memberontak dengan sangat kuat. Air di tengah kolam itu turut bergerak liar akibat aktifitas itu.

Minho tertawa gila dan puas, biasanya dia akan menyiksa orang dengan pistol dan juga pisau, namun menyiksa SungJong dengan cara seperti ini sangat menyenangkan.

“Haahahhaaha……bagaimana SungJong-ah?? Kepalamu sudah segar dan bisa untuk mengatakan maaf padaku..??” teriak Minho sembari memunculkan SungJong kembali  ke permukaan.

“hosshh…hossh….” Penampilan SungJong benar-benar berantakan, matanya memerah, hidungnya mulai mengalir air, nafasnya terputus-putus serta tubuhnya menggigil. “J-jangan h-harap…”

Minho tersenyum. “Kau memang keras kepala!! Mungkin kau memang harus lebih diberi pelajaran lagi sayang…” Minho berucap kemudian menenggelamkan lagi SungJong ke dalam air. Kali ini benar-benar lebih dalam, dan Minho turut menyelam dan melihat raut wajah SungJong yang benar-benar tersiksa.

Rontaan SungJong makin lama makin melemah, Minho menarik pinggang SungJong untuk dibawa menyelam ke dasar kolam, mungkin ini sangat menyenangkan bagi Minho, namun bagi SungJong sangat menyiksa, sudah banyak air yang tertelan olehnya. Minho berenang dan menyelam seolah dia baru pertama kalinya bermain air. Waktu terus bergulir, tidak ada niat bagi Minho untuk muncul ke permukaan.

“Hossh…..” Selang beberapa waktu kemudian Minho berenang ke atas dan muncul bersama SungJong di permukaan. Minho mengelap wajahnya puas, senyum mengeembang di bibirnya. Dia menengok ke arah SungJong, mata namja itu terpejam. “Aishh…merepotkan…”

***

Dengan menyeruput minuman anggurnya yang terasa nikmat, Minho duduk di tepi kolam renang. Menikmati suasana yang membuatnya rileks. Aliran air menetes dari ujung rambut hitamnya.

“Aakh…”

Perhatian Minho tertuju pada seseorang yang tergeletak tak sadarkan diri di sampingnya. Lee SungJong tentu saja, namja itu tergeletak dengan tubuh basa kuyup mata terpejam, bekas luka di wajahnya mulai terlihat. Minho senang karena setidaknya dia sudah sedikit membalas rasa sakit hatinya tadi.

Sajangnim itu kemudian meletakkan gelas minumannya dan menepuk pipi SungJong beberapa kali. “Bangunlah, kau tidak boleh mati dulu, aku belum puas untuk menyiksamu…” ucapnya.

Mata SungJong sedikit terbuka, namun tidak bisa melihat dengan jelas. Minho mendesah pelan kemudian meraih handuk kemudian menyelimutkan pada tubuh SungJong yang basah. “Kau dengar, ini bukan karena aku perhatian padamu, namun aku membutuhkanmu untuk mendapatkan dokumen itu kembali!” ucapnya.

Minho kemudian menyelipkan tangan kirinya pada kaki SungJong dan tangan kanannya pada punggung SungJong, kemudian mengangkat tubuh yang lemas itu. Tidak sulit bagi Minho, karena tubuh SungJong begitu ringan untuknya.

“Choi Minho!! Minho-ya!!”

Terdengar teriakan dari sana, entah siapa itu yang pasti Minho segera menyembunyikan wajah SungJong lebih dalam pada dadanya.

“Kau kemana saja? Aku sudah menunggumu, aku membolos kerja untuk bertemu denganmu, kau malah tidak datang!!”

Suara itu, sepertinya SungJong tidak asing dengan suaranya. Namun dirinya tidak ada tenaga untuk membuka mata dan melihat siapa disana, dirinya terlalu lemas dalam dekapan Minho. “Ohh Woohyun-ah…”

Woohyun? Nam Woohyun? Benar sekali, suara itu milik Woohyun, asisten chef. Tapi kenapa Woohyun bisa disini? Apakah dia mengenal Minho?

Namja itu, Nam Woohyun sesaat melihat seseorang yang berada dalam gendongan Minho dan mengangguk-angguk. “Kekasih baru mu? Pantas saja kau melupakan janji kita!”

“Tidak, bukan kekasihku, dia hanya bersikap kurang ajar padaku, dan aku ingin memberinya sedikit hadiah…”

“Astaga kau menyiksa orang lagi? Apakah kau menenggelamkannya di kolam renang mu? Minho-ya kau benar-benar….”

“Sudahlah, kau pulang saja, hari ini aku masih banyak urusan…”

Minho berlalu begitu saja, ketika melewati Woohyun, tidak sengaja tangan SungJong terjuntai, Woohyun sedikit menyipitkan matanya, namun sepertinya dia tidak begitu menyadarinya dan segera berbalik pergi.

 

“Kau akan terkurung disini hingga hyung-mu memberikan dokumen itu sebagai ganti dirimu!”

Braak! Minho menutup pintu kamar itu rapat lalu menguncinya. Mereka pikir setelah Minho membubuhkan tanda tangan itu disana semuanya akan berakhir, namun Minho masih memiliki seribu rencana yang tidak pernah dipikirkan oleh siapapun.

 

*

*

*

Detak jam yang terdengar sepertinya sudah membuat Hoya tersadar sejak tadi. Dirinya dengan sedikit tertatih beranjak dari tempat tidur. Sepertinya sudah terlalu lama dia berbaring disini, dan bagaimana dengan dongsaengnya? Hoya merasa kalut, Minho bisa berbuat apapun setelah kejadian itu.

Seperti sebelumnya, Hoya akan mencoba mengesampingkan rasa sakitnya lebih dahulu dan mencari jalan keluar, dia sungguh tidak peduli jika dia harus menikah dengan Jinri asalkan dongsaengnya tidak terluka sedikit pun. Dia sudah berjanji akan melindungi mereka semua pada sang aboeji.

“hyung?? Kenapa kau bangun?? Luka mu masih belum kering…” Sungyeol datang dan segera meraih bahu Hoya.

“Bagaimana SungJongie? Kau sudah berhasil membawanya pulang??” tanyanya mengabaikan rasa sakit pada lukanya.

Sungyeol menggeleng. “Masih belum, tapi kau jangan cemas, aku sudah mengaturnya dengan Myungsoo, kau hanya perlu untuk istirahat, …”

“Sungyeol-ah, bagaimana aku bisa istirahat jika SungJongie masih berada bersama dengan Minho, lebih baik kau serahkan saja dokumen itu padanya!!”

“Tidak, SungJong sudah merencanakannya, jika dokumen itu jatuh ke tangan Minho maka semuanya akan berantakan, kita tidak akan bisa lepas dari dia untuk selamanya…”

Hoya menarik nafas panjang, luka di perutnya kini terasa sangat perih dan menusuk. Waktu terasa bergerak lambat baginya, namun saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu. Hoya terlalu larut dalam pikirannya hingga tak menyadari jika Sungyeol terus menolak panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.

Sungyeol juga tidak ingin Hoya tahu jika Minho berkali-kali menghubunginya dan mengajukan penawaran untuk melepaskan SungJong. Namun dirinya dan Myungsoo lebih memilih untuk mencari jalan lain dari pada harus menyerahkan dokumen itu pada Minho dengan cuma-cuma.

*

*

“Apa yang terjadi? Kau menyuruhku untuk menggantikan chef sementara??” Woohyun memburu Myungsoo yang sedang berjalan menuju loker ruang gantinya. Ini memang waktu istirahat setelah melayani beberapa pelanggan tadi, tanpa kehadiran SungJong, Woohyun secara otomatis menggantikannya.

Namun pengumuman dari Myungsoo tadi mau tidak mau membuatnya sangat terkejut. “SungJongie sedang ada urusan yang harus ia selesaikan, dia menyerahkan semuanya padamu….”

“Maksudku…kenapa mendadak, dan dia tidak memberitahukan langsung padaku, aku hanya terkejut dan sedikit tidak mengerti….”

“Apakah SungJong harus secara langsung mengatakan itu padamu..?” Myungsoo sedikit merenggut.

Woohyun mengacak rambutnya frustasi. “Tidak bukan seperti itu…” sanggahnya, namun kemudian dia menatap Myungsoo dengan serius. “Ini bukan berarti sesuatu terjadi padanya kan? maksudku…apakah dia baik-baik saja…?” tanyanya penuh selidik, masalahnya ada yang membuat Woohyun sedikit tidak beres, sejak kunjungannya ke rumah sahabatnya kemarin dia seperti tidak tenang.

“Lee SungJong aku yakin baik-baik saja..” Myungsoo menyambar jaket hitamnya dan memakainya dengan segera. “Aku juga tidak bisa masuk kerja beberapa hari ini, percayalah Lee sajangnim pun juga mempercayakanmu mengolah tempat ini…” sambungnya.

“Tapi Myungsoo-ya…”

Myungsoo tersenyum dan menepuk bahu Woohyun pelan. “Aku pergi!” namja itu pun bergegas beranjak dari sana, ada hal penting yang harus dia kerjakan. Myungsoo hanya menggelengkan kepala tidak mengerti namun tidak bisa berbuat apa-apa untuk meminta penjelasan dari Myungsoo.

“Myungsoo-yaa! Kau belum menutup loker mu!!” Woohyun berteriak, namun sepertinya Myungsoo tidak mendengarnya. Woohyun mendengus kesal, dia bekerja disini agar mempunyai teman yang menyenangkan, namun akhir-akhir ini dia sering ditinggal. “ohh apa ini…?”

Mata besar Woohyun membulat ketika menemukan sebuah kartu berbentuk persegi panjang dan tipis di loker Myungsoo. Dia segera memungut dan memperhatikannya. “Choi….Minho…??”  Woohyun membacanya dengan teliti sekali lagi, karena dia yakin ada banyak sekali nama Choi Minho di negara ini, bukankah Myungsoo juga mempunyai teman bernama Minho di Rumah sakit? Namun…Woohyun menggelengkan kepala saat melihat logo dan nama perusahaan yang tertera disana.

“Kenapa Myungsoo tidak pernah bercerita tentang Minho padaku…?” gumamnya. Namja itu kemudian merogoh ponselnya lalu mencari-cari sebuah nomor di kontak ponselnya. Tidak butuh lama baginya untuk menunggu seseorang yang ia panggil untuk menjawab panggilannya.

“Minho-ya! Bisakah kita bertemu? Aku ingin- YAAK!! Dasar tidak sopan!” Woohyun menggerutu karena panggilannya di putus secara sepihak. Namja itu kemudian menutup loker Myungsoo dan bergegas keluar.

 

“Myungsoo-yaa!!!”

Myungsoo yang baru saja keluar dari halaman restaurant menghentikan langkahnya dan segera menengok. Namja itu mendapati Woohyun yang tengah berlari untuk menghampirinya. Mau tidak mau Myungsoo pun menunggunya untuk sampai di hadapannya. “Ada apa…?”

“Kenapa kau memiliki ini…??” tanya Woohyun sembari memperlihatkan kartu nama yang ia temukan tadi. Myungsoo nampak terkejut dan segera merebut kartu nama itu, menyimpannya dengan kasar ke dalam saku jaket. Tindakan ini justru membuat Woohyun mengernyit tak mengerti. “Kenapa..?”

Myungsoo menggeleng. “Bukan hal yang penting, kenapa kau terlihat penasaran sekali?” Myungsoo balik bertanya.

“Dengar, apapun yang menyangkut nama itu…maksudku Choi Minho aku harus tahu, apalagi aku sudah mengenalmu lama Myungsoo-ya…”

“Aku tidak mengerti…”

Woohyun menghela nafas. “Choi Minho…sahabatku sejak kecil!” jawabnya yang otomatis membuat Myungsoo membelalakkan matanya kaget. Woohyun berteman dengan seseorang yang telah menghancurkan hidupnya selama ini? Entah kenapa Myungsoo merasa tidak mempercayai ini. “Itu..tidak mungkin, bagaimana bisa kau berteman dengan monster itu..??” celetuk Myungsoo menggeleng-gelengkan kepala.

“Dari cara mu membicarakan dia terdengar kau mempunyai dendam yang cukup besar…” gumamnya. “Kau…apapun itu jangan pernah berurusan dengannya, aku sangat mengenal Minho, sejak kecil dia sudah belajar hal-hal yang kau tidak bisa bayangkan, dia tidak segan untuk melukai siapapun yang dia rasa mengganggu, dan….aahh aku tidak bisa menjelaskannya, yang pasti…kau tidak boleh berurusan dengannya…jangan sekalipun!” Ucapan Woohyun terdengar sangat bersungguh-sungguh.

Myungsoo tidak tahu harus berkata apa namun semuanya sudah terlambat, sejak awal Minho sudah ikut campur dengan hidupnya, dan harusnya Myungsoo tidak pernah membiarkan ini terjadi. “Kau sahabatnya…” ucapnya kemudian. “Namun sepertinya kau tidak kuasa untuk mengatasi perilakunya yang seperti monster…”

“Apa yang Minho lakukan padamu?” Woohyun menatap Myungsoo serius. “Aku akan berbicara padanya jika itu masalah yang serius, kau jangan menganggap aku tidak pernah menasehatinya selama ini, namun Minho bukan orang yang akan mendengarkan siapapun termasuk diriku, sahabatnya sejak kecil…”

“hyung….aku ingin…”

CKIIIIIIIT…..Perhatian Myungsoo dan Woohyun teralih begitu sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berhenti mendadak di depan mereka. Dari dalam mobil itu keluar beberapa orang bertubuh besar. “YAA!! Apa-apaan ini??” Myungsoo berontak ketika mereka mulai mendekatinya , menarik tangannya dan memaksanya untuk ikut. “YAA! Hmmph….” Salah satu dari mereka membungkam Myungsoo dengan sebuah kain, mencekal tangannya kemudian menyeretnya masuk ke dalam mobil.

“Myungsoo-ya!!! Apa yang kalian lakukan??? YAA!!! Lepaskan dia!!!” Satu dorongan berhasil membuat Woohyun terjatuh. Dan dalam sekejab Myungsoo telah berhasil di paksa masuk ke dalam mobil itu, kendaraan beroda empat itu kembali melaju dengan kecepatan tinggi.

“KIM MYUNGSOO!!!!” Woohyun berteriak, namun percuma, mobil itu berlalu. Namja itu sesaat mencoba memutar otaknya, mobil itu dan orang-orang itu sepertinya ia pernah melihatnya  di suatu tempat.

Tak butuh waktu lama bagi Woohyun untuk mengepalkan tangannya geram. “Choi Minho kau benar-benar…..”

^

^

^

^

Minho sudah menyelesaikan makan siangnya ketika Jinri meminta izin padanya untuk pergi keluar. Meskipun dengan syarat Jinri harus ditemani beberapa pengawal. Rasa jenuh dan malasnya hari ini sedikit mengganggu hasratnya untuk bekerja.

Dibanding semua itu, dia mempunyai pekerjaan yang harus dia selesaikan. Merebut dokumen yang sudah ia tanda tangani itu atau kuasanya atas perusahaan keluarga Lee dicabut. Minho yakin mereka tidak sepintar dirinya, dan mereka juga pasti belum melakukan pengesahan atas semua itu.

Kleek.. Kunci pintu kamar di sudut itu terbuka, Minho mulai melangkah masuk ke dalam. Senyum khas dari nya muncul ketika melihat seseorang yang duduk di tepi tempat tidur. Sama sekali tak bergeming ketika Minho datang.

Langkah Minho mulai mendekatinya, SungJong yang terlihat lemas, memakai baju yang kemarin yang sepertinya sudah kering dengan sendirinya.

Sama sekali tak ada reaksi ketika Minho berdiri di sampingnya, terlalu malas untuk berbicara dan terlalu malas untuk melihat wajahnya.

Minho kemudian mencengkeram bahunya kemudian menariknya untuk menghadap dirinya. Tatapan mereka beradu, seringai Minho kembali tampak ketika melihat SungJong yang pucat dan tak bertenaga.

”Kau lapar..??” tanyanya dengan sedikit nada sinis. ”Kau mau makan? Tenanglah, makananmu tidak akan kuberikan racun…”

Dalam keadaan pucatnya SungJong mengalihkan pandangannya, wajah Minho benar-benar menyebalkan. Namun tidak membutuhkan waktu yang lama, Minho kembali merenggut wajahnya dan menghadapkan padanya.

”Jangan bertingkah jika kau mempunyai pilihan anak kecil!!” dari ucapan dan tatapan itu SungJong tahu jika Minho kembali tersulut emosi.

”hyung mu itu masih belum menyerahkan dokumennya, padahal aku sudah mengatakan kalau aku sedang menyiksamu disini…” sambungnya. ”Apakah itu berarti mereka tidak peduli padamu…..”

”Itu bukan urusanmu sajangnim, jika dengan ini bisa menghentikan semua perbuatan jahatmu maka tidak apa-apa….”

Seperti dugaannya tadi, Kilatan mata itu bertambah marah, dan SungJong merasa Minho menarik rambutnya dengan begitu keras. “Akkh…”

“Dengar, aku bisa saja membunuhmu sekarang, sebaiknya kau jaga ucapanmu dan segera minta maaf padaku!!!”

“Minta maaf padamu? Tidak ada alasan untukku minta maaf pada penjahat sepertimu…”

PLAAKK!! SungJong terhempas ke tempat tidur disusul rasa nyeri yang luar biasa pada pipi sebelah kirinya. Tak sampai disitu, Minho kemudian naik ke tempat tidur dan mencekik leher SungJong keras. “Kau bilang apa tadi??? Katakan sekali lagi!!!”

“Uhhhk….uhuk…”

“Katakan sekali lagi!! Kalian semua benar-benar tidak belajar dari apa yang sudah aboeji kalian lakukan! Kalian semua memang tidak berguna…” Minho menekan jemarinya semakin kuat dan membuat SungJong meronta sekuat tenaga. Mungkin memang salah memancing kemarahan Minho saat dirinya dalam keadaan yang terdesak.

Mungkin Minho baru sedikit mengendurkan tekanannya begitu mendengar pintu kamar tersebut diketuk dari luar. Dengan satu teriakan Minho memerintahkan untuk segera masuk. “Oh kalian…” ucapnya sembari melepaskan SungJong dan turun dari tempat tidur. SungJong terbatuk-batuk dan mengambil nafas panjang, bekan kuku Minho terasa tercetak disana dengan dalam. Orang itu benar-benar tidak waras.

“Myungsoo hyung…..” mau tak mau SungJong segera bangun dan berdiri, Myungsoo bersama dengan pengawal Minho yang datang tadi. Namun tentu saja dengan kondisi Myungsoo yang tidak bebas, tangan dan kakinya terikat dengan kuat, mulut terlakban serta para pengawal yang memegangi dengan erat.

SungJong hendak mendekat, namun Minho dengan gesit menahan tangannya lalu mendorongnya kembali ke tempat tidur. Sajangnim itu kemudian memerintahkan mereka untuk  mengikat Myungsoo pada kursi. “Woaah anaknya Kim Jong Woon Sajangnim…” Minho mendekat kemudian melepas lakban Myungsoo.

“YAAA!!! BRENGSEKK LEPASKAN AKU!!!!”

“Wuups lebih baik kau memang di bungkam saja…” ucap Minho lalu merekatkan kembali lakban itu pada mulut Myungsoo. Rontaan Myungsoo hampir membuat para pengawal kewalahan, namun dengan kekuatan mereka, Myungsoo berhasil terikat sempurna pada kursi.

Minho kemudian menatap tajam Myungsoo yang terlihat sangat kesal padanya. “Bagaimana? Kau sudah memutuskan untuk memberikan dokumen kemarin? Aku sudah menunggu jawabanmu untuk setuju..” ucapnya. “Jadilah anak yang baik maka  kau tidak akan menderita….”

Dari tatapan itu..Minho bisa membacanya, Myungsoo sedang membantah ucapannya, dan pandangan yang Myungsoo berikan itu adalah pandangan menghina. Minho tersenyum sinis. “Baiklah, kau memang sangat bodoh, izinkan aku bermain-main dengan kekasihmu hingga kau mau untuk memberikan dokumen itu…”

Sangat cepat bagi Minho untuk menghampiri SungJong kemudian menarik tangannya dan…Braaakkk! Satu dorongan kuat berhasil membuat SungJong menabrak meja kecil di samping tempat tidur. Semua benda diatasnya jatuh tak beraturan ke lantai. Myungsoo yang menyaksikannya berontak kuat semakin marah.

Namun Minho tidak peduli, dia menghampiri SungJong dengan menarik rambutnya, satu tamparan lagi mendarat mulus di pipi SungJong. Tidak hanya sekali, berkali-kali kemudian tangan Minho bertemu dengan wajah SungJong. Kulit yang putih itu mulai terlihat memerah. Akan tetapi SungJong sama sekali tidak melawan dan membiarkan Minho berbuat semaunya. Dan selama itu pula dia tidak berani menatap Myungsoo.

“Itu balasan karena kalian berani menolak perintahku!!” bentak Minho sembari mendorong SungJong kembali ke lantai. Namja itu tidak bergerak. Minho kemudian berdiri, mengisyaratkan pengawalnya untuk keluar dari sana. Tatapannya bertemu dengan tatapan Myungsoo yang penuh amarah. Minho tersenyum sinis.

Pintu tertutup dan suasana menjadi sunyi, Minho sudah pergi dari sana. SungJong dapat melihatnya dari celah tempat tidur. Dan dari luar juga terdengar Minho mengunci kamar itu lagi seperti sebelumnya. Ini berarti sudah aman, SungJong segera berdiri. “Myungsoo hyung!!” dirinya segera berhambur menuju Myungsoo yang terikat lalu melepas lakbannya dengan pelan.

“SungJong-ah!!! SungJong-ah, kau tidak apa-apa..?? si brengsek itu benar-benar kurang ajar!! Aku tidak bisa menerima dia menyakitimu seperti itu…” Myungsoo menghujani SungJong dengan banyak pertanyaan begitu lakbannya terlepas.

SungJong tersenyum kemudian mengecup kening Myungsoo singkat, matanya yang menangkap ada gunting yang terjatuh di lantai, tanpa menunggu lama SungJong mengambilnya dan mencoba membuka ikatan Myungsoo. “Aku tidak apa-apa hyung, justru aku yang mencemaskanmu, aku tidak menyangka dia akan menculikmu seperti ini, aku pikir Sungyeol hyung yang….”

“Kenapa kau tidak melawannya saat dia menyiksamu…??” tanya Myungsoo masih tidak terima.

“Aku tidak melawannya karena aku ingin dia cepat-cepat pergi dari sini dan aku bisa melepaskanmu…”  jawabnya. “Dan lagian kemarin aku sudah mencoba melawannya namun percuma, dia itu benar-benar sudah berpengalaman menyiksa orang.

“Astaga, aku sudah tak tahan lagi, aku ingin segera lepas dari monster itu…”

Ikatan terakhir di tubuh Myungsoo terlepas, dia mencampakkan tali itu dan segera berhambur memeluk SungJong erat. “Satu hari aku tidak bertemu dengan mu aku sudah merindukanmu baby!!” ucapnya. “Katakan padaku, apakah Minho menyakitimu..??”

“Yaah, dia menenggelamkanku di kolam renang kemarin….”

Myungsoo kemudian melepaskan pelukannya lalu menangkupkan pipi SungJong. Sedetik kemudian bibir mereka menyatu dan bunyi kecupan pun mulai terdengar. “Jangan cemas, dia akan segera mendapatkan balasannya, berani sekali dia membuat kekasih ku ini terluka….” Celetuknya sembari kembali mengecup bibir manis kekasihnya itu. SungJong dengan segera menggunakan tangan kirinya sebagai tumpuan tubuhnya sementara tangan kanannya melingkar erat di leher Myungsoo. Jika tidak seperti ini mungki dirinya sudah terjatuh ke belakang, karena Myungsoo memberikannya ciuman bertubi-tubi, mengecup serta melumat bibirnya tanpa jeda.

“hmmph…s-sudah…hentikan dulu…” SungJong mendorong dada Myungsoo kemudian mengelap bibirnya. Dia rasa waktunya tidak tepat untuk bermesraan di tempat seperti ini.

Namun Myungsoo malah tersenyum sedikit menyeringai. Kemudian sepasang tangan kekarnya meraih tubuh SungJong untuk berdiri, mencium kembali bibir manis itu dengan cepat. Langkah Myungsoo memaksa SungJong untuk mundur. Hingga SungJong merasa kakinya membentur ujung tempat tidur .

Bruugh..tautan pada bibir mereka terlepas sejena ketika SungJong terjatuh ke tempat tidur. Namun itu tidak berlangsung lama karena Myungsoo segera naik ke tempat tidur, memposisikan dirinya diatas tubuh SungJon dan kembali meraup bibirnya. “hmmph…”

Myungsoo mendominasi, SungJong membiarkan Myungsoo melumat habis bibirnya. Ini tidak bisa dikatakan ciuman yang lembut, karena dirinya mereka hampir tidak bisa bernafas dan Myungsoo masih mencoba untuk menikmatinya bibirnya. Suara yang keluar dari sela-sela bibir SungJong seolah menjadi penyemangat sendiri untuk Myungsoo. tangan kirinya mulai merayap ke dalam koas biru SungJong sedikit menyingkapkannya sehingga kulit perut yang putih itu terekspos. Jemari Myungsoo mulai menari disana.

“Ssshh…sudah hentikan….” Ucap SungJong sembari menangkupkan wajah Myungsoo melepaskan tautan pada bibir. Pandangannya dan Myungsoo beradu. “Kalau Choi Minho tiba-tiba masuk bukankah lebih gawat….”

“Aku tidak peduli baby…” sambungnya singkat, tanpa menunggu persetujuan dari SungJong, Myungsoo kembali mendorong tubuh SungJong dan kembali menikmatinya. Dia tidak peduli apapun, mengenai Minho dia juga sudah tidak mau takut dan was-was, namja itu harus segera ia singkirkan secepatnya.

 

*

*

*

Ruangan yang mempunya pendingin lengkap itu seolah tidak sedang menggunakan fungsinya dengan baik. Dua namja yang saling berhadapan itu terlihat memancarakan raut wajah yang tidak bisa di bilang tenang. Woohyun terus mempertahankan argumennya dan Minho juga dari kilatan matanya terlihat marah besar.

Tangan Woohyun kemudian bergerak dan menyambar tangan Minho. “Kkaja, bebaskan mereka lalu serahkan dirimu, aku bersedia membantumu Minho-ya, aku temanmu….”

Tanpa di duga Minho menyentakkan tangan Woohyun dengan kasar, ini membuat Woohyu terkejut. Minho memang kasar secara ucapan namun dia tidak pernah kasar secara fisik padanya. “Kau pikir aku tidak bisa mengatasinya sendiri hah…????”

“Aku tahu!!!!” Woohyun membentak. “Aku sangat tahu kau bisa mengatasi semuanya, namun caramu tidak bisa kubenarkan, Minho-ya jebal!!”

“PERGI!!!!!!” Woohyun kembali terdorong ke belakang.

Belum sempat mereka meneruskan percakapan, tiba-tiba gemuruh langkah kaki terdengar memasuki rumah itu. Mata buat Minho terlihat lebih memancarkan amarah luar biasa. Sekitar sepuluh orang berpakaian polisi mengepung dirinya dan juga Woohyun, menodongkan pistol dengan tepat ke arah mereka.

“Choi Minho-ssi, menyerah dengan baik-baik atau dengan paksaan….??”

 

 

-TBC-

∞CHEF∞ #Chapter 5

∞Tittle      : ∞CHEF

∞Author  : Jung Yoojin

∞Cast       : -Kim Myungsoo  -Lee SungJong, others

         

∞Genre    : bromance, love,  friendship, work life,

∞Rate       : T+ (For bad Language)

∞Disc        : Their self but this fict is mine,

∞Warning :  boyslove, typos, don’t like don’t read.

                   Please no silent reader :’3

*

 

*

Masih saling berdiri, berkutat dengan pikiran masing-masing. Keadaan yang seperti ini memang sebelumnya tidak pernah dibayangkan oleh mereka semua.Mungkin hanya Hoya yang selaku sumber informasi yang masih terlihat tenang meskipun hatinya juga merasa panik.

Sungyeol tak jauh berbeda, ada fakta lain yang membuatnya terkejut di bandingkan dengan apa yang telah Hoya sampaikan. Namja berhidung mancung itu menatap mereka semua dengan satu persatu. Seolah mencari kebenaran yang mungkin saja terlukis disana. Namun tentu saja Sungyeol tidak bisa membacanya, karena dia bukan seseorang yang ahli dalam membaca raut wajah seseorang.

Dibandingkan dengan dua hyung-nya, SungJong lebih memilih di dekat Myungsoo dan menggenggam tangan kekasihnya itu. Myungsoo benar-benar shock, kesal, dan tidak menyangka. Apa yang diucapkan oleh Hoya adalah sesuatu yang selama ini tidak pernah ia bayangkan.

“Dia meninggal….? Itu tidak mungkin….? T-tidak..kenapa dia harus meninggal…?” Myungsoo merancau. SungJong berani bersumpah, ekspresi Myungsoo saat ini adalah seperti reaksi dirinya ketika mengetahui sang aboeji sudah tiada. Dirinya sedikit terharu karena Myungsoo seperti juga sangat merasa kehilangan aboejinya.

Hoya menarik nafas panjang, wajah yang biasanya tampak menyebalkan kini terlihat lebih bijaksana. “Aku sengaja tidak memberitahumu mengenai ini, aku juga melarang media untuk meliput, semua ini untuk kebaikan kalian bertiga, aku tidak punya pilihan lain, aboeji sangat terpukul dengan kematian aboejimu pagi itu…”

“Hyung….” Sungyeol menyela. “Aku sangat menghargaimu yang ingin melindungi kami bertiga, tapi kenapa tindakan itu diperlukan….? Kenapa kami harus dilindungi….??”

Apa yang dikatakan Sungyeol memang sepertinya memwakili apa yang ingin disampaikan oleh Myungsoo. “Bukankah….seharusnya kalian senang….aboeji meninggal maka sudah tidak ada yang bisa mengganggu kalian, tapi kenapa dia pun juga harus mati…?” Myungsoo terus-terusan menggelengkan kepala.

“Karena hubungan persahabatan mereka sangat kuat Myungsoo-ya, aboeji tidak ingin memberikan kesaksian itu di persidangan, aboeji sangat tersiksa….”

“Jika seperti itu kenapa dia datang ke pengadilan dan memberikan kesaksian itu…? Dia penghianat, jika bukan karena kesaksian kalian berdua, aboeji tidak akan mungkin menderita…!” tuduh Myungsoo.

Hoya mengangguk pasrah. “Aku minta maaf seumur hidupku padamu, harusnya memang aku tidak melakukannya, harusnya aboeji tidak datang menjadi saksi….”

“LALU KENAPA KALIAN DATANG???”

“Karena jika kami tidak datang memberikan saksi, kalian bertiga, perusahaan, juga keluargamu akan terluka!!!”

Ucapan telak Hoya membuat semuanya terperanjat kaget. Yaah, Ini adalah sifat Hoya sebelum menjadi menyebalkan. Dia adalah Lee Hoya yang beberapa tahun lalu menjadi kebanggan bagi Sungyeol dan SungJong.

“Apa maksudmu….?” Desis Myungsoo.

“Semenjak aboeji kita melakukan kerja sama, bisnis berkembang pesat, bisa dibilang itu adalah masa kesuksesan terbesar dalam sejarah karier mereka, kalian bertiga bahkan selalu mendapatkan yang terbaik kala itu, Myungsoo-ya kau bahkan sudah mendapatkan apartement mewah di usiamu yang masih sangat muda….”

Mau tidak  mau mereka bertiga membenarkan apa yang diucapkan Hoya. SungJong juga teringat dahulu apa yang dia butuhkan akan selalu tersedia dengan sangat cepat. Harus dia akui semenjak aboejinya tiada dia sedikit merasa ada yang susah dari segi keuangan, yaaah meskipun dia tahu bagaimana Sungyeol bekerja keras untuk mencukupi semua kebutuhannya.

“Namun saat itu…mereka berdua ingin mencoba hal baru dalam berbisnis, mereka melakukan kerja sama dengan seorang pebisnis dari Jepang, awalnya semua lancar-lancar saja, hingga hari itu….” Hoya menghentikan ucapannya sejenak kemudian menggelengkan kepalanya kuat. Namja itu mempunyai kenangan yang buruk yang tidak pernah ia ceritakan pada siapapun.

“Orang itu mulai rakus dan menginginkan semuanya, tidak disangka jika orang yang diajak untuk bekerja sama itu adalah seseorang yang berada dalam anggota organisasi mengerikan…” lanjutnya. “Perusahaan jatuh karena penggelapan uang olehnya, klien di Korea serta pemilik saham mulai marah, hingga suatu kali semua tuduhan jatuh pada Kim ahjussi…Entah bagaimana semua bukti mengarah pada dirinya…”

Hoya melihat berbagai macam ekspresi dari mereka ditunjukkan. Myungsoo meskipun tidak menatap dirinya, ia tahu bahwa kebenaran ini adalah yang dinantikan namja itu. “Aboeji tentu mengetahui bahwa dalang di balik semua ini adalah orang itu, dia berusaha mati-matian untuk menyelamatkan Kim ahjussi dari tuntutan para pemegang saham, aboeji bahkan….nekat menemuinya, namun…itu adalah perbuatan yang salah….”

“Orang itu kemudian menculik aboeji dan…aku, dia menunjukkan foto kalian bertiga, foto yang di ambil diam-diam yang itu berarti kalian selama ini sudah diawasi, kalian pasti tahu apa maksudnya, dia ingin kami memberikan kesaksian bahwa Kim ahjussi adalah yang bertanggung jawab atas semuanya…”

Bercerita seperti itu bagaikan menggali kembali masa lalu yang selama ini dipendamnya. Dan hal itu membuat Hoya sedikit merasa sedih. “Aboeji menolak tentu saja, namun….” Hoya kembali berhenti membuat Myungsoo yang tidak menatapnya berubah mengarahkan mata elangnya pada dirinya.

Hoya kemudian membuka kancing kemejanya lalu menunjukkan sesuatu. “Mereka menembakku jarak dekat, untuk membuktikan mereka tidak main-main….” Ada bekas luka yang cukup dalam di dada sebelah kanan Hoya, ahh pantas saja selama ini Hoya selalu berpakaian begitu rapat. Luka itu mungkin menjadi salah satu alasannya.

“Apa…?”

“Aboeji sadar bahwa orang itu sungguh-sungguh, dan jika kalian bertiga sampai dibunuh oleh mereka, tentu saja aboeji tidak akan bisa membiarkannya, sementara tidak ada cara yang lain…”

Raut wajah Hoya terlihat sedih. “Hari itu kami terpaksa menghadiri persidangan dan memberikan kesaksian palsu, namun….aboeji sudah menceritakan semua kebenarannya pada Kim ahjussi…”

“Jadi aboeji sudah tahu…?” Myungsoo bergumam.

“Aboeji-mu bahkan mendukung kesaksian palsu itu karena dia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap kalian, sebaliknya aboeji sangat terpukul harus menjebloskan sahabatnya sendiri ke dalam penjara, aboeji sudah sakit ketika memberikan kesaksian itu…”

“Hari itu ketika Kim ahjussi terkena serangan jantung setelah vonis hukumannya, aboeji benar-benar terpukul, kondisinya memburuk, aboeji merasa bersalah karena dirinya kau kehilangan sosok aboeji, tujuh jam kemudian aboeji menyusul aboejimu….”

Mereka bertiga saling memberikan respon yang berbeda-beda, Myungsoo terhuyung dan akhirnya terduduk di sofa dengan terkejut. Sementara SungJong mulai merasa matanya berkaca-kaca, hatinya mulai merasa sedih merindukan sosok aboeji yang sangat ia sayangi.

Sungyeol mungkin lebih tegar karena dia tidak ingin membuat Hoya bertambah sedih karena mengingat sesuatu yang sangat mengerikan yang selama ini ia simpan dengan baik.

“Lalu kenapa kau tidak melaporkannya kejadian sesungguhnya? Atau paling tidak kau bisa memberitahuku…” ucap Myungsoo kemudian. “Aku bisa saja mencari orang itu dan mungkin jika aku tidak bisa menyeretnya ke penjara aku akan membunuhnya….”

Hoya menggelengkan kepala. “Kekuasaan orang itu benar-benar besar Myungsoo-ya, dia masih menemuiku setelah itu, mengancamku….hingga saat ini…”

Giliran SungJong dan Sungyeol yang terkejut. “Apa hyung? Hingga saat ini?”

“hmmm, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah menjauh dari kalian semua, aku sangat ingin tinggal bersama dengan mu Sungyeol-ah, SungJong-ah, namun aku tidak bisa, aku takut orang itu akan semakin membahayakan kalian, bahkan aku harus berpura-pura untuk tidak peduli dengan perusahaan….dan membiarkan Sungyeol bekerja keras sendirian…”

“………”

“Setidaknya aku sudah lega ketika SungJong kembali ke Korea, aku tidak membutuhkan pengawal rahasia untuk melindungi SungJong ketika masih di Itali, maafkan aku, aku benar-benar putus asa….” Mungkin ini adalah penjelasan terakhir yang bisa dikatakan oleh Hoya sebagai obat rasa penasaran dari mereka bertiga.

Myungsoo memijat kepalanya pelan. Benar, memang sudah lama dia curiga kenapa saat itu Lee ahjussi datang dengan wajah pucat di pengadilan. Mungkin rasa penasarannya sudah terjawab. Dan kini dia mulai merasa bersalah karena telah berburuk sangka pada seseorang yang sebenarnya berusaha untuk melindunginya.

Namja itu kemudian berdiri, berjalan pelan menuju hadapan Hoya. Untuk beberapa alasan dia merasa namja ini adalah sosok yang sebenarnya yang dipercayai aboejinya. Myungsoo kemudian membungkukkan badannya dalam. “Maafkan aku, aku telah berburuk sangka, menuduh kalian…maafkan aku….”

Hoya menepuk bahu Myungsoo dan kembali menegakkan tubuhnya. “Setelah ini kau mungkin harus lebih berhati-hati, sebisa mungkin aku menyesatkan mereka yang mencarimu, namun kini aku tidak bisa menjaminnya lagi….”

“Aku akan melindungi diriku sendiri mulai sekarang, ah tidak, aku juga akan membantumu, membantumu melawan orang itu…!” ucap Myungsoo bersungguh-sungguh. Entah siapa yang dimaksud Hoya dengan orang itu, namun Myungsoo mungkin bisa menebak, karena dia selalu ingat dengan siapa saja aboejinya melakuan bisnis. Dan setahunya hanya ada beberapa yang berasal dari jepang.

****

Sungyeol telah memberikan izin bagi Myungsoo untuk menginap di rumahnya hari ini. Dan cukup lama SungJong berada di dekapan Myungsoo hingga namja itu tertidur. Hari ini adalah hari yang berat bagi Myungsoo. SungJong sama sekali tidak keberatan ketika harus berada di samping Myungsoo, menemani namja itu.

Setelah Myungsoo benar-benar telah terlelap, SungJong perlahan bangkit dari tempat tidur dan menuju keluar kamar. Seharian ini dia belum sempat makan. Hell,ini adalah sesuatu yang lucu karena dia Chef, setiap waktu memasak namun dirinya sendiri belum sempat makan apapun.

SungJong berpikir, mungkin saja di dapur masih ada sedikit makanan. Atau jika dia beruntung dia masih menemukan beberapa bahan makanan di dapur.  Namun langkah sang chef muda itu berhenti di ruang tengah tepatnya ketika melewati sofa berwarna coklat melingkar. Disana Hoya nampak terlelap dengan keadaan yang….sedikit-agak-berantakan. Dia memeluk beberapa lembar kertas, di atas meja berserakan buku dan juga berkas. Hoya mungkin sedang bekerja keras.

Sesaat SungJong terkejut, hari ini pandangannya tentang Hoya berubah seratus persen. Dia masih ingat setiap kata yang diucapkan oleh namja itu. Pantas saja selama dia di Itali, ia selalu merasa bantuan selalu datang setiap kali dia membutuhkan. Seperti kala dia berjalan di malam hari dan ada seseorang yang mengganggunya, entah darimana datangnya namun ada beberapa orang juga yang datang membantunya.

“hyung…kenapa  kau membuatku selalu membencimu…?” SungJong mendekat dan duduk disamping Hoya. Memandangi wajah sang hyung yang tengah terlelap. Sebelumnya SungJong belum pernah menatapnya sedekat ini. Ahh faktanya Hoya sangat menyayanginya seperti Sungyeol, Hoya adalah seseorang yang bisa SungJong banggakan sekarang.

“hyung, aku minta maaf untuk semua perlakuanku yang tidak pernah sopan padamu…”

Namja itu kemudian memeluk leher Hoya dengan erat. Dan ini mungkin pelukan pertama SungJong pada Hoya. Seharusnya memang seperti ini sejak awal. Hoya adalah orang baik. “Eungh…” mungkin pelukan SungJong terlalu kuat hingga membuat namja itu mulai membuka matanya. “hmm SungJongie…? Kenapa…?” tanyanya sembari mencoba untuk bangkit, namun SungJong terus memeluknya.

“Aku ingin memeluk hyung ku sendiri, apa tidak boleh…?”

“Tapi aku belum mandi SungJong-ah….ada banyak kuman yang bersarang di tubuhku…”

“Aku tidak peduli, bahkan kuman bisa menempel dan memelukmu, kenapa aku tidak?”

Hoya tersenyum dan mengelu kepala dongsaengnya itu. “Lebih baik kau segera tidur, ini sudah larut malam, aku tidak ingin besok kau salah memotong jarimu ketika memasak akibat tidak cukup tidur…” ucap Hoya pelan. Dan benar sekali, nadanya sudah berubah lembut.

SungJong kemudian menggeleng. “Aku tidak bisa tidur karena aku lapar..”

“Benarkah..? Kau ingin aku menemanimu untuk pergi keluar mencari makan?” tawar Hoya. Sesaat SungJong berpikir, jika dia dan Hoya pergi keluar dan makan mungkin ini kesempatan baginya untuk memperbaiki hubungannya dengan saudara tertuanya itu. Bertingkah manja seperti apa yang selama ini ia lakukan pada Sungyeol.

Namun sesaat kemudian SungJong menggeleng. “hmm, bagaimana jika kita makan di rumah saja hyung, aku akan memasak untukmu, aku rasa Sungyeol hyung mempunyai persediaan bahan makanan yang banyak…”

“Memasak untukku…?” Hoya sumringah. “Aku bahkan belum pernah sekalipun mencicipi masakanmu, baiklah, kau harus memasak yang lezat untukku…”

SungJong tersenyum kemudian bangkit diikuti oleh Hoya menuju dapur. Malam mungkin sudah larut, namun SungJong tidak akan melepaskan kesempatan untuk bersama dengan hyung nya itu.

****

Jika saja tidak menuruti ketidaksabarannya, mungkin SungJong masih ikut bergabung membicarakan bisnis yang tidak dia mengerti itu. Namun, ia akhirnya lebih memilih untuk masuk ke dalam restaurant terlebih dahulu, sementara Myungsoo bercakap-cakap dengan Sungyeol serta Hoya. SungJong merasa senang karena meraka semua sudah mulai akur, namun pembicaraan mereka termasuk golongan topik pembicaraan yang tidak ia sukai.

Dia lebih memilih untuk segera masuk ke dalam restauran, mempersiapkan semuanya. Ini masih tergolong pagi. Dan SungJong yakin belum ada yang datang. Namun anggapan itu sirna ketika melihat pintu ruang ganti terbuka. Chef itu menjadi penasaran, siapa yang telah datang sepagi ini.

Ouh…bibirnya mulai ber-oh ria ketika melihat siapa disana. Nam Woohyun, berdiri di depan loker sembari memegang sesuatu, dia bahkan sudah berganti pakaian kerja. SungJong berpikir ini kesempatannya untuk berbicara dengan Woohyun.

“Hmm…” Woohyun mendongok begitu mendengar seseorang datang. “Ahh Chef Lee, kau sudah datang? kenapa datang sepagi ini?” tanya Woohyun hanya sekilas menatap SungJong.

SungJong kemudian menyandarkan tubuhnya pada loker di hadapan Woohyun sembari bersedekap tangan. “Kenapa kau menghindariku…? Apa..aku berbuat salah? Kau juga tidak mengajakku untuk makan malam lagi…”

“Aku tidak menghindarimu chef…” jawabnya, namun masih tidak ingin menatap SungJong. Dari sorotan matanya, namja itu terlihat resah dan tidak nyaman.

“Kau tidak menatapku, itu bukti bahwa kau menghindariku…kenapa? Katakan, hanya ada kita berdua sekarang…”

Woohyun semakin resah dan mengacak rambutnya, dia akhirnya memberanikan diri untuk mempertemukan pandangannya dengan pandangan SungJong. “SungJong-ah…” panggilnya dengan informal. “Kau sudah tahu kalau aku mempunyai rasa padamu….”

“hmm…” SungJong hanya mengangguk-angguk. Woohyun melanjutkan ucapannya. “Kau juga meresponnya, tapi kemarin aku tahu bahwa kau adalah kekasih Kim Myungsoo, aku tidak bisa menerimanya…namun aku bisa apa…”

Cemburu. Yahh, alasan Woohyun mengacuhkannya adalah karena cemburu. SungJong kemudian tersenyum dan menyentuh lengan Woohyun. “Kau tidak mencintaiku hyung, perasaanmu itu bukanlah cinta…”

“Mustahil, jangan mengelak SungJong-ah, aku mencintaimu…” tegas Woohyun kukuh dengan ucapannya.

“Kau tertarik padaku karena aku mirip dengannya…”

Woohyun terlihat bingung. “Dengannya? Siapa maksudmu?”

“Dasar bodoh! Siapa lagi kalau bukan mantan kekasihmu si Key hyung itu…” jawabnya membuat diameter mata Woohyun bertambah lebar. “Dan aku meresponmu karena aku merasa hanya kau orang yang memperlakukanku dengan baik ketika aku sampai disini, aku tidak bermaksud untuk memberikan harapan padamu….” Jelas SungJong. “Aku ingin berteman denganmu, tidak lebih…”

“Chakkaman…kenapa kau bisa tahu soal Key….? Aku tidak pernah bercerita apapun tentang dia padamu….”

SungJong lagi-lagi tersenyum. “Karena dia adalah sunbae ku, sudahlah, aku dan dia sangatlah berbeda, dan kau sudah putus dengannya, dia bahkan sudah memiliki kekasih baru, kenapa kau masih memikirkannya? Dasar bodoh…”

“Mwoo? Kau…astaga…tapi mungkin kau benar…” ucapnya kemudian. “Maafkan aku, mungkin aku memang terobsesi pada seorang namja yang mempunyai karakter unik seperti kalian…hmm..”

“Dan jangan mendiamkanku lagi, kita bisa berteman mulai sekarang, ahh bukankah memang kita sudah berteman sejak awal…?” SungJong memukul lengan Woohyun dengan pelan.

Woohyun menariknya lebih dekat kemudian menarik rambut SungJong pelan. “Kau sebenarnya menyebalkan! Bagaimanapun aku lebih tua darimu, aku tidak mau berteman denganmu, aku lebih ingin menjadikanmu dongsaengku…” guraunya. “Dan itu artinya kau harus selalu sopan padaku, tidak boleh membentak dan menyuruhku melakukan sesuatu…”

SungJong mencibir. “Tapi disini aku adalah boss mu, kau harus patuh padaku hahaha….” SungJong lega. Tidak serumit apa yang dipikirkannya, dia memang harus mencegah perasaan Woohyun padanya tumbuh semakin besar. Dan sepertinya Woohyun mengerti dengan apa yang dia lakukan. SungJong salut dengan namja ini.

Tak…Pintu terbuka. Woohyun dan SungJong menengok. Dari balik pintu muncul sosok Myungsoo dan juga Sunggyu. Mungkin Sunggyu hanya menampakkan wajah yang biasa saja. Namun lihatlah, tatapan Myungsoo sungguh sangat tajam dan penuh kecurigaan terhadap mereka berdua. Maklum saja, tangan SungJong masih berada di lengan Woohyun, sementara tangan kanan Woohyun melingkar indah di pinggang SungJong.

“Upps, apakah kita….mengganggu?” tanya Sunggyu.

“Ahh…” SungJong segera menampakkan wajah seriusnya. “Sebaiknya kalian cepat ganti baju dan mulai bekerja…” ucapnya. “Kita bicara lagi nanti Woohyun-ssi…” SungJong terkikik geli, entah kenapa dia ingin sekali membuat Myungsoo kesal.

Dan ketika melewati namja itu, mata Myungsoo seolah menyiratkan bahwa dia tidak akan mengampuni SungJong untuk hal ini. Dia benar-benar suka melihat tatapan cemburu dari Myungsoo seperti itu.

*

*

*

“Aku tidak bisa menangani bagian pemasaran, aku sudah berusaha keras kau tahu hyung, mungkin sudah sebaiknya kau yang mengambil alih…” ucap Sungyeol membawa beberapa tumpukan dokumen dan masuk ke dalam ruangan.

Tadi pagi dia menceritakan semua masalah yang dihadapinya pada Hoya. Namun sepertinya memang Hoya sudah mengetahuinya, karena selama ini Hoya hanya berpura-pura tidak peduli. Dia juga sempat menginginkan Myungsoo untuk mulai bergabung. “Kau baik-baik saja…?” tegur Sungyeol kemudian.

Hoya tiduran di sofa ketika Sungyeol datang tadi. Dia dengan perlahan mulai bangun dan mencerna apa yang barusan dikatakan oleh Sungyeol. Namun dia memang terlihat tidak baik. “Kemarikan biar aku periksa…” pintanya.

Dengan masih menatapnya Sungyeol memberikan dokumen itu. “Kau pucat, kau yakin kau baik-baik saja hyung? Sebaiknya kau istirahat saja…”

“Aku akan mengurus bagian ini Sungyeol-ah,…” celetuk Hoya tanpa berniat untuk menanggapi serius pertanyaan Sungyeol. “Mungkin kita bisa meminta bantuan Paman soal tempatnya, SungJong sudah mengelola restaurantnya mustahil dia tidak mau membantu kita juga…”

Sungyeol mengangguk setuju, namun perhatiannya tentu masih tertuju pada kondisi Hoya. “Terserah padamu, tapi sekarang kurasa kau harus istirahat, kau pucat dan juga…”

“Kita ke rumah Paman sekarang? Kurasa semakin cepat kita bertemu dengannya akan semakin baik…dan lagi sudah lama aku tidak…”

“LEE HOYA-SSI DENGARKAN AKU!!!” Sungyeol membentak dengan tatapan yang tajam. “Kau sakit, dan kau harus istirahat terlebih dahulu, persetan dengan urusan perusahaan, aku tidak peduli apapun, kesehatan adalah yang nomor satu…!”

Bohong jika Hoya tidak terkejut. Dia tentu tersentak bukan main. Namun beberapa saat kemudian dia tersenyum dan meletakkan dokumen itu. “Kau sangat perhatian, tapi aku tidak apa-apa, aku..uhuk…uhuk…” Hoya terbatuk beberapa kali.

“Tubuhmu tidak bisa berbohong hyung, kita ke dokter sekarang!” putus Sungyeol dengan tegas.

“Sungyeol-ah…” Hoya nampaknya masih ingin menahannya. “Ada yang ingin aku tanyakan padamu…”

Meskipun tidak sabar, Sungyeol segera menjawab cepat. “Apa…?”

“ngg….sudahlah, lain kali saja…”

“Kau benar-benar menyebalkan, segera pakai jaketmu dan ikut aku rumah sakit, kali ini aku tidak menerima penolakan!” tegas Sungyeol sekali lagi. Hoya terlihat mengangkat bahunya dan segera bersiap.

Setidaknya dia harus melepaskan jas yang menempel ditubuhnya dan mengganti dengan jaket. Sebenarnya dia tidak apa-apa, hanya kelelahan dan kurang tidur saja. Namun menolak keinginan mulia dongsaengnya tentu tidak baik. Hoya sedikit menyipitkan matanya ketika tak sengaja melirik Sungyeol yang tengah menunggunya, dongsaeng yang memiliki poster lebih tinggi darinya itu terlihat menatap ke arah ponselnya.

Entah apa yang tertera dari sana, yang pasti ekspresi Sungyeol menunjukkan hal yang aneh. Hoya sedikit penasaran tentang hal itu, ini bukan yang pertama kalinya, tapi semalam dia juga melihat raut wajah itu pada Sungyeol. “Kau sudah selesai? Cepatlah kita berangkat!” tegurnya. Dan Hoya pun segera bergegas pergi.

***

“Rumah sakit? Kau sakit hyung..?” SungJong mendadak cemas dan melemparkan handuk kecilnya sembarangan. “Ahh Hoya hyung? Kupikir memang dia hanya kelelahan, semalam tidur begitu larut, baiklah sampai jumpa dirumah hyung, jaga dirimu!” ucapnya mengakhiri pembicaraan.

Mungkin ini pertama kalinya SungJong merasa cemas ketika mendengar Hoya sakit. Jika dipikir-pikir mungkin selama ini dia terlalu jahat pada saudara tertuanya itu. Ketika Hoya mengalami kecelakaan beberapa waktu yang lalu dia masih menganggap bahwa Hoya ceroboh dan hanya ingin merepotkan Sungyeol saja. Namun bisa saja kecelakaan itu benar-benar  dimanfaatkan Hoya untuk tinggal bersama Sungyeol dan dirinya.

Greb….Astaga! SungJong hampir terlonjak kaget begitu masuk ke dalam ruangan pribadinya di restaurant langsung disambut pelukan yang begitu erat dari belakang. Awalnya namja itu terkejut dan hampir mengutuk orang yang hampir membuatnya terkena serangan jantung itu. Namun dia mengenali tangan yang sedang melingkar di pinggangnya itu. “Myungsoo hyung!! Kau kurang ajar sekali huh, kenapa kau masuk kamarku tanpa izin..???”

“Sebelum kau kemari, kamar ini diberikan Dongwoo hyung untuk aku tempati…jadi ini adalah kamarku chef…” bisik Myungsoo di belakang sana. Dia menyusupkan wajahnya ke tengkuk SungJong dan menciuminya, SungJong selesai mandi, aroma harum dari tubuhnya begitu tercium dengan kuat.

SungJong sedikit menggeliat karena beberapa kali dia merasa Myungsoo menggigit-gigit kecil kulit tengkuknya. “Nghh..hyung..kau..aishh..hentikan, jika ada yang melihatnya…tidak baik…” mati-matian SungJong menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan desahannya. Hell, apakah Myungsoo sedang mencoba untuk menggodanya? Itu benar sekali, tangan kanan namja tampan itu mulai merayap dari perutnya terus keatas hingga menyentuh kulit leher SungJong. Membelainya pelan kemudian melepas kancingnya dengan gerakan perlahan sedikit menggoda.

“Katakan padaku, apa yang kau bicarakan dengan Woohyun tadi…kalian tidak berniat selingkuh dari ku kan…?” ucap Myungsoo, tiga kancing atas SungJong berhasil lepas. Tangannnya menyusup ke dalamnya. Memberikan sentuhan lembut yang menggelitik, membuat sekujur tubuh SungJong menegang.

“Ti-dak…aku hanya membicarakan sesuatu yang tidak penting…dan, aakh…” SungJong otomatis mendongakkan kepalanya kala Myungsoo meremas bagian dadanya sedikit keras kemudian lembut. Kesempatan itu dilakukan Myungsoo untuk segera menggelamkan wajahnya pada leher SungJong, mengecup dan menyesapnya. Mungkin sebentar lagi kulit putih itu akan berwarna merah keunguan. Myungsoo melakukannya seperti ia sedang makan masakan yang paling lezat di seluruh dunia.

“h-hhyung…ngg~ hentikan….pintunya masih….terbuka..” tegurnya lagi dengan susah payah. Meskipun dia tersiksa namun SungJong tidak berniat untuk menahan Myungsoo ataupun mendorong jauh tubuh kekasihnya itu untuk menolak.

Namja berwajah tampan itu kemudian membalikkan tubuh SungJong dengan cepat kemudian menyambar bibirnya. Braakkk….satu kaki kiri Myungsoo menendang pintu di belakangnya hingga tertutup dengan keras. Chup~Chup~ bunyi kecupan pada bibir sang kekasih manis nyaring terdengar. Tak sampai disitu, Myungsoo menekan tengkuk SungJong guna memperdalam ciumannya, melumat habis bibir yang terasa sangat manis itu.

Mungkin sudah tidak peduli dengan apa yang ada di luar sana karena Myungsoo sudah menutup pintu dengan menendangnya tadi, SungJong berusaha untuk membalas ciuman dari kekasihnya yang semakin liar itu. “Mpphh…” Semakin SungJong membalas pagutan itu, Myungsoo semakin tidak mau mengalah, bunyi desahan dari SungJong membuatnya gila. SungJong kewalahan.

Satu langkah, dua langkah ke belakang….dan akhirnya..bruk, SungJong terjerembab ke tempat tidur yang terasa empuk. Myungsoo sama sekali tidak mengizinkan SungJong untuk mengambil nafas lebih dahulu, dia segera menindih tubuh itu dan segera menyusupkan kembali ke leher putih yang selalu nampak menggodanya itu.

“ngghh hyungh…” mau tak mau SungJong mendongakkan  lagi kepalanyadan meremas baju bagian belakang Myungsoo sebagai pelampiasan. Myungsoo menggunakan tangan kirinya untuk melebarkan baju Myungsoo sehingga dada putih bersih itu terekspos. Ciumannya kemudian beralih ke bibir, melumatnya beberapa kali kemudian turun kembali ke leher hingga dada nya. Meninggalkan bekas memerah disana. Desahan yang keluar dari mulut SungJong terdengar seperti penambah semangat bagi Myungsoo.

“Sudah lama sekali…kau pergi terlalu lama baby…” bisik Myungsoo sembari menggigit pelan telinga SungJong.

SungJong menggelit kemudian menggerakkan tangannya dan menarik wajah Myungsoo dari sana. Tatapan mereka beradu, SungJong tersenyum, dia benar-benar suka dengan tatapan Myungsoo yang seperti mata elang itu. Dia kemudian mengecup bibir Myungsoo lebih dahulu. “Ketika aku pergi…apakah kau berselingkuh…?” tanyanya, dia sedikit menggoda Myungsoo dengan mengelus tengkuk Myungsoo yang sensitif.

Cup~ Satu kecupan mendarat di bibir SungJong lagi. “Tidak ada yang seperti dirimu baby,  kau berbeda….”

“Tidak ada yang seperti diriku? Itu berarti kau pernah mencari penggantiku…?” SungJong cemberut.

Myungsoo hanya menampakkan seringainya kemudian kembali meraup bibir SungJong. Dengan satu pergerakan Myungsoo berhasil melepas semua kancing SungJong lalu membuang bajunya begitu saja. Kulit wajah SungJong merona merah. Myungsoo terdiam sesaat dan tersenyum, namja itu kemudian menarik SungJong ke dalam pelukannya yang hangat.

 

******

 

 

Mungkin sudah beberapa kali SungJong mengecek ke kamar Hoya, namun sepertinya saudara tertuanya itu masih belum pulang. Padahal Sungyeol telah pulang dari tadi. Mungkin memang sejak dia menceritakan segalanya, Hoya sedikit sangat sibuk. Hoya juga beberapa kali berbicara dengan Myungsoo mengenai bisnis. Dan jika dipikir-pikir, Myungsoo memang cocok bekerja meneruskan perusahaan aboejinya dari pada di restaurant.

Dan yang lebih menggembirakan tentu saja Myungsoo sudah memaafkan Hoya karena kesalahpahaman itu. “upps..hyung kau ini kenapa??’ SungJong menegur Sungyeol yang hampir saja menabraknya ketikankeluar dari kamar.

“Ahh Jongie, aku mendengar keributan di bawah, apakah Hoya hyung sudah datang?”

SungJong turut penasaran, dia dan Sungyeol segera melihat ke bawah. Benar sekali, ada Hoya dan juga Myungsoo disana. Namun hal yang membuat mereka heran adalah, Hoya dan Myungsoo tidak hanya berdua, namun ada beberapa orang disana. Empat orang berbadan tegap dan memakai baju serba hitam nampak berdiri dengan posisi menjaga. Sementara yang berhadapan dengan Hoya itu seorang perempuan berambut pirang serta memakai setelah yang terbilang sedikit seksi.

“Siapa mereka hyung?” tanya SungJong heran. Sungyeol pun menggeleng. “Entah, mungkin rekan bisnis Hoya hyung, kkaja kita turun…”

Sepertinya anggapan jika itu merupakan teman bisnis Hoya adalah salah. Wajah Hoya benar-benar dipenuhi raut emosi. Demikian juga dengan Myungsoo. Sementara perempuan itu tampak dengan santai dan melihat kesekeliling. Angkuh, dan menatap orang lain dengan tatapan rendah.

“hyung…” SungJong menyentuh lengan Sungyeol pelan, tidak mengerti dengan situasi yang menegangkan seperti ini. Sungyeol juga sama, tak mengerti.

“Sekali lagi sudah aku tegaskan, bukti yang kau berikan padaku itu bukan bukti yang sah, itu hanya duplikatnya saja, aku butuh yang sah!” suara Hoya memecah keheningan.

Perempan itu tersenyum, arau lebih tepatnya senyum yang menyebalkan. “Itu hanya alasanmu saja untuk mengelak, jelas sekali disana tertulis apapun yang menjadi hak mu akan menjadi milik kami, kau menghidupkan lagi perusahaan itu, maka kau bekerja untuk kami…”

SungJong dan Sungyeol saling berpandangan tak mengerti. Hoya terlihat mengepalkan tangannya geram. “Jebal…bukan aku, itu bukan milikku, kau hanya bisa mengambil milikku, bukan milik dongsaengku, kau harus ingat itu…”

“Semua keluargamu Hoya-ssi, bukan hanya dirimu saja…” tegasnya.

“Apakah kau sengaja membuatnya terlihat seperti itu…?” Myungsoo ganti berbicara. “Meskipun surat itu asli tapi aku yakin ada sesuatu yang tidak beres, kau mencoba berbagai cara untuk membuat kami berlutut di hadapan mu…”

Senyum menyebalkan kembali tersungging dari bibir perempuan itu. Dia kemudian berjalan ke arah Hoya, jemari tangannya yang lentik kemudian terangkat dan menyentuh wajah Hoya. Namun disaat itu pula Hoya memalingkan wajahnya. “Kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan Hoya-ssi, jika kau melakukannya maka aku akan berhenti mengganggu mereka…”

“………” Hoya terdiam namun nafasnya memburu menahan emosi. Perempuan itu kembali menyentuh pipi Hoya dan mengelusnya. “Kenapa kau harus jadi orang yang egois….?” Tanyanya lagi. Tidak ada yang berani berbicara ketika melihat adegan itu.

Hoya menarik nafas panjang, kemudian memutar wajahnya dan menatap perempuan itu lekat. Tangan halus yang masih bermain disekitar pipinya itu ia hempaskan denga sedikit kasar. “Kau…silahkan lakukan sesuatu, aku tidak peduli, aku akan mencari jalan keluarnya, dan dengan jalan keluar itu tidak perlu untuk menikahimu, sialan!!”

Menikah? Sungyeol terkejut sekali mendengarnya, apa-apan itu? Sampai kapanpun Sungyeol tidak akan pernah rela Hoya menikah dengan perempuan seperti itu. Reaksi ini berbeda sekali dengan SungJong, dia memang terkejut, namun keterkejutannya itu berasal dari perempuan itu sendiri. Dia sedikit mendekat untuk melihat dengan jelas sosok itu. Meskipun pada akhirnya Myungsoo menahannya.

“Aku mengenalmu…” celetuk SungJong tiba-tiba. Hoya dan yang lainnya segera mengalihkan pandangannya pada SungJong. Perempuan itu menatap SungJong sesaat. “Ahh SungJongie, kau masih ingat denganku manis…?”

“Tentu saja, kau Choi Jinri…? Kau orang yang hampir saja membuatku di keluarkan dari sekolah,!!” dari nadanya jelas ada kemarahan disana.

Hoya dan Myungsoo terkejut mendengarnya. “ Kau mengenal iblis ini baby…??” tanya Hoya menunjuknya berang.

“Tentu saja!” SungJong mengepalkan tangan kesal. “Bagaimana bisa aku lupa padanya, hyung…orang ini yang memasukkan racun ke dalam masakanku hingga aku hampir di keluarkan!!”

“Mwoo..???” Sungyeol segera maju ke depan. Hoya dan Myungsoo juga terkejut, namun mereka mungkin tidak mengetahui persisnya. Karena disaat kejadian itu mungkin hanya Sungyeol yang tahu.

“Apa maksudmu Jongie..? Apa yang yang terjadi…?” tanya Hoya tak sabar.

Perempuan yang bernama Choi Jinri itu saling beradu pandang dengan SungJong. Alisnya yang tebal terlihat tertarik ke atas menandakan bahwa dia sedang meremehnya lawan bicaranya.

“Saat sekolah ku tengah mengadakan seleksi untuk menyambut seorang artis penting, entah kenapa iblis ini muncul dan menjadi salah satu juri, namun anehnya dia selalu mengawas gerak-gerikku lebih sering dibandingkan dengan siswa yang lain, ketika sudah selesai, masakan dinilai, tiga juri yang mencicipi masakanku tiba-tiba kejang dan berbusa, masakanku di racun…”

“Dan semua itu ulah perempuan ini, aku mendengar pembicaraannya dengan seseorang…aku beruntung bisa membuktikannya, namun lucunya dia terbebas dari hukuman…” ucap SungJong dengan nada yang geram.

Mendengar hal itu tentu saja kemarahan di wajah Hoya kembali terpancar. Dia menatap Jinri seolah-olah ingin membunuhnya sekarang juga. Sementara yang di tatap hanya tersenyum menyebalkan, dia bahkan masih menatap SungJong dengan meremehkan.

“Dan kau mau menikahi hyung ku??” bentak SungJong dengan menatap tajam. Jari telunjuknya menunjuk ke arah Jinri tidak rela. “Aku bersumpah akan menggagalkan semua itu bahkan membunuhmu jika perlu…”

“Jangan cemas Jongie, aku tidak akan mau menikahi iblis seperti itu!” celetuk Hoya menenangkan.

Jinri kemudian kembali menggerakkan tangannya dengan manja dan mengalungkannya pada leher Hoya. “Tapi kau tidak punya pilihan lain selain menikahiku honey…” ucapnya sembari memeluk Hoya, dia mendekatkan bibirnya pada telinga Hoya dan berbisik. “Atau kau lebih suka melihat dirimu sendiri jatuh miskin dan para dongsaengmu menderita..?”

Jelas sekali ada kemarahan yang terpancar semakin besar, namun Hoya sepertinya tidak bisa berbuat apapun. “Baiklah, besok aku dan Daddy akan kemari lagi, kuharap kau sudah membuat keputusan honey…” satu usapan lembut yang sebenarnya menjijikkan mendarat di pipi Hoya sekali lagi.

Perempuan itu mengisyaratkan para pengawalnya untuk pergi dari sana, tentu saja dengan satu kedipan menggoda yang di arahkan pada SungJong.  Ketika perempuan itu benar-benar pergi, Hoya segera membanting ponsel di tangannya dengan sangat emosi. Tak heran, benda malang itu kini hancur berkeping-keping di lantai. Baik Sungyeol maupun SungJong bersumpah ini pertama kalinya dia melihat Hoya semarah itu.

“Hyung! Aku tidak ingin kau menikahi monster itu! Dia hampir menyebabkan aku di penjara, dan yang lebih buruknya lagi aku dituduh sebagai pembunuh olehnya…” tegas SungJong.

Myungsoo menyentuh bahu SungJong untuk tenang, dia hanya tidak ingin Hoya bertambah tertekan dengan masalah ini.

“Aku tidak akan melakukan itu Jongie…” celetuk Hoya. “Setelah apa yang dia lakukan pada keluarga kita, mana mungkin aku akan menikahinya…” tegas Hoya. Namja itu kemudian berbalik dan segera bergegas pergi.

“hyung…” Sungyeol menahan lengannya. “Minum obatmu dulu, demam-mu masih belum turun…”

Hoya hanya mengangguk dan mengikuti Sungyeol. Pikirannya sedang kemana-mana, demamnya yang sejak semalam belum turun rasanya seperti mau meledak sekarang. Jika dipikir-pikir ini pertama kalinya  Hoya merasa ada yang memperahtikan ketika ia sedang sakit. Berkumpul dengan keluarganya memang yang terbaik untuk saat ini.

 

***

”Jadi orang itu adalah orang yang menghancurkan bisnis aboeji kita..??” tanya SungJong sembari meletakkan lotion di meja.

Sementara Myungsoo duduk di tempat tidur sembari memainkan ponselnya. Namja itu kemudian menganggukkan kepala pelan. Sedikit malas untuk membicarakan perempuan itu. ”Iya baby, tadi di kantor benar-benar kacau, Hoya-ssi terlihat marah sekali, aku bahkan tidak bisa berkata apapun….” ucap Myungsoo sedikit merinding. ”Aku tahu Hoya-ssi sedang berusaha keras, selain itu rasa bersalahnya padaku yang memaksa dia bekerja lebih dalam lagi….”

SungJong kemudian duduk di sampingnya. ”Bukankah dia masih terlalu muda untuk….”

”Oh tidak baby kau salah….” potong Myungsoo. ”Bukan Jinri, tapi kakak-nya,  Choi Minho, namun mereka berdua sama jahatnya, Jinri selalu terlibat dengan kejahatan kakaknya-nya, mungkin bisa dikatakan dia akan meneruskan bisnis-nya kelak….”

SungJong bergidik ngeri. Dia memang hanya pernah bertemu Jinri pada insiden itu, hanya saja dia  tidak menyangka bahwa perempuan itu memiliki ambisi yang mengerikan.

“Dan juga…” Myungsoo melanjutkan ucapannya. “Mereka masih memegang penuh perjanjian yang dibuat bersama dengan aboeji kita baby, semua harta yang kita miliki adalah milik mereka semua, perusahaan yang Sungyeol hyung rawat, semuanya…”

“Kenapa bisa seperti itu..? Mereka bahkan tidak bekerja keras membangunnya, kenapa harus memiliki sesuatu yang bahkan dia tidak bekerja keras membangunnya…?” geram SungJong tidak terima.

“Karena sepertinya perjanjian itu di manipulasi ulang ketika  Lee Ahjussi meninggal, disini yang paling menderita adalah Hoya-ssi, dia mengetahui semuanya namun dia tidak bisa berbuat apapun, hingga titik ini aku takut dia akan melakukan hal yang salah untuk membebaskan kita dari Choi Minho, baby…”

SungJong menggeleng tidak paham. “Apa maksudnya?”

“Jinri jatuh cinta pada Hoya-ssi, dia adalah tipe seseorang yang semua keinginannya harus terpenuhi, Minho tahu itu, jadi dia menggunakan hal itu untuk pertaruhan besar bagi Hoya, dia akan melepaskan dan membatalkan perjanjian itu asal Hoya mau menikahi Jinri…”

Jika ada kabar yang paling tidak mengenakkan mungkin ini adalah termasuk salah satunya. SungJong benar-benar kesal, perempuan itu sama sekali tidak pantas untuk Hoya. Dan Hoya bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia. “Aku tidak mau Hoya hyung menikah dengannya!!” tegasnya kemudian.

“Tentu saja baby, bahkan Hoya pun lebih suka memasukkannya ke dalam penjara dari pada harus menikahinya!” Myungsoo memberikan persetujuan. “Tapi Hoya-ssi juga mempunyai titik jenuh, dia sudah mencoba berbagai cara selama ini dan tidak berhasil, aku hanya takut dia akhirnya menyerah, dan jika Hoya menikah dengan Jinri sudah pasti, Minho akan memanfaatkan kemampuan Hoya-ssi untuk mengembangkan bisnis kotornya…

SungJong terdiam, tentu saja dia tahu Hoya suatu saat nanti akan berada dalam kejenuhan serta kelelahan. Dan apa yang diucapkan Myungsoo itu mungkin akan terjadi. Tapi…SungJong benar-benar tidak ingin itu terjadi. Hoya lebih menderita selama ini, terpaksa menjauhi dirinya dan Sungyeol.

“Kita masih punyai Lee Donghae ahjussi, kenapa Hoya hyung tidak meminta bantuan padanya?? Ahjuss mempunyai banyak sekali kekuasaan….” Celetuk SungJong teringat dengan Paman-nya yang sudah memberikan kepercayaan padanya untuk menjadi chef di restaurantnya.

“Lee Sajangnim-nim? Tidak baby, Hoya-ssi sepertinya tidak ingin melibatkannya, semakin banyak anggota keluarga yang terlibat, menjadi kesempatan yang bagus bagi Choi Minho untuk menguasai segalanya..”

“Kalau begitu tidak ada cara lain untuk menghancurkan perjanjian itu?”

Myungsoo berpikir sejenak. “Ada, pembatalan perjanjian, tapi itu mustahil, harus ditanda tangani oleh Choi Minho sendiri…” keluh namja itu.

 

 

“Kalau begitu segera buat surat itu hyung, setelah itu kau hanya tinggal menyerahkannya padaku…!”

“Baby tidak mudah mendapatkan tanda tangan dari Minho, kau harus tahu itu…”

SungJong tersenyum yakin pada Myungsoo dan menggenggam tangannya. “Aku ingin membantu Hoya hyung sekali ini saja, jebal, segera buatkan surat itu hyung…”

Sungguh Myungsoo selalu tidak mengerti dengan tatapan SungJong seperti itu. Susah di tebak dan dalam, seberapa lama pun mereka tidak bertemu, SungJong tidak pernah berubah. Jika ini menyangkut seseorang yang ia sayangi, tatapan itu adalah seperti dia ingin melakukan sesuatu.

Myungsoo kemudian menarik SungJong ke pelukannya. “Aku tahu kau ingin melakukan sesuatu, jika itu berbahaya aku tidak akan tinggal diam Jongie…” ucapnya sungguh-sungguh, dia menyibakkan rambut SungJong kemudian mengecup keningnya. SungJong tersenyum dan membalas pelukan Myungsoo dengan erat.

****

****

 

 

Sebenarnya bukan menjadi masalah jika rumah sebesar ini terlihat sepi. Bahkan suara detak jam terdengar seperti bunyi misterius yang datang dari dimensi lain. Myungsoo yang izin untuk tidak masuk kerja hari ini sedikit membuat SungJong kesepian di dalam restaurant. Tapi dia maklum karena Myungso pasti sedang sibuk membantu Hoya. Tidak masalah.

Namun ketika menginjakkan kakinya di rumah, dia sedikit merasa aneh. Masih sepi seperti tadi pagi. Hanya saja sekarang Hoya, Myungsoo serta Sungyeol saling duduk di ruang tamu. Melamun, tenggelan dalam pikiran masing-masing. Hoya masih terlihat lelah, raut bingung menghiasi wajah Sungyeol dan Myungsoo.

“Ngg….kalian tidak menyambut kepulanganku…?” ucap SungJong memecah keheningan. Hoya mengangkat kepalanya sejenak. “Haii Jongie, kau sudah pulang…” sapanya singkat, kemudian kembali merenung.

SungJong menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melemparkan tasnya untuk kemudian duduk di samping Hoya. “Apakah kalian ingin aku memasak sesuatu? Sepertinya kalian belum makan…” tawarnya sekali lagi.

“Tidak baby…kami tidak lapar…” tolak Myungsoo cepat, namja itu membolak-balikan kertasnya dengan malas. SungJong memajukan bibirnya beberapa senti, sedikit kesal.

“hyung, apakah kalian tahu? Apa pentingnya si kurang ajar Choi Minho itu daripada kesehatan hah? Aku berani jamin kalian sibuk mengurusi orang itu sejak tadi pagi, ayolah, bahkan Choi Minho mungkin sudah makan tiga kali hari ini, kenapa kalian bahkan tidak mau makan…??” ucap SungJong dengan kesal.

Namja itu kemudian menatap  Hoya serius. “hyung, menikahi Jinri bukan satu-satunya jalan, kau tidak pantas mendapatkan perempuan seperti itu..”

“SungJong-ah, segalanya telah aku lakukan, namun tidak ada yang berhasil, satu-satunya mungkin memang aku harus menikah dengannya…”

“Jika kau melakukan itu, maka hal yang lebih buruk akan terjadi hyung…” tegasnya. Hoya menatap dongsaengnya itu dengan putus asa. “Jongie, kau tidak mengerti, ini semua tidak semudah itu..”

SungJong cepat menggeleng. “Kemudian pertemukan aku dengan si brengsek bernama Choi Minho itu, aku akan mencoba berbicara dengannya…”

“Tidak!!” Hoya meninggikan suaranya dengan tegas. “Jangan coba-coba melakukan itu SungJong-ah, dia bukan manusia, kau bisa saja dibunuh hanya dengan sekali perintah, jangan main-main!!”

“Aku sudah pernah menghadapi hal yang berbahaya, bagi ku Choi Minho itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan racun tak terdeteksi di dalam makanan!!”

Prok..prok…prok…Terdengar suara tepuk tangan rendah disusul dengan suara derap langkah kaki yang mulai mendekat. Hoya terkejut dan segera berdiri, diikuti yang lainnya. Dalam sekejab, ruangan itu telah di kepung oleh sosok berbadan tegap berkacamata serta memakai setelan serba hitam. Dari balik sana muncul seseorang yang terlihat berkuasa, memakai jas sangat rapi berwarna putih, dan disampingnya berdiri seorang wanita yang bergelayut manja dilengannya.

SungJong benar-benar terkejut dan refleks dirinya beralih ke arah Myungsoo dan memegang lengannya.

Namja ber-jas putih itu melepas kacamatanya kemudian menatap SungJong serius. “Kenapa anak kecil? Ucapanmu tadi terdengar sombong sekali, aku sudah disini sekarang, kenapa kau tidak berbicara denganku..??” tegurnya, segera saja Hoya segera maju. “Jangan mengganggu dongsaengku Choi Minho-ssi, urusanmu hanya denganku!” katanya dengan  nada yang tegas.

Orang itu, Choi Minho menyeringai. “Kau mempunyai dongsaeng yang manis, bagaimana jika dia…”

“JANGAN BERANI-BERANI MEMANCING KEMARAHANKU!!” Hoya membentak karena dirinya sudah tahu arah pembicaraan Minho. Hal ini memicu rasa marah juga pada Myungsoo dan juga Sungyeol. Myungsoo segera menggenggam tangan SungJong erat.

Minho kembali tertawa pelan. “Waah kau tidak perlu berteriak Hoya-ssi, kupikir kau akan segera menjadi saudara ku, pernikahanmu dengan Jinri sudah diatur…” ucapnya, Hoya melirik ke arah Jinri yang tersenyum menyebalkan ke arahnya.

 

 

“Hoya hyung tidak akan menikahi perempuan itu!” seru SungJong. “Jika kau cukup punya harga diri menjauhlah dari kami, kau perempuan tapi menawarkan dirimu begitu rendah, dimana harga dirimu??”

“Mwoo??? Kau bilang apa??” Jinri tersulut kemarahannya. Namun Minho segera menahannya hingga membuat perempuan itu menatap tajam penuh kemarahan pada SungJong.

“Kau harus memberikan jawabanmu sekarang Hoya-ssi, jangan bilang kalau perasaan ku ini benar, kau lebih menginginkan saudara-saudara berakhir seperti Lee Sungmin-ssi dari pada menikah dengan dongsaengku yang cantik ini…”

Sungyeol segera menyela. “Dalam perjanjian tidak ada batas waktu yang ditentukan, yaah setidaknya sebelum kau memanipulasinya…”

“Kami juga bisa menuntut kalian!” tambah Myungsoo.

“Isinya sudah jelas bahwa kalian semua harus mematuhi apa yang menjadi kebijakan dari Choi Grub, tentu Hoya-ssi sangat memahami itu kan…??”

Minho tersenyum puas ketika melihat Hoya tidak bisa menjawab dan penuh keputusasaan. Sebentar lagi dia akan menang, seluruh hak perusahaan Hoya akan menjadi miliknya. Namja angkuh itu segera duduk di sofa dengan angkuhnya.

“Sangat tidak sopan karena kalian tidak menawari minuman pada tamu…” ucapnya, dia kemudian menatap SungJong. “Kudengar kau adalah seorang Chef, kau belajar di luar negeri…?”

“Itu tidak ada urusannya denganmu!” balas SungJong tidak kalah angkuh.

 

 

“Mungkin akan lebih baik jika kau memasak untuk kami, kami ini sangat lapar, perjalanan ke rumah kalian yang kumuh ini benar-benar melelahkan, aah mungkin kau bisa membuatkan sup jamur…?”

Tangan SungJong menggeram marah, jika dipikir dirinya belum pernah merasa semarah ini. Dia beruntung karena setidaknya Myungsoo mendekap bahunya untuk sedikit memberikan ketenangan.

“Apakah kau pikir aku mau memasak untukmu? Percaya diri sekali….”

“Kau harus karena aku yang memintanya!”

“Masakanku terlalu berharga untuk kau nikmati…”

Jinri mulai berang. “Yaa!!! Kau berani sekali menjawab Oppa ketika sedang berbicara hah…??”

“Kenapa? Aku tidak pernah mematuhi seseorang seperti oppa-mu ini, dia menyebalkan dan dia itu jahat, dia mungkin keturunan iblis aahh atau mungkin memang dia itu iblis yang menyamar…”

“SungJong-ah…” Myungsoo benar-benar terkejut dengan keberanian SungJng itu. Namun yang lebih ia cemaskan adalah ketika Minho mulai memandang kekasihnya itu dengan tatapan kesal.

“Kau terlalu banyak bicara, sayang sekali padahal tadi aku cukup menyukaimu, lebih baik kau segera memasak, kami sudah lapar, kau pasti sudah tahu bagaimana jika seseorang kelaparan akan bertindak…”

SungJong hendak membantah lagi, namun Myungsoo segera mencegahnya. Dengan kesal namja itu menghentakkan kakinya dan segera berbalik untuk pergi ke arah dapur. Sungyeol menatap dongsaengnya itu dengan prihatin, dia hanya bisa berharap agar dia tetap fokus dan tidak mengacaukan masakannya.

***

***

***

Braakk…Minho melemparkan satu dokumen lumayan tebal ke arah meja. Di maksudkan pada Hoya. Namun sepertinya Hoya tidak berniat untuk mengambilnya, wajahnya benar-benar keruh dan tanpa gairah. Myungsoo berinisiatif untuk mengambil dan memeriksa isinya.

Mata tajamnya menelusuri satu persatu tulisan yang tercetak disana. Setiap kalimat yang berhasil dia mengerti membuat raut wajahnya berubah. Dia kemudian menatap Minho dengan menggelengkan kepala beberapa kali. “Mustahil! Kau benar-benar licik, bagaimana bisa hanya menyisakan 20% untuk kami…?”

“Permainan bisnis Kim-ssi…” Minho menyeringai. “Kau seharusnya sudah mengerti di umurmu saat ini, bahkan sebelum aku lulus sekolah menengah aku sudah menguasai pasar bisnis…” sambungnya dengan nada berbangga diri.

“Ahh iya, oppa pandai sekali waku itu..” Jinri menyeletuk. “Oppa memang yang terbaik…”

Minho mengulurkan tangannya kemudian mengelus rambut Jinri. “Terima kasih chagiya…”

“Heiss!!!” Myungsoo benar-benar kesal. Pemandangan seperti itu membuatnya serasa ingin muntah saja. “Aku sudah tidak tahan lagi…”

Meskipun lirih namun Jinri masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Myungsoo barusan. Perempuan itu kemudian berdiri dan mendekat ke arah Myungsoo. “Sebenarnya ku lebih tampan dari Hoya, tapi ucapanmu tidak jauh beda dari anak kecil itu, tapi walaupun demikian aku tidak menolak jika kau mau jadi kekasihku….” Tangan Jinri mulai bergerak hendak menyentuh wajah Myungsoo, namun belum sampai kulit mereka bersetuhan, sebuah tangan yang lain mencengkeram tangan Jinri dengan sangat erat. “Awwwwh!!”

“Jangan berani-berani menyentuh kekasihku bodoh!!” ucap namja itu, Lee SungJong. Dia kemudian mendorong Jinri menjauh. Myungsoo tersenyum melihatnya, namja itu kemudian berdiri dan mendekap tubuh SungJong dengan lembut seolah ingin menunjukkan bahwa mereka berdua saling memiliki.

“Kau kurang ajar!!” bentak Jinri memegangi tanganny yang memerah.

“Dari pada kalian buang-buang tenaga dan kembali merepotkanku, segera makan makanan kalian dan pergi dari sini!!” ucapnya pedas. Mendengar itu Jinri segera menghampiri Hoya da menggandeng lengannya.

“Honey, Kita makan yuk, aku akan menyuapimu…” ajaknya manja

Seperti dugaan sebelumnya, Hoya hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauannya. Sungyeol benar-benar tidak menyukai hal itu. Bagaimanapun caranya mereka harus lepas dari bayang-bayang Choi Minho. Dengan cara apapun asal bukan dengan Hoya menikahi Jinri.

“Hey, kau mengesankan tadi…” bisik Myungsoo pada SungJong ketika semua orang sudah melangkah ke dapur. Dia menarik dagu SungJong kemudian mengecup bibirnya. “Ini baru kekasihku… “

 

*

*

*

Woaaah, Jinri nampak senang sekali melihat hidangan yang tersedia di meja sana. Dia bahkan melepaskan tangan Hoya dan berhambur untuk duduk di kursi meja makan. Minho pun juga nampaknya tertarik dengan semua yang sudah disiapkan oleh SungJong itu.

“Wooaah seperti permintaanku, semua serba jamur..” decak Minho. “Hoya-ssi kau beruntung sekali memiliki dongsaeng seperti Lee SungJong…woaah bagaimana kalau kau jadi kekasihku saja Jongie…?” sambungnya sembari mengedipkan mata pada SungJong.

SungJong mencelos tidak peduli, sementara Hoya sudh ditarik oleh Jinri untuk duduk di sampingnya. Sungyeol dan Myungsoo pun segera duduk mengikuti. Mungkin karena sudah feeling, SungJong tetap berdiri karena Minho pasti akan segera menyuruhnya untuk menyajikan makanan. Dan benar saja,perintah itu datang setelah tiga detik SungJong berpikir seperti itu.

Jika saja Minho tidak datang, mungkin ini akan menjadi agenda makan yang sempurna baginya dan juga para hyung-nya. SungJong kemudian mengambilkan beberapa potong jamur Goreng ke dalam piring Minho. Sementara Jinri suah makan dengan lahapnya, sup jamur kuah merah yang merupakan resep andalan SungJong rupanya sudah membuat nafsu makan perempuan itu menggebu-gebu.

“Euum nikmt sekali…” ucap Jinri. “Oppa kau harus mencoba sup ini, sama seperti buatan Eomma, nikmat sekali…”

Namun Minho sama sekali tidak menyahut. Dirinya asik menatap SungJong yang tengah mengisi air putih ke dalam gelasnya. Hal itu membuat Myungsoo mengepalkan tangannya geram.

“euhmm….” Jinri menghentikan kunyahannya dan terdiam. “O-oppa…uhuk…kenapa….” Wajahnya tiba-tiba pucat.

“Jinri kau kenapa?” tanya Minho dengan cemas.

“O-oppa,,, ini…uhukk-uhukkkkk…” Brakkkk…

“Jinri-ya!!!!”

Jinri terjatuh ke lantai,tubuhnya kejang, wajahnya pucat, matanya melotot seperti hendak keluar. Tangannya menekan lehernya. Minho panik bukan main, namja itu segera berhambur menuju dongsaengnya dan mengangkat kepalanya ke pangkuannya. “Jinri –yaaa!!!!

Hoya, Myungsoo dan juga Sungyeol tidak kalah terkejut, tiga namja itu bangkir dari tempat duduknya dan melihat apa yang tengah terjadi.

“Jinri-ya…Jinri-yaaa, bangun….” Minho bertambah panik ketika tubuh dongsaengnya itu berambah kejang, kemudian dari mulutnya keluar busa putih banyak sekali. Nafas Jinri terputus-putus.

“YAAA!!! APA YANG KAU LAKUKAN???” bentak Minho menatap SungJong dengan amarah luar biasa. Seperti mendapatkan isyarat, empat orang pengawal Minho mulai bertindak, mengeluarkan pistol mereka dan mengarahkan pada SungJong, Hoya, Sungyeol, juga Myungsoo. Suasana kacau

SungJong mematung, masih tidak berekpresi. Hal ini menimbulkan kecemasan luar biasa terhadap hyung-nya. “Jongie, apa yang terjadi…??” tanya Hoya menatap serius. Sementara disana, Jinri semakin banyak mengeluarkan busa dari mulutnya.

“KAU SIALAN!! APA YANG KAU LAKUKAN? KAU MAU MEMBUNUH DONGSAENGKU HAH???” Minho kembali membentak.

SungJong tiba-tiba tersenyum. “Ahhh, aku rasa aku salah menggunakan jamur beracun…” ucapnya enteng, namun itu cukup mengerikan.

‘Mwoo??” Bukan hanya Minho yang terkejut, namun juga semuanya. Terlebih Myungsoo, karena dia paling tahu secepat apa reaksi jamu jika beraksi. “Jongie..apa yang kau lakukan…” gumamnya.

“Kau meracuni dongsaengku??? KAU!! Aku akan membunuhmu!!” dengan cepat Minho meraih pistol dari tangan pengawalnya dan menodongkannya pada SungJong…”

“SungJong-ah!!”

“Wooo santai sedikit sajangnim…” ucap SungJong dengan masih tanpa ada kecemasan sama sekali. “Racun itu hanya akan membunuh Jinri ketika sudah lebih dari lima belas menit, tenanglah….”

“KAU BILANG APA? BRENGSEK!!”

“Aku sudah katakan untuk tenang sajangnim, kabar baiknya, aku punya penawarnya…”

“CEPAT BERIKAN ATAU AKU AKAN MENGHABISI KALIAN SEKARANG JUGA!!!”

SungJong kembali tersenyum. “Kabar buruknya aku sama sekali tidak berniat untuk memberika penawar itu padamu…”

Seperti sudah sepakat, mereka semua yang ada disana terkejut dan saling memandang SungJong cemas.

“SungJongie….apa yang sedang kau lakukan……”

 

 

-TBC-

 

Chapter depan tamaaat~~~ yang sudah baca mohon jejaknyaa XDDD

∞CHEF∞ #Chapter 4

∞Tittle      : ∞CHEF

∞Author  : Jung Yoojin

∞Cast       : -Kim Myungsoo  -Lee SungJong, others

         

∞Genre    : bromance, love,  friendship, work life,

∞Rate       : T+ (For bad Language)

∞Disc        : Their self but this fict is mine,

∞Warning :  boyslove, typos, don’t like don’t read.

                   Please no silent reader :’3

*

 

*

“Lee Hoya-ssi…”

Mata tajam Hoya yang pada awalnya mencari dua  dongsaengnya seakan ikut membeku ketika beradu pandang dengan Myungsoo. Dia jelas dapat melihat betapa Myungsoo memandang dirinya dengan kebencian luar biasa. Ia merasa dirinya begitu susah untuk berkata-kata, selama ini hal yang paling dicemaskan dirinya adalah bertemu dengan Myungsoo.

Bertahun-tahun telah berlalu, Hoya berpikir semuanya telah berakhir, namun kenyataannya Myungsoo kini berdiri di hadapannya. Tentu saja setelah ini dia akan mendapatkan masalah lagi.

“Kim Myungsoo-ssi, sudah lama sejak….”

Ucapan yang dengan susah Hoya ucapkan akhirnya harus terpotong karena Myungsoo menuju ke arahnya kemudian mencengkeram lehernya dengan cepat. Belum sempat Hoya mencegahnya, Myungsoo telah mendorong dirinya dengan keras ke dinding. Hal itu membuat Sungyeol yang tidak tahu apapun sedikit terkejut.

“Setelah sekian lama kau berani muncul di hadapanku hah???” ucap Myungsoo dengan emosi luar biasa, dia semakin menekan leher Hoya dengan tangan kanannya.

Meskipun menyakitkan namun Hoya tidak berniat untuk membalas perlakuan Myungsoo padanya. “Myungsoo-ya, ini tidak seperti yang kau….”

“Diam! Aku mendengar, dan aku melihatnya! Kalian bekerja sama! Kau membuat aboejiku menderita! Kau membuat keluargaku hancur! Aku tidak punya apapun sekarang, aku miskin, dan kulihat kau semakin berjaya, kau brengsek!!”

BUUGHH…. Sekali pukulan dengan tangan kirinya berhasil membuat Hoya terhuyung dan meraba wajahnya yang mulai nyeri. Tidak sampai disana, Myungsoo kembali menghampiri dirinya dan menarik kerah bajunya.

“Yaa! Apa yang sebenarnya terjadi?? Kim Myungsoo-ssi, kenapa kau memukul dia??” tanya Sungyeol berusaha untuk melerai. Namun Myungsoo menyentakkan tangan Sungyeol begitu saja, pandangannya tetap fokus pada Hoya.

“Kau membuat perusahaan aboeji hancur, kau dan mereka membuat aboejiku masuk penjara! Kau….”

“Dengarkan aku dulu!” Hoya memotong dan berusaha menenangkan namja yang sedang dalam emosi tinggi itu.

Hoya kemudian meraih tangan Myungsoo dan melepaskan dari kerah bajunya. Dia tidak tahu harus berkata apa, namun yang harus ia lakukan adalah meluruskan semua yang diucapkan oleh Myungsoo padanya itu. “Bukan aku…aku tidak pernah melakukannya, kau salah…”

“Apa..?” Myungsoo tertawa sinis. “Kau dan aboejimu!! Bagaimana bisa kalian menipunya? Aboeji sangat percaya pada kalian, kenapa kalian malah menghancurkannya? Mengirim nya ke penjara!!”

Sekali lagi Hoya menggelengkan kepala. “Tidak! Bukan seperti itu,kami juga sama, aboeji…aboejiku juga…”

“Diam!” Myungsoo tidak ingin mendengarkan apapun. Baginya semua yang diucapkan oleh Hoya saat ini tidak akan pernah ia dengarkan, Hoya hanyalah musuh lamanya yang akhirnya muncul di hadapannya setelah bertahun-tahun.

Tepat disaat itu SungJong muncul dengan handuk kecil melilit di lehernya. Sempat tidak mengerti dengan ketegangan yang terjadi, Myungsoo terlihat marah sekali dan Hoya…astaga sudah lama sekali SungJong tidak melihat wajah Hoya yang serius seperti itu. Hanya Sungyeol yang terlihat tidak tahu apapun seperti dirinya.

“Pergi dari sini! Dan percayalah aku akan membalas semua yang terjadi pada aboeji! Tunggu saja, aku akan menghancurkan kalian!” ancam Myungsoo sungguh-sungguh.

Hoya menarik nafas panjang, tidak ada gunanya berbicara dengan seseorang yang sedang dalam keadaan emosi. Pandangan Hoya beralih pada SungJong yang berdiri disamping Sungyeol dengan menatapnya tidak mengerti. Yaah semua ini mungkin karena dongsaengnya hingga dia dan Myungsoo kembali bertemu seperti ini.

Namja itu kemudian mengangguk-angguk. “Baiklah, ini bukan saat yang tepat berbicara denganmu, kkaja Sungyeol-ah, kita pergi dari sini…” ajak Hoya. Entah karena penasaran dengan apa yang terjadi, tanpa pamit dengan SungJong, Sungyeol segera melangkahkan kakinya untuk menyusul Hoya pergi dari sana.

Myungsoo memijit pelipis kepalanya pening. Sungguh mood baginya benar-benar rusak, dia tidak mengharapkan bertemu dengan itu. Namun dia paham, suatu hari dia pasti bertemu dengan Hoya. Karena orang yang dibencinya merupakan hyung dari kekasihnya.

“Apa yang terjadi..?” tanya SungJong akhirnya. “Kenapa kau dan Hoya hyung bertengkar? Apakah sesuatu terjadi..??”

Myungsoo mengangkat kepalanya kemudian menatap kekasihnya itu. Tidak berniat untuk menjawab, Myungsoo melangkah untuk mendekat kearahnya dengan mata yang menatap SungJong dengan tajam, kenapa dia baru menyadari bahwa SungJong adalah bagian dari mereka. Mereka yang telah membaut keluarganya seperti ini.

“Y-ya!” SungJong memundurkan langkahnya disaat langkah Myungsoo maju ke ke arahnya. Seperti biasa Myungsoo memiliki aura yang begitu mendebarkan jantungnya. Dan kali ini dia merasa aura menakutkan itu semakin terasa. Telah terjadi sesuatu mungkin dengan para hyung nya tadi. Sesuatu yang mungkin membuat Myungsoo seperti ini.

“Myungsoo-ya…”

SungJong telah terpojok ke sudut dinding. Meskipun tidak tahu apa permasalahannya namun SungJong yakin, hyung nya telah membuat Myungsoo seperti ini. Namun setahu SungJong, Myungsoo dan Hoya tidak pernah terlibat konflik, mereka bahkan jarang bertemu. Apa mungkin konflik itu terjadi ketika  dirinya pergi?

Lamunan SungJong buyar ketika Myungsoo menarik kedua bahunya dan menatapnya lebih lekat. Bahkan dirinya bisa merasakan hembusan nafas Myungsoo menerpa wajahnya. “hyung….?”

Myungsoo kemudian mendekatkn wajahnya hingga dahinya menempel dengan dahi SungJong, pandangannya berubah sayu. SungJong dapat merasakan itu. Jelas sekali ada kesedihan dalam diri namja itu. Untuk sesaat SungJong membiarkannya. Pasti ada alasan bagi Myungsoo seperti ini.

Chu~ bibir Myungsoo kemudian turun dan mengecup bibir SungJong singkat. Satu kecupan mungkin bisa membuat hati Myungsoo sedikit lebih baik lagi. Myungsoo kemudian menarik pinggang SungJong kemudian kembali maraup bibir menggoda itu, kali ini bukan hanya mengecup, namun juga melumat dengan perlahan.

“hmmh…” Sebenarnya SungJong sangat ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi, namun sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Dirinya segera mencengkeram baju Myungsoo dan menikmati pagutan dari namja yang masih merupakan kekasihnya itu. Dan dia cukup merindukan saat-saat seperti ini bersama Myungsoo. Ciuman serta pelukannya yang hangat.

****

“Katakan padaku! Ada apa! Yaa!! Hyung!!” Sungyeol mengejar Hoya sampai masuk ke dalam rumah. Ada alasan juga kenapa Hoya memilih untuk kembali ke rumah daripada ke kantor. Dan dalam perjalanan tadi Hoya sama sekali tidak mau membuka suara. “Hyung!!!”

Hoya menghentikan langkahnya kemudian berbalik sembari menekan kepalanya. “Ya! Apakah SungJong masih berhubungan dengan anak itu?” tanyanya.

“Siapa? Kim Myungsoo…?”

“Tentu saja dia! Memangnya siapa lagi???” ucap Hoya jengah. Meskipun tidak mengerti Sungyeol segera mengangguk. “Tentu saja, SungJongie sangat menyukainya begitu juga dengan Myungsoo, kau tidak bisa melihatnya…??”

Mendengar jawaban itu Hoya terlihat semakin gusar dan menekan kepalanya yang pusing. Dibalik sikapnya yang kekanakan selama ini mungkin dia menyembunyikan sesuatu yang selama ini tidak diketahui oleh SungJong. “Bisakah kau menyuruh SungJong untuk berhenti bertemu dengannya? Tidak, maksudku katakan padanya untuk menjauhi Myungsoo selamanya….”

“Mwo…?” tentu saja Sungyeol begitu terkejut mendengarnya. “Bagaimana bisa? Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya, aku tahu SungJong bahagia ketika dia bersama dengan Myungsoo…”

“Sungyeol-ah, kau harus mendengarkanku, ini semua yang terbaik untuk SungJong, untuk kita semua!”

Sungyeol mengggelengkan kepala kesal. “Aku tidak akan melakukannya hyung, aku bahkan tidak mengerti apa permasalahannya, dan lagian sejak kapan kau peduli dengan SungJong dan juga denganku…? Sekarang kau mencoba mengatakan hal itu, apakah kau sedang mencoba untuk menjadi hyung yang baik?”

“Lee Sungyeol!!!”

“Aboeji mengatakan kau harus bisa mejadi penggantinya, itu berarti kau harus bisa menjadi aboeji untuk kita berdua, namun yang kau lakukan selama ini benar-benar berbeda dari pesan-nya!” ucap Sungyeol panjang lebar. “Aku diam selama ini karena kurasa kau masih sangat merasa kehilangannya, namun….kini kau akan membuat SungJong berpisah dengan seseorang yang ia butuhkan? Tidak! Jangan harap kau bisa melakukannya!!” Sungyeol menegaskan sekaligus mengakhiri ucapannya. Namja itu kemudian berbalik dan pergi.

Hoya mengacak rambutnya frustasi. Apa yang diucapkan Sungyeol memang benar. Seharusnya dia tidak seperti ini. “Yaaa Lee Sungyeol!!!!!”

****

Entah ini sudah berapa masakan yang berhasil di hidangkan SungJong. Pelanggan memang tidak ramai namun cukup membuat dapur super sibuk. Selama itu pula pandangan lembut Chef Lee selalu terarah pada Kim Myungsoo.

Namja itu benar-benar terdiam, tidak fokus dalam melakukan pekerjaan, juga murung. Dia tahu semuanya berhubungan dengan kejadian tadi pagi yang tidak ia mengerti. Jika dia dan Hoya memiliki hubungan yang baik tentu saat ini dia akan langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Chef…” SungJong tersadar ketika seseorang menyentuh tangannya, dia segera menengok, nampak Woohyun berdiri di sampingnya. “Kau membiarkan bumbunya hancur, kau baik-baik saja?” tanyanya.

SungJong membulatkan matanya dan beralih menatap pekerjaannya. Oh ya ampun! Semua bumbunya gosong, dia memperhatikan Myungsoo hingga lupa segalanya.

“Kau memikirkan sesuatu chef?” tanya Woohyun lagi sembari membantu SungJong membersihkannya. SungJong segera menggeleng. “Tidak, aku hanya kurang fokus, kurasa semalam aku minum terlalu banyak….”

“Baiklah, lain kali berhati-hatilah…” SungJong membalasnya hanya tersenyum, dia tidak tahu maksud Woohyun selalu memperlakukannya dengan manis. Namun dia cukup menyukainya. “Terima kasih Woohyun-ssi, kau sangat perhatian…”

*

*

Jam bekerja sudah hampir selesai, dan hari ini tidak banyak percakapan yang terjadi di dapur. Tidak ada omelan dari SungJong dan juga yang lainnya. Entahlah semua seperti larut dalam pikiran masing-masing.

Grebb…SungJong menarik lengan Myungsoo ketika namja itu tengah mengelap meja dapur masih dengan tidak bersemangat. Rasa penasaran pemuda itu benar-benar tidak dapat di tahan lagi. Dia sebenarnya sudah mencoba bertanya pada Sungyeol tadi, namun seperti tebakannya, Sungyeol tidak tahu apapun.

“Sekarang katakan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi!” pinta SungJong. Dia membawa Myungsoo ke ruang ganti miliknya. Myungsoo terlihat masih belum bisa seperti biasanya. Hal ini membuat SungJong semakin penasaran.

Namja itu kemudian menatap sedikit lunak dan merapikan baju Myungsoo yang mulai lusuh. “Apakah Hoya hyung membuatmu seperti ini? Dan sejak kapan kalian saling mengenal…? Myungsoo hyung jebal, aku sangat penasaran..”

Myungsoo kemudian menatap namja itu, kemudian melingkarkan kedua tangannya pada pinggang yang menjadi favoritnya itu. Beruntung SungJong tidak mewarisi sifat seperti yang dimiliki oleh Hoya. “Hoya-ssi…dan aku tentu saja saling mengenal, kau mengetahuinya baby, bukankah dulu aku pernah berbicara bisnis dengannya ketika aku ke rumahmu…”

“Tidak bukan seperti itu…” SungJong menggeleng. “Aku dan Hoya hyung mungkin memang tidak pernah akur, namun saat aku mendengarmu akan menghancurkannya tadi….aku tidak bisa menerimanya…” lanjutnya.

“Bagaimanapun Hoya hyung adalah saudaraku, kenapa kau mengatakan hal itu padanya…? Kau memang kekasihku sejak aku masih memakai seragam sekolah, namun Hoya hyung adalah keluargaku…”

Tentu saja, Myungsoo tentu saja dapat menebak apa yang akan dikatakan oleh SungJong. “Baiklah, kau memang tidak pernah mencintaiku baby, apakah selama bertahun-tahun ini hanya aku yang mencintaimu dengan tulus?”

“Apa?” tentu saja SungJong terkejut mendengarnya. “Kau sedang mengalihkan topik hyung? Kau tahu aku mencintaimu, kau bahkan seseorang yang selalu mendukungku dalam hal apapun…”

“Aku mengerti baby, namun hyung mu yang membuat semuanya berubah, tidak…maksudku aboejimu juga, bahkan sampai sekarang dia tidak pernah menemuiku…”

“Huh? Aboeji? Aboejiku? Tapi aboejiku sudah….”

Myungsoo segera memotong. “Sudahlah, bukankah kau ingin tahu siapa yang ku sembunyikan itu? Segera bersiap kita ke rumah sakit sekarang…” ucapnya. Meskipun masih belum mengerti sepertinya SungJong tidak bisa membantah Myungsoo. Hal ini membuat Myungsoo menarik nafas berat. Namja itu kemudian menangkupkan wajah SungJong kemudian mengecup bibirnya. “Mianhae, tapi aku sangat mencintaimu…” ucapnya lagi, SungJong hanya tersenyum kemudian membalas kecupan Myungsoo itu dengan lembut.

**

Deg…sepasang mata yang berada di balik pintu itu merasakan jantungnya berdegub kencang. Melihat apa yang telah dilihat dan juga di dengarnya. Sepasang mata itu milik Nam Woohyun. Dia hanya ingin mengajak SungJong untuk pulang bersama, namun keadaan memberikan kenyataan yang lain. Myungsoo dan SungJong sudah menjadi kekasih sejak dulu? Woohyun benar-benar shock.

**

Entah yang dilakukan ini benar atau tidak SungJong tidak tahu, mungkin dirinya terlalu memaksa Myungsoo untuk menunjukkan semuanya. Namun jika tidak seperti ini dia akan terus penasaran, dia tidak bisa untuk memutuskan apakah dia harus terus bersama dengan Myungsoo atau tidak.

Koridor Rumah Sakit itu benar-benar membuatnya sedikit bergidik. Dia sangat ingat bagaimana setiap kenangan buruk yang terjadi di masa lalu terekan dalam setiap sudut dinding. Memang bukan Rumah Sakit ini, namun setiap Rumah sakit memiliki aura yang sama. Penuh kesedihan dan keputusasaan.

“Kau…yakin kita harus kesini…?” SungJong tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika Myungsoo hendak menuju ke sebuah kamar rawat disana.

“Kau yang memintanya baby, kenapa sekarang kau yang ragu?” Myungsoo balik bertanya. SungJong terdiam, benar sekali, memang ini apa yang ia inginkan, seharusnya dia memang siap. Dia hana takut orang itu terlalu sempurna lebih dari dirinya, sehingga Myungsoo suatu saat bisa meninggalkan dirinya demi orang itu.

Jantungnya kembali berdebar ketika Myungsoo mulai membuka pintu itu. Sedikit ragu SungJong untuk melangkah mengikuti Myungsoo. Myungsoo mulai masuk ke dalam, mau tak mau SungJong segera mengikutinya kesana. Aroma obat-obatan mulai tercium, serta bunyi mesin detak jantung terus memecah kesunyian yang ada disana.

Dalam jarak beberapa langkah, SungJong dapat melihat seseorang yang terbaring disana dengan tidak sadarkan diri. Alat bantu pernafasan serta infus terpasang dengan rapi. Dan tidak lupa ada sebuah tali kecil yang mengikat wanita itu dengan sisa tempat tidur. Hal pertama yang ada di benaknya adalah kenapa harus diikat? Bukankah dia sakit?

Hingga akhirnya mereka berdua tiba di samping tempat tidurnya. Sekali lagi SungJong menatapnya dari atas hingga bawah. Rambut coklat yang terurai, wajah yang pucat seperti tiada harapan hidup, SungJong bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Namun….mata beningnya tiba-tiba terbelalak kaget, dirinya sedikit tersentak.

“Mungkinkah….” SungJong kembali mendekatkan pandangannya untuk memperhatikan wanita itu. Sementara Myungsoo berdiri di belakangnya sembari bersedekap tangan seperti menanti reaksi yang akan ditunjukkan oleh sang kekasih.

SungJong kemudian menggerakkan tangannya dan menyentuh pipi wanita itu, sekali lagi dia memperhatikan, dia takut salah. Tapi…ini benar, tidak salah lagi. Dengan segera ia membalikkan tubuhnya dan menatap Myungsoo meminta penjelasan. “Kim…ahjumma…??” ucapnya pada Myungsoo.

“……………”

“Dia Kim ahjumma? Dia Eomma mu..?” tanyanya lagi.

Myungsoo menarik nafas panjang. “Apakah kau melupakannya begitu cepat SungJong-ah?” balasnya dengan singkat. Hal itu tentu saja membuat SungJong membelalakkan matanya terkejut bukan main. Dengan cepat ia berbalik kembali pada tubuh itu dan meraih jemari yang terasa dingin itu.

“Kenapa dia bisa seperti ini? apa yang terjadi padanya?? Apakah orang yang kau sembunyikan selama ini adalah Eomma-mu..? Tapi kenapa…????” SungJong benar-benar tidak menyangka. Meskipun perempuan ini sudah banyak berubah namun dia masih bisa mengenalinya.

Kim ahjumma yang dulu sangat dekat dengannya, bahkan SungJong senang sekali belajar padanya. Dia mungkin wanita terbaik bagi dirinya setelah Eomma-nya sendiri. “Kim Myungsoo jelaskan padaku!! Kenapa dia harus diikat seperti ini dalam keadaan sakit? Dan…kenapa? Kenapa Myungsoo-ya???” SungJong sungguh tidak bisa mengendalikan emosinya. Semuanya berkumpul menjadi satu dalam benaknya seolah bersiap untuk meledak.

Myungsoo kemudian berjalan ke sisi kanan ranjang dan menatap wanita itu serta SungJong secara bergantian. Tatapan yang semula lembut itu berubah tajam pada sang kekasih. “Ini semua karena keluargamu SungJong-ah, ini semua terjadi karena aboeji dan juga hyung mu…” tuduhnya jelas membuat SungJong terkejut.

“Apa maksudmu hyung? Aboeji..? apa salah aboeji…? Bukankah dulu mereka saling bekerja sama, mereka….”

“Benar sebelum aboejimu menghianati pertemanan itu!!” potong Myungsoo.

Sungguh SungJong tidak mengerti, dia tidak tahu apapun mengenai hal itu. “Aku..tidak tahu hyung sungguh, aboeji…aboeji tidak mungkin…”

“Dengar SungJong-ah, kau memang tidak tahu apapun, karena mereka mungkin merahasiakannya darimu, aboejimu mengatakan bahwa ada proyek besar yang sangat menguntungkan bagi perusahaan mereka berdua….” Myungsoo menarik nafas panjang menahan emosi. “Namun….pada hari itu aku teringat dengan jelas, tiba-tiba rumahku didatangi oleh beberapa orang jaksa, mereka menuduh aboeji ku telah melakukan penggelapan uang dan menyebabkan kerugian besar….”

“Aboeji di tahan dan di penjara, aku tidak mengerti, bahkan aboeji tidak pernah sepeserpun mengambil uang itu, dan yang lebih mengecewakan, aboejimu memberikan kesaksian palsu di persidangan sehingga membuat hukuman aboejiku sangat berat….” Jelas Myungsoo panjang lebar. SungJong tidak mampu berkata-kata, lidahnya kaku. Seolah tidak mempercayai apa yang baru ia dengarkan.

Masih dengan emosi yang meluap, Myungsoo kembali memberikan tatapan yang tajam seolah mengatakan kalau semua ini merupakan salah SungJong juga. “Rumah, perusahaan, mobil, semuanya di ambil, aku tidak punya apapun setelah di tinggal aboeji, aboeji…sakit setelah sebulan disana lalu dia….meninggal….”

Deg! Tes! Kim ahjussi….meninggal? SungJong memundurkan beberapa langkahnya dan meremas jemarinya keras. Ini bukan mimpi, ini kenyataan. “Tidak mungkin….K-Kim ahjussi…”

“Kau bisa membayangkan selanjutnya SungJong-ah?” Myungsoo kemudian menatap wanita yang terbaring itu. “Eomma sangat terpukul dengan apa yang terjadi, dia pun juga jatuh sakit, dia bahkan berkali-kali mencoba bunuh diri, selama lima tahun ini dia tidak beranjak dan bangun…. ITU SEMUA KARENA ABOEJIMU!!!” Myungsoo membentak sembari menunjuk SungJong dengan marah.

SungJong menggelengkan kepalanya beberapa kali, air matanya mulai mengalir deras, ini semua tidak masuk akal. “Kenapa aku tidak mengetahuinya….? Kapan itu terjadi…hiks…?”

Myungsoo menurunkan tangannya dan melunakkan pandangannya, dirinya tersadar ini semua bukan salah namja yang berada di hadapannya itu. “Tepat sehari sebelum kau berangkat ke Itali, aboeji masuk ke dalam penjara!”

“A-apa…” namja bermata bening itu kembali terkejut dan menatap Myungsoo tak percaya. “A-apakah…a-apakah itu alasanmu kenapa kau tidak bisa ikut denganku ke Itali..?” tanyanya.

SungJong sangat ingat, dulu dirinya dan Myungsoo berencana meneruskan kelas memasak di Itali bersama-sama. Namun ketika tiba keberangkatan tiba-tiba Myungsoo memutuskan untuk membatalkan semuanya. Tidak hanya itu, dia pun juga memutuskan dirinya dengan kata-kata yang sangat menyakitkan.

Kala itu SungJong berpikir Myungsoo telah memiliki orang lain, karenadirinya melihat Myungsoo bersama dengan seorang perempuan ketika memutuskan dirinya. SungJong benar-benar sakit hati dan akhirnya berangkat ke Itali tanpa Myungsoo. Namun semua itu ternyata bukan karena orang ketiga…namun karena masalah aboejinya.

“Benar SungJong-ah, saat itu aku marah pada semua keluarga Lee, termasuk dirimu…aku sangat kecewa, Lee Sungmin ahjussi benar-benar menghancurkan aboeji tanpa berniat untuk menolongnya, dan dia….dia tidak pernah menemuiku hingga saat ini untuk minta maaf, apakah aku tidak boleh membenci kalian??”

Hati SungJong benar-benar terluka. Sudah bertahun-tahun lamanya da dia tidak mengetahui semua ini. Namja itu kemudian meraih tangan Mrs. Kim dan menciumnya. “Maafkan aku hiks…aku tidak tahu kalau kau seperti ini ahjumma, aku benar-benar tidak tahu apapun, dan aku sangat menyesal pergi tanpa mengetahui keadaanmu…maafkan aku ahjumma…hiks…” ucapnya tulus. Air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa ia tahan.

“hyung..aku…” SungJong kemudian menatap Myungsoo. “A-aku minta maaf…aku minta maaf telah berprasangka buruk padamu selama ini…a-aku tidak tahu, tidak ada yang bercerita padaku…”

Myungsoo menarik nafas panjang, mengontrol emosinya yang sempat meledak. Sungguh dia tidak bisa melihat kekasihnya itu bersedih. Dan Myungsoo tahu, SungJong sangat menyangi orang tuanya seperti keluarganya sendiri. Dia dekat dengan mereka berdua, sangat tidak adil apabila SungJong yang harus menanggung semua ini.

Namja berwajah tampan itu kemudian mendekati SungJong, menghadapkan tubuh mungil itu padanya lalu mengusap air matanya dengan lembut. “Apakah kau tahu alasanku tidak menceritakan padamu saat itu dan memilih menyakiti hati mu…?” tanyanya kemudian. SungJong menggeleng pelan. “Karena saat itu aku tidak ingin membuatmu berhenti belajar, kalau kau saat itu tahu kau pasti tidak pergi ke Itali dan kau akan bersedih, jika itu terjadi kau tidak akan bisa menjadi chef hebat seperti sekarang, dan lagi itu semua bukan salahmu baby….”

“Hyung…” tersentuh. Itu lah yang dirasakan SungJong saat mendengar ucapan Myungsoo barusan. “Kau…bahkan masih memikirkanku setelah apa yang dilakukan keluargaku terhadapmu…?? Hyung…hiks…aku sungguh menyesal telah membencimu….” SungJong menunduk dalam tidak mampu untuk menatap Myungsoo. Perasaannya bercampur aduk. “Maafkan aku….”

Myungsoo tersenyum dan meraih namja itu ke dalam pelukannya. “Jangan minta maaf, ini bukan salahmu, aku juga minta maaf karena telah menyakitimu, namun kau harus tahu satu hal, aku mencintaimu tanpa melihat siapa dirimu, kau tetap Lee SungJong bagiku, aku mencintaimu…” ucapnya tulus.

SungJong mendongakkan kepalanya dan menatap Myungsoo. “Benarkah…?” Myungsoo mengacak rambutnya pelan dan kembali memeluknya erat. “Kali ini kau harus percaya padaku, namun…aku tidak akan pernah memaafkan aboeji dan juga hyung mu baby, mereka berdua…yang menghancurkan keluargaku, jika mereka berniat untuk memisahkan kita, maka aku akan membawa mu pergi…”

Namja dalam dekapan Myungsoo itu terdiam sesaat, ada sesuatu yang sedikit mengganjal di dalam hatinya. “hyung…kenapa kau dari tadi terus mengatakan bahwa aboejiku tidak pernah menemuimu untuk minta maaf…?”

“Yaah karena dia tidak berniat untuk menemuiku hingga sekarang baby, aku terakhir bertemu dengannya di dalam persidangan aboeji, dan dia bahkan tidak mengatakan apapun padaku…”

“hyung…tapi aboeji…aboeji sudah…”

“Sudahlah baby….hari ini cukup, kau sudah tahu semuanya itu yang paling penting, dan percayalah aku tidak pernah membencimu, aku selalu mencintaimu…”

SungJong tersenyum dan melingkarkan tangannya ke tubuh Myungsoo membalas pelukannya. “Mulai sekarang aku akan terus datang kemari hyung, menengok Kim ahjumma, jika dia bangun aku akan membuatkan masakan yang lezat….”

“Baiklah, Eomma pasti akan senang..” jawabnya lalu mengecup pucuk kepala SungJong dengan lembut. Mungkin memang ini yang terbaik untuk sekarang.

***

Dengan tidak bersemangat Woohyun keluar dari restaurant sembari membawa tas gendongnya. Dia terus berpikir jika SungJong dan Myungsoo adalah sepasang kekasih sejak dulu kenapa SungJong meresponnya ketika dia mencoba untuk mendekatinya? Kenapa SungJong seperti memberi harapan?

Woohyun menendang botol di depannya dengan keras. Perasaannya pada SungJong sudah begitu besar, dan dia juga sudah bertengkar dengan Myungsoo tentang ini. Sungguh Woohyun sedikit merasa menyesal, itu berarti selama ini dia hampir berusaha merusak hubungan mereka berdua.

“Sedang apa kau disitu?” tegur Woohyun pada seseorang yang berdiri di depan jalan. Namja itu segera menengok. “Woohyun-ah…” ucapnya sedikit kaget, namja itu, Kim Sunggyu dapat melihat wajah Woohyun yang sepertinya sedang kesal.

“Aku sedang menunggu taksi, mau pulang ke rumah…” jawabnya kemudian.

Wajah murung Woohyun masih belum berubah, dia memandang ke arah Sunggyu dengan sayu. “Naik mobilku saja, aku akan mengantarmu….”

“Apa…?” Sunggyu kaget. “Ahh tidak usah, aku naik taksi atau bus saja, sepertinya kau sedang lelah, lebih baik kau segera pulang saja dan istirahat…”

“Yaa Kim Sunggyu jebal….tidak bisakah kau menemaniku hari ini?? Aku..aku butuh seseorang…” ucap Woohyun dengan nada yang sedikit tinggi.

Tentu saja Sunggyu hampir tidak mempercayainya apa yang didengar olehnya. Woohyun beberapa hari ini mendiamkannya, namun sepertinya namja itu tidak bisa untuk berlama-lama diam padanya. “Kemana Key? Kau tidak meminta dia untuk menemanimu…?”

“Ck…” Woohyun mencekal pergelangan tangan Sunggyu kemudian menariknya untuk mendekat. “Jangan menyebut nama itu lagi dihadapanku…!”

“Wae? Kau sangat mencintainya…atau mungkin kau sudah beralih pada Chef Lee? Tidak heran, kau menyukai namja yang manis dan pintar…”

Woohyun terlihat tidak senang dengan ucapan itu, bukan masalah kedua nama itu. Namun sepertinya dia melihat ada gelagat yang tidak bisa ia mengerti darinya. “Lalu kau cemburu?” tanya Woohyun.

“Jika iya…apakah kau keberatan?”

Angin berhembus menerpa kedua namja itu, mereka berdua mematung dan saling menatap dalam. Untuk beberapa alasan tiba-tiba perasaan Woohyun mulai menghangat. Bibir Woohyun kemudian tertarik untuk membuat sebuah lengkungan bernama senyum. “Kkaja kita pulang…” Woohyun menggenggam tangan Sunggyu dengan lembut kemudian menariknya pergi.

 

*

*

Brak…

Hoya segera menutup laptopnya begitu mendengar seseorang datang dari pintu depan dan melangkah ke arah dia berada. Hoya bukan sedang mengerjakan sesuatu yang rahasia, hanya saja dia sedang melamun dan terkaget begitu mendengar suara.

“SungJong-ah…” Namja itu segera berdiri. SungJong yang baru saja datang sedikit terkejut melihat Hoya. “SungJong-ah, aku ingin berbicara denganmu, kemari dan duduklah!” perintah Hoya.

Meskipun ini pertama kalinya Hoya berkata dengan lembut padanya, namun SungJong teringat apa yang dikatakan oleh Myungsoo. Hoya juga menjadi penyebab musibah itu, yaah meskipun dirinya tidak tahu persis bagaimana kejadiannya.

“Aku lelah hyung, dan sepertinya sudah cukup lama kau tidak berbicara dengan baik padaku…”

“SungJong-ah jebal, kali ini dengarkan aku, ada sesuatu yang harus kau ketahui, atau mungkin sesuatu yang harus kau lakukan…”

SungJong menggeleng. “Tidak hyung, aku lelah, kita bicara besok!” tolaknya. Kemudian dengan berlari kecil dia menaiki tangga dan menuju kamarnya. Hoya menarik rambutnya frustasi. Tidak ada yang mau mendengarnya. Bagaimana bisa dia menyelesaikan semua. “Aboeji….apa yang harus kulakukan…”

Dari balik pintu, Sungyeol menyaksikan semua itu dengan tarikan nafas yang berat. Dia tahu harus berada di pihak siapa. Ini juga menjadi kali pertamanya bagi dia melihat saudara tertuanya bingung seperti itu. Sudahlah, mungkin lebih baik dirinya tidak ikut campur.

*

*

*

Pesanan begitu banyak yang datang. SungJong hampir serak karena terus berteriak untuk mengambilkan bahan makanan yang segar. Ini sangat menyenangkan. Banyak pelanggan yang datang memang melelahkan namun juga memberikan rasa puas tersendiri.

Jika kemarin fokus SungJong terus pada Myungsoo, hari ini dia sedikit merasa ada yang berbeda dari Woohyun. Namja itu terus menghindari kontak mata dengannya. Itu aneh sekali, biasanya Woohyun akan menempel pada dirinya seperti lem. Aah namja populer memang susah untuk di tebak.

“Woohyun-ssi, kau sudah menyelesaikan sausnya?” tanya SungJong sembari mendekat dan mencoba memandang Woohyun lekat. Tanpa di duga sebelumnya, Woohyun sedikit menghindar dan menatap ke arah lain. “Aku hanya tinggal membereskannya saja chef, aah iya harus ditambahkan parutan keju….” Ujarnya lalu melangkah pergi ke arah penyimpanan.

SungJong hanya mengangkat bahunya, dan tersenyum ketika Myungsoo melihat ke arah dirinya. Dia kemudian kembali menginstruksikan semua untuk kembali fokus dalam bekerja.

*

“Menurutmu kenapa Woohyun-ssi menghindariku?” tanya SungJong pada Myungsoo. saat ini mereka berdua duduk istirahat di tangga menuju ke atap restaurant.

Myungsoo menarik bahu SungJong dan mendekapnya. “Entahlah, aku tidak tahu, kenapa? Kau ingin diperhatikan lagi olehnya?” selidik Myungsoo sembari menarik pipi SungJong gemas.

“Bukan seperti itu, hanya saja itu terlihat aneh sekali…padahal dia cukup menarik, aah andai saja kau meninggalkanku mungkin aku akan jatuh ke pelukannya…” goda SungJong berusaha membuat Myungsoo kesal.

“Kau memang nakal baby! Aku benar-benar ingin menghukummu sekarang, aah jika saja ini di kamar…”

Myungsoo menurunkan wajahnya untuk menuju ke wajah SungJong. Menyusuri dan mengecupnya hingga kecupannya turun pada leher putih dan bersih itu. Myungsoo memberikan tanda merah disana. SungJong adalah miliknya.

“Aissh hentikan, bagaimana jika ada yang melihat??” sergah SungJong sembari mendorong kepala Myungsoo.

“Biarkan saja, aku tidak peduli, kau milikku!”

SungJong mencibir, kemudian untuk menghindari aksi Myungsoo dirinya memilih menarik tubuhnya lalu merebahkan diri di paha Myungsoo. “hyung, kau mau ke rumah Sungyeol hyung nanti?” tanya sembari memainkan jemarinya di dada bidang Myungsoo.

“Ke rumah Sungyeol? Kenapa memangnya?”

“Kau tidak akrab dengan Hoya hyung, tapi kuharap hubunganmu dengan Sungyeol hyung tetap baik, setidaknya hanya dia yang mengurusku selama ini…”

Myungsoo tersenyum lalu mengusap lembut kepala SungJong. Diturunkan wajahnya kemudian mengecup kening SungJong beberapa kali. “Baiklah aku akan kesana nanti, kuharap kau mengizinkanku untuk menginap…”

“Tentu saja…Sungyeol hyung pasti tidak keberatan!” jawab SungJong dengan senyum.

Dia ingin sekali membuat semuanya kembali seperti dulu. Jika memang hubungan Hoya dan Myungsoo tidak bisa  untuk diperbaiki, mungkin setidaknya Myungsoo dan Sungyeol harus sebaliknya. Karena hanya mereka yang SungJong miliki sekarang.

 

*****

Entah sudah berapa file yang dibanting oleh Hoya. Ruangan di dalam kantornya benar-benar seperti kapal pecah. Dan sepertinya apa yang dicari tidak kunjung dia temukan. “YAAA!! KALIAN YAKIN TIDAK TAHU??” teriak Hoya pada para sekretarisnya.

Namun dua orang itu hanya menunduk ketakutan saja. Dan hal itu membuat Hoya semakin berang. Kenapa semuanya menjadi menyebalkan seperti ini. Tidak mungkin dia lupa menaruh berkas sepenting itu. Sekarang sudah hampir pukul lima sore, namun dirinya masih berada di kantor. Para karyawannya pun terkena dampaknya karena harus menerima omelan dari namja itu.

Dengan gusar akhirnya Hoya menyambar tasnya dan beranjak pergi. Mungkin kah dia meninggalkan di rumah Sungyeol? Bisa gawat jika Sungyeol atau SungJong membacanya. Mereka tidak akan mengerti, dan  ketidakmengertian itu akan timbul menjadi masalah baru.

 

 

“Lhoh hyung, kau baru pulang? Kukira kau akan kembali ke apartementmu…” ucap Sungyeol ketika melihat Hoya datang dan langsung duduk di sofa. Mencopot sepatu dan Jas nya.

“Apakah kau mengusirku Lee Sungyeol…??”

Sungyeol menggeleng. “Aku bahkan sangat senang jika kau dan juga SungJong mau tinggal disini selamanya, bersama denganku…” jawabnya. “Kita ini bersaudara tapi kenapa kita tinggal terpisah…?”

Hoya menghembuskan nafas kesal. Sifat Sungyeol yang seperti ini yang membuatnya harus segera melunakkan diri. Sesungguhnya dirinya tidak tinggal di rumah Sungyeol karena ada alasan tertentu. Dia juga sangat ingin tinggal bersama dengan kedua dongsaengnya itu.

Sungyeol kemudian duduk disamping Hoya dan menatap hyung nya itu dengan serius. “hyung, apa yang sebenarnya terjadi…? Maksudku, hubunganmu dengan masalah keluarga Kim? Kau dan aboeji memberikan kesaksian di persidangan Kim ahjussi, apakah karena itu dia marah padamu hyung?”

“Jangan membahas itu Sungyeol-ah, aku lelah…”

“Aku juga ingin tahu, banyak sekali para karyawan juga klien yang membicarakan masalah ini, aku bahkan tidak tahu apapun, yang aku tahu Kim Ahjussi menggelapkan uang dan harus dihukum berat, apakah semua itu tidak benar? Kim ahjussi bahkan rela memberikan semua gajinya untuk disumbangkan….rasanya mustahil…”

Hoya memijit kepalanya lelah. Sungyeol sudah sangat pintar dalam hal ini. seperti aboejinya. Rasa penasarannya yang tinggi itu mungkin akan membuat dirinya mencari tahu, dan jika dia mengetahui kebenaran dari orang lain, sudah pasti masalah Hoya akan bertambah. “Sungyeol-ah, kau jangan pernah menganggapku dan aboeji orang jahat, semua ini kami lakukan untuk kalian semua, untukmu, SungJong, dan juga Myungsoo…”

“Apa maksudmu hyung…?” Sungyeol tidak mengerti.

“Kesaksian itu….palsu Sungyeol-ah…”

Seketika mata Sungyeol membulat lebar. “Palsu? Kalian….menghianati Kim Sajangnim…???”

“Kami diancam Sungyeol-ah, tidak ada pilihan lain, Kim sajangnim benar-benar menjadi kambing hitam dan kami semua tidak bisa berbuat apapun….”

“Apakah dengan ini kau mengatakan bawa kematin Kim sajangnim dan juga aboeji disebabkan oleh kesaksian palsu itu….”

Hoya menunduk sedih. Sungyeol dengan cepat bisa menyimpulkan. Dia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi. Semuanya terlalu rumit. “Dengar….”

“Kesaksian palsu? Kematian Kim sajangnim dan aboeji…???”

Suara itu sukses membuat Hoya dan juga Ssungyeol terkejut bukan main. Mereka segera menengok dan mendapati dua orang tengah berdiri disana dengan tatapan yang penuh keterkejutan. “Myungsoo-ya, SungJong-ah…” Hoya dan Sungyeol segera berdiri.

Myungsoo dengan perlahan mendekat dan menatapa dengan emosi luar biasa, bukan…bukan hanya emosi, namun juga ada kesedihan dari sana. “Kim sajangnim dan aboeji?” ulang Myungsoo. “Apakah yang kalian maksud kematian Kim sajangnim dan Lee Sungmin ahjussi…?” tanyanya mempertegas,

Sungyeol, Hoya, dan juga SungJong saling berpandangan tidak mengerti. “Hyung, apakah kau tidak tahu jika aboeji sudah meninggal…?” tanya SungJong heran, karena dari kemarin Myungsoo berkata seolah aboejinya masih hidup.

“M-mwo…??” Myungsoo terkejut. “Meninggal…? M-maksudnya…? K-kenapa Lee Sungmin ahjussi harus meninggal…? Kenapa…d-dia harus….”

“Lebih tepatnya, aboejiku dan aboeji mu meninggal pada hari yang sama namun dalam waktu yang berbeda Myungsoo-ya…” Hoya menambahi.

Pucat pasi, wajah Myungsoo benar-benar pucat. Kepalanya menggeleng kuat, itu tidak mungkin Hoya pasti salah. Semuanya tidak benar. “T-tidak mungkin, itu mustahil…semuanya bohong….”

 

 

-TBC-

 

 

 

 

 

~yoojin~

∞CHEF∞ #Chapter 3

∞Tittle      : ∞CHEF

∞Author  : Jung Yoojin

∞Cast       : -Kim Myungsoo  -Lee SungJong, others

         

∞Genre    : bromance, love,  friendship, work life,

∞Rate       : T+ (For bad Language)

∞Disc        : Their self but this fict is mine,

∞Warning :  boyslove, typos, don’t like don’t read.

                   Please no silent reader :’3

*

 

*

Awalnya ucapan itu benar-benar membuat Myungsoo menghentikan segala akifitasnya dalam mengobati tangan SungJong. Dari sorot pandangan mata nya juga terlihat amat  kaget dengan permintaan itu. Namun sesaat kemudian Myungsoo tersenyum dan kembali mengoleskan salep pada tangan SungJong.

SungJong pun hanya terdiam dan menatap Myungsoo dengan masih menunggu jawaban dari namja bermata elang itu. Dia tidak tahu kenapa ekspresi Myungsoo berubah begitu cepat. Yang pasti dia masih sangat menunggu akan jawaban dari namja itu, dan sebelum Myungsoo menjawabnya, dia tidak akan pernah merasa puas.

“Tidak bisa SungJong-ah…..” ucap Myungsoo kemudian. “Permintaanmu itu tidak bisa untuk aku berikan….”

“Kau mengatakan kau akan menuruti semuanya tadi…”

Myungsoo menggelengkan kepala. “Semua kecuali itu, kau bisa meminta apapun namun tidak untuk yang itu…” tegasnya. SungJong terdiam, dia tidak bisa menerima semua itu, namun hatinya pun merasa penasaran. Apakah orang itu lebih berharga dari pada dirinya? Jika memang seperti itu kenapa Myungsoo masih saja mengejar dirinya? Apakah mungkin hanya karena uangnya?

“Apakah kau mencintainya….?” Tanya SungJong.

“Sangat mencintainya?” Myungsoo mengangguk. “Cintamu padanya lebih besar padanya dari pada denganku…?”

Myungsoo terdiam sesaat, namun sesaat kemudian dia mengangguk dengan berat. Dia tahu apa yang menjadi jawabannya adalah sesuatu yang mungkin akan menyakiti hati kekasihnya itu, namun Myungsoo tidak ada pilihan yang lain, karena memang ada sesuatu yang membuatnya harus mengatakannya.

“Mianhae…”

Hanya dengan ucapan itu SungJong bisa mengerti dan yakin bahwa dirinya di hati Myungsoo masih dinomorduakan. Namja itu kemudian menarik tangannya dari pegangan Myungsoo kemudian tersenyum pahit. “Setiap hari selama lima tahun ini…..aku menanti untuk bertemu dirimu….” Ucapnya. “Ketika Paman menawariku untuk mengurus tempat ini aku tidak begitu tertarik, namun…ketika melihat ada namamu dan juga profilmu tanpa berpikir panjang aku segera menyetujuinya…”

“Apa…?” cukup terhenyak Myungsoo mendengarnya. SungJong melanjutkan ucapannya. “Aku sengaja menanggapi Woohyun-ssi karena dirimu..namun ternyata aku salah…aku tetap nomor sekian di hatimu…aku benar-benar bodoh kau tahu….”

“SungJong-ah…bukan seperti itu, kumohon jangan seperti ini…” Myungsoo menggerakkan tangannya dan menyentuh wajah SungJong lembut. Namun dengan segera SungJong menepisnya. Jika Myungsoo tidak benar-benar mencintainya maka menjauh darinya mungkin akan lebih baik.

Namja itu kemudian berdiri. “Kembalilah bekerja!” ucapnya beranjak pergi, untuk sesaat Myungsoo masih menahan tangannya, kejadian ini pernah terjadi, namun Myungsoo tidak pernah benar-benar menginginkan dirinya, dan SungJong tidak akan jatuh untuk kedua kalinya lagi, setidaknya jika dia bisa.

Chef  itu segera melepaskan tangan Myungsoo dan segera pergi dari sana. Myungsoo menarik nafas panjang mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia tidak menyangka jika kedatangan chef itu kemari untuk dirinya, setelah apa yang dia lakukan padanya kala itu. Namja bermata elang itu mengusap wajahnya dengan kasar, dia tidak boleh seperti ini, bagaimana bisa dia bersifat egois, namun juga dia tidak bisa meninggalkan seseorang yang selama ini ia perjuangkan.

Braak….Pintu terbuka, Woohyun dan Sunggyu nampak memasuki ruangan. Rupanya mereka berdua baru saja selesai makan siang. Myungsoo segera merebahkan tubuhnya ke kursi panjang melepaskan lelah sejenak. Baik Woohyun maupun Sunggyu tidak ada yang menyapanya, habis makan siang harusnya mereka ceria dan banyak bicara, namun tumben sekali mereka diam. Mereka hanya menuju loker masing-masing.

“hyung, kau baik-baik saja? Kau tidak salah makan?” tanya Myungsoo akhirnya. Biasanya Sunggyu selalu menuruti kemauan Woohyun untuk makan siang dimana, dan tidak peduli jika makanan yang dia makan itu membuatnya alergi atau tidak. Sunggyu bilang itu untuk menghormati Woohyun. Namun Myungsoo pikir itu tidak masuk akal karena Woohyun sendiri nampaknya tidak terlalu perhatian.

Sunggyu mengangguk. Ketika melihat ke arah Myungsoo wajah pucatnya begitu terlihat sekali. Hal ini membuat Myungsoo segera bangkit. “Serius, kau sakit hyung? Wajahmu pucat!”

“Aku baik-baik saja Myungsoo-ya…” jawabnya.

“Tidak kau sedang sakit…” Myungsoo menarik Sunggyu untuk duduk di sampingnya kemudian mengecek dahinya. “Tadi pagi kau tampak baik, kenapa kau sekarang sakit? Apakah kau tadi salah makan..?”

“Tidak Myungsoo-ya, aku sungguh tidak apa-apa…”

Myungsoo menggeleng tak pecaya dan menatap ke arah Woohyun yang terlihat masih sibuk dengan lokernya. Dia bahkan tidak menengok sedikitpun walaupun mendengar percakapan Myungsoo dengan Sunggyu. “Hyung, apakah kau tahu Sunggyu hyung sedang tidak baik?” tanya Myungsoo pada Woohyun.

“Tidak..!”

“Tapi lihatlah wajahnya pucat, kau mengajaknya makan kemana tadi? Apakah kau yakin bahwa makanan yang dimakan oleh Sunggyu hyung makanan yang aman?” tanyanya lagi.

“Aku yakin…”

Myungsoo menggeram marah, emosinya tiba-tiba naik, bisa-bisanya Woohyun mengabaikan pertanyaannya begitu saja. Namja itu kemudian berdiri lalu menghampiri Woohyun. Braakkk… dia menarik Woohyun dan menutup loker dengan sangat keras.

“Myungsoo-ya…” Sunggyu nampak terkejut.

“Yaak Kim Myungsoo!! kau pikir apa yang sedang kau lakukan hah?” bentak Woohyun dengan menatap Myungsoo tajam. Dari auranya sepertinya Woohyun saat ini benar-benar sedang emosi. Entah karena perlakuan Myungsoo yang barusan atau mungkin ada hal yang lain yang mendasarinya.

Myungsoo sama sekali tidak gentar melihatnya, meskipun ini pertama kalinya Woohyun membentak dirinya. “Aku bertanya tentang Sunggyu hyung dan kau dengan santai nya menjawab seperti itu?” tandas Myungsoo.

“Bukankah aku sudah menjawabnya?? Kau tidak mendengar???” Woohyun tidak mau kalah. “Dia baik-baik saja, dia juga sudah mengatakan sendiri jika dia dalam keadaan yang baik!!”

“Kau!!” Myungsoo menunjuk. “Kau benar-benar tidak bertanggung jawab!! Tidak bisakah kau melihat jika Sunggyu hyung sakit? Tadi pagi dia baik-baik saja, namun setelah keluar makan denganmu dia seperti itu! Kau masih mau mengelak???”

Woohyun menepis tangan Myungsoo dengan keras, tidak main-main dia terpancing dengan ucapan Myungsoo itu. “Apakah kau saat ini sedang mencoba untuk mendekatkan aku dengan dia??” Woohyun menunjuk Sunggyu. “Kau melakukan itu agar kau bisa membalas sakit hatimu padaku karena jabatan itu??”

“Apa??” tentu saja Myungsoo tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Woohyun itu.

“Kau mengetahui jika aku menyukai Chef Lee dan aku sedang mencoba untuk mendekatinya, namun sepertinya kau mencoba merebutnya dari ku!! Apakah kau masih sakit hati karena aku menempati posisimu sebagai sous chef??” kata Woohyun tajam.

Myungsoo benar-benar terkejut mendengarnya, tangannya terkepal erat dan jika saja Sunggyu tidak mencegahnya mungkin dia sudah menghajar namja  dihadapannya itu. “KAU!!! Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu hah???” Chef Lee bukan kekasihmu dan aku berhak untuk mendekatinya juga! Lalu kau bilang aku iri dengan posisimu?? Kau salah besar Nam Woohyun-ssi!”

“Mwoo? Aku salah??” Woohyun mencengkeram kerah Myungsoo dan menariknya. “Kau menyukai Lee SungJong namun kau tidak bisa bersaing denganku, kau menggunakan Sunggyu hyung untuk mendekatiku agar aku menjauh dari chef Lee, kau pikir aku akan menyukai Sunggyu hyung?? Kau salah besar Myungsoo-ya…”

Baik Myungsoo maupun Sunggyu terkejut sekali dengan ucapan itu. Myungsoo sekejab menengok ke arah Sunggyu, namja itu nampak memundurkan beberapa langkahnya terlihat shock. Ucapan Woohyun benar-benar membuatnya terluka. Myungsoo mengepalkan tangannya penuh amarah, namja itu kemudian berbalas menarik kerah Woohyun dengan keras.

“Kau bilang apa tadi??? KAU BILANG APA???”

Woohyun tersenyum sinis. “Dengar Myungsoo-ya, yang aku sukai hanya Lee SungJong, jangan mencoba untuk mendekatkanku dengans seseorang yang bahkan tidak aku sukai, dan bahkan jika itu hanya untuk membalaskan sakit hatimu padaku!”

“Kubilang aku tidak pernah merasa sakit hati karena kau merebut posisiku!! Ya Woohyun-ssi!!! Kau benar-benar bodoh karena tidak bisa melihat siapa yang benar-benar mencintaimu!! Berhentilah bersikap bodoh!!” bentak Myungsoo dengan amarah yang tidak tertahankan.

“Myungsoo-ya…” lagi-lagi Woohyun tersenyum sinis. “Kau pikir apakah kau benar menyukai Lee SungJong? Bukankah kau hanya ingin memanfaatkannya saja….?”

Myungsoo menyipitkan matanya. “Mwo?”

“Kau hanya memanfaatkan Lee SungJong karena dia kaya, hahaha tidak heran orang yang hanya mencintai uang sepertimu mengejar Lee SungJong, dia masih muda dan bisa kau manfaatkan untuk kau ambil semua uangnya…..”

“KURANG AJAR!!!” Myungsoo mengepalkan tangannya erat dan…BUGGHHH! Sebuah pukulan yang sangat keras berhasil mendarat di wajah Woohyun dan membuatnya terhuyung ke belakang.

“Myungsoo-ya…” Sunggyu tak bisa menahan rasa terkejut melihatnya.

Myungsoo masih menyala-nyala. “KAU!!! Jaga mulutmu!! Tidak pernah terlintas sedikitpun pikiran seperti itu!! Kau benar-benar sampah Nam Woohyun!!”

Woohyun bangkit kemudian mengusap ujung bibirnya yang mulai memar, dia kemudian tertawa sinis. “Hahahaha….orang sepertimu lah yang seperti sampah, sudah jelas sekali motifmu, Lee SungJong lebih baik dengan ku…setara, kami berasal dari keluarga yang terpandang, sedangkan kau…….”

“NAM WOOHYUN!!!” Myungsoo benar-benar sakit hati dengan ucapan Woohyun barusan, dengan cepat dia segera menyerang kembali Woohyun. Namun kali ini Woohyun berhasil menepisnya sehingga perkelahian tak bisa dihindari.

“YAA!!! Kalian berdua berhenti!!” bentak Sunggyu.

Myungsoo dan Woohyun saling memukul tidak mau kalah. Emosi telah menutup fakta bahwa mereka berdua adalah rekan kerja. Padahal mereka berdua biasanya orang yang selalu menjadi panutan untuk yang lainnya. Namun hanya karena masalah sepele semuanya menjadi runyam.

“Hyung!! Apa yang terjadi???” Youngjae dan yang lainnnya muncul.

“Cepat kalian lerai mereka!! Cepatlah!!” pinta Sunggyu.

Youngjae dan Daehyun segera berlari dan menghampiri Woohyun yang sedang memukul Myungsoo bertubi-tubi. “YAAA!!! Lepaskan aku!! Biarkan aku menghajar si brengsek itu!!” bentak Woohyun.

“Sudah hyung berhenti!!!” ucap Daehyun sembari menahan tubuh Woohyun sekuat tenaga.

“YAA!!! Kau pikir kau siapa hah??? Lihat saja aku akan menghajarmu lagi!!!” Myungsoo tak kalah, dia segera bangkit dan hendak menyerang Woohyun. Namun dengan cepat Youngjae dan Sunggyu menahannya. “YAAA!!!”

“Bawa Woohyun keluar dari sini!!!” perintah Youngjae. Daehyun dan Minki dengan sekuat tenaga mencoba menarik Woohyun untuk keluar dari ruang istirahat. Woohyun benar-benar sedang dalam emosi yang tidak baik, sumpah serapahnya masih ia teriakkan pada Myungsoo. Suasana menjadi memanas, seolah pendingin ruangan tidak bisa untuk mengubah suasana disana.

 

*

*

*

 

Dengan telaten Sunggyu mengobati memar-memar yang mulai terlihat di wajah Myungsoo. Beruntung sekali Chef Lee tadi pulang lebih awal jad mereka semua aman dari teguran chef Lee jika mengetahui perkelahian tadi. Woohyun juga pergi begitu saja tanpa berkata apapun.

Myungsoo terlihat lebih tenang dari sebelumnya, namun dia masih belum berbicara apapun. Sunggyu sudah menganggap Myungsoo seperti saudaranya sendiri, dan dia juga tahu Myungsoo tidak akan semarah tadi jika tidak ada sesuatu yang mengusik emosinya. Dan dia rasa memang Woohyun tadi sangat keterlaluan.

“Kau mau aku belikan makanan?” tanya Sunggyu. Myungsoo menggeleng. “Tidak hyung, aku tidak lapar…”

Sunggyu tersenyum kemudian menatap Myungsoo dengan lekat. “Yaa! Apa yang Woohyun katakan itu tidak benar kan…?”

Myungsoo nampak tidak mengerti. “Maksudmu hyung?”

“Kau bukannya sedang mencoba untuk mendekatinya, tapi kau dan Chef Lee memang sepasang kekasih, aku benar kan?” tanya Sunggyu memastikan. Tentu saja Myungsoo terkejut mendengarnya, dia tidak pernah bercerita apapun tentang SungJong pada Sunggyu. “Yaah tidak heran kalau kau tidak menyukai ketika Woohyun mendekatinya…”

“Kau bicara apa hyung?”

“Jangan berbohong, tatapan matamu pada Chef Lee begitu dalam, begitupun sebaliknya, aku tahu kalian saling menyukai…”

Myungsoo kemudian tersenyum, rasanya dia tidak mungkin untuk mengelak dari pertanyaan itu. Dan lagi Sunggyu adalah orang yang dapat untuk dipercaya. Bercerita padanya tentu tidak akan menjadi suatu masalah. “Darimana kau mengetahuinya hyung….?”

“Aku tahu sejak dia datang kemari untuk yang pertama kali…aah mungkin lebih tepatnya aku mengetahuinya saat kalian berdua di dalam ruang istirahat, aku berniat ingin mengambil jacket sebelum makan sang, namun aku urungkan karena ada kalian berdua…” jelas Sunggyu. “Dan…maaf aku mengintip kalian diam-diam…”

Tentu saja Myungsoo terkejut mendengarnya, pantas saja saat itu dia mendengar ada suara langkah kaki namun tidak masuk ke dalam ruang istirahat. Dan lagi dia terlalu sibuk dengan SungJong hingga tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana. Myungsoo tersentak, itu artinya Sunggyu mendengarkan semua percakapannya dengan SungJong.

Dan yang lebih memalukannya lagi Sunggyu pasti juga melihat perbuatan mereka berdua. Aahh Myungsoo tiba-tiba merasa panas. “Apakah Woohyun juga mengetahuinya hyung?” tanya Myungsoo.

Sunggyu menggeleng. “Tidak, aku tahu itu rahasia, dan lagi Woohyun sepertinya sangat menyukai chef Lee, mana bisa aku menceritakan padanya?” ada nada yang sedikit berbeda dari Sunggyu, Myungsoo mengerti, nada kecemburuan.

“Myungsoo-ya…” Sunggyu kembali pada nada yang lebih nyaring. “Kau kenapa kalian berdua berpisah? Bukankah kalian berdua saling menyukai?”

“Ahh…itu karena suatu hal yang memaksa kami…ahh tidak maksudku yang memaksaku untuk meninggalkannya…” jawab Myungsoo singkat.

Sunggyu nampak tidak mengerti. “Kenapa kau harus meninggalkannya? Apakah karena seseorang yang ada di rumah sakit itu? Sebenarnya dia itu siapa Myungsoo-ya? Kenapa kau sepertinya sangat peduli dengannya?” tanya nya tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Myungsoo tersenyum. “Hmm…mungkin iya karena dia, namun ada alasan lain yang membuatku harus meninggalkan chef Lee…” sahut Myungsoo, pandangannya kemudian menjadi tajam, tangannya mengepal erat seolah menahan emosi. “Sesuatu yang tidak bisa aku maafkan tentang Lee SungJong….”

“Apa?”

“Sudahlah, kau tidak pulang hyung? Ini sudah sangat sore? Bukankah acara tv favoritmu sedang tayang?”

Sunggyu segera menepuk jidatnya. “Aahhh benar, jika begitu aku pulang dahulu , Myungsoo-ya sampai jumpa besok…” ucap Sunggyu sembari menyambar jaketnya dan beranjak pergi. Myungsoo hanya menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. Pertanyaan Sunggyu tadi berhasil membuatnya mengingat sesuatu yang sangat ingin ia lupakan, perasaannya kembali memburuk.

Ponselnya bergetar, dari layar tertulis “Rumah Sakit”, setiap kali kata itu tertera di ponselnya Myungsoo selalu merasa cemas bukan main. “Yeoboseyo…” sapanya dengan cepat, perubahan raut wajahnya jelas sekali terlihat. “Ingin bertemu denganku? Baiklah aku akan kesana….” Panggilan terputus, sama seperti Sunggyu tadi, Myungsoo pun dengan cepat pergi dari sana.

*

*

*

“Dia memangnya tidak bisa mengurus dirinya sendiri apa hyung??” SungJong bersedekap tangan dengan kesal. Kakinya berkali-kali menghentak pelan pertanda dia tidak sedang dalam keadaan yang sabar.

Sungyeol segera menegur. “Jangan seperti itu, dia baru saja kecelakaan,harusnya kau cemas dengan keadaan hyung mu itu…” ucapnya.

“Tapi dia menyetir dengan sembarangan, aku yakin dia hanya pura-pura kesakitan agar Sungyeol hyung mau mengeluarkan uang untuknya…” cibir SungJong.

“Jangan seperti berbicara seperti itu! Tidak baik…”

Pintu terbuka, dari dalam terlihat keluar seorang pemuda memakai jas lengkap serta perban di kepalanya. Sungyeol segera menghampirinya. “Kau tidak apa-apa? Luka mu tidak parah kan hyung?” tanyanya.

“Tidak apa-apa, tapi dokter mengatakan  aku harus segera memeriksakan diri ke dokter lagi jika merasa pusing…”

“Ahh mungkin Hoya hyung gegar otak, baguslah! Itu hanya akan semakin merepotkan Sungyeol hyung!” sahut SungJong dengan sinis.

“Lee SungJong jaga bicara mu!” tegur Sungyeol lagi, SungJong tidak peduli.

Pemuda yang dipanggil Hoya tadi segera menghampiri SungJong dan menjitak kepalanya. “Benar-benar anak kecil yang kurang ajar, setelah lama tidak bertemu denganku kau malah semakin berani melawanku, apakah kau belajar hal lain di luar negeri selain memasak??” tanyanya melotot.

“Aaaah, kau pun juga masih sama, tingkahmu malah semakin seperti anak kecil, selama aku pergi kau pasti selalu merepotkan, aku tidak percaya mempunyai hyung seperti mu, sangat memalukan!” tandasnya.

“Yaa!!! Kau pikir aku bangga memiliki dongsaeng seperti mu?? Dasar!!”

“Hey sudahlah!” lerai Sungyeol. “Hoya hyung, SungJongie sudah cukup bertengkarnya, kalian ini sungguh membuatku pusing…”

SungJong dan Hoya saling mencibir satu dengan yang lainnya. “Lihatlah kau lebih tua dari kami, namun Sungyeol hyung lebih dewasa dari pada dirimu!!”

“Kau bilang apa??”

“Sudah cukup!! Kita pulang!!” tegas Sungyeol.

Baik Hoya maupun SungJong hanya bisa diam dan segera mengikuti langkah Sungyeol pergi dari sana. SungJong benar-benar sangat malas sebenarnya harus pulang bersama dengan hyung tertuanya itu, dia pikir dia bisa tinggal di rumah Sungyeol hari ini, namun ketika Hoya mengalami kecelakaan tadi sudah bisa dipastikan dia juga akan tinggal di rumah Sungyeol. Dan jika mereka bertiga berada di dalam satu atap yang sama tentu Sungyeol yang akan repot melerai pertengkaran mereka berdua.

SungJong bukannya membenci kakak tertuanya itu, hanya saja dia tidak suka dengan sikapnya yang boros dan semena-mena. Namun meskipun begitu sebenarnya Hoya sangat baik dan mengganggu SungJong hanya sebatas menggodanya saja. Lain dengan Sungyeol, SungJong selalu mengagumi dan menghormati hyung keduanya itu. Baginya Sungyeol adalah segalanya, dan dia juga menjadi orang pertama yang akan mengamuk ketika Hoya membuat Sungyeol kesusahan.

“Oh…??” Langkah SungJong terhenti begitu dirinya hampir bertabrakan dengan seseorang disana. Dirinya segera mendongakkan kepalanya. “Kau…?”

“Lee SungJong?” namja itu juga terlihat kaget bertemu dengan SungJong disini. Karena setahunya SungJong tadi baik-baik saja, kenapa harus di rumah sakit? Namja itu, Kim Myungsoo, mulai nampak cemas.

“Apa yang kau lakukan disini? apakah kau sakit? Tanganmu yang tadi apakah bertambah parah?” tanya nya sembari meraih tangan SungJong dan mengecek telapak tangannya dengan teliti.

SungJong menggeleng dan menarik tangannya kembali. “Tidak, aku kesini karena hyung ku kecelakaan….”

“Oh? Lee Sungyeol-ssi kecelakaan? Bagaimana keadaannya??”

“Bukan Sungyeol hyung, tapi hyung tertuaku, Hoya hyung, dia kecelakaan karena teledor saja, kurasa dia baik-baik saja…” jawab SungJong.

Myungsoo tersentak. “Lee Hoya? Berarti aku tidak salah lihat…” gumamnya.

“Kau bilang apa?” tanya SungJong memastikan, karena Myungsoo berucap begitu lirih sehingga dia tidak  begitu mendengarnya dengan jelas.

“Ahh tidak…kkaja, kita minum kopi sebentar…”

*

*

*

Myungsoo memberikan satu gelas plastik kopi krim pada SungJong, setidaknya dulu minuman itu adalah minuman kesukaannya, dan mungkin sekarang juga. SungJong segera menyimpan ponselnya begitu Myungsoo duduk didekatnya. Dia baru saja menyuruh Sungyeol untuk pulang tanpa dirinya. Setidaknya dia punya alasan untuk tidak pulang kesana.

“Kenapa hyung mu bisa kecelakaan?” tanya Myungsoo memecah keheningan.

“Hoya hyung memang seperti itu, kekanakan sekali, setelah ini dia akan merepotkan Sungyeol hyung selama berhari-hari…” keluhnya. Myungsoo tersenyum mendengarnya. “Kau sendiri sedang apa disini?” SungJong balik bertanya.

Myungsoo sedikit terperangah, dia tidak tahu harus menjawab apa, namja berwajah tampan itu segera menyesap kopi panasnya perlahan. Rasanya selalu berbeda jika minum kopi bersama dengan kekasihnya ini, atau mungkin bisa disebut sebagai mantan kekasih.

Awalnya melihat Myungsoo yang tidak merespon pertanyaannya SungJong sedikit heran, namun untuk beberapa saat kemudian dia teringat sesuatu. Dan SungJong pun kembali merasakan sesak. “Dia di rawat disini?” tanyanya kemudian.

“Ohh..? hmm…”

“Karena sudah disini…bisakah kau mempertemukanku dengannya?” tanya SungJong melihat ke arah lurus kedepan. “Aku ingin bertemu dengan seseorang yang bisa menggantikanku dari hatimu…”

Myungsoo seketika menatap wajah sayu dari kekasihnya itu. Tidak ada raut kemarahan ketika ia mengucapkan hal itu, namun yang terlihat adalah wajah yang tulus. Hal ini membuat hati Myungsoo tersayat, tidak tega. Dia tidak mungkin untuk mempertemukan mereka, karena suasana akan semakin kacau. “SungJong-ah mianhae…”

SungJong tersenyum. Dia pun mengerti bahwa Myungsoo tidak bisa untuk mengabulkan permintaannya tadi. “Baiklah aku mengerti, aku tidak akan membahasnya…”

“SungJong-ah…” Myungsoo mencoba mengalihkan topik pembicaraan. “Apakah kau malam ini akan pulang ke rumah hyung mu…?”

“hmm entahlah, ku malas ada Hoya hyung disana….”

“hyung mu tidak bekerja? Bukankah dulu mereka maniak bekerja? Bahkan mereka bekerja hingga malam…” tanyanya lagi.

Kekasih manisnya itu nampak mengetukkan jemari pada gelas plastiknya, berpikir. Myungsoo tersenyum melihatnya. Menggemaskan sekali. “Hoya hyung dan Sungyeol hyung masih gila bekerja, aah tidak lebih tepatnya Hoya hyung yang mengurus perusahaan aboeji, Sungyeol hyung memang bekerja dengan baik namun dia masih sempat untuk mengurusiku, mengunjungiku juga ketika aku di luar negeri, sedangkan Hoya hyung…? Menelvonku pun jarang…”

“Ahh aku paham sekarang…” Myungsoo mengangguk-anggukkan kepala. Sebenarnya dia ingin sekali bertanya tentang aboeji nya namun dia rasa ini bukan waktu yang tepat. Dan lagi SungJong sama sekali tidak menyebut aboejinya tadi.

Myungsoo kemudian menggerakkan tangannya dan menyentuh kulit putih yang lembut yang selalu ia rindukan itu. Berani bersumpah selama ini ketika SungJong pergi tak sekalipun Myungsoo melupakannya. Setiap kali melakukan hal apapun bayangan tentang SungJong selalu terlintas.

Tidak heran karena sebelumnya mereka selalu menghabiskan waktunya bersama, mencoba resep masakan terbaru. Bahkan SungJong akrab sekali dengan kedua orang tuanya. Myungsoo cukup merindukan saat-saat seperti itu.

“SungJong-ah…malam ini…aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, apakah kau ada waktu?” tanyanya menatap (mantan) kekasihnya itu dengan lembut.

“hmm? Mengajakku kemana?”

“Ke tempat ahjumma penjual kue yang menjadi langganan kita dahulu, sudah cukup lama kita tidak mengunjunginya, aahh setidaknya aku sudah beberapa kali kesana, bersama dengan dirimu tentu sangat menyenangkan…” jelas Myungsoo lagi.

SungJong memikirkan penawaran itu dengan baik. “Apakah kau akan mengajakku makan disana?”

“Tentu saja, apapun untukmu, untuk sekedar makan disana aku masih mempunyai cukup uang…”

“Berarti kita akan membeli kembang api dan menyalakannya disana lagi? Apakah kau juga mau melakukannya?”

“Tentu saja, kita bermain kembang api sampai pagi kalau kau mau…”

“Kau berjanji..??”

Myungsoo tersenyum dan mengusap kepala SungJong pelan. “Aku berjanji, Kim Myungsoo berjanji…” tegasnya. SungJong pun tersenyum manis mendengar hal itu. “Baiklah, aku akan menunggu mu di taman, sampai nanti…”

“Sampai nanti manis, aku akan merindukanmu…” Myungsoo meraih tangan SungJong dan mengecupnya. Kekasihnya itu hanya kembali tersenyum padanya dan segera berlalu.

Myungsoo merasa lega, perlahan namun pasti dia akan kembali merebut hatinya. Semua kesalahan yang dahulu pernah ia buat akan dia tebus bagaimanapun caranya.

*

*

Malam terasa lambat sekali berjalan. Myungsoo berjalan gontai menuju pusat perbelanjaan. Setidaknya sebelum dirinya menemui SungJong dia harus membeli sesuatu untuk seseorang yang lain disana. Hanya mengandalkan gajinya di restaurant sepertinya tidak akan mampu untuk tetap membuat orang itu tetap bernafas.

 

Setelah dirasanya cukup Myungsoo segera menitipkan semua kebutuhan itu pada ahjumma pemilik toko bunga. Dia biasa menitipkan apapun disana. Namja berwajah tampan itu kemudian tersenyum, malam ini mungkin dia akan kembali mengenang masa lalu bersama dengan kekasihnya itu. Dia sengaja untuk tidak menelvon SungJong karena ingin memberikan kekasihnya itu kejutan.

“Oh…..?” Myungsoo menghentikan langkahnya melihat di sebuah toko kecil ada kembang adalamnya. Dia kemudian teringat permintaan SungJong untuk bermain kembang api sampai pagi.

Tanpa berpikir panjang lagi, Myungsoo segera  masuk ke dalam toko itu untuk membeli beberapa kembang api. Dia sangat menyukai kembang api dengan ledakan yang kecil namun bisa berkilau di angkasa dengan sangat indah.  Dan jika dirinya dan SungJong sudah melakukan hal itu maka waktu terasa berhenti berputar dan dunia hanya menjadi milik mereka berdua.

Tidak membutuhkan waktu  yang lama bagi Myungsoo untuk  pergi ke tempat dia dan SungJong akan menghabiskan waktu bersama. Saat ini dia sudah berada di seberang jalan menanti lampu lalu lintas menberikan izin untuk menyebrang. Mata tajam Myungsoo dapat menangkap sosok yang ia tunggu sudah berada disana. Duduk dibangku taman menanti dirinya.

SungJong memang selalu datang lebih awal ketika mereka berjanji akan menghabiskan waktu bersama. Sejak dulu, tidak pernah berubah, Myungsoo benar-benar merindukan anak itu. Ahh..lampu lalu lintas tidak kunjung berwarna merah, dan juga mobil masih banyak berlalu lalang. Disana SungJong sepertinya tidak menyadari jika Myungsoo sudah dekat, dia terlalu fokus dengan ponselnya.

Warna merah terlihat, Myungsoo tersenyum. Dia segera melangkahkan kakinya menuju tempat penyebrangan. Beruntung sekali malam ini cuaca sangat mendukung, langitpun bahkan terlihat banyak bintang bertaburan disana.

Drrt….ponsel di tangan Myungsoo bergetar begitu dirinya sampai di tengah jalan. Mau tak mau dia segera melihat ke arah ponsel yang ia genggam itu. “Mwoo….?” Takk…plastik berisi kembang api itu terjatuh begitu saja, tangan Myungsoo bergetar, wajahnya memucat, seolah dia baru saja mendengar sesuatu yang sangat mengerikan.

Tanpa mempedulikan lainnya, Myungsoo memutar langkahnya kemudian berlari sekuat tenaga untuk  pergi dari sana. Tidak peduli dengan siapa yang mungkin tertabrak oleh lari kencangnya karena yang ia peduli hanya segera sampai di rumah sakit dengan cepat. Myungsoo benar-benar panik.

*

*

*

”Apa yang terjadi….??” Myungsoo terengah-engah telah sampai di depan ruangan gawat darurat. Namja yang memakai baju serba putih yang berdiri di depan ruangan itu juga nampak kaget dengan kehadiran Myungsoo.

”Myungsoo-ya….”

”Katakan padaku ada apa! Apakah dia baik-baik saja Minho-ya….?”

Namja yang dipanggil Minho itu menggeleng dengan lesu. ”Ketika aku mencoba mengecek infusnya tiba-tiba dia bangun, aku pikir dia menginginkan sesuatu, tapi……”

”Tapi kenapa??” Myungsoo semakin tidak sabar.

”Dia memecahkan gelas kemudian mencoba melukai dirinya sendiri, aku benar-benar tidak bisa mencegahnya, saat ini Dokter Shin sedang memberikan pertolongan untuknya…” jelasnya dengan rau wajah yang takut, panik dan juga segalanya.

Myungsoo terduduk dengan lemas, dadanya masih naik turun menandakan dirinya sedang bernafas dengan tidak teratur. Keringat mulai terlihat mengalir dari kening pada wajahnya. Selalu seperti ini, Myungsoo hidup dalam ketakutan yang begitu luar biasa. Dia selalu takut hal ini akan terjadi lagi.

Melihat Myungsoo seperti itu, Minho merasa iba. Dia segera duduk di sampingnya dan menenangkan. ”Dia pasti baik-baik saja, kau jangan cemas….”

”Minho-ya, biaya operasi itu pasti mahal kan….?” tanya Myungsoo tiba-tiba. Minho tampak terkejut. ”Sebentar lagi aku pasti akan mendapatkannya, jebal kau rawat dia dengan baik…”

Minho menarik nafas panjang. ”Myungsoo-ya, kau tahu kau bisa memakai uang ku lagi, aku sudah pasti akan membantumu..”

”Tidak Minho-ya, aku bahkan belum bisa mengembalikannya yang dahulu, sudahlah aku akan mengatasinya sendiri…” tegas Myungsoo. Jika sudah seperti ini Minho tidak bisa memaksanya lagi. Yang bisa ia lakukan untuk menolong sahabatnya itu hanyalah menjadi dokter yang baik untuknya.

Waktu terus berjalan, namun sang dokter masih belum juga keluar dari ruangan. Hal ini tentu membuat Myungsoo bertambah cemas bukan main. Jika terjadi sesuatu yang buruk Myungsoo tidak tau harus melakukan apalagi.

Klek….pintu terbuka. Nampak dokter Shin sudah selesai melakukan penanganan. ”Myungsoo-ya…”

”Bagaimana dokter? Apakah semua baik-baik saja??” tanya Myungsoo cemas.

”Yaah seperti biasanya, butuh waktu untuk menjahit lehernya, beruntung pecahan gelas itu tidak melukainya lebih dalam, Myungsoo-ya, jaga dia lebih sering lagi…”

Tarikan nafas lega baru bisa Myungsoo rasakan sekarang. Mendengar dokter mengatakan tidak apa-apa setidaknya bisa membuat nya sedikit tenang.  Mungkin dokter dan perawat disini sudah mulai hafal sekaligus bosan dengannya. Dirinya selalu merepotkan, meskipun begitu Myungsoo memperoleh teman yang baik seperti Minho disini.

Dengan perlahan Myungsoo melangkahkan kakinya menuju tempat seseorang yang berbaring tak sadarkan diri disana. Suara detak jantung serta aroma obat-obatan begitu terasa. Myungsoo bahkan sudah tidak asing dengan semua itu. Setiap hari dia bersentuhan dengan rumah sakit meskipun dirinya bukanlah seorang dokter.

Sosok yang memakai alat bantu pernafasan serta alat kedokteran yang memenuhi tubuhnya itu terlihat tidak berdaya sama sekali. Myungsoo menarik nafas panjang. “Aku masih disini, kau masih punya aku, jadi berhentilah mencoba mati…” ucap Myungsoo padanya. Yaah meskipun dia tahu semua ucapannya itu sama sekali tidak bisa direspon oleh sosok itu. “Aku sudah mengorbankan semuanya untukmu, bahkan juga Lee SungJong..dia…” Myungsoo tiba-tiba tersentak. “Astaga Lee SungJong…???” namja itu segera menengok jam yang tergantung di dinding. Sudah pukul  sebelas malam. Astagaa, Lee SungJong.

Tanpa mempedulikan tubuhnya yang mulai terasa lelah, Myungsoo kembali berlari pergi dari sana. Dia benar-benar lupa dengan janjinya dengan SungJong tadi, bahkan dia juga tidak memberitahu kekasih nya itu jika dirinya tidak bisa datang. Astaga, Myungsoo benar-benar merasa panik sekarang. Sekali lagi dia sudah mengingkari ucapannya.

*

*

“SungJong-ah!!!” Nafas namja itu kembali terengah-engah, sudah tidak ada siapapun disana. Lampu taman pun juga sebagian sudah mulai meredup. Myungsoo yakin SungJong sudah pergi dari sana. “SIAALL!!!!” Myungsoo menendang bangku taman itu dengan keras.

Kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan SungJong hilang begitu saja. SungJong pasti marah, dan dia yakin setelah ini akan semakin sulit berbicara dengannya. Myungsoo benar-benar menyesali perbuatannya hari ini. harusnya dia tadi mengabari  SungJong. Sadar atau tidak Myungsoo telah membuat SungJong kecewa untuk kesekian kalinya.

“SungJong-ah…aku benar-benar bodoh!”

Dengan gontai Myungsoo berjalan menuju restaurant. Hari yang seharusnya menjadi hari yang menyenangkan semuanya rusak dalam sekejab. Semua terjadi karena ketidakmampuannya mengatasi situasi. Myungsoo tidak berhenti merutuki dirinya dalam hati.

“Ohh…?” matanya membulat ketika melihat bayangan seseorang yang akan menaiki tangga restaurant di depan sana, Myungsoo mengenalinya. “SungJong-ah….?” Panggilnya. Dari siluet itu Myungsoo dapat mengenalinya, namun aneh sekali SungJong nampak sempoyongan dan tidak berjalan dengan baik.

“Yaa! SungJong-ah…”

Myungsoo menyentuh bahu namja itu dari belakang, namun hal itu membuatnya hampir saja terjatuh apabila Myungsoo tidak menahan tubuhnya. “Yaa!!!” Namja itu berbalik dan mengucek matanya mencoba melihat siapa yang ada di depannya. Dan dengan itu Myungsoo paham bahwa SungJong dalam keadaan mabuk. “Kau mabuk…??”

“Waah….s-siapa i-ini…Kim Myungsoo?? a-ahahaha….kemana saja kau hahaha? Kau membohongiku yaa…..???” SungJong yang dalam pengaruh minuman berbicara ngawur . “Berapa banyak kau minum hah? Astaga…”

“L-lepaskan a-aku….jangan sentuh aku!” rancaunya sembari menodorong Myungsoo yang menahan tubuhnya. Namun karena dirinya dalam kondisi yang sangat lemah tidak bisa melepaskan diri dari Myungsoo.

“Berhenti berbicara! Kkaja masuk ke dalam, kau benar-benar sudah mabuk!!”

Dengan susah payah Myungsoo membawa kekasihnya itu masuk ke dalam. Cukup sulit karena tangga menuju pintu belakang yang harus dilalui begitu banyak. Ditambah lagi SungJong dalam keadaan yang tidak sadar dan terus meronta. Dari mulutnya pun terdengar raungan tidak jelas meskipun itu menyebut nama Myungsoo.

*

Brukkk….Myungsoo sedikit melemparkan tubuh SungJong keatas tidur. Membawanya kemari benar-benar melelahkan. SungJong terlihat memejamkan matanya sembari menggeliat tidak nyaman. Mungkin Chef itu benar-benar meminum banyak tadi. “K-kim M-Myungsoo…..kau…k-kau, a-aku membencimuh…”

Myungsoo menarik nafas panjang, sudah jelas alasan SungJong minum banyak tadi. Namja itu segera melepaskan jacket dan sepatu SungJong perlahan. Ponsel kekasihnya itu terdengar berbunyi beberapa kali, SungJong mungkin sedari tadi mengabaikan panggilan dari Sungyeol. Mata tajam Myungsoo sedikit membulat kaget ketika melihat foto yang tampil di layar depan ponsel SungJong. Anak itu bahkan masih menyimpan foto mereka dahulu.

“Mianhae baby…” Myungsoo mengusap kepala SungJong dengan lembut. “Aku tidak bermaksud untuk membuat mu kecewa lagi…” sesalnya. “Kau tahu…hari ini adalah hari yang sebenarnya sangat aku nanti, berencana menghabiskan waktu denganmu, namun sepertinya takdir berkata lain, maafkan aku baby…”

Meskipun SungJong sudah terlelap namun Myungsoo berharap dengan ini dia bisa mencurahkan seluruh isi hati yang ia pendam hari ini. namja itu kemudian meraih tangan SungJong dan menggenggamnya. “Aku tahu kau marah, tapi…kau mengenalku, aku tidak akan menyerah hingga kau kembali padaku…mianhae, aku sangat egois….”

Menatap wajah manis itu berlama-lama membuatnya tidak pernah merasa bosan. Ketika SungJong bangun nanti mungkin dia tidak akan melihat wajah damai seperti itu lagi. Andaikan Myungsoo dapat memutar waktu kembali. Atau setidaknya dia bisa menebus semua kesalahan di masa lalu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Gelap malam sudah mulai bertambah, hari akan segera tergantikan hari yang baru. Meninggalkan semua rasa duka maupun rasa senang yang telah terjadi. Hari baru telah menanti.

*

*

*

*

Mata lengket SungJong mulai mencoba membuka ketika sebuah sinar yang cukup kuat menertpa wajahnya. Pandangannya yang masih terasa berat ia coba untuk biasakan untuk menerima cahaya itu. Ketika pandangannya benar-benar cukup jelas dia dapat menangkap langit-langit di atasnya berwarna putih serta almari berwarna biru di seberang tepat tempat tidurnya.

Dari situ dia dapat menyimpulkan bahwa dirinya tidak berada di kamarnya, namun di kamar restaurant, dan SungJong masih belum bisa mengingat kenapa bisa ia sampai disini. Dia kemudian memutar wajahnya ke kanan. “Ohh…??” Dirinya benar-benar terkejut ketika melihat Myungsoo duduk disana sembari menatapnya. “Kau sudah bangun…?”

“K-kau….??” SungJong segera bangkit. “SShhh aakh…” kepalanya terasa pusing dan berat sekali. SungJong teringat jika semalam dia banyak minum. Dan seseorang yang membuatnya seperti ini adalah orang yang duduk menghadapnya itu.

“Kau pasti masih pusing, aku sudah membuatkan susu panas untukmu, kau mau meminumnya?” tanya Myungsoo lagi.

Sembari menekan kepala nya yang terasa berat SungJong menatap Myungsoo lekat. Tatapan yang menyiratkan kemarahan dan juga kecewa. Myungsoo berani bersumpah terakhir kali dia mendapatkan tatapan seperti itu adalah lima tahun yang lalu. “Kau tidak apa-apa kan?” tanya Myungsoo sembari mengecek dahi SungJong.

Namun dengan cepat kekasihnya itu menepis tangan Myungsoo keras. “Jangan sentuh!!”

“Dengar , aku minta maaf untuk tadi malam…aku bersalah tidak memberimu kabar….” Ucap Myungsoo sembari terus mencoba untuk menyentuh SungJong, namun dengan cepat pula SungJong menangkisnya. “Aku sudah datang semalam namun aku ada…sesuatu yang mendadak jadi….maafkan aku baby…”

SungJong masih menekan kepalanya dengan keras. “Kau pembohon Myungsoo-ya! Aku benar-benar membencimu!!” ucapnya keras. Myungsoo menarik bahu SungJong dan menatapnya. “Aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu menunggu, aku hanya….aku hanya ada sesuatu yang mendadak…”

“Pasti karena orang itu kan??” tebak SungJong dengan cepat. Dan dari raut wajah Myungsoo yang terkejut itu SungJong sudah dapat menyimpulkan jika tebakannya adalah benar. “Kau tidak perlu minta maaf, aku yang salah, aku yang salah karena terlalu berharap padamu….aku sungguh bodoh menungguimu semalaman disana…” ucapnya tersenyum miris.

Myungsoo menggelengkan kepalanya putus asa. “Tidak bukan seperti itu!” sergahnya. “Semuanya diluar kehendakku SungJong-ah, maafkan aku, aku berjanji aku akan menebus semua kesalahanku ini..”

“Omong kosong! Aku tidak akan percaya lagi dengamu! Dan menyingkirlah aku harus pulang!!” bentaknya.

“Aku tidak akan menyingkir hingga kau mau untuk memaafkanku! Aku berjanji aku akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahanku! Jebal SungJong-ah, katakan apa yang harus kulakukan untuk mendapatkanmu kembali…”

“Kau sudah tahu jawabannya Myungsoo-ya!! Kau cukup mempertemuka aku dengan orang yang kau sembunyikan itu, atau kau tinggalkan dia maka aku akan kembali padamu!!!”

Tentu saja Myungsoo tahu jika permintaan SungJong pasti hal itu. Dia menggelengkan kepalanya cepat. Tidak mungkin menuruti hal itu. Apapun kecuali itu. “Kau tidak bisa kan?” tebak SungJong kembali tersenyum sinis. “Kalau begitu tinggalkan aku dan kembalilah pada orang itu! Kau memang berbohong ketika kau mengatakan kalau kau mencintaiku!!!”

“Baiklah baiklah..!!!” bentak Myungsoo menatap SungJong tajam. “Mungkin memang sudah saatnya aku membuktikan ketulusanku padamu!! SungJong-ah, aku akan mempertemukanmu dengannya!”

“Apa?” cukup terperangah SungJong mendengarnya.

“Bukankah itu yang kau mau?? Aku akan membawamu menemuinya, dan kau bisa menilai sendiri siapa yang aku cintai, kau atau dia…” jelasnya lagi. “Aku mencintaimu SungJong-ah, kau harus tahu itu, aku tidak pernah berhenti mencintaimu…jebal percayalah padaku!”

SungJong terdiam dan menatap Myungsoo. Jika ia terus menatap mata itu maka Ia akan jatuh untuk kedua kalinya dalam pesona Myungsoo. Namun dia juga dapat melihat ketulusan dalam tatapan itu, tidak terlihat adanya kebohongan. “Kau berjanji?” tanyanya memastikan.

“Tentu saja! Aku berjanji, kali ini tolong percayalah padamu….” Ucap Myungsoo bersungguh-sungguh. SungJong mengangguk perlahan, hal ini membuat Myungsoo merasa sedikit lega. Untuk saat ini dia sudah berhasil menenangkannya. Dan masalah nanti dia akan mengurusnya dengan Minho. SungJong akan bertemu dengan orang itu tentu saja Myungsoo merasa was-was.

Braakk.. “Lee SungJong kau baik-baik saja..???” pintu kamar tiba-tiba terbuka. Otomatis SungJong segera mendorong Myungsoo dari hadapannya. “Ouuh, apakah aku mengganggu?”

SungJong dan Myungsoo menoleh, nampak ada Sungyeol disana yang menampakkan wajah tak berdosanya. SungJong tiba-tiba memerah. “Hyung….kenapa kau ada disini??”

“Semalam ada yang menggunakan ponselmu dan mengatakan kalau tidur disini karena kebanyakan minum, aigooo aroma alkohol, kau benar-benar bukan anak kecil lagi SungJong-ah…” omelnya sembari melepas sepatu dan juga jaketnya.

“Ahh aku ke kamar mandi dahulu!!” seru SungJong melompat dari tempat tidur dan keluar.

Sungyeol hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak pernah ke restaurant ini meskipun tempat ini milik pamannya, hanya sesekali selama beberapa bulan, namun semenjak SungJong disini tentu dia harus semakin rajin mengunjungi.

Myungsoo berdiri, dalam suasana canggung seperti ini, dia tidak tahu harus membicarakan apa dengan Sungyeol. Yahhh meskipun dulu dia sering bertemu dengannya.

“Kim Myungsoo-ssi…” panggil Sungyeol.

“Yaa…?”

Sungyeol kemudian duduk. “Aku tidak menyangka kau bekerja disini, aku turut berduka dengan apa yang terjadi pada perusahaan aboejimu….” Ucap Sungyeol. Myungsoo hanya menatap Sungyeol tanpa menyahut.

“Yaah aku tidak menyangka jika kalian harus mengalami hal seperti itu…”

“Benar, dan kulihat perusahaan yang membuat kami seperti ini masih berdiri dengan megah dan bahkan bertambah sukses…” ucap Myungsoo.

Sungyeol tersenyum. “Kami, maksudku aku dan SungJong serta hyung juga sama, kami kehilangan aboeji….”gumamnya lirih, Myungsoo sedikit tidak mengerti dengan ucapan namja itu. “Apa yang kau…”

“Lee Sungyeol!! Lee SungJong kalian dimana?? aigoo tempat ini kotor sekali!!!” ucap sebuah suara.

Myungsoo mengenali suara itu sepertinya. Entah kenapa tiba-tiba darahnya menjadi mendidih membakar amarah yang tiba-tiba mendatanginya. Tangannya terkepal erat. Matanya terus melihat arah pintu menanti siapa yang datang dari sana.

“Lee Hoya-ssi….”

-TBC-

∞CHEF∞ #Chapter 2

   ∞Tittle      : ∞CHEF

∞Author  : Jung Yoojin

∞Cast       : -Kim Myungsoo  -Lee SungJong, others

         

∞Genre    : bromance, love,  friendship, work life,

∞Rate       : T+ (For bad Language)

∞Disc        : Their self but this fict is mine,

∞Warning :  boyslove, typos, don’t like don’t read.

                   Please no silent reader :’3

*

 

*

 

*

Kenangan indah yang dulu pernah ada terputar dengn sendirinya. Seolah seperti putaran film yang tersimpan didalam memori otak dan tersimpan disana engan rapat. Namun dengan alasan yang pasti film kenangan itu kembali terputar. Perasaan yang bercampur aduk menjadi satu seolah menjadi sesuatu yang tidak bisa untuk dihindari.

Hal ini mungkin itu yang sedang dirasakan oleh Myungsoo maupun oleh SungJong. Ini sudah lama sejak perselisihan itu. Sebenarnya amarah masih dengan jelas tersimpan, akan tetapi rasa rindu masih lebih besar dari amarah itu.

“Lebih baik kita jalani kehidupan kita masing-masing, anggap saja kau tidak pernah mengenalmu, aku tidak bisa mengikutimu, ada seseorang yang lebih membutuhkanku disini…”

Ucapan itu entah kenapa terlintas diingatan SungJong. Mata bening nya segera membulat. Tidak, dia tidak akan pernah melupakannya. Namja bermata bening itu tersadar. Kemudian dengan cepat dia mendorong Myungsoo yang ada ada didepannya hingga tautan mereka terlepas. Kemudian dia beranjak dan berdiri sedikit menjauh.

Myungsoo yang awalnya sedikit kaget pun segera mengerti setelah SungJong memalingkan wajahnya tidak mau menatapnya. Dia menarik nafas panjang dan mengacak rambutnya pelan. “Aku…”

“Dari awal sudah seperti itu….” SungJong dengan cepat memotong. “Lanjutkan apa yang sudah selama ini kau lakukan, kita tidak pernah saling mengenal, dan aku membencimu…”

“…….”

“Kau sendiri yang meminta, jadi…jangan pernah melakukan hal seperti tadi padaku, aku adalah boss mu sekarang..”

Tanpa menengok sedikitpun, SungJong segera bergegas pergi dari sana. Meninggalkan Myungsoo yang masih terdiam dengan perasaan yang bercampur aduk. Tangannya mengepal erat menahan amarah. “Siaal!!”

 

*

*

*

Sudah berganti hari dan juga suasana. Kali ini dapur sedikit tenang, karena pelanggan yang datang tidak sebanyak kemarin. Dan hampir semua menu di tangani oleh SungJong dan juga Woohyun. Mereka berdua terlihat kompak sekali.

Myungsoo memang mencoba untuk tidak peduli, karena urusan SungJong sudah bukan menjadi urusannya. Dia juga tidak akan peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh namja itu. Setidaknya pemikiran seperti itu yang saat ini sedang Myungsoo coba bangun. Disisi lain Myungsoo pun juga dapat melihat tatapan yang tidak pernah bersahabat dari para rekan kerjanya terhadap SungJong. Apalagi ketika melihat kedekatannya dengan Woohyun.

“Yeoboseyoo…” Myungsoo mendapatkan panggilan mendadak ketika waktu istirahat telah datang. Raut wajahnya berubah-ubah ketika mendengar penjelasan yang datang dari seberang sana.

Myungsoo tampak terduduk dan mengusap wajahnya dengan lelah. “Lakukan apapun yang menurutmu baik, aku akan mencoba mencari jalan keluarnya….tidak aku tidak dipecat..hanya saja posisiku diturunkan…sepertinya aku harus meminjam uang lagi…” Myungsoo terlihat tersenyum. “Baiklah…yang harus kau lakukan adalah tetap memastikan bahwa dia terus bernafas…sampai jumpa…”

Sunggyu yang sudah dari tadi di ruang istirahat baru menghampiri Myungsoo begitu namja itu selesai menelvon. Dia sudah cukup lama bekerja dengan Myungsoo. tentu dia sangat mengetahui kesusahan yang dialami oleh temannya itu. Namja bermata sispit itu segera menepuk bahunya.

“Bagaimana? Apakah kondisinya memburuk…?” tanyanya, Myungsoo menjawab dengan menganggukkan kepalanya pelan. “Dia memang tidak mempunyai semangat hidup, sangat egois…”

“Sudahlah, jangan berbicara seperti itu, Myungsoo-ya…kau boleh mengambil gajiku, memang tidak seberapa namun aku yakin bis auntuk membantumu…” ucap Sunggyu dengan tulus.

Myungsoo seketika menengok ke arah Sunggyu. “Tidak hyung, aku bahkan belum bisa mengembalikan uang yang aku pinjam dulu…” tolak Myungsoo.

“Aku tidak pernah mempermasalahkan itu Myungsoo-ya kau tahu….aku hanya simpati, aku tidak bisa membayangkan jika aku berada di posisimu…”

“Aku sangat berterima  kasih, namun kali ini aku akan berusaha lebih keras lagi…” ucap Myungsoo sembari tersenyum.

Sunggyu hanya bisa menarik nafas panjang. Myungsoo sendirian, harus bekerja keras mengumpulkan uang untuk seseorang yang saat ini terbaring di Rumah Sakit. Myungsoo memang tidak pernah mengatakan apapun pada siapapun, semua dia pendam sendiri. Dia terlihat kuat namun dalam hatinya ada sejuta kesedihan yang ia pendam.

Dan mata Sunggyu sedikit menatap horror ketika melihat Woohyun masuk ke dalam ruang ganti dengan sedikit bersiul, mengambil sesuatu di lokernya kemudian pergi lagi. Entah kenapa Sunggyu merasa sangat kesal. Woohyun terlihat bahagia sekali, entahlah apa yang sedang ada di dalam pikiran namja itu.

***

Di depan cermin toilet SungJong nampak membenarkan baju chef-nya. Saat memasak tadi tidak sengaja terciprat kuah, namun dia baru menyadarinya ketika sudah istirahat. Ada pesan masuk dari ponselnya membuat namja manis itu segera menghentikan aktifitasnya dan segera membaca pesan itu.

Ada sesuatu yang tertulis dari sana yang membuatnya terdiam sesaat, namun SungJong segera menyimpan ponselnya kembali. “Chef…” dari cermin SungJong dapat melihat, Woohyun datang dari balik pintu kemudian berdiri di sampingnya.

“Chef kau tidak istirahat?” tanya Woohyun sembari membasuh tangannya.

SungJong menggeleng. “Ada sesuatu yang harus aku kerjakan…” jawabnya singkat. Dia kemudian kembali berkonsentrasi untuk membersihkan bajunya. Woohyun meliriknya dengan senyum yang terlukis, dia tidak salah, Chef barunya ini memang manis sekali. Hanya saja banyak yang tidak menyukainya karena sifatnya yang menyebalkan. Namun bagi Woohyun tidak menyebalkan, justru itu membuat seorang Lee SungJong bertambah manis di matanya.

Dan Woohyun terkikik geli dalam hatinya ketika melihat SungJong yang sibuk membersihkan noda dibajunya, nampaknya noda itu cukup bandel untuk dihilangkan sehingga wajah SungJong terlihat kesal.

“Biar aku bantu chef…” tawar Woohyun, dia kemudian mencomot tisu basah dan menarik SungJong lebih dekat kearahnya.

“Woohyun-ssi…” Untuk alasan tertentu SungJong merasa terkejut dengan perlakuan Woohyun, apalagi saat namja itu mulai membersihkan bajunya dengan jarak teramat sangat dekat. Setidaknya sampai saat ini hanya Woohyun yang tidak membuat darahnya naik. Atau mungkin itu hanya sugesti dari dalam dirinya saja karena Woohyun nampak berbeda dari yang lainnya. Entahlah, yang pasti SungJong cukup terkesan dengan namja ini,

Woohyun kembali tersenyum ketika melirik ekspresi SungJong yang lucu. Yaah mungkin dia memang sedikit sengaja untuk membuat chefnya itu tertarik padanya. Terkadang Woohyun merasa dirinya licik juga untuk mendapatkan perhatian dari seseorang. “Chef…”

“O-oh…? Apa…?” lagi-lagi SungJong terkejut karena Woohyun tersenyum padanya dari jarak yang dekat.

“Chef malam ini kau ada acara…?”

Mata SungJong mulai menyipit, berani sekali namja ini menanyakan hal seperti itu. Sangat berbeda dari yang lainnya. “Hanya harus menyiapkan resep untuk besok.. Kenapa..?”

“Aku hanya berharap bisa makan malam denganmu…” ucap Woohyun langsung.

“Makan malam denganku…? Kenapa..?”

Woohyun berpikir sejenak. “Eummm….karena aku ingin berteman denganmu chef, tidakkah kau mengizinkan ku untuk berteman..?” tanya Woohyun. SungJong kembali terdiam, sepertinya tidak ada salahnya jika berteman namja itu. Dia bisa menganggap Woohyun sebagai hyung-nya. Aah berpikir seperti itu membuat SungJong teringat pada hyung-nya.

“hmm baiklah, tapi aku yang menentukan tempatnya….”

“Wahh, itu tidak masalah, asalkan kita makan malam…” ucap Woohyun dengan gembira, dari nada bicaranya dia juga sudah mulai menganggap SungJong adalah temannya. Karena pada dasarnya SungJong memang lebih muda darinya. “Baiklah sepertinya bajumu sudah bersih…”

SungJong menatap bajunya, memang sudah sedikit lebih bersih, dan dengan seenaknya lagi Woohyun kemudian menggerakkan tangannya untuk membenarkan kancing baju SungJong agar tampak lebih rapi. Hal ini terlihat seperti dua orang yang sedang memiliki hubungan.

Klek…Pintu terbuka, secara otomatis SungJong dan Woohyun segera menengok. Nampak Myungsoo yang muncul dari balik pintu sana, tertegun melihat mereka berdua. Untuk sesaat ketiga orang itu terdiam. Entah kenapa Myungsoo merasa sedikit tidak menyukai hal ini. namun dia mencoba tidak peduli, SungJong juga bukan siapa-siapanya.

“Baiklah…” SungJong berucap pada Woohyun dengan nada yang manis, dan dia pun tersenyum pada namja itu. “Jemput aku nanti malam, jangan sampai aku menunggu lama…” sambungnya sembari membenarkan kerah baju Woohyun. SungJong beranjak pergi. Melewati Myungsoo begitu saja, bahkan tanpa sepatah kata pun.

“Sampai jumpa nanti malam chef…” seru Woohyun dengan senang.

Myungsoo menggelengkan kepalanya dan segera berjalan menuju wastafel. Dia dapat melihat betapa bahagianya Woohyun, terlihat dari caranya bersiul dan membenarkan tata rambutnya di depan cermin.

“Kau terlihat bahagia sekali…” sindir Myungsoo.

“Tentu saja…si manis itu, aku harus bisa mendapatkannya…”

“Yakin sekali kau, apakah kau yakin kalau dia menerima ajakanmu itu dengan tulus? Kau bahkan baru bertemu dengannya beberapa hari ini, tapi kau langsung jatuh hati…”

Woohyun menghentikan acara merapikan rambutnya dan menatap Myungsoo penuh selidik. “Kenapa kau terdengar sewot…?”

“Tidak..aku tidak sewot…” sergah Myungsoo cepat, namun hal ini membuat Woohyun tertawa pelan. “Terlihat jelas dari matamu itu, apakah kau juga menyukai chef kita itu…”

Myungsoo membelalakkan matanya seketika. “Tidak!! Aku tidak menyukai orang seperti itu, dia itu egois, dia itu tidak mau mengerti dan dia itu menyebalkan!!” ucapnya dengan nada yang emosional. Cukup terkejut Woohyun mendengarnya, namun dia kemudian segera menyalakan kran dan membasuh tangannya.

“Dari apa yang kau ucapkan barusan  kau ucapkan, sepertinya kau sangat mengenal Chef Lee…”

Meskipun sedikit terkejut akan ucapannya sendiri tadi, Myungsoo berusaha untuk tetap tenang. Sudah cukup sering dia kelepasan bicara akibat tidak bisa menahan emosinya. “Sebaiknya berhentilah…” ujar Myungsoo. “Dan mulai lihatlah pada orang-orang yang benar tertarik padamu…” lanjutnya. Myungsoo tahu, SungJong tidak benar-benar menanggapi Woohyun. Myungsoo sangat tahu itu. Mata itu jelas sekali tidak bisa berbohong. Myungsoo tersenyum sendiri mengingatnya, dia pikir dirinya akan marah melihatnya seperti itu. Dan lagi ini bersama dengan Woohyun, dia tahu Woohyun orang yang  baik meskipun dia itu seorang player.

 

*

*

“Aku tidak pulang ke apartement hari ini, aku akan tidur di restaurant…ne? sudah, aku sudah membeli makanan ahjumma, tadi dari rumah sakit langsung membeli beberapa…baiklah, jaga dirimu ahjumma…”

Myungsoo menyimpan ponselnya dan segera berlari-lari kecil masuk ke dalam restaurant. Dia memang sudah mendapat izin dari Jang Dongwoo selaku sekretaris dari Lee Sajangnim, ada dua kamar yang terletak tersendiri di dekat penyimpanan bahan. Kamarnya juga agus karena itu memang ditujukan untuk siapapun dari para koki yang membutuhkan.

“Hoam…” Myungsoo sedikit menguap, jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan, namun dirinya belum makan sama sekali. Dia memang sudah membeli makanan instan, namun dia tidak berniat untuk memakannya. Hambar, semua makanan kelas atas dan senikmat apapun akan selalu terasa hambar baginya.

Tap…tap…tap, tidak lama setelah dia masuk ke dalam kamar, indera pendengarannya menangkap bunyi derap langkah kaki yang mendekat. Myungsoo sedikit heran, harusnya tidak ada siapapun disini. Karena semua pegawai selalu pulang ke rumah kecuali dirinya. Hal ini menimbulkan perasaan penasaran pada diri Myungsoo.

Namja itu kemudian membuka pintu kamarnya kembali dan mengecek. Sudah menjadi tanggung jawabnya atas keamanan restaurant. Setidaknya itu menjadi balas budinya pada restaurant ini.

“Kau….?” Myungsoo kaget dan seseorang yang ada disana pun terlihat kaget. Lee SungJong yang ingin sekali dia hindari malah berada di satu ruangan dengannya saat ini.

SungJong sendiri terlihat memakai kaos berwarna putih dengan celana selutut, kemudian ada ransel yang ia gendong di punggungnya. “Kenapa kau masih berada disini…? apa yang kau lakukan??” tanyanya dengan penuh selidik. Entah kenapa Myungsoo tidak menyukai tatapan itu karena terlihat seperti mencurigainya.

“Aku sudah diizinkan untuk menempati salah satu kamar disini, dan jutru sangat aneh jika melihat seorang chef sepertimu berkeliaran disini malam-malam…” balas Myungsoo tak kalah dingin.

SungJong hanya bergumam malas, namja itu kemudian berjalan untuk mengambil minuman, dia sedikit menekan bagian perutnya. Salah makan membuatnya sedikit merasa bersalah terhadap tubuhnya. Dia kesini tadi agar dia bisa memasak dengan tanpa gangguan, namun jika disini ada Myungsoo sudah tentu rencananya akan gagal. Tapi sudahlah, disini dia yang berkuasa, jadi apa pedulinya jika ada Myungsoo yang jabatannya lebih rendah darinya.

Namja itu kemudian mencopot tasnya dan mengeluarkan sesuatu di dalamnya. Aah rupanya dia membawa beberapa bahan makanan disana. “Kenapa kau masih disini??” tegur SungJong pada Myungsoo.

“Kau tidak berhak mengaturku Chef karena saat ini bukanlah jam kerja yang kau bisa bersikap semena-mena pada bawahanmu…” sahut Myungsoo sembari mengambil tempat duduk.

SungJong mengangkat bahu tidak peduli, menanggapi Myungsoo tidak ada gunanya untuk saat ini. Dia segera mengambil tempat dan memulai untuk memasak. Serius dia tidak akan mengulangi makan sembarangan lagi, makanan Korea benar-benar membuatnya lupa diri. Maklum saja dia sudah lama tidak makan makanan dari tanah kelahirannya ini.

Cukup lama Myungsoo memperhatikan lekat dari belakang. Betapa lincahnya SungJong mengolah semua bahan disana menjadi sebuah hidangan. Aroma harum mulai tercium. Namun Myungsoo tidak peduli itu, dia hanya peduli pada sosok yang tengah sibuk itu. Matanya seperti sinar laser menatapnya dari atas hingga bawah. Melupakan fakta bahwa SungJong masih membencinya, namun dia tidak bisa membohongi perasaannya. Dia merindukan saat-saat itu. Perasaannya masih sama, tidak pernah berubah.

Greeebb….Tidak bisa menahan perasaannya lagi, Myungsoo mendekat kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang namja manis itu dan memeluknya dari belakang. Tentu saja hal ini membuat sang objek pelukan menjadi terkejut.

“Apa yang kau…lepaskan!!” SungJong mencoba untuk berontak dan melepaskan tangan Myungsoo. Namun Myungsoo tidak membiarkan hal itu. Dia semakin memeluk erat  namja itu, merasakan kehangatan yang ditawarkan serta melepaskan segala sesuatu dalam perasaannya yang ia pendam.

“SungJong-ah…tidak bisakah kita saling jujur..?” tanya Myungsoo sembari menumpukan wajahnya pada pundak SungJong. Dia pun sesekali mengecup lembut bahu itu.

“Katakan kalau kau rindu padaku!” bisik Myungsoo dengan lembut. Dia mulai menggerakkan tangannya dan mengelus pipi SungJong dari belakang. Disusurinya setiap lekuk wajah itu dengan lembu, benar-benar masih seperti dulu. Myungsoo tidak dapat menahan rindunya lagi. “Jebal…perasaanku tidak pernah berubah, tidakkah kau merasa hal yang sama…?” tanya lagi.

SungJong masih membatu, setiap kata yang keluar dari mulut Myungsoo membuatnya terlena karena begitu nyata dan manis. Namun…sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya, tidak boleh! Dia tidak akan tergoda dengan semua yang Myungsoo ucapkan, karena semua itu tidaklah benar, Myungsoo tidak bisa untuk dipercaya.

“Perasaan apa yang kau maksud? Jika perasaan benci tentu saja aku masih membencimu tidak pernah berubah, sekarang jika kau punya malu cepat lepaskan aku!!” perintahnya sembari menyingkirkan tangan Myungsoo dari wajahnya.

“Jangan berbohong Lee SungJong! Kau mencintaiku aku tahu itu, kau selalu membuatku cemburu dan kau selalu membuatku terpojok, ketika bekerja memang kau yang berkuasa, namun kali ini hanya kita berdua, kau tidak bisa menyembunyikan semua itu…”

Ucapan itu membuat SungJong merasa kesal, bagaimana bisa Myungsoo berkata seperti itu. “Kau keterlaluan Kim Myungsoo-ssi!!  Lepaskan aku!!” bentak SungJong sembari berontak, namun lagi-lagi pelukan Myungsoo itu masih sangat erat menahan tubuhnya. Akan tetapi SungJong tidak peduli hal itu, dia terus berontak, dia sudah bertekat selama ini untuk tidak terpengaruh dengan semua ucapan yang keluar dari mulut Myungsoo.

“Yaa!!! Lepaskan aku!! Aku masih sama seperti dulu, aku membencimu! Apakah kau tidak dengar???” SungJong membentak lagi,

Myungsoo tanpa diduga sebelumnya membalikkan tubuh SungJong cepat, mencekeram lengannya kemudian menciumnya dengan cepat. Hal ini tentu saja membuat SungJong terkejut bukan main. “APAKAH KAU GILA???” bentaknya marah, dia menghentakkan cengkeraman Myungsoo dan mengusap bibirnya kasar. Nafasnya naik turun menahan amarah.

“Aku tidak peduli! Ya! Aku memang gila!!” balas Myungsoo cepat, dirinya kembali menarik tengkuk SungJong dan meraup bibirnya. “K-kimm…M-myungsoo..!! lepasshhh!!”

SungJong mendorong dan memukul dada Myungsoo, ciumannya beberapa kali lepas, namun Myungsoo seolah tidak peduli dan terus mencoba meraup bibir SungJong. Entah setan apa yang merasuki namja itu. Duukk….pinggang SungJong berbenturan dengan pinggiran meja cukup keras kal Myungsoo terus memasaknya untuk berciuman. Ini tidak bisa dibiarkan lagi, SungJong benar-benar marah.

Rontaan namja itu semakin keras, hingga suatu saat dia menghentakan tangan Myungsoo dengan keras dan….PLAAKKK. Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Myungsoo. SungJong menatap Myungsoo dengan tajam. “Kau!! Sekali lagi kau melakukan hal seperti ini, aku tidak akan memaafkanmu!!” ucapnya tegas kemudian dia segera berbalik dan masuk ke dalam kamar di seberang kamar Myungsoo. menutup pintunya dengan sangat keras.

“Arrrghhhh sial!!!!” Myungsoo menghantamkan kepalan tangannya pada meja dengan sangat keras. Dia tidak bermaksud untuk membuat semuanya kembali merenggang. Hanya saja dirinya tidak  bisa untuk mengendalikan apa yang saat ini tengah ia rasakan.

Tak jauh berbeda dengan apa yang tengah dirasakan oleh SungJong setelah menutup pintu dengan sangat keras. Dia berhenti di depan tempat tidur dan menggumam kesal. Myungsoo benar-benar telah membuat buruk mood nya.  Jika sudah seperti ini akan semakin menyebalkan berada dalam satu pekerjaan dengannya.

Ddrrt…. Ponselnya nampak bergetar. Dari layar tertulis ‘Nam Woohyun-ssi ‘. Dirinya kembali terdiam sesaat, untuk apa namja ini menelvonnya, bahkan tadi sudah menghabiskan waktu seusai bekerja bersama dengannya. Dan SungJong baru menyadarinya jika hanya Woohyun lah satu-satunya pegawai yang bersikap biasa padanya, dan entah  kenapa ia tidak mempermasalahkan itu.

“Yeoboseyoo…? Woohyun-ssi, ada apa?” ucapnya akhirnya menjawab panggilan itu.

Dari seberang terdengar suara yang khas dari seorang Nam Woohyun. “SungJong-ah…” dengarlah bahkan Woohyun berani memanggilnya seperti itu. “Apakah kau sudah tidur…?”

“Belum, aku baru saja selesai memasak…” jawabnya, yaah meskipun acara memasaknya digagalkan oleh Myungsoo yang menyebalkan.

“Memasak? Kau sudah makan banyak tadi, memangnya kau belum kenyang??” tanya Woohyun terdengar penasaran sekali. SungJong tersenyum mendengarnya. “Tidak bukan seperti itu, aku kebanyakan makan tadi sehingga perutku sakit, aku hanya mencoba untuk membuat penetralisir saja…” jelas SungJong sembari merapikan tempat tidur. Sepertinya tempat ini meskipun tidak dipakai tapi kebersihannya sangat terjaga.

“Apakah aku perlu untuk kesana? Aku merasa bersalah karena telah membuatmu sakit….”

SungJong terkejut dan segera menolaknya. “Aniyoo, itu tidak perlu….aku sudah mengantuk dan sepertinya aku akan segera tidur…” ujarnya.

“Baiklah jika seperti itu…selamat malam, mimpi indah…”

“Ne, kau juga….” SungJong kemudian mematikan sambungannya dengan Woohyun. Matanya tak sengaja menatap layar wallpaper dalam ponselnya. Hal itu membuat sang chef menarik nafas panjang. Andai saja kala itu bisa diputar kembali, SungJong mungkin akan mencari tahu alasannya, dahulu ia terlalu emosi dan tidak pernah mencari tahu. Dan Myungsoo, sama sekali tidak berniat untuk meluruskannya. Dan SungJong meyakini apa yang ia sangka selama ini adalah benar.

Malam semakin larut, mungkin sudah saatnya untuk istirahat sebelum besok kembali sibuk dengan urusan pekerjaan. Di waktu yang sama namun di tempat berbeda Myungsoo dan SungJong memejamkan mata menuju alam mimpi. Bukan tidak mungkin mereka akan bertemu disana lagi, karena sejatinya tidak ada yang tahu bagaimana takdir mereka sebenarnya.

*

*

“Ohh??” Myungsoo sedikit tak mengerti ketika melihat Sunggyu lebih memilih duduk di kursi dapur dari pada ikut istirahat dengan yang lainnya. Namja itu terlihat kesal sekali. Ayolah, Myungsoo sudah mengenal namja ini begitu lama, dan dia sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri. Jika sudah seperti itu pasti ada yang membuatnya kesal.

Myungsoo segera menghampir dan menepuk bahunya, “Hyung…kenapa kau tidak istirahat?” tanyanya.

“Myungsoo-ya, tidakkah kau merasa Woohyun itu semakin hari semakin keterlaluan…?” ucap Sunggyu yang memuat Myungsoo menatapnya tidak mengerti. “Maksudnya…?”

“Lihatlah sedang apa dia itu, dia bahkan lupa jika hari ini dia mempunyai janji makan siang denganku…”

Myungsoo melihat ke arah depan tempat memasak. Disana terlihat ada sosok Woohyun yang tengah memasak bersama dengan….SungJong. Mereka terlihat gembira sekali, memang tugas mereka mencoba resep-resep baru untuk dimasukkan ke dalam menu. Tapi itu sedikit keterlaluan, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah berduaan dan bercanda tawa.

Ada sesuatu yang mengusik hati Myungsoo, dia tidak menyukai itu, perasaan sama yang mungkin saat ini tengah Sunggyu rasakan. Dia bahkan sudah lama tidak mendapatkan senyum seperti itu dari SungJong. Tanpa berpikir panjang lagi Myungsoo segera berdiri dan menghampiri kedua insan itu. Tidak, dia tidak akan membiarkan emosinya menguasai pikiran, Myungsoo masih mempunyai akal sehat.

“hyung….”

Woohyun dan SungJong segera mengangkat kepalanya ketika mendengar panggilan dari Myungsoo yang mendekat. “Ada apa?” tanya Woohyun tanpa menghentikan aktifitas memotong wortel.

“Kurasa ini sudah waktunya istirahat, dan kau ada janji dengan Sunggyu hyung untuk makan siang, tidakkah kau mengingatnya….??” Tanya Myungsoo dengan nada yang serius, SungJong hanya berpura-pura tidak mendengarnya, dia tahu apa yang saat ini tengah Myungsoo pikirkan.

“Aahh benar…” Woohyun teringat. “Tapi aku sedang menemani chef Lee untuk menyelesaikan resep baru, bisakah kau temani Sunggyu hyung untuk makan siang…?” pintanya.

Namun Myungsoo menatapnya semakin tajam. “Bagaimana jika aku yang menemani chef disini dan kau pergi bersama dengan Sunggyu hyung…?” balasnya membuat Woohyun segera menatapnya. Tatapan Myungsoo itu…Woohyun yakin Myungsoo tidak main-main dengan ucapannya, namun yang ia tidak mengerti mengapa Myungsoo melakukan hal itu?

“Tapi Myungsoo-ya…”

“Aku bisa menyelesaikan pekerjaanmu, sebelum kau gantikan aku dulu juga berada di posisi ini…” sindirnya. Ini tidak baik, Woohyun semakin yakin Myungsoo sedang dalam keadaan yang tidak baik.

“Chef…” Woohyun beralih pada SungJong. “Aku minta maaf sepertinya aku tidak bisa menemanimu sampai akhir…” lanjutnya, dan ucapan itu hanya disambut anggukan oleh SungJong.

“hyung…” panggil Myungsoo sebelum Woohyun benar-benar pergi. “Kau seharusnya sudah mulai bisa untuk melihat siapa yang benar-benar menyukaimu dan siapa yang hanya memanfaatkanmu…”

Tatapan kedua pemuda tampan itu beradu, tidak pernah Woohyun merasakan sesuatu yang menyebalkan seperti ini dari Myungsoo. Apakah mungkin Myungsoo ada masalah dengannya? Namun…bukankah selama ini hubungan mereka baik-baik saja? Woohyun akan mencaritahu nanti.

Kembali menatap ke arah SungJong setelah Woohyun pergi. Namja itu terlihat tidak menghiraukan dengan kehadiran Myungsoo disana, dia asik memotong sayuran dengan pisau tajamnya. Yaah, SungJong memang terlihat sangat manis apalagi ketika sedang berkutat dengan masakan seperti ini, tidak heran apabila Woohyun jatuh hati padanya. Namun Myungsoo tidak rela, SungJong hanya miliknya seorang, tidak ada yang boleh mengambil miliknya.

Myungsoo kemudian berjalan ke belakang SungJong, menyatukan tangan kanannya dengan tangan SungJong yang masih memegang pisau, kemudian tangan kirinya diletakkan pada tangan kiri SungJong yang juga masih menahan sebuah bawang. SungJong memang terkejut, namun selanjutnya dia memilih diam.

“Kau kekanakan sekali, menggunakan Woohyun hyung untuk membuatku cemburu…” ucap Myungsoo sembari menggerakkan tangannya dan tangan SungJong untuk mengiris bawang itu.

SungJong tersenyum sinis. “Kenapa kau percaya diri sekali..?? bagaimana jika aku benar-benar menyukainya…?? Dan sekarang jika kau punya rasa sopan menyingkir dariku!!”

“Kau hanya menyukaiku…tidak ada orang lain yang kau sukai kecuali aku…”

“Apakah kau tidak berpikir??  Apa aku sebodoh itu dengan masih mencintai seseorang yang meninggalkanku demi orang lain…?” tanya SungJong. Myungsoo belum menjawabnya, SungJong yakin ini adalah senjatanya untuk melawan Myungsoo. “Sekarang katakan padaku, apakah orang itu sudah bisa membahagiakanmu? Kulihat kau malah bekerja ditempat ini dengan gaji yang rendah….”

Myungsoo hanya tersenyum dan terus menggerakkan pisau untuk mengiris bawang. SungJong melanjutkan ocehannya yang mungkin sudah ia pendam selama ini. “Mungkin saja orang itu sengaja membuatmu jatuh miskin lalu meninggalkanmu, kasihan sekali, mungkin itu karma karena perlakuanmu padaku…”

“Ahh mungkin benar SungJongie…dia bahkan sekarang terbaring di rumah sakit dan menghabiskan semua uangku, bagaimana? Apa yang harus kulakukan sekarang? Kau mau kembali padaku sehingga aku mempunyai kekasih yang kaya raya lagi..??” ucap Myungsoo terdengar santai namun mengandung beban yang tersembunyi.

SungJong memutar kepalanya dan menatap Myungsoo. jarak mereka begitu dekat hingga SungJong dapat merasakan hembusan nafas Myungsoo. Myungsoo tidak berbohong, apa yang dia katakan barusan benar adanya, semua itu terlihat dari sorot mata elangnya. “Ahh, kau hidup selama ini hanya untuk membuatnya tetap hidup? Kasihan sekali kau Myungsoo-ya, aku memang tidak tahu penyebab seorang yang kaya raya sepertimu menjadi menyedihkan seperti ini, dan aku tidak akan pernah ingin tahu….”

“Jika begitu…kembalilah padaku, saat menjadi kekasihmu lagi aku yakin kau mau memberikan uangmu untuk seseorang yang sangat berarti untukku di rumah sakit sana….” Balas Myungsoo tak mau kalah, dia mengangkat kirinya dan menyentuh dagu SungJong.

Meskipun ucapan Myungsoo hanya main-main, itu membuat hati SungJong merasa sakit. Myungsoo terus mengucapkan seseorang yang berarti untuknya berkali-kali.  Hal ini membuatnya marah, apakah benar Myungsoo sudah tidak mencintainya lagi? Orang ini mungkin hanya memanfaatkannya lagi.

“Saat ini kau pasti sedang berpikir apakah aku mencintaimu atau tidak…” ucap Myungsoo yang seketika membuat SungJong terkejut dan melebarkan matanya. Myungsoo tersenyum dan mengusap lembut pipi SungJong. “SungJong-ah, ada banyak hal yang selama ini tidak kau pahami, dan aku tidak berniat untuk menjelaskan hingga kau tahu sendiri…..”

“……….”

“Namun yang harus kau ketahui hanya satu, kau itu milikku, dan aku tidak akan pernah membiarkan milikku diambil dariku!”  tegasnya.

Untuk ucapan kali ini SungJong cukup tersentuh, jika Myungsoo sudah meng-klaim sesuatu menjadi miliknya, itu artinya dia menyayanginya sepenuh hati. Entah kenapa dada SungJong menjadi sesak. Sesak dengan perasaan yang selama ini dia sembunyikan dan hanya ia pendam. Seseorang yang selama ini selalu menghiasi kepalanya kini berada di hadapannya. Terkadang SungJong tidak bisa menyembunyikan semuanya seperti Myungsoo.

“M-Myungsoo….hyung….” gumamnya sembari mensejajarkan tubuhnya dengan Myungsoo, seberapapun dia menahannya ini tidak bisa untuk disembunyikan. Dengan perlahan SungJong menggerakkan tangannya kemudian menyandarkan kepalanya pada dada Myungsoo. Dia merindukan pelukan Myungsoo, sudah beberapa hari ini sejak bertemu dengannya dia mencoba untuk menahan, namun tidaklah bisa. Kali ini…dia benar-benar ingin kembali merasakan pelukan seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya itu.

Tring…”Ohh selamat datang…..”

Ucapan Minki sekaligung bell yang berdentang membuat SungJong dan Myungsoo tersadar. Dia kemudian melepaskan dirinya dari Myungsoo dan berbalik membenarkan baju. Myungsoo tertegun, lama sekali dia tidak mendengar SungJong memanggilnya seperti itu dengan manis. Jika diizinkan, dia ingin sekali mendengar itu sekali lagi. Dirinya masih sangat mencintai namja itu, Myungsoo yakin itu.

“Lee Sajangnim???”

Lagi-lagi suara Minki yang cukup keras mengejutkan semuanya termasuk SungJong. Dengan segera dia mengusap wajahnya dan merapikan baju kemudian berlari kesana. Bisa gawat jika Paman-nya melihat apa yang sedang ia lakukan bersama dengan Myungsoo tadi.

“Paman??” sambut SungJong dengan wajah yang gembira. Disana terlihat ada sosok lelaki paruh baya mengenakan pakaian jas rapi dan terlihat berwibawa. Sementara disampingnya berdiri sosok yang lebih muda dan tinggi yang juga tersenyum senang melihatnya.

“Paman…Paman lama sekali kita tidak bertemu, astaga aku senang sekali….” SungJong bergembira. Para pegawai yang lain kecuali Sunggyu dan Woohyun nampak segera keluar untuk menyambut sajangnim mereka.

Mr. Lee mendekati SungJong kemudian menjitak kepalanya. “Dasar anak nakal! Begitu datang kau tidak mengunjungiku di rumah..”

“Aaaaah, mianhae, aku begitu sibuk dengan urusan yang sebenarnya tidak penting sehingga aku belum mengunjungimu Paman….” Bela SungJong. Mr Lee hanya mengangguk-angguk dan berjalan untuk menghampiri para pegawai. Jarang sekali sajangnim melakukan kunjungan seperti ini sehingga mereka semua dibuat terkejut.

“SungJongie kau tidak merindukan hyung mu ini??” tanya lelaki bepostur tinggi itu pada SungJong.

SungJong tersenyum kemudian berjalan menghampirinya kemudian memeluk namja itu dengan erat. “Bagaimana aku tidak merindukan kakak ku yang mengagumkan ini??” ucap SungJong mempererat pelukannya. “Begitu aku sampai di korea aku langsung mencari mu hyung, tapi mereka bilang kau sedang melakukan perjalanan bisnis, menyebalkan sekali, Sungyeol hyung…aku benar-benar merindukanmu…”

“Maafkan hyung mu ini baby, dan kau tinggal dimana sekarang? Kau tidak menempati apartement bahkan…?” tanya Sungyeol sembari melepaskan pelukan SungJong. “Kau juga tidak tinggal di rumah Paman…dongsaengku yang manis ini tidak nakal kan..?” Sungyeol mencubit pipi SungJong gemas.

“Hyung!! Jangan memperlakukan ku seperti anak kecil….” Ucap SungJong tidak suka dan sedikit merajuk. “Apakah kau sudah mempunyai rumah sendiri hyung…? Bolehkah aku tinggal bersama denganmu..?”

Lagi-lagi Sungyeol tersenyum. “Tentu saja boleh, aku memang menyiapkan semuanya untukmu…”

“Baiklah, aku tidak sabar, sebenarnya aku tinggal di apartement Hoya hyung, tapi karena tidak nyaman aku pindah ke kamar restaurant ini, lebih nyaman daripada di restaurant Hoya hyung….”

Myungsoo melihat semua itu dengan senyum tertahan. Masih seperti dulu, SungJong selalu manja dengan saudara laki-lakinya itu. Maklum saja Sungyeol sangat dekat dengannya sejak kecil dan bahkan sudah menjadi pelindung bagi SungJong.  Orang tua mereka dan orang tuanya dulu memang saling kenaldalam hal bisnis. Namun karena sesuatu hal hubungan bisnis itu tidak berlanjut.

“hyung…karena kau sudah disini bagaimana kalau aku memasakkan sesuatu untukmu??” tawar SungJong.

Mr. Lee segera menyahut. “Aahhh ide bagus, kita lihat kemampuan dari maknae ini setelah sekian lama belajar…” ucapnya.

SungJong tersenyum, namun senyumnya itu terlihat seperti senyum yang dipaksakan. Dia tahu sifat Paman-nya, susah sekali untuk diikuti apa maunya, dan SungJong takut jika masakannya nanti tidak sesuai dengan harapan. Namun dia akan mencoba nya.

Pemandangan itu tentu saja menjadi sesuatu yang menarik bagi semua pegawai disana. Keluarga Lee ternyata begitu harmonis. Dan meskipun SungJong hanya keponakan dari Lee Sajangnim, dia cukup disayangi disana. Dibalik sifat Chef Lee yang menyebalkan ternyata dia cukup hangat ketika berada di tengah-tengah keluaganya.

*

*

Hampir tanpa berkedip sekalipun Myungsoo memperhatikan SungJong yang tengah memasak disana. Semuanya memang sedang menunggu hidangan apa yang akan disajikan oleh sang chef untuk sajangnim. Namun entah hanya perasaannya saja atau bukan namun Myungsoo merasa saat ini SungJong tengah gugup.

Berkali-kali dia mengangkat alat penggorengan dengan tangan kosong. Lupa dimana letak bumbu, dan bahkan beberapa kali salah menaburkan sesuatu ke dalam masakannya. Apakah SungJong takut tidak bisa menyajikan sesuatu yang istimewa untuk Paman dan hyung nya? Anak itu ternyata masih juga menyimpan perasaan gugup seperti itu.

“SungJongie kau pasti bisa…” Myungsoo segera menengok mendengar ucapan itu. Nampak Woohyun juga tengah berharap-harap cemas. Myungsoo semakin yakin, namja itu menyukai SungJong. Belum pernah dia melihat Woohyun begitu peduli dengan seseorang seperti itu. Tidak, Myungsoo tidak akan membiarkan hal itu karena SungJong adalah miliknya.

*

*

Hidangan telah selesai dan dinikmati Lee sajangnim dengan baik. SungJong telah menyajikan semuanya dengan baik, senyuman bahagia nampak terpancar dari wajahnya. Dan semua pegawai disana pun mendapatkan makan siang dengan gratis. Setelah mencicipi makanan itu memang semuanya mengakui jika chef nya itu luar biasa. Tidak ada salahnya jika sesekali mereka memuji chefnya itu.

“Sekarang kau harus memperhatikan dirimu sendiri…” Myungsoo menarik tangan SungJong dan membawanya ke ruang istirahat.

Myungsoo menyuruh SungJong untuk duduk dan dirinya mencari-cari sesuatu di dalam almari. Sebuah kotak obat-obatan. “Apakah kau tidak merasa jika tanganmu sakit…?” tanya Myungsoo sembari duduk disampingnya.

“Hmmm…??” SungJong kemudian mengangkat tangannya dan memperhatikan sejenak. Benar sekali, memerah seperti luka bakar dan sedikit melepuh. Ini karena kecerobohannya tadi, SungJong tidak merasakan sakit karena rasa gugupnya mengalahkan semuanya.

“Lain kali jangan pernah melakukan hal itu lagi..” ucap Myungsoo sembari menarik perlahan tangan SungJong.

SungJong membiarkan Myungsoo untuk mengobati tangannya, karena memang kalau tidak segera diobati bisa-bisa dia besok tidak mampu untuk memasak. Dan lagi dia cukup merindukan perhatian Myungsoo yang seperti ini.

“Kau terlalu berharga untuk terluka…”

Lagi-lagi ucapan itu membuat SungJong tersentuh. Namun ketika mengingat apa yang sedang Myungsoo sembunyikan…dia merasa bodoh karena mau untuk tertipu dengan ucapan manis Myungsoo. “Siapa yang lebih berharga? Aku atau seseorang yang kau sembunyikan itu…?”

Myungsoo tersenyum. “Kalian berdua adalah orang yang paling aku cintai didunia ini, kalian berdua itu milikku…” jawabnya.

“Kau egois! Namun….” SungJong merendahkan wajahnya lalu mengecup bibir Myungsoo. “Namun aku tetap mencintaimu…” lanjutnya. Myungsoo cukup terkejut, namun dia hanya menanggapi itu dengan tersenyum.  Bagus, meskipun perlahan tapi hubungannya dengan SungJong akan segera membaik.

“Jika begitu kembalilah padaku…” pinta Myungsoo. “Kita mulai dari awal, mari kita tinggal bersama, melakukan semuanya bersama , dan kita akan hidup bahagia…”

SungJong menggeleng. Tentu saja permintaan Myungsoo tidak akan pernah ia turuti. “Aku tidak mau…” jawabnya.

“Aku akan melakukan apapun asalkan kau kembali padaku SungJongie, apapun itu akan aku lakukan…”

“Apapun…?” SungJong menatap Myungsoo dengan serius. Myungsoo tersenyum dan mengiyakan.

“Tentu saja, aku mencintaimu, semua keinginanmu benar-benar akan aku lakukan…aku memang sedang miskin namun aku bisa berusaha…”

Benar, ini saatnya. Saat bagi SungJong untuk memiliki Myungsoo seutuhnya. “Jika begitu….tinggalkan orang itu dan lihatlah hanya aku saja dimatamu…”

“M-Mwo…?” terlalu terkejut dengan ucapan SungJong membuat Myungsoo melebarkan matanya.

“Tinggalkan orang itu! Orang yang membuatmu meninggalkanku dahulu…”

“………”

“Tinggalkan dia dan aku akan kembali padamu….bukankah….kita saling mencintai….?”

“SungJong-ah….kau…”

 

-TBC-

∞Bad∞ #Chapter 11

∞Tittle      : ∞Bad

∞Author  : Jung Yoojin

∞Cast       : -Kim Myungsoo  -Lee SungJong

∞Genre    : boyslove,action, romance, school life

∞Rate       : T

∞Disc        : Their self but this fict is mine,

∞Warning :  boyslove, typos, don’t like don’t read.

Please no silent reader :’3

 

 

.

.

.

Dengan tergesa-gesa Myungsoo mengikuti para perawat yang tengah mendorong meja beroda itu. Yunho mendapatkan pertolongan pertama yang cukup cepat, namun Myungsoo benar-benar tidak tega untuk melihat sang hyung yang tengah berbaring itu. Mereka sampai di sebuah ruang unit gawat darurat, Myungsoo merelakan tubuh Yunho di bawa masuk oleh para perawat itu, sedangkan dirinya menunggu disana. Sesuatu yang tidak boleh terjadi akhirnya terjadi.

Beberapa detik kemudian Myungsoo tersadar, Namja itu kemudian mengambil ponselnya lalu menelvon seseorang. Dari wajahnya dia terlihat sama sekali tidak tenang. “hyung…ayolah angkat…” ucapnya sembari mengetukkan jemarinya pada jendela tidak sabar.

Beberapa kali ia mencoba menelvon, namun Jaejoong sama sekali tidak menjawabnya. Sementara nomor SungJong tidak bisa dihubungi sama sekali. Myungsoo benar-benar cemas dan tidak tahu harus bagaimana, SungJong dan Jaejoong mungkin saja berada di tempat yang berbeda, jika dia harus mencari mereka lalu siapa yang akan menjaga Yunho disini?? Tidak, tidak ada yang boleh terluka lagi.

“Woohyun hyung….” Akhirnya Myungsoo mendapat jawaban dari panggilannya pada Woohyun. “Kau masih di markas??? Tolong katakan paa Changmin hyung untuk segera ke rumah sakit, Yunho hyung butuh seseorang disini, dan kau…bantu aku untuk mencari Jaejoong hyung dan juga SungJongie, ne….terima kasih hyung, aku mengandalkanmu…”

 

*

*

Langkahnya terasa berat, seolah beban yang selama ini ia pendam mulai berontak dan membuatnya menderita. Sorot matanya pun terlihat sayu dan tidak bertenaga. Jika di dunia ini ada hari yang melelahkan untuknya tentu saja hari ini adalah salah satunya.

Namja bertubuh tinggi itu, Lee Sungyeol, akhirnya terjatuh terduduk di anak tangga pertama dari bawah. Kedua tangannya serta bajunya masih terlihat banyak sekali darah. Sejenak Sungyeol mengarahkan pandangannya pada kedua telapak tangannya yang bergetar. Dia masih kalut dan tidak bisa untuk berpikir jernih. Bayangan tentang kejadian yang baru saja dia alami terus mengganggu, membuat kepalanya semakin pusing.

 

*Flashback*

Karena aktivitas sudah seperti biasa, Yunho pun dapat duduk dengan tenang di depan komputernya. Dia melihat jadwal-jadwal yang telah dibuat, sebentar lagi dia akan mengumpulkan semua member dan membagikan misi terbaru. Sudah cukup banyak pesanan yang masuk, dan Yunho baru saja menyanggupi semuanya. Kali ini dia ingin lebih selektif lagi dalam menerima pesanan.

“Aigoo, kau harus berpikir dulu sebelum memesan…” gumamnya sembari meraih cangkir minuman dan menghabiskan sisa kopi yang ada. Dahi Yunho sedikit mengernyit, kopi buatan Jaejoong lebih enak dari pada ini, sungguh kopi dengan rasa yang aneh. Namun sudahlah.

Dia kembali fokus menatap layar komputernya. Aktifitasnya terhenti kala pintu terdengar terbuka. Siapa yang berani masuk tanpa izin? Apa lagi ini adalah ruangan pribadinya. Yunho memasang wajah angkernya, namun…wajah itu berangsur-angsur sumringah begitu melihat siapa yang datang disana. Yunho pun segera berdiri. “Aku bertanya-tanya kapan kau akan menemuiku lagi, tapi aku tidak menyangka semua akan secepat ini…” ucap Yunho. “Kau memang pemberani, Sungyeol-ah….”

Namja itu, Lee Sungyeol terlihat perlahan mendekat. Wajahnya menyiratkan sesuatu yang Yunho sendiri tidak bisa menebaknya. Sungyeol terlihat marah, namun juga sedih, mungkin saja namja ini sedang merasakan pergulatan yang besar di dalam hatinya atau bagaimana. “Kecuali team selatan, semua tampak baik-baik saja dan menyapaku, kenapa? Kenapa kau tidak mengumumkan jika aku adalah seorang mata-mata?” tanya Sungyeol menatap Yunho dengan dingin.

“Oh…?” Yunho segera tersenyum. “Untuk apa aku harus mengumumkannya, aku tidak mau mereka marah dan melukaimu…”

“Diam!!!” Sungyeol sungguh tidak bisa mendengar kata-kata yang manis dan Yunho. Dia hanya merasa ada yang aneh, dia bukannya tidak suka, dia…begitu suka. Dan hal itu lah yang tidak dia mengerti.

Sungyeol kemudian menatap Yunho kembali. Kali ini lebih lekat dan jauh ke dalam bola mata Yunho. “Kau….benarkah Jung Yunho aboeji yang selama ini….tidak maksudku…seseorang yang aku kenal beberapa tahun yang lalu…?” tambahnya dengan menatap penuh harap. Namun Sungyeol hanya mendapati Yunho belum ingin menjawab pertanyaannya, hal ini membuatnya semakin kalut.

“Aku memang tidak bisa mengenalimu karena itu sudah cukup lama dan aku sudah melupakan memory itu….namun…setelah ucapanmu kemarin aku tidak bisa tenang, kenapa aboeji tidak memberitahuku yang sebenarnya…”

“…….”

“Kenapa aboeji tidak memberitahuku jika aku akan menjadi mata-mata di organisasi yang di pimpin oleh seseorang yang cukup berpengaruh dalam hidupku…??” Sungyeol kembali tidak mengerti.

Yunho masih terdiam, dia paham, saat ini ada banyak sekali yang dipikirkan oleh anak ini sehingga ia membutuhkan untuk pelampiasan. Hatinya sedikit merasa tersentuh.

“Jadi semua itu benar?” tandas Sungyeol. “Kau Jung Yunho yang pernah merawatku dan juga SungJongie beberapa tahun yang lalu…? Kau…seseorang yang dulu pernah kuhormati sebagai aboeji ku sendiri…?” Saat ini perasaannya bertambah campur aduk, apalagi ketika melihat anggukan dari kepala Yunho.

Sungyeol memundurkan beberapa langkah. Harusnya saat ini dia senang, namun entah kenapa perasaannya senangnya harus terusik dengan anggapan bahwa orang di depannya ini adalah seorang penjahat, musuh dari semua orang. Dan profesinya saat ini mengharuskan dirinya untuk  menangkap orang-orang seperti Yunho. “T-tidak…lalu…apa yang harus aku lakukan…..??”

Yunho tidak bisa jika harus melihat seseorang yang ia sayangi harus bersedih seperti itu, hatinya semakin ikut tersentuh, dia mendekat dan mencoba untuk menyentuh bahu Sungyeol, namun dengan cepat Sungyeol menghindar. “Sungyeol-ah…”

“I-ini mustahil…kenapa Sungmin aboeji…melakukan ini padaku?? Apakah…dia benar-benar sudah melupakan teman lamanya…?”

“Sungyeol-ah…” Yunho memotong. “Semua itu tidak penting, aku tidak pernah melihatmu siapa, kau tetap Lee Sungyeol si kecil yang pemberani, sama seperti kala itu, aku selalu menganggapmu dan juga dongsaengmu sebagai…putraku sendiri…”

Sungyeol menggelengkan kepala dan menatap Yunho tidak percaya. “Jika memang seperti itu…kenapa kau mengembalikan ku pada aboeji? Seharusnya kau tetap merawatku hingga aku seperti ini, kau sudah berjanji….tapi…kenapa kau pergi dan tidak memberi kabar sekalipun? SungJongie mungkin tidak ingat apapun, namun aku masih bisa mengingatnya kembali….kau harusnya mengunjungiku…menanyakan bagaimana aku bersekolah!!” ucap Sungyeol menumpahkan segala perasaannya yang paling dalam.

Satu tarikan nafas panjang dilakukan Yunho. Setelah sekian lama akhirnya dia bisa kembali berdiri di hadapan seorang anak kecil yang kini sudah bisa berdiri sejajar dengannya. Yunho kemudian menyentuh kedua bahu Sungyeol lalu memeluknya. Tidak ada penolakan dari Sungyeol, namja itu masih terdiam. Dia sebenarnya cukup merindukan orang yang saat ini tengah memeluknya, dia pikir Yunho yang dulu bersamanya sudah tidak ada lagi dan tidak peduli dengannya.

Jung Yunho, beberapa tahun lalu ketika Sungyeol masih berusia delapan tahun, aboejinya menitipkan dia dan juga SungJong pada seseorang bernama Jung Yunho. Aboejinya sangat sibuk dengan urusan pekerjaan, lalu Eomma-nya juga sedang pergi keliling ke beberapa negara untuk mengembangkan bisnis. Selama tiga tahun Sungyeol mendapatkan kasih sayang dari Yunho, dia bahkan menganggapnya aboeji sendiri.

Dan sebenarnya semua kemampuannya saat ini dia dapatkan dari Yunho, Yunho mengajari segalanya, mulai dari cara mempertahankan diri, dan semua yang Yunho yakin Sungyeol akan membutuhkan itu. Mereka cukup bahagia. Namun sayang hingga suatu saat, Aboeji nya menjemput dia pulang dan Yunho sama sekali tidak mencegah hal itu, Sungyeol masih terlalu kecil untuk memahami semua yang terjadi.

“Aku butuh penjelasan!!” Sungyeol melepaskan pelukan dan menatap Yunho tajam. “Kenapa? Kenapa kau sama sekali tidak mengunjungiku? Kau pikir aku mudah menyesuaikan diri dengan ajaran Sungmin aboeji? Aku sudah terbiasa dengan semua yang kau ajarkan…apakah…memang kau sudah tidak ingin merawatku waktu itu??”

Yunho menggeleng. “Tidak Sungyeol-ah. Keadaan tidak semudah yang kau bayangkan, kau pikir apa alasan aboeji mu mengambil kalian berdua?” tanya Yunho, tentu saja Sungyeol tidak tahu kenapa.

“Karena aboeji mu tahu hal yang selalu aku rahasiakan…” tambah Yunho. “Aku menjadi big boss organisasi ini sejak aku berusia lima belas tahun, meskipun aku bersahabat dengan aboeji mu, dia tidak pernah kuceritakan masalah itu, dan  seperti yang kau tahu….musuh dari pekerjaan aboejimu adalah orang sepertiku, ketika ia tahu yang sebenarnya…dia mengambilmu kembali, dia bahkan mengecapku orang jahat dan tidak punya hati…” Yunho tersenyum pahit.

Sesungguhnya waktu itu dia pun tidak rela jika harus berpisah dengan Sungyeol maupun SungJong, dia kembali sendirian di dalam rumahnya yang seperti istana. Namun semua itu tidak berlangsung lama, setelah kejadian itu Yunho bertemu dengan Jaejoong dan juga Myungsoo. Melihat Myungsoo kecil, dia seperti melihat dirinya sendiri, maka dari itu Yunho tidak pernah lagi menghubungi Sungyeol.

“Seharusnya kau menemuiku….atau sekedar menelvonku aku pasti sudah senang, tapi kenapa kau tidak melakukannya….aku sangat kecewa….” Ucap Sungyeol lagi.

“Mianhae Sungyeol-ah…aku bersalah, aku benar-benar bersalah tidak menjengukmu selama ini…” Yunho penuh dengan sesal.

“L-lalu…apa yang harus kulakukan sekarang….? A-aku tidak mungkin untuk menjatuhkanmu dan menyerahkanmu pada polisi, aku tidak bisa….tapi, bagaimana dengan sumpahku di hadapan para detektif…..?” Sungyeol meremas rambutnya pusing, otaknya benar-benar penuh. Dia tidak bisa menahan semua ini lagi.

Yunho paham bagaimana perasaan Sungyeol saat ini, serba salah. Dan sayangnya dia menjadi salah satu penyebab rasa kalut pada diri Sungyeol. “Sungyeol-ahh…kau…”

Braaaakkk!!! Ucapan  Yunho terhenti kala pintu terbuka dengan sangat keras akibat tendangan seseorang. Yunho dan Sungyeol cukup kaget, beberapa orang berbaju hitam memasuki ruangan itu dan menyerang mereka berdua.

“Sungyeol-ah hati-hati!!” teriak Yunho. Mereka berdua pun terlibat perkelahian dengan para pengeroyok itu. Meskipun hanya dua orang melawan begitu banyak pengeroyok, sepertinya pengeroyok itu sedikit agak kewalahan.

Yunho menggeram marah, bagaimana bisa mereka semua masuk ke dalam markas yang mempunyai pengamanan begitu kuat? Dia yakin mereka semua adalah suruhan seseorang yang pernah masuk di dalam organisasinya, Hoya, siapa lagi kalau bukan dia? Yunho sangat yakin itu.

“Ohh…?” Yunho sedikit kaget, pukulannya tiba-tiba meleset dari target, dirinya mencoba kembali melayangkan pukulannya, namun entah apa yang terjadi pandangannya tiba-tiba kabur, dia bisa melihat semua benda di hadapannya menjadi double.

Duuughh! Hingga suatu ketika salah satu dari mereka berhasil memukul wajah Yunho hingga namja itu memundurkan langkahnya. Yunho benar-benar tidak tidak mengerti dengan tubuhnya sendiri, tenaganya hilang entah kemana, tangannya pun sangat lemas tidak bisa untuk leluasa bergerak.

“Aboeji apa yang kau lakukan????” teriak Sungyeol sembari menangkis semua pukulan-pukulan yang dilayangkan padanya.

“Ohh…?” Yunho cukup terkejut mendengar panggilan itu, rasanya lama sekali Sungyeol tidak memanggilnya seperti itu. Terlena dengan semua, Yunho tidak menyadari, seorang namja bergerak ke arahnya lalu menendang Yunho dengan keras. Kontan namja itu terlempar menabrak meja lalu terjatuh ke lantai. Tidak membuang waktu tiga orang berbaju hitam itu menghampiri pemimpin organisasi itu dan menghajarnya.

Sungyeol membelalakkan mata kaget. Beberapa kali dia berteriak pada Yunho untuk segera bangun. Namun sepertinya ada sesuatu yang membuat namja itu tidak berdaya. “Brengsek!!!” Satu tendangan Sungyeol berhasil mendarat pada tulang rusuk lawannya. Dengan segera dia menghampiri pengeroyok Yunho dan menyerang mereka. “Lawan aku kalau kau bisa brengsek!!!!”

Perkelahian kembali terjadi. Sungyeol benar-benar tidak akan mengampuni mereka semua. Dan lagi kemampuannya jauh di atas orang-orang ini. Tidak sampai tiga menit, mereka semua telah terkapar dengan tidak sadarkan diri. Sungyeol kemudian menengok, dan mendapati Yunho tengah memegangi dadanya berusaha untuk bangkit, wajah  namja itu terlihat banyak sekali luka memar, namun dia memaksa untuk tersenyum. “K-kau memang anak yang hebat Sungyeol-ah..”

“Ini semua kudapat darimu…aboeji…” ucap Sungyeol entah sadar atau tidak dirinya tersenyum. Hatinya menghangat, dia seperti baru saja melepas satu masalahnya. Benar sekali, Yunho adalah seseorang yang selama ini ia tunggu. Aboeji keduanya, yang mengajarinya banyak hal.

Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan dengan perasaan yang mungkin sama, senyum mereka yang paling tulus pun masih terukir. Hingga pada suatu saat mata Yunho menangkap sesuatu dari balik pintu yang membuat dirinya membulatkan mata kaget. Dengan sisa tenaga yang ia punya, big boss dari organisasi besar itu segera menarik tangan Sungyeol ke arahnya.

Dooor!! Suara yang benar-benar keras itu membuat Sungyeol terkejut. Dia masih belum bisa menyadari apa yang terjadi ketika Yunho menarik dirinya dalam pelukannya dan mereka berdua terjatuh ke lantai. Ketika dirinya melihat ada aliran  darah dari tubuh Yunho dia tersadar bahwa namja itu telah menyelamatkannya.

“A-aboeji…??” Sungyeol menegakkan tubuhnya lalu menatap Yunho. “Aboeji, apa yang…kau…Yaa!!! Kau tidak apa-apa…???” teriak Sungyeol kaget bukan main.

Nafas Yunho tersengal-sengal, dia hampir saja kehilangan kesadarannya. Yunho pun semakin merasa ada yang aneh dengan dirinya. Tubuhnya bahkan sudah sering di tembus peluru, namun kenapa kali ini membuatnya tidak berdaya seperti ini? Yunho mulai menyadari dirinya tidak muda lagi.

Dengan sekuat tenaga, Yunho menengok Sungyeol yang menatapnya dengan penuh kecemasan, Yunho tersenyum lalu mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Sungyeol. “M-mianhae….”

“Aboeji…”

“M-minhae….” Ucap Yunho sekali lagi, tangan Yunho pun terjatuh lemas. Namja itu mulai menutup matanya tidak sadarkan diri.

“Tidak….aboeji bangun!!! Kau mana boleh seperti ini…bangunlah!!! Jebal!!!” Sungyeol mengguncangkan tubuh itu. Namun sama sekali tidak ada respon. Hingga Myungsoo datang semua nya menjadi kacau.

 

*Flashback End*

Sungyeol memukul dadanya beberapa kali, air matanya tiba-tiba menetes dengan deras. Bukan ini yang dia inginkan, bagaimana jika Yunho sampai tidak tertolong? Semua ini kesalahannya, Sungyeol tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, belum lagi ditambah kesalahpahaman Myungsoo. Tidak, Sungyeol tidak peduli dengan apa yang akan dipikirkan oleh Myungsoo. hanya dirinya dan juga Yunho yang tahu hal sebenarnya terjadi.

“Aboeji…mianhae…aboeji…” Sungyeol kembali menarik rambutnya frustasi. Setelah sekian lama mungkin hari ini adalah yang pertama kalinya dia mengeluarkan air mata.

Dari atas tangga terdenngar seseorang berjalan turun, namun Sungyeol tidak peduli, pikirannya hanya ada satu sekarang, Jung Yunho.

“Sungyeol hyung…..kau kenapa???” Taemin begitu kaget melihat keadaan Sungyeol yang penuh darah dan juga sedang menangis. Namja bertubuh kecil itu segera menghampiri Sungyeol dan mmenyentuh tangannya. “Kau sakit hyung? Ini kenapa? Jika kau terluka kau harus diobati, Sungyeol hyung….jawab aku…!”

Sungyeol tidak merespon, malahan air matanya semakin deras meskipun ia tidak bersuara. Tentu saja ini membuat Taemin bertambah kaget, dia tidak pernah melihat Sungyeol seperti ini sebelumnya. Namja bertubuh mungil itu segera berlari pergi dari sana. Dan tidak beberapa lama kemudian dia kembali muncul dengan menarik-narik tangan Mr. Lee.

Mr. Lee terlihat tak kalah terkejut melihat keadaan Sungyeol yang seperti itu. “Sungyeol-ah…” Mr. Lee kemudian merendahkan tubuhnya lalu menangkupkan pipi Sungyeol. “Kau menangis…? Apa yang terjadi? Apakah kau terluka…?” tanyannya cemas. Seumur hidup dia belum pernah melihat Sungyeol sekacau ini. Jangankan menangis, bersedih pun dia tidak pernah selama ini.

“Jawab aku nak, kau ini kenapa?? Katakan apa yang terjadi…” Mr. Lee menghapus air mata Sungyeol yang tidak berhenti mengalir. Hatinya ikut teriris, kesedihan Sungyeol begitu dalam hingga dia sendiri dapat merasakannya.

Perlahan Sungyeol menatap sang aboeji, jika Mr. Lee mau jujur padanya siapa Yunho sejak awal mungkin dia tidak akan seperti ini, entah kenapa saat ini Sungyeol merasa marah, dilepaskannya tangan Mr. Lee dari wajahnya. “Aboeji…k-kenapa melakukan hal ini padaku…??”

“Apa  maksudmu…?”

“Yunho aboeji….dia Yunho aboeji kan???” ucap Sungyeol seketika membuat Mr. Lee membeku. “Jika kau mengatakan sejak awal aku tidak akan seperti ini…”

Kelu. Mr. Lee tiba-tiba kehilangan semua kata-katanya, dia tidak menyangka Sungyeol akan mengetahuinya. “Sungyeol-ah, yang harus kau tahu, dia itu bukan Yunho yang baik seperti dahulu, dia itu jahat, dan dia itu musuh kita…..”

“Tidak aboeji…” Sungyeol menggeleng. “Dia mengetahui jika aku mata-mata sejak awal, namun dia tidak pernah mau untuk berbicara, dan hari ini…aku berhutang nyawa padanya, Yunho aboeji….terluka karena diriku, jika dia tidak tertolong…kau harus memenjarakanku…”

“Mwoo….?”

“Aku kecewa padamu, aboeji!”

Sungyeol berdiri lalu berjalan perlahan menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya. Meninggalkan Mr. Lee yang masih terpaku tidak percaya. Dan sekali lagi hanya Taemin yang tidak mengerti dengan kondisi yang sebenarnya terjadi di keluarganya.

 

*

*

Braakk…Tap..tap…tap, seperti sedang dikejar oleh seseorang, Myungsoo berlari begitu kencang ketika turun dari mobilnya. Pikirannya masih kacau, baik sang hyung maupun SungJong masih belum dia temukan, ini sangat aneh. SungJong tidak pernah mematikan ponselnya dengan jangka waktu yang sangat lama. Sementara sang hyung juga tidak kunjung menjawab panggilannya. Hal ini membuat Myungsoo bertambah panik.

Dengan nafas yang terputus-putus Myungsoo menaiki anak tangga menuju lantai dua. “Hyung!!!! SungJong-ah!!!!!!!!” teriaknya membuka kamar satu per satu disana. Namun nihil, rumahnya benar-benar kosong. Dia masih ingat SungJong tadi siang menelvonnya akan segera pulang, dan ini sudah lebih dari empat jam, sangat tidak mungkin jika dia masih belum sampai.

Jika SungJong akan pergi ke suatu tempat dia pasti akan bilang, tapi ketika di dalam telvon tadi dia tidak mengatakan apapun. Apakah mungkin Hoya menculiknya saat namja itu hendak pulang? Hoya benar-benar brengsek.

“Tuan  muda!!” seseorang tampak datang dengan menunduk, sepertinya dia sangat hormat pada Myungsoo. Sembari menuruni tangga, Myungsoo memberikan tatapan yang begitu tajam pada seseorang yang tengah menunggunya itu.

“Jaejoong hyung dimana? Kenapa dia tidak pulang??”

“Dia tadi bilang akan pergi untuk membeli beberapa perlengkapan, namun dia tidak mengatakan akan pulang jam berapa….”

Myungsoo mendesah pelan dan segera berlari keluar rumah. Jika tidak segera dia temukan tentu semuanya akan runyam, dan jika Yunho tahu semuanya pun tidak akan baik. Myungsoo benar-benar pusing, cemas dan marah. Dia bahkan tidak peduli sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi.

“SungJong-ah, kau dimana…..” Myungsoo kembali mencoba untuk menghubungi kekasihnya itu, namun tetap saja masih tidak aktif. Sekarang dia harus kemana lagi?? SungJong tidak mungkin berada di apartementnya, untuk apa? Namun…tidak ada salahnya untuk mencoba mengeceknya disana, mungkin saja dia ingin membuat kejutan untuknya.

Tanpa banyak berpikir lagi Myungsoo segera menjalankan mobil menuju gedung apartementnya. Meskipun dia tidak yakin namun dia harus mencoba segala kemungkinan, dan lagi Hoya tidak menghubunginya lagi, apakah dia mempunyai rencana yang lain? Apapun itu Myungsoo rasa tidak akan aman bagi SungJong mau pun hyung-nya.

“SungJongie!!!” setelah pintu terbuka Myungsoo segera berhambur masuk ke dalam. “SungJongie kau ada disini????” teriaknya kembali.

Tidak ada dimanapun, apartementnya pun bahkan kosong, tidak ada tanda-tanda seseorang disini. Myungsoo pun terduduk di sofanya dengan lemas. Dirinya benar-benar lelah dan pusing, bahkan setelah perkelahian di markas tadi ia sama sekali tidak peduli untuk mengecek tubuhnya apakah ada yang terluka atau tidak. Kemana lagi dia harus mencari dua orang itu? Sungguh dia tidak tahu lagi harus bagaimana.

“Yeoboseyoo….” Ucapnya lesu ketika ada panggilan masuk ke ponselnya. “Apa???” Dirinya seketika terperanjat dan segera bangun dari tempat duduknya. “Baiklah, aku segera kesana!!”

Myungsoo segera bergegas untuk keluar dari sana dan menuju tempat yang baru saja dikatakan oleh seseorang yang menelvonnya tadi. Hari semakin sore, jika dia tidak cepat menemukan mereka berdua akan semakin susah. Belum lagi keadaan organisasi yang masih sangat kacau, Myungsoo hanya bisa berharap Changmin bisa mengatasinya dengan baik. Tanpa Yunho semua akan semakin parah.

Musuh bisa memanfaatkan ini untuk menyerang, dan Myungsoo tidak ingin hanya karena masalah Hoya semuanya menjadi kacau. Kasihan Yunho, membangun organisasi sudah sangat lama, tidak boleh hancur hanya karena masalah seperti ini.

 

 

*

*

“Myungsoo-ya…”

“Hyung…”

Myungsoo segera berjalan cepat menuju ke arah namja yang tengah berdiri bersama dengan Woohyun di depan sebuah kamar. Woohyun menarik nafas lega begitu melihat Myungsoo datang tanpa kurang apapun. “Kau tidak apa-apa hyung? Apakah kau terluka…??” tanya Myungsoo sembari merengkuh bahu Jaejoong dan mengamatinya.

“Aku baik-baik saja Myungsoo-ya, tapi Yunho….Yunho kenapa dia bisa seperti itu? Dokter bilang dia belum bisa bangun, dia kehilangan banyak sekali darah, siapa yang berani melakukan itu pada Yunho???” tanya Jaejoong bertubi-tubi.

Tidak ada niat bagi Myungsoo untuk menjawab pertanyaan itu, keadaan Yunho memang membuatnya cemas, namun ada sesuatu yang membuatnya lebih cemas. “Dimana SungJongie? Kau tidak pergi dengan SungJongie tadi? Apakah dia sudah pulang ke rumah???”

Jaejoong menggeleng bingung. “Tidak, anak itu belum pulang Myungsoo-ya, aku juga heran padahal itu sudah waktunya pulang, karena terlalu lama menunggu aku memutuskan untuk menjemputnya di sekolah karena aku ada janji untuk mengantarnya ke suatu tempat, namun ketika aku sampai disana tidak ada siapapun, ponselnya pun tidak aktif…” jelasnya.

Hal ini membuat Myungsoo lemas dan segera terduduk di kursi terdekat. Jangan-jangan memang benar Hoya membawa anak itu. Namun bagaimana bisa? Jika sampai Hoya menyentuh SungJong, dia tidak akan pernah mengampuni orang itu. Ponsel Myungsoo lagi-lagi berdering, dari nomor yang tidak dikenal. Dengan malas dia segera menjawabnya. “Yeoboseyo….”

“Kim Seonsaenim…”

Myungsoo membelalakkan mata kaget dan segera berdiri. Suara dari seberang sana membuat jantungnya berdebar keras. Dia mendengarkan dengan seksama apa yang dia ucapkan, tidak lama kemudian Myungsoo segera berlari pergi dari sana. Tanpa berpamitan pada sang hyung maupun Woohyun.

“Woohyun-ah, bagaimana keadaan markas? Tanpa Yunho bagaimana bisa…?” tanya Jaejoong cemas.

“Changmin Sunbae mengurus semuanya, kau tidak perlu cemas, dan lagi jika ada kerusakan, system sudah diatur untuk mengunci secara otomatis meskipun rusak berat, dan kurasa para penyusup tidak akan bisa masuk ke markas kembali….”

Setidaknya setelah mendengar penjelasan dari Woohyun dirinya merasa sedikit lebih lega. Dokter masih berada di dalam untuk memeriksa Yunho, untuk sementara dia tidak bisa untuk melihat Yunho.

 

*

*

-Beberapa jam yang lalu-  

“Masih tidak mau membuka pintu?????”

Namja bertubuh ramping itu, Lee SungJong kembali menggedor pintu kamarnya. Setelah selesai mandi tadi dia terus saja berteriak agar cepat dikeluarkan dari sini, namun tidak ada yang merespon dirinya sama sekali.

SungJong benar-benar kesal, tidak ada ponsel dan alat komunikasi yang lain. Bahkan komputer di kamarnya pun sudah tidak ada, Sungyeol benar-benar serius ingin mengurungnya disini. Dan dia belum mengabari Myungsoo sama sekali, dia takut namja itu mencemaskan dirinya.

“Hyung!!!! Aku benar-benar akan bunuh diri jika kau tidak membukakan pintu dalam lima menit!!!” ancam SungJong, tentu saja dia hanya mengertak saja, bunuh diri? Ayolah, satu goresan saja bisa membuat darahnya habis. SungJong tidak ingin melakukan hal-hal yang bodoh.

Namun jika kelamaan berada disini tidak akan baik, sudah tiga jam dan dia belum menemukan cara untuk keluar dari sini. Setidaknya dia harus melakukan sesuatu, dicoba pikirkan kembali bagaimana untuk membuka pintu tanpa yang sebenarnya. Tentu saja jika Myungsoo akan melakukannya dengan mudah, cukup menendangnya dengan keras maka pintu itu akan terbuka sendiri. Tapi tentu SungJong tidak akan bisa seperti Myungsoo.

“Sepertinya aku harus mencoba cara itu….” Gumam SungJong. Dia pernah melihat Sungyeol dahulu berlatih membuka kunci dengan menggunakan sebuah penjepit rambut yang dibentuk dengan sedemikian rupa.

Sungyeol mempelajari itu karena di dalam pekerjaannya sangat membutuhkan semua keterampilan seperti ini. Dan SungJong akan mencobanya, karena tidak mempunyai penjepit rambut, dia rasa menggunakan sebuah garpu juga sama saja. Dia memang selalu menyimpan garpu di kamar karena hobinya memakan  buah.

Butuh beberapa kali percobaan, tidak semudah dalam bayangan, tapi kenapa ketika melihat Sungyeol melakukannya nampak sangat gampang, aah,…SungJong benar-benar tidak menyukai ini.

Klek…Oh? SungJong sedikit membulatkan matanya tidak percaya, pintunya terbuka? Senyumnya mulai mengembang, tidak mau ambil pusing lagi dia segera menyambar jacketnya, lalu dengan perlahan dia keluar dari kamar, tidak lupa untuk kembali menutup pintu itu, sangat hati-hati agar dirinya tidak ketahuan oleh Sungyeol maupun Taemin.

“Apa yang kau lakukan diam-diam seperti itu?” tegur sebuah suara.

SungJong hampir menahan nafasnya saking terkejut dengan sapaan itu, dirinya segera berbalik dan mendapati sang eomma tengah mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Setidaknya SungJong kembali bisa bernafas lega. “E-eomma…hai…”

“Kapan kau pulang?” tanyanya seperti biasa dengan nada datar. Tanpa ada intonasi kaget maupun senang.

“Aku hanya mengambil sesuatu, dan aku harus pergi lagi,Eomma, jangan mengatakan pada aboeji, okey?”

Mrs. Lee mengangkat bahu tidak peduli. “Kenapa aku harus mengatakan pada aboeji mu? Ini rumahmu kan? kau bebas mau keluar dan pergi….”

“Eomma, kau benar-benar terbaik, I love you Eomma, aku pergi dulu…” ucap SungJong tidak ingin berlama-lama. Beruntung sekali dia bertemu dengan sang Eomma, jika yang lainnya dia pasti akan kembali dikurung.

“YAA!!! LEE SUNGJONG!!!”

SungJong menghentikan langkahnya di tengah-tengah anak tangg dan menengok. Ada Lee Taemin disana, gawat, tanpa banyak berpikir SungJong segera pergi berlari sekuat tenaga. Bisa tambah runyam kalau Sungyeol pun tahu dia kabur.

“Eomma, apakah kau yang membuka kan pintu kamarnya?? Kenapa kau membiarkan dia pergi Eomma???” ucap Taemin sedikit jengkel.

“Lee SungJong itu sudah dewasa, biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan, kenapa kalian ini selalu saja mengaturnya ini dan itu…”

Taemin menghentakkan kakinya semakin jengkel. “Eomma juga mengatakan SungJongie sudah dewasa ketika dia berumur sepuluh tahun, aah molla!!” tanpa berniat menunggu jawaban dari Eomma-nya, Taemin segera berlari menyusul SungJong. Sebelum Sungyeol pergi tadi, dia menyuruh untuk menjaga SungJong, bagaimanapun caranya.

*

Hosh…hosh…SungJong berlari sekuat tenaganya tidak tentu arah. Seumur hidup ini mungkin pertama kali dia melakukan pelarian tercepat. Telapak kakinya mulai terasa perih karena dia tidak sempat untuk memakai sepatu tadi. Baginya berlari jauh dari rumah akan lebih aman.

SungJong menengok ke belakang sembari terus berlari, dia tahu Taemin mengejarnya, anak itu tidak akan berhenti jika diperintahkan oleh Sungyeol. Menyebalkan sekali.

Huup!! SungJong melompak ke balik semak-semak lalu terduduk disana, disandarkan tubuhnya pada batang pohon  yang cukup luas sembari mengatur nafasnya. Keringat mulai membanjiri seluruh tubuhnya. Beruntunglah angin bertiup lumayan kencang, sedikit mengobati rasa lelahnya.

“huuftt….” SungJong mengintip di balik dedaunan. Tidak ada siapapun, mungkin Taemin memang sudah tidak mengejarnya lagi. Namja itu kemudian menyentuh lehernya. Haus sekali, tenggorokannya kering.

Namja itu kemudian merogoh saku celana dan juga jacketnya. “Ohh tidak…” seketika dirinya lemas, dia pun lupa membawa dompetnya, dan tidak ada uang sedikit pun di sakunya. Lalu dia harus kemana sekarang? Jalan kaki ke rumah Myungsoo? tentu saja itu ide yang sangat buruk, dia bahkan tidak memakai alas kaki sekarang. Bisa-bisa kakinya terbakar.

“Ahh….harusnya aku meminta uang pada Eomma tadi..” gumamnya. Dirinya lalu segera berdiri dan berjalan sebisanya.

Pengalamannya yang paling tidak terduga mungkin. Jika ia berjalan di pinggir jalan seperti ini bersama dengan Myungsoo mungkin akan menyenangkan. Namun jika sendirian seperti ini tanpa alas kaki bahkan, tentu saja semua orang akan menganggapnya seperti orang gila. Apalagi ketika dirinya berpapasan dengan beberapa pasangan yang tengah menikmati ice cream bersama, rasa hausnya benar-benar tidak tertahankan.

Namja manis itu kemudian duduk di sebuah bangku di depan toko. Rumah Myungsoo masih jauh, tentu dia tidak akan bisa kesana dengan jalan kaki. Harusnya dia tadi membawa tasnya, dasar bodoh, Lee SungJong bodoh! Geramnya.

“Ohh, hyung…” Seorang anak berseragam berdiri di depan SungJong sembari memegang sebuah buku.

SungJong segera tersenyum dan mengatur posisi duduknya. “Kenapa? Ada yang bisa ku bantu? Yugyeomie?” tanyanya setelah membaca tag name yang berada di seragam anak itu.

“hyung, Appa atau Eomma? Aku harus pilih siapa…?”

“Apa maksudmu…?” SungJong sedikit tidak mengerti.

“Appa dan Eomma sepertinya akan berpisah, dan mereka menyuruhku untuk memilih tinggal dengan salah satu dari mereka, dan aku tidak tahu harus memilih siapa, Eomma pintar memasak, tapi dia tidak bisa mengajari mengerjakan tugas, sedangkan Appa, dia mengajarimu membuat tugas, namun masakannya tidak enak…aku bingung…”

Sejenak SungJong terdiam dan menatap anak dihadapannya itu dengan lembut. Pasti tidak enak sekali harus memilih salah satu, dan kenapa orang tuanya harus berpisah? Beruntung baginya, meskipun Eomma-nya tidak terlalu peka namun hubungan dengan sang aboeji baik-baik saja.

“Yugyeom-ah…” ucapnya kemudian. “Kau tidak akan pernah bisa memilih salah satu diantaranya, coba kau katakan pada mereka, kau butuh mereka berdua, jika mereka berpisah karena keegoisannya masing-masing minta mereka untuk melihatmu, aku yakin mereka tidak akan memaksamu untuk memilih lagi…”

Yugyeom terdiam, sepertinya dia sedang mencoba untuk mencerna semua perkataan SungJong. Beberapa saat kemudian anak itu tersenyum. “hyung kau mau makan bersamaku…?”

Penawaran yang bagus, kebetulan SungJong tengah lapar sekarang. Namun…daripada itu, ada yang lebih penting dari pada makan untuk saat ini. “Kalau boleh, pinjami aku ponselmu, sebentar saja…”

Tanpa banyak berpikir, akan itu segera membuka tasnya lalu menyerahkan sebuah ponsel berwarna hitam dan diserahkannya pada SungJong. Tentu saja SungJong senang bukan main. Dia segera menginputkan beberapa nomor yang sangat ia hafal dan memanggilnya.

“Yeboseyoo…”

Suara yang begitu ia inginkan itu akhirnya terdengar juga. “Kim Seonsaenim..bisakah kau menjemputku? Aku berada di toko sekitar tiga ratus meter dari rumahku, tolong cepat…aku benar-benar tidak tahan lagi berada disini….”

 

 

*

*

*

Mobil berwarna hitam yang meluncur dengan  kecepatan tinggi itu terlihat mulai terhenti di tepi jalan yang tidak cukup ramai. Dan dari dalam muncul sosok namja berwajah tampan meskipun dia terlihat sangat panik. Mata tajamnya melihat kesekeliling sejenak.

Namja itu, Kim Myungsoo kemudian melekatkan pandangannya pada sosok yang tengah duduk di sana. Tanpa banyak berpikir lagi dia pun segera berlari untuk mendekat, perasaannya benar-benar campur aduk tidak karuan. Myungsoo merasa ini adalah puncak ia merasa lelah.

“Kim Seonsaenim…” melihat Myungsoo datang, namja itu segera berdiri.

Myungsoo menatapnya dari atas hingga bawah, SungJong bahkan tidak memakai alas kaki, kakinya terlihat memerah. Anak itu pun terlihat berseri-seri begitu bertemu dengannya.

“SungJongie….” Gumam Myungsoo, hatinya benar-benar terasa bercampur aduk, dengan cepat pun dia menarik SungJong kepelukannya dan memeluk dengan erat. Myungsoo benar-benar lega bisa menemukan kekasihnya tanpa ada Hoya yang mengancam, sang hyung pun juga sudah aman, terlebih dia sudah berhasil menemukan SungJong. Setidaknya beban Myungsoo sedikit berkurang. Rasanya dia tidak akan membiarkan kekasihnya itu sendirian.

Meskipun tidak mengerti, SungJong berusaha untuk membalas pelukan kekasihnya itu. Sungguh, Myungsoo terlihat sangat kacau tadi, apakah mungkin ada masalah? Myungsoo bukan tipe orang yang seperti ini, memang benar jika ia suka sekali memeluk dirinya. Namun pelukan itu terasa berbeda sekali dengan biasanya.

Myungsoo kemudian melepaskan pelukannya lalu mencengkeram kedua bahu SungJong erat. Ditatapnya lekat sang kekasih dengan tatapan yang menginterogasi. Myungsoo sungguh sedikit agak menyeramkan. “S-seonsaenim….”

“Katakan padaku!” ucap Myungsoo kemudian. “Apakah Hoya sunbae melukaimu? Dan bagaimana kau bisa kabur seperti ini???”

SungJong menyipitkan matanya tidak mengerti. “Hoya sunbae? Siapa yang kau maksud Seonsaenim? Aku tidak mengenalnya…”

“Orang yang pernah menyerangmu di apartement, dia menelvonku tadi jika dia menangkapmu dan juga Jaejoong hyung, aku benar-benar panik, aku mencarimu kemana-mana, ponselmu tidak aktif, aku takut Hoya menyakitimu seperti yang dahulu….” ucap Myungsoo dengan nada yang tersengal-sengal.

Namja manis di depannya itu tampak mengerti, lalu menatap Myungsoo dengan penuh sesal sekaligus terharu karena Myungsoo begitu mencemaskan dirinya. Itu berarti Seonsaenimnya ini benar-benar mencintainya. Untuk beberapa alasan SungJong merasa senang. “Mianhae Seonsaenim, aku telah membuatmu cemas, saat pulang tadi Sungyeol hyung dan juga Taemin memaksaku untuk pulang, mereka mengurungku di rumah, Taemin bahkan merusak ponselku, butuh waktu lama bagiku untuk kabur, bahkan saat aku kabur aku lupa membawa dompet dan juga tidak memakai sepatu….” Jelasnya panjang lebar.

Myungsoo trenyuh, dia benar-benar tidak menyangka hari ini SungJong melakukan hal yang luar biasa. Setidaknya dia lega karena Hoya bukan orang di balik semua itu. Mungkin saja Hoya kalah cepat dengan Sungyeol tadi, tidak masalah jika itu Sungyeol, karena bagaimanapun juga SungJong adalah dongsaengnya, dia tidak akan mungkin untuk menyakitinya.

Myungsoo kemudian menarik SungJong kembali ke dalam pelukannya. Mulai saat ini dia benar-benar tidak akan membiarkan namja ini sendirian, SungJongie sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

“Maafkan aku, harusnya aku menjemputmu tadi, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi padamu…mianhae….” Ucapnya tulus. Myungsoo kemudian melepaskan pelukannya lalu menangkupkan kedua pipi SungJong kemudian mengecup bibirnya beberapa saat.

Sebenarnya SungJong sedikit kaget dengan hal itu, pasalnya ini tempat umum, tentu saja tidak baik jika ada yang melihat. Namun sepertinya Myungsoo sama sekali tidak peduli dengan hal itu, yang penting baginya adalah Lee SungJong dan Lee SungJong.

“Jangan membuatku cemas lagi…” tuturnya sembari mengelus kepala SungJong lalu mengajak namja itu pergi dari sana. Karena memang Myungsoo terlihat sangat kacau, SungJong memilih untuk mengikuti saja apa kemauan kekasihnya itu. Dia sudah bersama dengan Myungsoo sekarang, semua akan aman.

 

*

*

“Apa..? Yunho Seonsaenim..???” SungJong tersentak kaget. “Bagaimana bisa? Lalu keadaannya sekarang…?”

Myungsoo menggeleng, dia tidak tahu menceritakan pada SungJong saat ini merupakan hal yang baik atau tidak, namun dirinya pun tidak bisa jika harus kembali meninggalkan SungJong di rumah sendirian.

“Apakah dia perlu darahku Seonsaenim aku benar-benar siap jika memang aku dibutuhkan, aku berhutang budi padanya….” Ujarnya lagi dengan tulus.

“Tidak Jongie, kau sendiri pun juga dalam keadaan yang tidak stabil, aku yakin Yunho hyung  akan mampu melewati semua itu dengan kemampuannya, dia adalah seseorang yang tidak bisa diremehkan….”

SungJong segera melepaskan jacketnya lalu segera mengambil minuman di atas meja. Entah kenapa Myungsoo mengajaknya ke apartement jika Yunho berada di rumah sakit. “Aku ingin menjenguknya, ayo kita ke rumah sakit Seonsaenim…” ajak SungJong tidak sabar.

Tidak ada jawaban dari Myungsoo, namja itu masih berkutat dengan pikirannya. Dia duduk di kursi sembari melepas jam tangannya. SungJong mendekat. “Aku benar-benar ingin melihat keadaannya, dia pernah menolongku, setidaknya aku harus berguna untuknya disaat seperti ini….”

“SungJong-ah, pulanglah ke rumahmu….” Celetuk Myungsoo.

“Ne…?”

Myungsoo mengangkat wajahnya dan menatap SungJong serius. “Pulanglah, ke rumahmu sendiri, rumah aboejimu…”

“Kenapa..? kenapa kau tiba-tiba menyuruhku seperti itu Seonsaenim? Aku tidak mau, apakah kau sudah tidak menginginkan ku lagi?” tanyanya dengan tidak mengerti, jujur dia sedikit tidak suka dengan perintah Myungsoo barusan.

“Bukan begitu baby, aku sangat ingin kau selalu ada di dekatku, namun mengertilah, musuhku mengincar  orang-orang yang berada di dekatku, kau akan mendapatkan bahaya….” Jelas Myungsoo. “Sedangkan jika kau berada di rumahku aku yakin kau akan aman, meski bagaimanapun Sungyeol adalah hyung mu, dia juga tidak akan mungkin membiarkanmu terluka…”

SungJong merenggut dan menggelengkan kepalanya kesal. “Aku tidak mau Seonsaenim, aku tidak peduli jika dekat denganmu itu bahaya atau tidak, pokoknya aku tetap bersama denganmu…” tegasnya.

“SungJong-ah, mengertilah, Yunho hyung yang sekuat itu pun bisa terluka oleh mereka, dan aku sangat takut jika sesuatu yang buruk terjadi padamu….” Myungsoo mencoba untuk memberikan pengertian.

“Ada kau Seonsaenim, bukankah kau pun bisa untuk melindungiku? Dan lagi aku pun juga bisa menjaga diriku sendiri, meskipun aku dan aboeji sedang tidak dekat namun aku pernah diajari cara untuk mempertahankan diri …”

Kepala Myungsoo mendadak pusing dan segera menarik nafas panjang. SungJong lebih keras kepala dari apa yang ia pikirkan. “Tidak semudah itu baby, mereka sangatlah berbahaya, dia itu Hoya Sunbae yang pernah menyerangmu di dalam apartement, dan lebih parahnya saat ini ia bergabung dengan organisasi musuh dari Yunho hyung, lebih berbahaya dari yang kau pikirkan…” tegasnya. SungJong terdiam dan memainkan gelas minumannya.

“Dan jika kau terluka, aku tidak bisa untuk memaafkan diriku sendiri, mereka musuhku, tetapi mereka mengincar orang-orang yang aku sayangi, aku ini bukan orang baik, dan aku selalu gelisah jika memikirkan itu…”

“…………”

“Mungkin kau tidak menyukainya baby, namun ketika kau kembali ke rumahmu kau akan aman, kau lebih terjamin disana daripada bersama denganku, yang hanya seorang yang jahat, mianhae…” ucapnya lagi.

Myungsoo tahu dirinya kembali membuat anak itu kecewa, namun bagaimana lagi, dia tidak ingin mengambil resiko. Namja itu kemudian berdiri untuk mengganti pakaiannya yang dia rasa sudah tidak nyaman untuk dipakai. Baru beberapa langkah tubuhnya menjauh, tangannya tiba-tiba di genggam oleh tangan lain dan memaksanya untuk berhenti lalu berbalik.

Mata yang bersinar dengan indah itu menatap dirinya, Myungsoo sesaat tertegun karena begitu terpesona. Tidak butuh waktu yang lama, namja di depannya itu sedikit berjinjit lalu menempelkan bibirnya pada bibir Myungsoo. Sejenak Myungsoo mematung, ia pertama kalinya SungJong mencium dirinya. Hatinya tiba-tiba menghangat dan merasakan perasaan yang menghasilkan kenyamanan pada seluruh tubuhnya.

Tidak berlangsung lama, beberapa detik kemudian SungJong melepaskan ciumannya dan menatap Myungsoo. “Selama denganmu aku tidak peduli Seonsaenim, aku yakin kau tidak akan membiarkanku terluka…” ucapnya. “Jadi biarkan aku tetap bersamamu Seonsaenim, sejak kau mengatakan kalau kau menyukaiku itu berarti kau sudah siap untuk menjagaku….”

“…..”

“Jika memang mencintaimu harus berhadapan dengan bahaya, aku tidak mempermasalahkan hal itu, aku tidak peduli apapun Seonsaenim, karena bersama denganmu aku merasa bahagia…” tambahnya.

Tidak pernah Myungsoo bayangkan jika SungJong benar-benar tulus padanya, bahkan tidak peduli jika dirinya dalam bahaya. Myungsoo benar-benar bahagia, dia bersumpah akan lebih menjaga kekasihnya ini dengan baik. Namja berwajah tampan itu kemudian menggerakkan tangannya membelai kulit pipi SungJong yang terasa halus itu.

Kekasihnya dahulu tidak seperti ini, setelah mengetahui Myungsoo yang sebenarnya dia tidak bisa menerimanya dan pergi begitu saja. Myungsoo bisa menemukan sosok yang lebih baik pada diri SungJong. Mau menerimanya apa adanya.

“Aku mencintaimu baby….” Bisik Myungsoo lalu menarik dagu SungJong mendekat kemudian mencium bibirnya. Ciuman yang lembut menyapu seluruh bagian dari bibir manis itu. Tangan kiri Myungsoo mulai menyusup ke tengkuk namja itu dan mendorongnya untuk memperdalam ciuman.

Ciuman Myungsoo yang semakin menuntut membuat SungJong mau tidak mau menggunakan tangannya untuk mencekeram baju Myungsoo. Sementara dirinya hanya bisa membalas pagutan mesra itu dengan perlahan karena Myungsoo selalu mendominasinya. Rasa manis yang ditawarkan benar-benar membuat Myungsoo ingin lebih lama lagi menguasainya.

 

*

*

Suasana masih begitu sepi di dalam ruangan yang beroma obat-obatan itu. Hanya suara mesin detak jantung yang terdengar begitu nyaring. Sosok Yunho yang masih terbaring disana  terlihat begitu sunyi. Tangan pemimpin organisasi besar itu sedikit tergerak, tidak berapa lama kemudian matanya terbuka. “Ssshh…”

Yunho bukan tipe orang yang lemah, meskipun dia terluka parah sekalipun. Beberapa detik dia membuka matanya, dia langsung bisa mengingat apa yang terjadi dengan dirinya. Sekarang pasti sudah sangat larut, tidak ada satupun yang di dekatnya. Yunho berpikir, dirinya mulai merepotkan untuk orang-orang yang ia sayangi.

“Klekk…” Pintu terbuka, Yunho menajamkan matanya untuk melihat siapa yang datang. Namja itu berharap Myungsoo ataupun Jaejoong yang datang, setelah markas di serang, dia masih harus mencemaskan keadaan dua orang itu.

Namun…bukan. Seseorang yang dia harapkan tidak datang untuk saat ini. Yunho sedikit terperanjat, sosok itu semakin mendekat ke arahnya. Dia tidak mungkin salah lihat, dan keadaannya untuk saat ini tidak memungkinkan untuk bangun.

“K-kau…..” gumam Yunho dengan susah payah.

Sosok itu berdiri di tepi ranjang Yunho dan segera mengangkat kepalanya untuk menatap Yunho. Pandangan mereka bertemu, dan ini membuat Yunho merasa seharusnya pertemuaan mereka tidak disini. “Yunho-ya…” ucapnya.

“K-kau….apa yang…kau lakukan disini? Menertawakanku…? S-Sungmin-ah….”

Namja itu, Mr. Lee nampak menggelengkan kepala. Dia menatap Yunho dengan tatapan yang oleh Yunho sendiri tidak bisa ia mengerti. Jika Sungmin kemari untuk membereskan semuanya mungkin dia akan segera tamat.

“P-pergilah…” suruh Yunho.

“Yunho-ya, kau….sudah tidak terlihat seperti dulu lagi, kau sudah mulai lemah, dan kau tahu apa artinya itu Yunho-ya…??”

Meskipun dalam keadaan sakit, Yunho masih berusaha untuk tersenyum. “D-dasar bodoh, pergilah! Hari ini aku masih kuat lebih dari yang kau bayangkan, pergilah selagi aku masih belum bisa bangun…”

Mr. Lee menggeleng. “Tidak, aku kemari bukan sebagai kepala kepolisian, aku kesini sebagai seseorang yang pernah menjadi sahabatmu…” selanya. “Aku sudah mengetahuinya, markasmu sudah tidak aman lagi, ada organisasi besar yang mengincar markasmu….”

“Tutup mulutmu….organisasiku adalah yang terbaik dan terkuat…!”

“Sadarlah Jung Yunho!! Kau sudah tidak sekuat dahulu!! aku kemari ingin menawarkan sesuatu, jika kau mau menyerahkan diri maka hukumanmu tidak akan terlalu berat, dan hukumanmu akan semakin ringan jika kau mau membantu kami untuk menangkap para penjahat yang menyerang markasmu itu…”

Lagi-lagi Yunho tersenyum sinis. “Jangan berpura-pura baik padaku, di dunia ini jika ada orang yang ingin menjatuhkanku sudah pasti dirimu!”

“Ya!! Kau memang musuh dari pekerjaanku, namun kita pernah bersahabat, aku tidak ingin melihatmu celaka di tangan musuhmu dan aku pun juga tidak menginginkanmu berada di dalam penjara seumur hidupmu, jika kau mau menyerahkan diri dan membantu penyelidikan kami, kau akan mendapatkan hukuman yang lebih ringan…” jelasnya lagi.

“Tidak! Aku bukan dirimu! Seperti inilah caraku hidup!! Jangan peduli pada padaku!”

Mr. Lee menggelengkan kepala dan menatap Yunho serius. “Kau pikir aku mau peduli denganmu hah…?? Aku melakukan semua ini untuk….putraku! sangat menyakitkan mengetahui dia menangis untukmu, mati-matian aku merahasiakannya, namun semua nya terungkap!” ucapnya dengan nada yang sedikit kesal.

“Kau mungkin memang tidak peduli dengan dirimu sendiri, namun…coba pikirkan dua orang anak yang telah kau asuh selama tiga tahun itu, SungJongie mungkin tidak ingat apapun, namun hyung nya sangat terpukul ketika mengetahui faktanya, kau pikir bagaimana perasaan Sungyeol ketika kau nanti celaka oleh musuhmu? Kau tidak memikirkannya? Lee Sungyeol bahkan sangat terpukul melihat mu terluka kemarin!!”

Mendengar hal itu Yunho terdiam, rasa angkuh dan keras kepalanya mendadak hilang. Tentu saja selain Myungsoo serta Jaejoong ada Sungyeol dan SungJong. Tidak jadi masalah jika dia masih sekuat dulu, namun Mr. Lee benar, dirinya sudah mulai kehilangan kekuatannya. Jika terjadi sesuatu dengannya, lalu siapa yang akan menjaga mereka?

“Kumohon, pikirkan mereka, kau harus mengatakan padaku jika mau untuk menyerahkan dirimu sendiri dan membubarkan organisasimu, Yunho-ya, aku tahu kau orang yang baik, jika kau melakukannya…aku berjanji akan memberikanmu kesempatan untuk bersama dengan kedua putraku…” bujuk Mr. Lee lagi. Yunho masih terdiam. Tentu ini pilihan yang sulit untuk namja itu.

“Baiklah, aku akan pergi, kuharap kau benar-benar memikirkan apa yang telah kukatakan, Lee Sungyeol sangat menyayangimu sebagai aboejinya….”

Mata Yunho mengikuti kepergian Mr. Lee hingga menghilang di balik pintu. Kepalanya kembali terasa pusing, ini tidak boleh terjadi. Jika dia membubarkan organisasi lalu nasib mereka bagaimana? Yunho tidak ingin mengecewakan siapun, dan lagi resikonya terlalu besar. Tidak, Yunho tidak akan bersikap egois hanya karena takut akan hukuman para polisi itu.

Namja itu kemudian menggerakkan tangannya dan mencoba melepas infus yang melekat di pergelangan kirinya. Akan tetapi…tenaganya belum pulih, entahlah, mungkin apa yang dikatakan oleh Sungmin tadi semuanya benar. Yunho mulai merenung.

 

*

*

“Kupikir Yunho Seonsaenim akan suka jika aku membawakan ini untuknya…” ucap SungJong ketika dirinya bersama dengan Myungsoo berjalan di koridor menuju kamar rawat Yunho.

Sebelum berangkat tadi dirinya memang menyempatkan dirinya untuk memasak sup kesukaan Yunho. Itu pun ketika selesai bermesraan dengan Myungsoo. Myungsoo bahkan tidak membiarkan untuk lepas dari pelukannya tadi.

Myungsoo tersenyum dan mengusap kepala SungJong perlahan. “Tentu saja, dan dia pun pasti akan segera sembuh….masakanmu itu seperti obat…” ucapnya lalu membuka perlahan pintu bernomor 12.

“Seonsaenim….” SungJong segera masuk ke dalam dan mendekat ke arah Yunho yang masih terbaring disana ditemani oleh Jaejoong.

Melihat siapa yang datang, mata Yunho terlihat berbinar. Tubuhnya pun ia paksa untuk bergerak dan bangun. Tentu saja dia sangat senang melihat ada SungJong disini. Paling tidak itu mengingatkannya pada Sungyeol.

“Seonsaenim, bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja??” tanyanya dengan tidak sabar.

“Aku baik-baik saja, tapi aku masih belum boleh untuk pulang…kau membawakanku sup?”

SungJong mengangguk. “Tentu saja, aku ingin kau cepat sembuh Seonsaenim, aku tidak mau melihatmu berlama-lama di rumah sakit…”

Mendengar hal itu mau tidak mau Yunho tersenyum, dan menggerakkan tangannya untuk mengacak rambut SungJong pelan. Hatinya terasa hangat sekali, SungJong mungkin tidak mengingat apapun, namun semua itu tidak membuat Yunho kecewa. Dia sangat paham, waktu itu sudah terlalu lama, mustahil anak ini akan mengingatnya.

Myungsoo mengarahkan pandangannya pada sang hyung, Jaejoong pun nampaknya juga mengerti dengan apa yang tengah dipikirkan oleh Myungsoo. Yunho mau akrab dengan orang lain, tentu saja ini kejadian yang langka sekali. Namun sepertinya Myungsoo belum mengetahui penyebabnya.

“Dimana hyung mu…kau tidak mengajaknya…?” tanya Yunho. Seketika membuat Myungsoo terperanjat. Apa maksudnya? Sebenarnya apa hubungan Yunho dengan kekasihnya itu?

“Sungyeol hyung? Entahlah, aku tidak ingin membahasnya, dia kemarin mengurungku, dan aku sedang marah dengannya…” sahutnya. “Eh….? Tapi darimana kau mengenal hyung ku Seonsaenim?” SungJong tersadar.

Yunho tersenyum. “Lalu aboejimu…? Kau masih belum berbaikan dengannya…?”

“Dia yang tidak mau berbaikan denganku Seonsaenim, aku benar-benar sedang tidak ingin membahas mereka….” SungJong cemberut.

“Baiklah, bukankah kau sudah mendapatkan aboeji baru disini…?”

SungJong sesaat terdiam dan menatap Yunho. Sebenarnya tanpa ada alasan yang kuat, dirinya senang sekali ketika melihat orang ini. Seperti sudah saling lama kenal. “Hmm…” gumamnya mengangguk-angguk.

“Benarkah…..kau sama sekali tidak menyadarinya…?” Yunho menatap SungJong intens. Seolah-olah dia ingin memastikannya. Rasa penasarannya tidak akan hilang jika dirinya belum yakin.

Jujur saja, SungJong tidak mengerti dengan tatapan Yunho itu. Seperti ada sebuah harapan dari dirinya untuk dikatakan, namun SungJong sendiri tidak tahu apa itu. “Apa maksudmu Seonsaenim…?”

“Ahh …mungkin saat itu kau memang benar-benar masih kecil, sudahlah lupakan, jika aku beruntung mungkin kau akan mengingatnya..”

Meskipun masih bingung, SungJong mencoba untuk tersenyum. Yunho ini sebenarnya bicara apa? Memangnya mereka pernah mengenal satu dengan yang lainnya? Entahlah, SungJong benar-benar tidak mengerti dengan orang ini.

“Jongie…kau mau menemaniku membelikan Yunho pakaian??” tanya Jaejoong dengan nada sedikit mengajak. “Mau ya…”

“Tentu saja aku mau, kkaja hyung, Kim Seonsaenim aku pergi dulu…” ucapnya. Disambut dengan usapan lembut Myungsoo di kepalanya.

Setelah  kepergian dua orang itu, Myungsoo menarik kursi dan duduk di sebelah kanan Yunho. Hal yang ia takutkan adalah ketika Yunho menanyakan soal organisasi nanti.

“hyung, sebenarnya…SungJongie….kau tahu darimana tentang….”

“Aku tahu semua tentang anak itu Myungsoo-ya…” potong Yunho. “Fakta bahwa kau mencintai dia meskipun kau mengetahui jika dia adalah anak dari seseorang yang sangat kau benci sedikit membuatmu bangga dengan dirimu…”

Myungsoo menyipitkan mata tak paham. “Ada sesuatu yang tidak kau ceritakan padaku hyung??”

Yunho tersenyum, benar, mungkin memang sudah saatnya Myungsoo mengetahuinya. Jika sesuatu terjadi dengan dirinya maka Myungsoo akan melakukan semua hal dengan baik. Yunho percaya dengan kemampuan Myungsoo.

 

*

*

*

 

“Yunho Seonsaenim itu seseorang yang sangat sulit ditebak menurutku…” celetuk SungJong ketika mereka berjalan menuju tempat parkir.

Jaejoong tersenyum sembari mengeluarkankan kunci mobil dari sakunya. Tentu saja Yunho sangat sulit di tebak, diawal dia harus berusaha keras untuk mengerti bagaimana keinginan kekasihnya itu. “Benarkah? Tidakkah kau menyukai Yunho yang seperti itu??”

“Hmm….dia memang mengagumkan, pantas saja Kim Seonsaenim selalu antusias jika bercerita tentang dia…”

“Maksudmu Myungsoo tidak pernah menceritakan tentangku padamu?” gerutu Jaejoong.

SungJong terkikik dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Hahaha, dia memang jarang bercerita tentangmu hyung….” Celetuknya.

“Dasar anak itu, awas saja nanti…” ucap Jaejoong kesal. Namja itu kemudian melihat kesekitar. Tampak mobil Yunho berwarna putih terparkir disana. Tentu saja mudah mengenalinya hanya dengan sekali lihat, mobil mewah dan mahal seperti itu hanya Yunho yang memilikinya.

Jaejoong segera berjalan mendekat, sementara SungJong mengecek ponsel barunya yang baru saja mendapat pesan singkat. Dirinya sedikit tersenyum, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nomor barunya sekarang. Salah sendiri Taemin menghancurkan ponsel kesayangannya.

“Ohh…?” mata bening SungJong sedikit membulat ketika melihat bayangan di belakang Jaejoong, tepatnya dari balik mobil. Apakah ada orang lain disana?? Namun…. “Hyungg!!!! Awas!!!!” teriak SungJong.

Mendengar teriakan nyaring itu, refleks Jaejoong melangkahkan kaki ke depan beberapa langkah. Lalu…braakkkkk, sebuah benda keras menghantam kaca mobilnya dan pecah berantakan. Jaejoong benar-benar terkejut dan segera membalikkan tubuhnya. Disaat itu pula dia mendapatkan serangan kedua, namun lagi-lagi Jaejoong bisa menghindar dan segera berlari menghampiri SungJong.

“YAAA!!!! Apa yang baru saja kalian lakukan hah?????”  bentak Jaejoong. Dua orang berpakaian serba hitam itu menyeringai dan berjalan mendekat.

“Pergi sebelum aku memanggil petugas keamanan kemari!!”

Karena memang sudah mengalami beberapa kejadian yang seperti ini, SungJong menjadi lebih berani. Sepertinya wajah itu itu tidak asing untuknya, mereka ini mungkin yang menyerangnya di apartement kala itu.

“Apakah kalian ini benar-benar menyukaiku???” ucap SungJong kesal. “Jika Kim Seonsaenim berada disini kalian tidak akan dibiarkan hidup!! Pergilah!!” ucapan itu tentu saja membuat Jaejoong sedikit terkejut, SungJong cukup berani, padahal dia sendiri tahu bahkan mereka itu adalah penjahat berbahaya.

“SungJong-ah….jangan memprovokasi mereka…”

Dua orang itu berjalan begitu cepat menghampiri mereka, otomatis Jaejoong mundur, namun SungJong dengan berani menghadapi mereka. “Kim Seonsaenim benar-benar akan menghabisi kalian!!”

“Lalu panggil dia kemari bocah, kalian sendirian disini!”

“Aku tidak takut! Kalian ini hanyalah pecundang-pecundang yang hanya berani bermain keroyokan!!”

Jaejoong membulatkan matanya kaget, tidak, ini tidak baik. SungJong mungkin tidak menyadarinya, namun orang itu memiliki rencana lain. Dan feelingnya pun seperti menjadi kenyataan ketika salah satu dari namja itu mulai menggerakkan tangan kanannya.

Tanpa berpikir dua kali, Jaejoong segera berlari ke arah mereka lalu menarik tangan SungJong untuk mendorongnya menjauh dari sana. Tepat disaat itu… DUAAAKK! Aaaakkkhh….

Jaejoong merasakan seperti kepalanya dihancurkan dengan benda keras sekali. Rasa sakit tiba-tiba menjalar, tubuhnya tidak bisa seimbang lagi, dan tidak berapa lama kemudian dirinya tergeletak disana.

“Hyung!!!!!” SungJong berteriak kaget dan hendak melangkah mendekat, namun Jaejoong menghentikannya dengan isyarat yang begitu lirih. “P-pergi….p-pergi ke Myungsoo….cari b-bantuan…k-kau harus selamat…..”

SungJong menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa ia meninggalkan Jaejoong sendirian disini, namun…mata Jaejoong terus menatapnya untuk tidak cemas, dan dua orang itu mulai berjalan ke arahnya. Dengan berat hati akhirnya SungJong berlari sekuat tenaganya dari sana.

Rasa sakit yang luar biasa menyerang kepalanya, Jaejoong masih mencoba untuk menatap kepergian SungJong yang dikejar oleh orang itu. Dia benar-benar tidak ingin anak itu terluka, cukup dirinya. Sebuah cairan berwarna merah tiba-tiba mengalir dari kepalanya menuju wajah putihnya.

Pandangan Jaejoong mulai kabur dan mulai menutup matanya. Setidaknya dia sempat merasakan seseorang mengangkat tubuhnya dengan kasar sebelum dia benar-benar kehilangan kesadarannya.

 

-TBC-