∞Where You At∞ #Bonus Part 1

*

*

*

Beberapa tahun yang lalu ~

*

*

 Lonceng tanda jam akan dimulai sudah berdentang beberapa kali. Semua siswa berhamburan masuk ke dalam kelasnya masing-masing untuk menerima pelajaran pertama. Dan sepertinya hari ini suasana sedikit lebih cerah daripada kemarin, karena musim panas ini seakan datang begitu cepatnya. 

“Astaga benar-benar! Aku membenci harus meneruskan tugas ini!” 

Myungsoo yang saat itu mengenakan kemeja rapi dan juga berdasi itu nampak mendorong laptopnya untuk menjauh darinya. Woohyun, Sunggyu, dan Jinki yang berada di samping nya hanya tertawa melihatnya. 

“Ayolah, kau kesini untuk mengerjakan tugas bukan untuk bermalas-malasan…” tegur Woohyun sembari memukul lengan Myungsoo dengan kertas. 

“Dan lagi kau kan disini banyak anak-anak manis yang sering sekali kau goda, apakah itu tidak cukup membuatmu senang?” tegur Jinki. 

Myungsoo merenggut. Mereka adalah mahasiswa yang sedan menyelesaikan penelitian di Kyusung High School, setidaknya sudah hampir seminggu mereka disana. Myungsoo yang memang ingin segera menyelesaikan kuliahnya berusaha untuk membuat tugas ini selesai tepat waktu. Ia benar-benar sudah jenuh. Satu-satunya yang membuatnya terhibur mungkin karena disini banyak sekali anak manis yang bisa ia goda. Playboy sepertinya tentu tidak bisa melihat seseorang yang manis pergi begitu saja.

*

*

Di lain tempat, SungJong, anak yang biasanya paling rajin dan selalu datang pagi-pagi sekali itu terlihat sedang mengunjungi perpustakaan. Beberapa anak lain menyapanya dengan sedikit mengejek karena hari ini SungJong terlihat manis sekali dengan memakai seragam hari selasanya. Namun semua itu hanya gurauan saja, mereka semua teman yang baik untuknya. 

SungJong termasuk salah satu anak yang rajin mengunjungi tempat dimana koleksi buku berada itu. Dan juga hari ini ia sedang mendapatkan perintah dari Seonsaenim untuk membantu para mahasiswa mengerjakan penelitian. 

“SungJong-ah….” Dari balik rak buku muncul seorang namja dengan ceria. 

“Wah Taemin-ah, kau mengagetkanku!” tegurnya. “Sedang apa disini?” 

Taemin segera berdiri di samping SungJong dan merangkulnya. “Membantumu tentu saja, mana tega aku membiarkan sahabatku ini bekerja sendirian…” 

SungJong mencibir dan segera menjitak kepala Taemin. “Bilang saja kau membantuku agar bisa membolos jam pertama…” tebaknya. Dan Taemin hanya meringis tanpa dosa saja mendengarnya. Tidak apa jika Taemin mau membantunya, setidaknya ini bisa segera selesai. 

“SungJong hyung, Taemin hyung…” Dua sahabat itu segera menoleh. 

“Kalian ditunggu untuk bertemu Jung Seonsaenim di laboratorium…” ucap namja itu. Dan SungJong mengiyakan sembari mengucapkan terima kasih. 

“Wahh, Ren benar-benar beruntung kau tahu?”

“Hmm? Memangnya kenapa?” 

“Salah satu mahasiswa itu kan jatuh cinta padanya, dan kurasa mereka sudah berpacaran, mereka sering bersama…” 

SungJong hanya mengangkat bahunya tidak peduli. “Wajar, Ren manis dan juga baik, siapa yang tidak jatuh cinta padanya hmm? Sudah, mari kita ke laboratorium secepatnya…” ajak SungJong. 
*

*

Meskipun sudah seminggu, namun baru kali SungJong bertemu dengan para mahasiswa itu. Mereka terlihat pintar sekali dan penuh wibawa. Suatu saat nanti IA akan menjadi seperti mereka. 

“Baiklah, ini Lee SungJong dan Lee Taemin…jika kalian butuh sesuatu menyangkut sekolah ini, kalian boleh meminta tolong pada mereka berdua..” suara Jung Seonsaenim terdengar. 

SungJong segera membungkukkan badannya. “Annyeong haseyoo..Lee SungJong imnida, aku berada di kelas III-D, kapanpun kalian perlu bantuanku aku akan membantu sebisaku…” 

Para mahasiswa itu menyambut perkenalannya SungJong degan senyum gembira, mereka semua sangat ramah. Namun ada seseorang yang membuat SungJong sedikit merasa berdebar, seorang namja yang menatapnya disana dengan penuh perhatian. Tapi ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah yang lainnya. 
“SungJong-ah tunggu…” 

SungJong menghentikan langkahnya dan berbalik begitu ada yang mendengarnya. Sedangkan Taemin memilih untuk menunggunya di luar. Seorang mahasiswa yang berwajah tampan dan memakai baju paling rapi menghampiri SungJong. 

“SungJong-ah..?” 

“Ne, apakah ada sesuatu yang harus kubantu hyung-nim?” tanya SungJong dengan sopan. 

Namja itu tersenyum sembari mengulurkan tangan. “Kim Myungsoo imnida…” ucapnya, dan SungJong segera membalas uluran tangan itu. “Kau pasti anak pintar, terlihat sekali dari wajahmu, bolehkah kita bertemu saat istirahat nanti? Aku ingin menanyakan perihal anak-anak disini padamu….” Ucap Myungsoo panjang lebar. 

“Ohh tentu hyung..aku sebenarnya berada di kelas III-D tak jauh dari sini, kau bisa ke kelasku nanti, atau aku yang akan kemari…” SungJong tersenyum sopan. 

“Kau tidak perlu repot untuk datang kemari, aku yang akan menemuimu….” Sahut Myungsoo cepat, ia masih belum melepaskan jabat tangannya dengan SungJong. Anak ini benar-benar manis. Namun sepertinya ada yang menarik perhatian SungJong sejak tadi, anak itu terus mencuri-curi pandang ke arah teman-teman mahasiswanya berkumpul. Myungsoo menengok sesaat. 

“Kau ingin berbicara dengan Woohyun?” 

SungJong tergugup. “Ehh?? A-apa?” 

“Iya, kau terus mencuri pandang ke arah Nam Woohyun, apakah kau ingin berbicara dengan temanku itu?” tanya Myungsoo tertawa pelan. Seketika wajah SungJong merona merah. “A-ani, aku tidak…baiklah sampai ketemu nanti hyung…” ucapnya buru-buru. SungJong segera berlari pergi dari menyeret Taemin untuk menjauh. 

Myungsoo menggeleng-gelengkan kepala melihatnya, anak itu manis sekali. Bahkan lebih manis dari anak yang dekat dengannya selama seminggu ini. 

“Astaga Myungsoo-ya, kau memang paling tidak bisa melihat anak yang manis sedikit saja…” celetuk Sunggyu berdecak heran. 

“Anak itu manis sekali, aku suka…” sahutnya sembari duduk disamping Jinki dan menyahut ponselnya “Tapi kurasa anak itu tertarik padamu, Woohyun hyung…” 

Woohyun yang semula sibuk dengan laptopnya segera mendongakkan kepalanya. “Aku? Anak itu tertarik padaku?” 

“Yahh, dia menatapmu terus ketika dia bicara denganku tadi, menyebalkan sekali…” 

“Wooa, apakah kali ini seorang playboy macam Kim Myungsoo kalah dengan Nam Woohyun? Hahhah…” tawa Jinki pecah. 

Myungsoo hanya mengerutu tidak jelas, sementara Woohyun hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali dan tidak begitu tertarik. “Aku tidak memiliki selera dengan anak kecil seperti itu, untukmu saja Myungsoo-ya…” sahut Woohyun. 

“Yaah tentu saja, anak semanis itu setidaknya harus berhasil aku jadikan kekasih..” 

“Dasar bodoh, lalu anak yang kemarin bagaimana? Siapa namanya? Ren?” 

“Aku dan dia hanya bersenang-senang saja, sebelum aku kesini aku sudah mengenalnya…sudah, aku pergi dulu!” Myungsoo segera beranjak. 

Sementara yang lainnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Myungsoo. Namja itu memang playboy, sudah sering sekali ia bergonta-ganti kekasih. Dan parahnya meskipun incarannya Myungsoo itu tahu kalau Myungsoo itu seorang player, mereka tetap saja mau untuk dijadikan kekasih oleh Myungsoo. Yaah, siapa yang tidak jatuh cinta dengan Kim Myungsoo yang tampan dan juga kaya raya, semua ingin menjadi kekasihnya. 

*

*

Seperti rencana awal, setelah istirahat datang, Myungsoo mendatangi kelas SungJong dan menunggunya di depan kelas. Anak itu rupanya kaget karena Myungsoo benar-benar menepati ucapannya untuk datang ke kelasnya. Dan itu adalah kali pertama Myungsoo dan SungJong menjadi dekat. Myungsoo menggunakan alasan penelitian untuk mendekati SungJong. 

SungJong anak yang asik dan juga menyenangkan, Myungsoo terkadang lupa akan waktu ketika sudah mengobrol dengan anak ini. Bahkan tanpa ia sadari akhir-akhir ini ia banyak sekali menghabiskan waktu dengan SungJong, SungJong juga pintar, ia bahkan membantu Myungsoo untuk menyelesaikan beberapa line dari penelitiannya. Anak yang cerdas. 
“Apakah kau menyukai temanku Woohyun?” tanya Myungsoo saat sedang mentraktir SungJong makan siang di kantin. 

“Ne? hyung kenapa kau menanyakan hal itu?” SungJong balik bertanya, mereka berdua sudah sangat akrab sekarang. Bahkan SungJong merasa paling akrab dengan Myungsoo dibandingkan dengan mahasiswa yang lain. 

“Karena aku merasa kau memiliki perhatian yang khusus untuknya, tapi kuberitahu ya, dia itu sudah memiliki seorang kekasih…” 

SungJong tersenyum dan menyeruput Jus lemon nya. “Aku hanya mengaguminya, karena dia terlihat baik…” 

“Lalu aku tidak terlihat baik hmm?” Myungsoo pura-pura cemberut. 

“Kau itu terlalu baik hyung, kenapa kau harus menanyakan itu lagi?” 

“Lalu kau menyukaiku?” 

“Yaah jika kau terus seperti ini mungkin aku akan menyukaimu…” canda SungJong sekenanya. 

Myungsoo tertawa pelan lalu mengacak rambut SungJong pelan. Anak ini benar-benar manis dan dia menyukainya. SungJong juga membuatnya nyaman dan betah untuk melakukan tugas akhir ini. 

“Nanti siang jangan pulang dulu, aku akan mengantarmu…” Myungsoo kembali menyeletuk. 

“Ahh tidak perlu aku bisa pulang sendiri…” 

Myungsoo menggeleng. “Aku tidak menerima penolakan anak manis, anak semanis dirimu tidak boleh pulang sendiri, bagaimana jika ada yang menculikmu hmm??” 

“Isshh hyung kau memperlakukanku seperti anak kecil, aku ini sudah besar!” renggutnya. 

“Uhh baiklah anak kecil yang sudah besar, tapi aku tetap akan mengantarmu pulang nanti…” 

“Baiklah, kau memang keras kepala hyung…” 

*

*

*

“Siapa yang mengantarmu tadi?” 

SungJong baru saja mendudukkan diri di sofa ruang tengah sembari melepas sepatunya sedikit kaget dengan teguran itu. “Ohh hyung…kau mengagetkanku, kapan kau pulang?” dia balik bertanya. 

Namja yang berpostur lebih tinggi itu terlihat bersedekap tangan dan menatap dongsaengnya itu penuh selidik. “Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” 

“Dia hanya teman, maksudku senior….” 

“Senior bagaimana hah? Bukankah kau ini sudah kelas III? Kenapa bisa memiliki senior?” 

“hyung..dia itu mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di sekolahku, aku hanya membantunya saja, seonsaenim yang menyuruhku…” jelas SungJong. 

Namun namja itu kelihatannya masih tidak percaya dengan ucapan SungJong, matanya menatap masih dengan tatapan selidik. “Apakah kau berpacaran dengannya?” 

“Astaga, Sungyeol hyung…aku tidak melakukannya, bukankah kau melarangku untuk berpacaran, dan aku tidak melupakan laranganmu itu!” 

“Aku tidak melarangmu untuk berpacaran, aku hanya ingin kau belajar dahulu dan pikirkan prestasimu!” 

“hyung, aku sudah melakukannya, dan aku tidak pernah berhenti belajar karena kau yang menyuruhku, tapi kenapa hari ini kau datang langsung memarahiku? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Aku hanya pulang dengan diantar oleh senior-ku dan kau langsung marah? Hyung…aku juga butuh berteman dengan orang lain…” 

Sungguh, SungJong manatap hyung nya itu dengan pandangan yang sangat tidak mengerti, dia terlalu memberikan perlindungan yang lebih terhadapnya, Sungyeol melarangnya ini dan itu. Ketika hyung itu sedang berapa di luar kota beberapa waktu yang lalu dia merasa sedikit bisa bernafas lega karena tidak ada yang mengaturnya. 

“Pokoknya, aku tidak mau kau bergaul dengan orang-orang yang salah, apalagi sampai berpacaran! Kau harus hidup normal!” 

“Tapi…apa yang salah?? Memang benar aku tidak menyukai yeoja tapi selama ini aku belum berani untuk berpacaran dengan siapapun, hyung kau terlalu berlebihan!” 

“Aku berlebihan kau bilang?? Aku melakukan semua ini demi kebaikanmu dan kau bilang aku berlebihan??” SungJong sudah menaikkan nada bicaranya, pertanda dia sedang marah. 

“Benar! Kau berlebihan hyung!” balas SungJong. “Aku juga ingin seperti lainnya, bebas, tidak kau atur seperti ini, kumohon mengertilah…aku selalu menurutimu selama ini…” 

“Tapi kau sudah melawanku hari ini!!” 

Sebuah suara yang besar dan berat namun penuh wibawa menyela. “Kenapa kalian bertengkar? Apa yang terjadi kali ini??” 

Kedua saudara itu menoleh dan mendapati kedua orang tuanya baru datang dari kantor. “Aboeji…” sapa SungJong membungkuk hormat. Mr Lee hanya tersenyum kemudian mereka berdua mendekat. 

“Kenapa kau memarahi dongsaeng mu seperti itu Sungyeol-ah? Dia sudah banyak belajar akhir-akhir ini…” ucap Mr Lee sembari mengelus kepala SungJong. 

“Anak ini pulang bersama dengan seorang namja, aku yakin itu kekasihnya…!” 

SungJong dengan cepat menggeleng. “Bukan aboeji, dia hanya temanku…” jelasnya. 

“Dan lagi biarkan saja jika itu memang kekasihnya Sungyeol-ah…” sahut Mrs Lee. 

“Tidak Eomma! Anak ini tidak boleh berpacaran dahulu, bagaimana jika sampai tidak bisa menahan dirinya, SungJong itu mempunyai….” 

“Sungyeol-ah hentikan…” cegah Mr Lee. “Nah SungJong-ah, hyung mu ini hanya terlalu cemas dengan dirimu, kau jangan salah paham yah, segera minta maaf pada hyung mu dan istirahatlah…” 

SungJong pada dasarnya anak yang penurut, ia segera meminta maaf pada Sungyeol lalu pamit untuk masuk ke dalam kamarnya di lantai dua. Samar-samar SungJong dapat mendengar aboeji nya menegur Sungyeol karena telah memarahinya tadi. Dan SungJong seperti biasa berpura-pura tidak tahu dan membiarkan semuanya seperti itu. 

Yang pasti sekarang SungJong benar-benar merasa bosan, dia sudah menuruti mereka semua, namun sepertinya apa yang ia lakukan masih selalu salah di mata hyung nya. Meskipun di depannya SungJong tidak bisa untuk melawan namun sebenarnya dia sakit setiap kali bertengkar dengan hyung-nya. 

Dering ponselnya membuyarkan semua lamunannya. Dari layarnya tertera nama yang membuatnya tiba-tiba tersenyum senang entah kenapa. “Yeoboseyo… Myungsoo hyung…ada apa?” sapanya. 

“SungJongie…” terdengar suara dari seberang sana. “Kau sedang apa? Aku tiba-tiba ingin bertemu denganmu…” 

“Dasar, kita baru saja bertemu 30 menit yang lalu hyung…” 

“Hmm….kau sedang apa? Bagaimana kalau kita jalan?” 

SungJong terdiam sejenak. Selama ini setiap kali pulang sekolah SungJong akan selalu di kamar, belajar. Hari ini ia benar-benar suntuk dengan semua yang terjadi, pertengkaran dengan hyung nya adalah puncaknya. Sesekali tidak bolehkah ia keluar rumah untuk melepas lelah? 

“SungJongie…kenapa diam?” 

“Hmmm baiklah hyung, jemput aku…” 

“Dengan senang hati manis….” 

*

*

*
Dan disinilah akhirnya SungJong bersama dengan Myungsoo berjalan-jalan. Myungsoo mengajaknya ke sebuah Mall yang dia bilang itu milik aboejinya, mereka dapat makan dan bermain dengan gratis disana. Seumur hidupnya SungJong belum pernah merasakan bermain di luar bersama seseorang seperti ini. karena kamar adalah hidupnya, dan semua buku-buku adalah temannya. Hari ini Myungsoo memberinya pelajaran yang begitu banyak. 

Selain itu Myungsoo juga nampak sangat baik dan perhatian, SungJong mulai merasa nyaman. Pada awalnya dia memang lebih tertarik pada teman Myungsoo, Nam Woohyun, namun semakin kesini pandangannya pada Woohyun mulai pudar dengan semua kebaikan Myungsoo itu. Ia tidak tahu sebenarnya apa maksud Myungsoo berbuat seperti ini padanya, namun selama itu tulus SungJong tidak pernah mempermasalahkannya. 

Satu yang SungJong tahu lagi, sikap Myungsoo sangat berbeda ketika ia berbicara dengan orang lain. Ketika dengannya ia begitu hangat dan juga lembut, namun ketika berbicara dengan beberapa orang yang menyapanya tadi yang Sungjong tahu mereka adalah karyawan aboejinya, Myungsoo menjawabnya dengan benar-benar dingin dan acuh. Tak hanya itu, ia juga bertemu dengan teman sekelasnya, namun Myungsoo hanya menyapa seperlunya saja, sangat dingin dan acuh. 

“Kau ingin kemana lagi?” tanya Myungsoo sembari menarik tangan SungJong dan menggenggamnya. SungJong sedikit terkejut menerimanya. Jantungnya berdebar keras dengan tiba-tiba. “Kau ingin berjalan-jalan lagi?” tanyanya lagi. 

“Ohh….” Namja manis itu segera melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul lima lebih. “Tidak hyung, pulang saja, aku takut dimarahi…” 

“Astagaa…kau ini sudah besar, tidak masalah jika pulang lebih lama, kau juga butuh untuk refreshing…” 

“Mungkin lain kali hyung…aku benar-benar tidak ingin bertengkar dengan kakak ku lagi….” 

Myungsoo merenggut dan akhirnya tidak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan itu. Perlahan-lahan, mendekati SungJong memang harus secara pelan. Dia bukan seperti namja yang dengan mudahnya ia dapatkan seperti yang lain. Hal ini membuat Myungsoo merasa tertantang. 

Ketika sampai di gerbang Rumah SungJong jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, Myungsoo sengaja memperlambat mengemudinya untuk bisa berlama-lama dengan namja itu, dan sepertinya SungJong tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka banyak bercerita juga selama dalam perjalanan. 

“Baiklah…sampai jumpa besok hyung…..” 

“Chakkaman….” Myungsoo menahan tangan SungJong dengan sedikit menariknya sehingga namja itu kembali terduduk dan menghadap ke arahnya. Pandangan mereka beradu untuk beberapa saat. Myungsoo baru menyadari bahwa anak ini mempunyai mata yang berbinar indah, wajahnya begitu manis dan membuatnya takjub. Oh jangan lupakan bibir mungilnya yang masih polos, Myungsoo menelan ludahnya tanpa ia sadari. Bagaimana jika ia mencium bibir manis itu? Tentu akan membuatnya merasakan sensasi yang beda. 

Sementara SungJong merasakan perasaan yang hampir sama, baru kali ini ia benar-benar merasa berdebar. Wajah Myungsoo begitu tampan dengan tatapan tajamnya itu. Myungsoo orang pertama yang memberikan perasaan tak menentu seperti ini. 

SungJong merasakan darahnya berhenti mengalir ketika Myungsoo mendekatkan wajahnya perlahan-lahan kemudian sebuah benda basah menempel di bibirnya. Untuk beberapa saat SungJong terdiam kaku, Myungsoo menciumnya!! Ciuman pertamanya!! Astaga, perasaan campur aduk mulai bergejolak dalam hati SungJong. Berani sekali namja ini menciumnya? 

Untuk beberapa saat kemudian SungJong tersadar lalu mendorong tubuh Myungsoo dan menyentuh bibirnya. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. 

“Oh…Maafkan aku…” ucap Myungsoo mengawali pembicaraan. 

“A-aku…masuk dulu hyung, sampai jumpa besok…” 

Tanpa menunggu persetujuan Myungsoo, SungJong segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Entah perasaan apa ini namun perasaan bahagia ini terasa lebih menyenangkan dibandingkan ketika ia mendapatkan nilai yang bagus. 

Sampai di kamar, SungJong segera menghempaskan dirinya ketempat tidur dan memeluk bantalnya. Apa yang telah ia lakukan dengan Myungsoo hari ini membuat ia tersenyum-senyum mengingatnya. Sungguh dia tidak ingin kebahagiaannya ini rusak. 

*

*

*

“Myungsoo-ya, kau bisa pergi ke kampus hari ini?” tanya Woohyun. 

“Kenapa?” 

“Ambil berkas dari Minho, aku tidak bisa pergi karena harus disini…” 

“Aku juga tidak bisa…” 

Woohyun menarik nafas panjang dan serasa ingin menjitak keras kepala Myungsoo. Anak ini juga sudah mulai bersikap cuek akan sangat menyebalkan seperti ini. Baiklah Woohyun akan mengalah dan pergi saja sendiri nanti setelah urusannya selesai. 

Myungsoo terlihat asik memainkan ponselnya, dia bisa santai karena tugasnya telah usai. Woohyun mau tidak mau juga merasa kagum dengan temannya itu karena selalu menyelesaikannya tepat waktu. 

“Ohh annyeong…” sapa Woohyun tersenyum. Seorang anak berseragam bertubuh kecil, rambutnya pirang dan memiliki wajah yang manis terlihat masuk ke dalam ruangan mereka. Ketika Woohyun menyapanya anak itu segera membungkuk sopan. “Annyeong sunbae….” 

“Ada apa? Kau ada perlu dengan kami, Ren?” 

Mendengar hal itu Myungsoo segera mengangkat kepalanya dan menoleh, senyumnya tiba-tiba merekah. Namun dia masih belum bersuara. 

“Aku ingin berbicara dengan Myungsoo sunbaenim…” jawab namja itu dengan sedikit terlihat gugup. 

“Ahh tentu saja…kalau begitu aku pergi dulu…” ucap Woohyun. “Aku akan ke kampus menemui Minho, dua jam lagi aku kembali dan pastikan kau tidak kemana-mana Myungsoo-ya…” 

Myungsoo menanggapi nya hanya dengan anggukan kecil saja. Woohyun pergi dan Ren berjalan mendekat ke arah Myungsoo. 

“Jadi…apa yang ingin kau bicarakan denganku hmm?” tanya Myungsoo sembari menarik pinggang Ren hingga tubuh namja itu terjatuh dalam pangkuannya. 

“Astaga hyung! Bagaimana jika ada yang melihat?” Ren mencoba untuk berdiri dan melepaskan tangan Myungsoo namun namja itu malah mendekap pinggangnya erat. “Hyung…” 

Myungsoo tersenyum. “Kenapa? Ada sesuatu yang ingin kau katakan?” 

“Aku belum mengerjakan tugasku, aku ingin meminta tolong…” jawab Ren yang kini sudah berani untuk mengalungkan tangannya pada leher Myungsoo. 

“Tugas? Kau kan bisa datang ke rumah kemarin seperti biasanya? Kenapa kau tidak datang?” 

“Bagaimana bisa, kau tidak ada di rumah kemarin, hanya ada Kim ahjussi, aku tidak mau dimarahi lagi olehnya….” 

Senyuman Myungsoo mulai mengembang lalu ia menarik wajah namja itu dan mengecup keningnya. Benar sekali kemarin dia seharian bersama dengan Lee SungJong dan tidak memberi kabar pada Ren sama sekali. “Maafkan aku, okey? Jadi, sebelum mengerjakan tugas setidaknya aku meminta jatahku dulu…” pinta Myungsoo menggoda. 

“Astaga…ini di sekolah…bagaimana jika ada yang melihat? Kau benar-benar tidak tahu waktu…” 

“Lalu…kau bisa datang ke apartementku malam ini hmm? Aku mungkin akan meminta nya dua kali lipat…” 

Ren bergidik ngeri. “Tidak, aku besok ada pelajaran olahraga!” 

“Dasar anak kecil..pokoknya nanti malam aku menunggumu, kau harus datang, jika tidak aku akan menjemputmu paksa!” 

“Kau seperti seorang penjahat hyung, bagaimana kau memperlakukan kekasihmu nanti?”

“Kekasih? Aku tidak ingin memiliki kekasih, aku masih ingin bebas, dan lagi aku masih mempunyai dirimu, aku tidak butuh yang lain…” 

Ren tersenyum lalu mengeratkan pelukannya pada leher Myungsoo. Dan Myungsoo pun dengan senang hati memanjakan anak ini. Mereka berdua bukanlah sepasang kekasih namun Myungsoo selalu memperlakukan namja ini seperti kekasihnya, apapun yang diminta olehnya akan selalu Myungsoo berikan. 

“Jangan mencoba untuk mencari kekasih tanpa seizinku, okey!” ucap Myungsoo sembari mencium pucuk hidung Ren. Dan Ren kembali tersenyum melihatnya, senyum Ren selalu nampak manis seperti biasanya. 

Terlalu asik membelai dan juga mencium wajah Ren, mata Myungsoo tidak sengaja menangkap sosok yang berdiri di depan pintu sana, mematung. Mata mereka bertemu, dan Myungsoo seolah merasakan berdebar dan darahnya berhenti mengalir. “SungJong-ah…” gumamnya. Namun namja mungil disana nampak buru-buru berbalik dan pergi dari sana. 

“Kenapa hyung?” tanya Ren saat tiba tiba Myungsoo mengangkat tubuhnya dan membuatnya berdiri. 

Myungsoo tersenyum kemudian menyentuh wajah Ren. “Kita lanjutkan nanti malam yah, aku tunggu di apartementku, sekarang…ada sesuatu yang harus ku lakukan…” ucapnya. Dan Ren hanya mengiyakan saja, setelah memberikan kecupan pada pipinya, Myungsoo segera pergi dari sana. 

*

Sebenarnya Myungsoo tidak tahu kenapa ia melakukan ini, namun ia dengan cepat mencari kesekeliling, matanya dengan cepat menemukan sosok yang ia cari berjalan di koridor hendak pergi. Namja itu sesaat tersenyum kemudian menyusul dengan langkah cepatnya lalu mengimbangi jalan dengan namja manis itu. 

“Kenapa kau tadi langsung pergi?” tanyanya. 

Tetapi namja terlihat tidak menyahut dan terus menunduk. Myungsoo merasa semakin tertantang dan mencoba kembali bertanya, tapi masih tetap sama. Dan SungJong terlihat masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah yang cepat, Myungsoo masih bisa untuk mengimbanginya dan terus mengikuti namja itu. 

Myungsoo berdiri di sampingnya, SungJong mulai menyalakan wastafel lalu membasuh tangannya, kemudian dengan satu percikan ia membasuh wajahnya. Myungsoo tertegun, jantung berdegub keras, anak ini manis sekali, dia belum pernah merasakan perasaan yang seperti pada siapapun yang pernah ia kencani. 

Ia kemudian tersenyum lalu turut menyalakan wastafel. “Kenapa kau mengacuhkanku?” tanya Myungsoo. 

“hmm…” 

“Tidak mau bicara?” 

“hmm…” 

Lalu dengan gerakan cepat, Myungsoo menyambar pinggang SungJong, mengangkatnya lalu mendudukkan nya di dekat wastafel. Tentu saja SungJong menerima semua itu begitu terkejut menerima semua itu, wajahnya memerah. “Myungsoo hyung…apa yang kau lakukan….” Ucapnya sembari berusaha untuk turun, tetapi Myungsoo menahan tubuh SungJong dengan menggunakan tubuhnya dan memegang pinggangnya. SungJong tidak bisa menolak kecuali meletakkan tangannya pada bahu Myungsoo untuk menjaga jarak tetap aman. 

“Kau mengacuhkanku…ada apa?” 

“T-tidak….aku tidak melakukannya…” 

Myungsoo tersenyum lalu kembali mendekatkan tubuhnya hingga saat ini tubuhnya berada di antara kaki SungJong, dan kaki SungJong terlihat seperti melingkari pinggangnya. 

“Dia tadi Ren…kau pasti mengetahuinya, dan kau harus tahu…aku mengenalnya sudah cukup lama…dan dia sudah seperti saudara ku sendiri…” ucapnya mencoba untuk menjelaskan. Tetapi, saudara? Myungsoo merasa bersalah telah mengatakan itu. 

“I-itu bukan urusanku, kenapa kau memberitahukannya padaku?” 

Myungsoo mendekatkan wajahnya dengan menggoda. “Karena kulihat anak kecil ini cemburu…benar kan?”

“Aku tidak cemburu, untuk apa aku cemburu?” bantahnya sambil mengalihkan pandangannya dari Myungsoo. “Dan biarkan aku pergi…jebal..” 

“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau percaya padaku hmm, jangan pernah cemburu dengan Ren okey?” 

“A-arra….” 

“Sepertinya kau belum mengerti….” Myungsoo mendekatkan tubuhnya lagi dengan mencengkeram pinggang SungJong dan menatapnya lekat. Namja yang ditatapnya benar-benar memerah dan salah tingkah berusaha menghindar.

Namun bukan Myungsoo kalau menyerah, dia benar-benar memastikan SungJong tidak bisa lepas darinya dan melihat hanya kepadanya. “Dengar, aku tertarik padamu sejak kita pertama kali bertemu…dan kau tidak perlu meragukan apa maksud dan tujuanku mendekatiku!” 

“hyung….” SungJong tercekat, sepertinya dugaannya terhadap Myungsoo benar. 

“Kau mengerti?” desak Myungsoo, dan SungJong hanya mengangguk masih tersipu. “Jika kau mengerti…kau masih ingin cemburu dengan Ren?” 

“Aku…” 

“Kau ragu…?” 

“A-aku….” 

Tidak membiarkan SungJong terlalu lama untuk menjawab, Myungsoo kemudian menarik pinggang SungJong dengan keras hingga namja itu mau tidak mau mengalungkan tangannya pada leher Myungsoo. Belum sempat SungJong mengetahui apa yang terjadi, Myungsoo dengan cepat menyambar bibir SungJong dan menciumnya juga melumatnya cepat. 

“Hmmph…” Refleks SungJong menarik wajahnya memutuskan pagutan mereka dan membulatkan mata kaget. 

Myungsoo hanya tersenyum saja kemudian mendorong tengkuk SungJong hingga bibir mereka kembali menyatu dan menciumnya panas. Sebenarnya SungJong mencoba untuk menghindar dengan mendorong pelan dada Myungsoo, namun bagaimanapun keinginan dan kekuatan Myungsoo lebih besar dari pada SungJong. Hanya beberapa detik saja SungJong sudah menyerah dan akhirnya menerima perlakuan Myungsoo itu. Myungsoo benar-benar pandai dalam hal ini. Sementara bibirnya fokus menyesap dan menikmati bibir SungJong, tangannya beralih ke punggung SungJong dan membelainya sedikit menggoda. SungJong benar-benar hampir tak bisa menahan sensasi yang di berikan oleh Myungsoo. Ciuman Myungsoo yang awalnya lembut dan dengan tempo pelan, kini berubah menjadi menuntut dan cepat, lidahnya memaksa dan menyeruak masuk ke dalam mulut SungJong.

“Hmmph..” SungJong tercekat dan mencengkeram baju Myungsoo dengan erat. Myungsoo benar-benar menikmati habis bibirnya dengan ciuman yang memabukkan ini . 

Bibir Myungsoo telah bergerak dari bibir SungJong lalu mencium pipi SungJong, kemudian telinganya dan terakhir ia menghentikan penelusurannya dan menenggelankan wajahnya pada ceruk leher SungJong, mencium dan juga menyesap kulit putih itu dengan penuh gairah. 

“Ahhk…” satu desahan lolos, SungJong mengeratkan pegangannya pada leher Myungsoo, kepalanya terdongak ke atas dengan mata terpejam dan bibir sedikit terbuka. Myungsoo kemudian menarik wajahnya dari sana dan menatap wajah SungJong, keadaan SungJong saat ini benar-benar menggoda untuknya. Benar-benar manis dan juga menggairahkan. Myungsoo benar-benar ingin menjadikan namja ini sebagai miliknya. 

Namun…jika tidak secara perlahan mungkin ia akan gagal, masih terdapat banyak sekali cara untuk mendapatkannya secara perlahan. Myungsoo kemudian tersenyum dan mengelus wajah SungJong lembut. Wajah polos namja ini benar-benar membuat Myungsoo merasa gemas dan ingin sekali memilikinya. Entahlah ia sekedar bermain-main seperti biasanyanya atau memang itu perasaan yang tulus. 
*

*

*

“Wooah, makanan sebanyak ini, siapa yang memesan?” decak Woohyun dengan kagum. Jinki menepuk bahu Myungsoo pertanda bahwa Myungsoo yang menyiapkan semua ini. Namun Myungsoo hanya acuh dan mengangkat bahunya ringan tak peduli. 

Mungkin ini memang bukan yang pertama kali nya, tetapi setiap Myungsoo membuka dompetnya dan membelikan mereka semua makanan yang lezat tentu saja merupakan hari keberuntungan bagi mereka. 

“Yaa! Pesta nanti malam jadi kan?” tanya Minho sembari memandang teman-teman mereka. 

“Jadi tentu saja…” Jinki menyahut. “Aku benar-benar sudah stres, mungkin satu-satu nya pelepas lelah hanyalah pesta itu…” 

Yang lainnya kecuali Myungsoo segera mengiyakan ucapan itu. Sebagai mahasiswa yang terkadang stres dengan urusan kampus, mereka juga terkadang akan bersenang-senang dengan mengadakan pesta. 

“Myungsoo-ya, kau ikut?” 

“Hmm…Entah…” jawabnya malas-malasan. 

Minho mencibir. “Ciih, kau sekarang tidak asik sekali, kau pengecut…” ucapnya yang memang terkadang bentrok dengan Myungsoo. 

“Aku hanya sedang tidak ingin…” 

“Kau tidak ingin atau kau tidak punya mangsa baru?” 

“Aku punya…” 

“Lalu? Kau sudah tidak berani melakukannya lagi? Ahaha kau memang pengecut Myungsoo-ya….” 

Myungsoo menutup bukunya dengan kasar mulai kesal. Lama-lama ia pun juga terpancing dengan semua ucapan Minho. “Aku tidak pengecut, aku bisa memacari siapapun dan menyentuhnya kapan pun aku mau, kau jangan berani-berani nya meremehkanku!!” 

“Kalau begitu tunjukkan padaku!” tantang Minho. “Kurasa kau memiliki mangsa baru, aah siapa itu? Lee SungJong?” 

“Apa maksudmu?” Myungsoo tak mengerti. 

“Jika malam nanti kau bisa mengajaknya ke pesta dan menidurinya, kau benar-benar namja yang hebat, aku akan mengakui keberanianmu!” 

Sorot mata Myungsoo sedikit terkejut. “Kenapa harus Lee SungJong? Aku bisa dengan Ren, jika perlu aku akan merekamnya dan memperlihatkan pada kalian semua,oh atau aku akan melakukannya di depan kalian?” ucap Myungsoo, namun Minho menggelengkan kepalanya dengan cepat. 

“Ren? Astaga, kami sudah bosan melihatmu dengan anak itu, sudah terlalu biasa, kami ingin yang berbeda, sepertinya Lee SungJong itu anak yang cukup susah…” celetuk Minho lagi. 

“Kurasa benar…” Jinki menambahi. “Pasti akan seru sekali…” 

“……….” 

“Bagaimana Myungsoo-ya??” 

“………..” 

“Kau takut?” 

Myungsoo cepat menyahut. “Aku tidak takut! Sejak kapan aku takut hah??” 

“Kalau begitu, nanti malam…kau harus bisa meniduri anak itu, apakah kau berani??” 

“Tentu saja aku berani, apa yang harus aku takutkan? Kalian lihat saja, nanti malam aku akan membawa anak itu ke pesta kita, dan mengajaknya ke tempat tidur, siap-siap kalian harus memanggilku boss dan menuruti semua perintahku!” 

Semuanya tertawa pelan dan menyetujui ucapan Myungsoo barusan, sepertinya malam ini akan terjadi sesuatu yang menarik. 

“Tunggu…” Woohyun menyela, sedari tadi memang hanya dia yang nampaknya sedikit tidak menyukai kegiatan gila itu. “Apakah kau tidak merasa ini keterlaluan? Dia anak yang baik, kau tega merusaknya?” 

“Ayolah Woohyun-ah…” ucap Minho. “Kita sudah sering melakukan hal ini, dan kenapa baru kali kau seperti ini hmm? Kau menyukai anak itu? Hey,, kau sudah punya kekasih…” 

“Tidak bukan itu…tapi..aku hanya merasa dia anak yang baik, aku tidak peduli jika itu Ren maupun Baekhyun seperti yang kalian lakukan dulu karena mereka juga menyukainya, namun….SungJong berbeda…” 

Myungsoo mendesah pelan dan segera mencomot sebatang rokok dari tangan Minho. “Apapun yang terjadi aku tetap akan melakukannya, kau jangan ikut campur..” 

Dan Woohyun hanya menarik nafas panjang, dia tidak bisa melawan kehendak sahabatnya yang rata-rata mereka anak dari orang kaya, yang apapun keinginan mereka harus terpenuhi. Dan jika Woohyun tahu apa yang akan terjadi di masa depan, mungkin ia akan menghentikan Myungsoo. 

*

*

*

*

*

-tbc- 

Iklan

∞Where You At∞ #Chapter3

*

*

*
*

*

Mata kecil Kyungsoo terlihat bingung ketika melihat SungJong yang saat ini tengah mengemas dan membersihkan kamarnya dengan sangat rapi. Sebenarnya dia merasa ada yang aneh dengannya sejak semalam, namun bukan aneh yang menyebalkan bagi Kyungsoo. Tapi, SungJong lebih terlihat bahagia dan penuh dengan senyuman.

SungJong bahkan memasak banyak makanan hari ini dan juga semua makanan kesukaannya. Okey, kyungsoo mulai curiga, jika ini ada hubungannya dengan Hoya dia benar-benar akan membuang semua makanannya itu, atau mungkin Kyungsoo akan kabur saja dari rumah.

“Eomma, Apakah Paman Hoya akan datang kemari??” akhirnya Kyungsoo tidak bisa menahan rasa penasarannya.

SungJong tersenyum dan menyahut tanpa menghentikan aktifitasnya. “Kenapa kau berpikir seperti itu sayang?”

“Kau mencurigakan!” ketusnya. “Aku akan pergi dari rumah kalau sampai kau merencanakan untuk menikah dengan Paman Hoya…”

“Aigoo, anak kecil ini benar-benar menggemaskan, kemarilah…”

SungJong menarik Kyungsoo untuk mendekat, dia merapikan baju anak itu kemudian mengelus kepalanya. Namja itu memang belum menceritakan semuanya pada Kyungsoo perihal aboejinya, dia belum memiliki waktu yang tepat. Berbagai kemungkinan buruk selalu saja hadir di kepalanya…

“Tampan sekali, anak siapa ini hmm…” ucapnya sembari menarik hidung Kyungsoo pelan.

“Kau semakin mencurigakan Eomma!”

“Benarkah? Lalu Eomma bisa apa kalau kau curiga seperti ini…”

“Astaga Eomma! Jika ini menyangkut Paman Hoya aku benar benar tidak….”

“Kurasa Paman Myungsoo akan kesini sebentar lagi…”

Mendengar nama itu mata kecil Kyungsoo tiba-tiba membulat dan lebih berbinar senang. “Paman Myungsoo? Benarkah? Untuk apa dia kemari? Dan kenapa bisa?”

“Hmm…kenapa tidak kau tanyakan sendiri padanya nanti?”

Kyungsoo terlalu senang untuk kembali bertanya yang macam-macam. Detik selanjutnya ia terlihat benar-benar menunggu dengan tidak sabar. Dia mengatakan pada SungJong jika Myungsoo itu orang yang sangat baik, juga orang yang sudah mengajaknya berkeliling Mall beberapa waktu yang lalu.

SungJong hanya tersenyum menanggapinya, anaknya itu bukan seseorang yang mudah dekat dengan orang lain. Dengan Hoya saja sampai sekarang ia masih tidak begitu menyukainya, padahal Hoya selama ini juga selalu baik padanya. Tapi sepertinya Kyungsoo tidak pernah melihat kebaikan Hoya itu.

Tak lebih dari lima belasan menit, Myungsoo datang, seperti apa yang diperkirakan SungJong, namja itu membawa banyak sekali sesuatu untuk Kyungsoo,mainan dan juga baju. SungJong hampir tidak saling menyapa dengan Myungsoo karena Myungsoo langsung berhambur menghampiri Kyungsoo dan mendengarkan ocehan Kyungsoo.

Namja manis itu kembali tersenyum melihat mereka berdua, rasa takutnya akan Kyungsoo nanti yang tidak bisa menerima Myungsoo perlahan memudar. Kyungsoo anak yang baik, ia yakin semua hal menakutkan yang ia pikirkan tidak akan terjadi.

“Kau belum menyapaku dengan hangat…” Myungsoo melingkarkan tangannya pada pinggang SungJong dari belakang dan mendekapnya erat. Saat ini Kyungsoo baru pergi ke kamarnya untuk menyimpan mainan karena Myungsoo yang menyuruhnya.

“Hey, bagaimana jika Kyungsoo melihat?” tegur SungJong sedikit cemas.

“Memangnya kenapa?”

“Dia tidak suka ketika aku dekat dengan seseorang seperti ini…”

“Itu artinya kau pernah melakukan hal seperti ini dengan orang lain?”

“Ya, dengan Hoya hyung…”

Myungsoo merenggut kemudian mempererat dekapannya pada SungJong. “Dan kurasa memang Kyungsoo tidak ingin kau bersama dengan Hoya, baiklah, dia menjaga dirimu selama aku tidak ada…” ucapnya lalu mengecup bahu SungJong. SungJong terdiam, selain harus menjelaskan siapa Myungsoo pada Kyungsoo, sepertinya pada Hoya tadi juga menjadi masalah.

SungJong benar-benar ragu, Hoya selama ini selalu menunggunya, dan selalu bersikap baik, bagaimana dia bisa mengatakan semua itu? Ahh tiba tiba semuanya menjadi rumit.

“Paman aku udah selesai…oh…”

Mendengar suara Kyungsoo yang telah kembali, Myungsoo segera melepaskan pelukannya dan tersenyum menghampiri Kyungsoo. Anak itu semula terkejut dengan apa yang ia lihatnya, namun itu tidak berlangsung lama karena dia segera menggandeng tangan Myungsoo untuk ke meja makan, sepertinya ia tidak mempermasalahkan dengan apa yang baru saja Myungsoo lakukan pada SungJong.

Perasaan SungJong tidak membaik melihat hal itu, dia benar-benar memikirkan sesuatu yang menakutkan. Semalaman ini bahkan ia tidak membalas pesan Hoya sekalipun. Tapi….dia sungguh tidak memiliki perasaan apapun terhadap namja itu kecuali sebatas hyung saja, dan satu-satunya orang yang ia cintai hanyalah Myungsoo, bagaimanapun brengsek nya dia dahulu.

“Eomma, kau kenapa? Kau tidak ingin makan dengan kami?’ tegur Kyungsoo melihat SungJong yang mematung tak bergerak.

Myungsoo menengok dan melihat SungJong memang tiba-tiba berubah menjadi murung, ia memang mengatakan tidak apa-apa tetapi Myungsoo bisa melihatnya. Yaah mungkin dirinya menjadi salah satu penyebabnya. Hati Myungsoo bertekat akan menebus semua kesalahannya itu, membahagiakan mereka, dan juga memberikan mereka semua hal yang terbaik. Meskipun nanti aboeji nya menentang, Myungsoo tidak peduli.

.

“Myungsoo hyung…”

Kyungsoo sudah izin untuk pergi mengikuti kelas tambahan, dan Myungsoo masih bersama SungJong disana. Ia hari ini meminta Woohyun untuk mengurus urusan pekerjaannya, rasanya tidak cukup jika hanya bersama dengan SungJong sebentar saja.

“SungJong-ah…kau kenapa baby? Kenapa kau murung? Apakah ini tentang Kyungsoo…?” tanya Myungsoo sembari menghentikan kegiatan SungJong dengan menggenggam tangannya.

“Aku memang belum memberitahukan pada Kyungsoo siapa dirimu, mianhae…”

Myungsoo tertegun, sepertinya bukan itu yang membuat SungJong murung, tapi ada hal yang lain. Apakah mungkin namja ini masih meragukan dirinya? Jika dilihat dari keadaannya sekarang, sudah semestinya SungJong membenci dirinya lebih dalam. Keadaan mereka benar-benar tak layak, terkadang Myungsoo berpikir bagaimana bisa SungJong yang berasal dari keluarga berada hidup sendirian dalam keadaan seperti ini.

SungJong terlihat mengetukkan jarinya beberapa kali mengetukkan jemari nya kemudian menatap Myungsoo. Sorot matanya menyiratkan kegundahan luar biasa. “Sekarang jujur padaku hyung…”

“Hhmm?” Myungsoo menatapnya.

“Selama aku pergi setidaknya selama tujuh tahun ini…apakah kau pernah memikirkan bagaimana aku dan keadaanku?”

“Aku sudah mengatakan padamu, aku mencari mu kemana-mana dan…”

SungJong cepat menggeleng. “Bukan itu…tapi, pernahkan kau berpikir sekali saja bahwa apa yang aku katakan padamu itu adalah benar, tentang keadaanku….yang saat itu…kau tau sendiri…” SungJong bahkan tidak berani untuk meneruskan. Dan hal ini membuat Myungsoo sedikit terkejut juga, selama ini dia selalu menganggap apa yang dikatakan oleh SungJong itu hanya lelucon, sampai akhirnya dia bertemu dengan Kyungsoo.

Namun…Sebenarnya dia pernah menceritakan masalah itu pada Key, kekasih Woohyun. Dan namja itu mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh SungJong itu mungkin saja benar karena sepertinya Key pun juga sama.

“Baby….” Myungsoo meraih tangan SungJong namun SungJong menghindarinya dan terlihat lebih mendesak jawaban Myungsoo.

“Aku tahu aku salah baby, saat itu aku mungkin saja percaya padamu, tapi aku takut jika aku menerima mu semua akan hancur, aku saat itu sedang dipersiapkan aboeji untuk menggantikan dia menjadi presdir, jika satu saja kesalahan dariku maka aku sudah pasti akan hancur juga…”

Entah kenapa hati SungJong tiba-tiba menjadi sakit. Dia bahkan sudah kehilangan segalanya demi mempertahankan anak dari Myungsoo, namun Myungsoo sendiri…

“Tapi setelah kau pergi…aku benar-benar menyesal baby, aku mempunyai segalanya namun aku tidak bisa menemukan yang seperti dirimu, kau berbeda dan aku sadar bahwa hanya kau yang benar-benar aku cinta, percayalah….” Myungsoo meyakinkan.

“Lalu…siapa namja itu? Namja yang aku lihat sering bersamamu dan mengunjungimu di tempat kerja?”

Myungsoo mengerutkan keningnya. “Maksudmu Ren?”

“Aku tidak peduli dengan namanya, yang aku peduli apa hubungannya dengamu?!” Tegas SungJong sedikit marah.

Myungsoo terdiam sesaat, SungJong sekarang ini emosi nya sedang tidak stabil, dia gampang sekali tersulut emosi. Namun Myungsoo paham, apa yang sudah dilalui oleh namja itu selama beberapa tahun ini telah menciptakan karakter baru baginya.

“Hubunganku dengan dia hanyalah teman baby, kami saling membutuhkan, percayalah meskipun sesuatu yang terjadi diantara kami berdua itu tidak berarti apapun, kami hanya saling membutuhkan….”

 

SungJong menatapnya tajam. “Maksudmu dia hanya teman tidur mu saat kau membutuhkannya?”

“Baby…aku…”

“Jika Ren-ssi sama seperti diriku mungkin kau sudah mempunyai banyak sekali anak, dan apakah kau juga akan meninggalkannya ketika dia mengatakan jika di dalam perutnya ada anakmu?” Tanya SungJong membuat Myungsoo terdiam.

SungJong kemudian beranjak dan mendekati Myungsoo, dia kemudian menyentuh tangan namja itu, hatinya tiba-tiba menjadi sangat sedih. “Aku memang bodoh, kau meragukanku saat itu namun aku tetap mencintaimu, kau merusak diriku namun aku tetap mempertahankan anakmu, kau bahkan sudah menghianatiku dengan tidur bersama namja lain tetapi aku tetap tidak bisa membencimu, kurasa…aku ..aku benar-benar bodoh…” Celetuknya sembari menunduk, air matanya mulai berjatuhan.

Myungsoo seperti tertusuk ulu hatinya, dia tidak menyangka perasaan SungJong sedalam ini padanya. Dan dia menjadi orang yang sangat bodoh telah menyakiti hatinya.

Namja itu kemudian menarik SungJong ke dalam pelukannya dan memeluknya erat. Myungsoo tahu apa yang ia bisikkan pada SungJong bahwa ia selalu mencintainya tidak akan cukup mengobati semua luka yang dia rasakan selama ini. Namun, hanya ini yang bisa ia lakukan, dia benar-benar akan mengembalikan kehidupan SungJong yang penuh keceriaan selama ini.

“Dan….Hoya hyung juga demikian..” ucap SungJong setelah sudah sedikit merasa lebih baik.

Myungsoo menarik SungJong dari pelukannya dan menatap namja itu. “Hoya sajangnim? Kenapa?”

“Dia selama ini sangat baik padaku, selalu ada jika aku membutuhkannya, dia bahkan berkali-kali memintaku untuk menikah dengannya dan akan merawat Kyungsoo juga…dia pun tidak peduli jika setelah menikahiku dia akan mendapatkan citra yang buruk di depan para rekan kerjanya…”

“………..”

“Dan bagaimana bisa aku mengatakan siapa dirimu padanya, dia sudah menungguku begitu lama dan sabar meskipun aku tidak pernah membalas perasaannya, Kyungsoo juga tidak pernah menyukainya, tapi Hoya hyung tidak pernah menyerah, apakah aku harus menyakitinya setelah apa yang dia lakukan selama ini…?”

Myungsoo terdiam, dalam hal ini tentu dia kalah total dengan Hoya. Dan mungkin salah satu yang menjadi beban SungJong adalah Hoya. Myungsoo mengerti, sangat mengerti, dan perasaannya saat ini benar-benar campur aduk.

Namja itu kemudian tersenyum pahit dan menggenggam jemari SungJong. “Aku memang salah…” Ucapnya.

“Kau berhak untuk memilih siapapun yang menurut mu terbaik baby, aku memang kalah dengan Hoya selama ini, tapi jika kau mengizinkan aku akan menebus semua kesalahanku itu…”

“………”

“Tapi jika kau memang lebih bahagia bersama dengan Hoya sajangnim, aku…tidak apa baby, aku pun ingin melihatmu bahagia, dan satu yang harus kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu….sangat mencintaimu..”.

Myungsoo berdiri dan segera beranjak pergi setelah mengusap pelan wajah SungJong. Yaah, apa yang dia katakan itu adalah tulus dari hatinya, dia tidak boleh menyakiti SungJong begitu dalam lagi, jika memang Hoya bisa membuat namja itu bahagia, Myungsoo akan berusaha untuk menerimanya.

 

.

.

Sebenarnya Woohyun sangat senang jika Myungsoo tanpa absen datang ke kantor dan bekerja. Namun yang ia sedikit heran adalah sajangnimnya itu terlihat lebih pendiam, bahkan jarang berbicara. Woohyun lebih ingin melihat Myungsoo yang banyak bicara dan juga pemarah daripada melihatnya seperti ini.

Myungsoo juga tidak terlihat untuk mengunjungi toko pakaian di lantai dua. Biasanya juga tiada hari tanpa mengunjunginya. Sebagai seorang sahabat tentu juga Myungsoo akan menceritakan semua padanya, namun belum untuk yang kali ini.

Dan sudah dua hari Myungsoo terlihat tanpa gairah itu. Dan Woohyun belum berani untuk menanyakan  kenapa karena dia yakin semua itu ada hubungannya dengan SungJong.

 

.

.

Di tempat lain, tak ada yang jauh berbeda dari SungJong, dia juga merasakan hal yang sama. Dia ingin sekali hidup bahagia bersama dengan orang-orang yang ia cintai, tetapi semuanya seperti masih belum bisa terjadi padanya.

“Eomma!”

“Oh Kyungsoo-ya, kau pulang? Segeralah makan…” Sahut SungJong tanpa menengok.

“Kau kenapa seperti ini? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”

Sebuah suara lain memecah keheningan, SungJong cukup terkejut dan segera berbalik. Nampak Hoya disana yang berdiri di samping Kyungsoo menatapnya cemas.

“Paman Myungsoo juga sama seperti mu, dia sangat pendiam…” Celetuk Kyungsoo. “Apakah kalian bertengkar?”

SungJong tidak tahu bagaimana harus menjawab dan dimulai dari apa, hatinya sangat sesak menahan semuanya. Dan jika dia menahannya lebih lama lagi mungkin akan jatuh sakit.

“Kyungsoo-ya, apakah….menurutmu Paman Myungsoo adalah orang baik…?”

Kyungsoo mengangguk tanpa berpikir. Sebaliknya, Hoya semakin curiga.

“Jika begitu….ada yang harus aku cerita kan padamu Kyungsoo-ya…” SungJong berganti menatap Hoya. “Dan juga padamu…hyung….”

 

.

.

.

.

 

Mengantar berkas sudah beres, mengecek toko baru juga sudah selesai. Woohyun sesaat berhenti di depan tempat makan cepat saji di lantai tiga. Myungsoo belum makan, setidaknya sudah beberapa hari ini ia tidak melihatnya makan. Mungkin akan lebih baik jika membelikan sajangnim nya itu beberapa burger, dia bisa sakit jika terus-terusan murung dan tidak makan, sementara pekerjaannya begitu banyak. Terkadang Woohyun berpikir menjadi Myungsoo itu tidak menyenangkan seberapa pun ia mempunyai harta.

“Hallo tampan, kau sibuk sekali…” tegur seseorang.

Woohyun hampir tersedak minumannya mendengar hal itu, dia segera menengok dan hendak marah, namun raut wajahnya berubah menjadi ceria. “Oh kau, mengagetkan ku saja, bagaimana jika aku terkena serangan jantung huh?” omelnya.

“Itu tidak masalah bagiku…”

“Ya mungkin kau akan menjadi janda jika aku terkena serangan jantung…”

“Yaa!!!”

Woohyun terkekeh dan segera menarik namja yang memakai jaket putih itu untuk mendekat. “Kapan kau pulang Key? Kau tidak menelvonku…”

“Bagaimana bisa aku menelvonmu, kau bahkan tidak membaca pesanku, sekarang katakan, apakah kekasihku ini sedang sibuk hmm?”

“Yaah, kau tahu Myungsoo sedang dalam masalah, aku benar-benar bingung mengurusnya, dia bahkan tidak makan beberapa hari ini…”

“Masalah? Dengan Lee SungJong?” tanya namja itu, Key.

“Hmm..” Woohyun mengangguk. “Key, dulu kau bisa menenangkan Myungsoo dengan nasehatmu, bisakah kau coba melakukan hal itu sekarang?”

Namja itu tampak mengerutkan keningnya. “Aku?”

“Tentu saja kau, siapa lagi yang bisa untuk diajak Myungsoo bercerita kecuali kita berdua? Ada saatnya aku tidak bisa untuk mengatasinya, dan hanya kau yang bisa baby…”

Key berpikir sebentar, dia sebenarnya berharap akan mendapatkan banyak kupon berbelanja gratis dari Myungsoo, tapi ternyata Myungsoo sedang dalam keadaan yang kurang baik. “hmm baiklah, akan kucoba…tapi kau tidak boleh cemburu…”

“Yaa!! Mana mungkin, dalam hidup Myungsoo hanya ada Lee SungJong dan Choi Minki saja, tidak ada Kim Kibum disana…”

“Ahahahah baiklah…”

 

*

*

*

Seperti dugaannya sebelumnya, Woohyun melihat sajangnim nya itu tengah menatap Laptop nya tapi dengan pandangan yang kosong. Ia yakin ia tidak sedang fokus pada kerja nya namun sibuk dengan pikirannya yang entah kemana.

Woohyun menatap Key dan kemudian menyuruhnya untuk menghampiri dan berbicara dengan Myungsoo. Sungguh, Myungsoo terlihat sangat menyedihkan saat ini.

“Myungsoo-ya, kau kenapa? Baik-baik saja??” tanya Key sembari mendekat. Myungsoo terlihat bergerak dan mengangkat kepalanya. “Ohh hyung, sudah lama?”

“Sudah terlalu lama tidak mendengar ceritamu…” dia berdiri disamping Myungsoo. “Ceritakan padaku, apakah ada sesuatu yang membuatmu seperti ini? Apa yang terjadi denganmu dan Lee SungJong?”

“Hyung aku…apa yang harus kulakukan…?”

“Maksudmu…?”

“Mungkin aku akan segera kehilangannya untuk selamanya…”

“Kenapa seperti itu? Kau mau berbagi cerita denganku?”

Myungsoo menatap namja itu dan mengangguk. Key kemudian menarik tangan Myungsoo dan mengajaknya untuk duduk disofa. Myungsoo bercerita dengan detail tanpa satupun yang terlewatkan. Apa yang tengah terjadi, dan bagaimana perasaannya selama ini, dan juga semua kegelisahannya.

Key, namja yang selalu mendengarkan ceritanya setelah Woohyun itu begitu memperhatikan dengan penuh peduli. Namja itu terlihat mengangguk-angguk dan mengerti. Selama ini Myungsoo selalu menganggapnya adalah pemberi nasehat terbaik selain Woohyun dalam setiap masalahnya, dan Myungsoo merasa sedikit lega karena bisa menceritakan apa yang menjadi bebannya.

“Astaga, aku tidak ingin mengatakan ini namun…” ucap Key. “Jika aku berada di posisi SungJong aku pun juga bingung, ada seseorang yang selalu ada untuknya ketika dia sedang susah, disisi lain orang yang ia cintai bahkan entah kemana, kau pikir itu tidak beban berat…?”

“Lalu…aku harus bagaimana? Aku tidak mau kehilangannya lagi, aku sudah berjanji akan menebus semua kesalahanku, dan aku ingin membahagiakan mereka…”

Key menarik nafas panjang kemudian mendekat dan menyentuh bahu Myungsoo pelan. “Membahagiakan dia tidak harus membuatnya menjadi milikmu Soo-ya, membiarkan dia bahagia dengan apa yang menjadi pilihannya juga salah satu cara untuk menebus kesalahanmu…”

“Tapi hyung….”

“Kau sedang tidak dalam keadaan bisa memutuskan Soo-ya, apapun keputusan SungJongie..itu yang harus kau hormati, jangan kau memberikan tekanan dan beban pada kekasihmu itu, dia sudah cukup banyak menderita….”

Myungsoo terdiam, apa yang dikatakan oleh Key semuanya memang benar. Sangat menyakitkan memang, namun itu semua sudah menjadi resiko untuknya. Jika dulu ia tidak meragukan SungJong dan melupakan citra baik di depan para rekan aboeji nya semua ini tidak akan terjadi.

“Jika memang nanti SungJongie tidak memilihmu, itu mungkin yang terbaik untuk kalian berdua..” sambungnya lagi, namja itu kemudian memeluk Myungsoo untuk menenangkan.

Myungsoo benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Hatinya terasa sangat perih dan tidak ada semangat lagi, harapannya untuk hidup bersama dengan SungJong telah hilang. Seandainya waktu bisa diputar, Myungsoo ingin kembali di saat-saat itu, sesaat sebelum SungJong pergi meninggalkannya, dia ingin memperbaiki semuanya. Tetapi semua itu sudah terlambat.

 

*

*

*

Bukan kemarahan ataupun berbagai pertanyaan yang muncul, namun hanya keheningan. Kyungsoo segera meminta izin untuk pergi setelah SungJong menjelaskan semuanya. Anak itu terlihat sangat dingin namun tidak terlihat marah dan kesal. Namun sikapnya yang seperti itu benar-benar membuat SungJong bingung dan kembali putus asa.

Dia sudah menceritakan semuanya, siapa Myungsoo dan apa yang terjadi sebenarnya kepada mereka berdua terutama Kyungsoo. Hoya sedikit nampak terkejut namun tetap tenang, sementara Kyungsoo hanya bertanya kenapa Myungsoo meninggalkannya dan selesai, anak itu pergi. SungJong tidak bisa menahannya. Sementara pada Hoya, dia menceritakan pada awal dia dan Myungsoo terlibat hal seperti itu. Sama seperti Kyungsoo, Hoya nampak langsung terdiam, namun tidak pergi seperti Kyungsoo.

Jika memang Kyungsoo marah, SungJong ingin anak itu berteriak padanya dan memarahinya, namun jika ia hanya diam seperti itu membuatnya semakin merasa tertekan.

Dan Hoya…sungguh, SungJong benar-benar ingin menangis saja, namja itu terdiam di tempat duduknya tanpa berniat untuk mengatakan sepatah kata pun. SungJong tahu, namja itu sangat kecewa padanya, sekali lagi ia telah menyakiti seseorang yang begitu baik padanya.

“Jika kau marah…kau boleh memarahiku hyung, kau juga boleh memukulku…tapi jangan kau diam seperti ini…jebal…” ucap SungJong hampir putus asa. Tetapi Hoya terus terdiam masih larut dalam pemikirannya yang masih shock. Dan selama SungJong mengenal Hoya, belum pernah ia melihat Hoya seperti ini.

SungJong tidak bisa membiarkan ini terus terjadi, namja itu kemudian beranjak kemudian menjatuhkan dirinya di lantai dan memegang kaki Hoya. “Jebal, bicaralah, maafkan aku…aku tidak bermaksud untuk menyakitimu…hiks…”

“SungJong-ah…astaga…” Hoya sedikit terkejut dan segera meraih bahu SungJong untuk membangunkannya.

“Kumohon…maafkan aku..” ucapnya lagi terus menunduk tanpa berani menatap Hoya.

Hoya menarik nafas panjang kemudian menghapus air mata SungJong lalu menggenggam tangannya. “Beban seberat itu, kenapa kau tidak pernah menceritakan padaku hmm? Bukankah kita sudah bersama selama ini? kenapa kau masih tidak bisa mempercayaiku…?” tanya Hoya menatap mata itu lekat.

“Aku takut mengecewakanmu…kau sudah begitu baik selama ini, maafkan aku…hiks….”

“Dan yang lebih menyakitkan, aku malah menyuruhmu untuk mengurus toko di Rainbow Mall, pasti menyakitkan sekali kau harus bertemu dengan Myungsoo-ssi disana…”

SungJong tidak menjawab, karena dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi sekarang selain meminta maaf. Bahkan setelah ia mengatakan semuanya, Hoya masih bisa berkata dengan lembut padanya, apakah namja itu tidak marah?

“SungJong-ah…sekarang aku ingin bertanya padamu…” Hoya menegakkan tubuh SungJong dan memaksanya untuk saling menatap, sorotan mata Hoya kali ini benar-benar serius. “Jawab dengan jujur, ketika Myungsoo sajangnim hadir kembali dan meminta maaf padamu…apakah kau bisa menerimanya kembali? Apakah kau bisa memaafkan semua kesalahannya?”

“…….”

“Dan…apakah kau masih mencintainya?” lanjutnya.

Membeku. Pertanyaan yang benar-benar tidak ingin SungJong jawab, tentu saja dia masih mencintai Myungsoo, dia sudah memaafkan semua kesalahan namja itu, dan selama ini hanya Myungsoo yang selalu ia cintai, tidak ada yang lain. Namun…ketika melihat ketulusan dari Hoya, dan juga semua yang telah Hoya lakukan selama ini, SungJong tidak bisa untuk menyakitinya. Setelah lama menunggunya dia harus memberikan kenyataan yang pahit untuknya. Sangat tidak adil.

SungJong kemudian menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak bisa…hiks, aku tidak meninggalkan dirimu untuk kembali pada Myungsoo hyung, kau sudah banyak membantuku selama ini, aku merasa egois jika aku memilih kembali padanya…” isaknya. “Aku…aku ingin melupakannya, sekarang aku milikmu, tidak ada yang lain, aku benar-benar milikmu….” SungJong kemudian membiarkan dirinya untuk jatuh kepelukan Hoya.

Hoya tertegun, sebenarnya..dia sudah sangat lama menantikan kata-kata itu dari SungJong, sangat lama. Tetapi kenapa harus disaat seperti ini. “Kau tidak mencintaiku SungJong-ah, bagaimana bisa kau menjadi milikku…”

“A-aku…a-aku mencintaimu…bagaimana bisa aku tidak mencintaimu setelah semua yang kau berikan padaku…aku mencintaimu…”

Hoya menggeleng cepat. “Tidak, bukan seperti itu yang aku inginkan…” ia menarik tubuh SungJong dan menangkupkan pipinya. “Aku tidak ingin kau merasa terbebani karena sikap baikku padamu selama ini, aku melakukannya tulus untukmu..karena aku sangat mencintaimu…”

“Tapi hyung…”

“Dengarkan aku…” potong Hoya. “Aku tidak ingin kau melakukan ini karena terpaksa, jika kau memang sudah memaafkan Myungsoo sajangnim dan kau masih mencintainya, tidak ada alasan lain untuk kembali padanya, Kim Myungsoo adalah orang yang baik, aku yakin dia sudah menyesali perbuatannya, dan kalian berdua akan aman berada bersama dengan….orang yang tepat…”

“T-tapi jika aku melakukan itu…a-aku menyakitimu…dan bagaimana bisa…a-aku akan meninggalkanmu setelah semua kebaikanmu selama ini….”

Sekali lagi Hoya menggeleng. “Tidak, kau akan lebih menyakitiku jika kau mengatakan ingin bersamaku tetapi dalam hatimu kau tidak mencintaiku, aku…memang mencintaimu…sangat mencintaimu hingga aku ingin sekali memilikimu…namun…aku lebih ingin melihatmu bahagia SungJong-ah, dan bahagiamu hanya bersama dengan Myungsoo-ssi, aku benar-benar tidak apa jika kau kembali padanya…”

Air mata SungJong kembali mengalir, jika dahulu dia bertemu dengan Hoya lebih dahulu mungkin ia akan mencintai namja itu sepenuh hati, Hoya benar-benar baik padanya, namun apa yang ia lakukan sama sekali tidak membalas perbuatannya. SungJong merasa bersalah, namun ia juga menyadari jika ia terlalu memaksa ia akan menyakiti Hoya juga, dan kebahagiaannya sekali lagi akan hilang.

“Hoya hyung…”

Hoya tersenyum lalu memeluk SungJong dengan erat. Ia terus mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tidak bisa ia pungkiri, hatinya sangat sakit, sekian lama ia menanti SungJong namun semuanya sia-sia. Tapi Hoya pun tidak ingin merusak kebahagiaan namja ini, dia akan mengalah, Lee SungJong tetap akan menjadi kenangan yang indah dalam hidupnya.

*

*

*

“Baiklah…kau boleh mengaturnya sesuai dengan apa yang kau inginkan….”

Myungsoo segera menutup sambungan telvon, dan baru beberapa saat, ganti ponsel putihnya yang berdering. Membaca nama yang tertera di layar membuatnya tersenyum senang dan segea menjawabnya.

“Yeoboseyooo, Ren~~~ kau apa kabar?? Bagaimana Minhyun? Ani, maksudku apakah kau baik-baik saja disana??”

Mereka berbicara selama beberapa menit, Myungsoo cukup senang mengetahui bahwa disana Ren baik-baik saja. Yahh, mungkin hanya dirinya yang belum mendapatkan apa yang membuat dirinya bahagia. Tapi sudahlah, Key telah memberikannya banyak nasehat yang membuatnya merasa sedikit lebih baik.

“Oh??”

Myungsoo terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya begitu mendapati seseorang yang masuk ke dalam ruangannya dan berdiri menatapnya dengan tatapan yang tajam. Untungnya dia sudah selesai berbicara dengan Ren.

“hmm….Kyungsoo-ya…?” sapa Myungsoo sembari berdiri.

Namun anak itu tak menjawab, ia masih memberikan tatapan yang penuh dengan selidik terhadap Myungsoo. Membuat sang Presdir itu sedikit bingung, tatapan Kyungsoo begitu familiar yang Myungsoo sadari beberapa detik kemudian bahwa tatapan itu persis seperti tatapan miliknya ketika sedang marah. Tapi…apakah Kyungsoo sedang marah?

Myungsoo merendahkan tubuhnya dan berjongkok sejajar dengan anak itu, kemudian merengkuh bahunya. “Kau datang sendirian? Dimana Eomma hmm??”

Kyungsoo melepaskan tangan Myungsoo. “Sekarang katakan padaku…!” ucapnya seperti orang dewasa yang meminta penjelasan, Myungsoo sedikit tersenyum melihatnya.

“Apa sayang??”

“Kau aboeji ku?”

“Mwo??” Myungsoo terkejut

“Apakah….aku anakmu???”

“Kyungsoo-ya…”

“Katakan benar..atau bukan….”

Myungsoo merasa seperti beban baru menghampiri hatinya. SungJong mungkin sudah menjelaskan semua pada anak ini, apakah Kyungsoo tidak menyukainya? Anak ini begitu dingin.

“Kurasa Eomma mu sudah menceritakan semuanya…dan apa yang dikatakan olehnya itu….benar, aku…aboejimu…”

Seperti dugaannya, Kyungsoo tanpa ekspresi sama sekali mendengar hal itu. Anak ini benar-benar semakin mirip dengannya, astaga…Bagaimana bisa dulu Myungsoo menolak kehadirannya.

“Lalu…kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” tanya Kyungsoo.

“Ne?”

“Kenapa kau tidak mengatakan kalau kau aboeji ku sejak awal? Kenapa harus Eomma yang menjelaskan padaku??”

Meskipun sedikit tidak mengerti, Myungsoo mencoba untuk menjawabnya. “Baby, aboeji mu ini tidak berdaya, jika aku mengatakan semua sebelum Eomma mu, itu akan menyakiti Eomma-mu….”

Kyungsoo terdiam, sepertinya dia mengerti. “Lalu…” sahutnya. “Kenapa…kau baru kembali setelah sekian lama? Kenapa kau tidak muncul dari dulu? Kenapa kau tidak muncul ketika teman-temanku mengejekku karena aku tidak memiliki orang tua yang sempurna? Apakah kau tidak menyayangiku? Apakah kau membenciku…aboeji??”

“Kyungsoo-yaa….” Myungsoo tersentuh dengan kalimat terakhir dari Kyungsoo yang menyebutnya aboeji. Sungguh ada perasaan sesak dalam dadanya yang tidak bisa ia ungkapkan.

Myungsoo segera merengkuhnya. “Sama sekali tidak membencimu sayang, aboeji sangat mencintamu, maafkan karena baru kembali waktu yang cukup lama, aboeji bersalah, dan aboeji benar-benar minta maaf padamu, Kyungsoo mau memaafkan aboeji??”

“Aboeji…aku tahu kalau kau sebenarnya belum meninggal dan suatu saat nanti akan kembali, dan aku..tidak menyangka jika aboeji ku adalah kau Paman…Myungsoo…”

“Apakah Kyungsoo senang?”

Tanpa Myungsoo duga, Kyungsoo tiba-tiba tersenyum. “Aku sangat senang aboeji..aku sangat senang…aku tidak percaya memiliki aboeji yang sempurna sepertimu…” ucap Kyungsoo kini terdengar senang.

“Kyungsoo-ya…”

Myungsoo merentangkan kedua tangannya dan menyambut pelukan dari anaknya itu. Perasaannya kini berubah seratus persen. Rasa bahagianya tidak terkira, memeluk Kyungsoo dengan status  yang kini adalah putranya sangat berbeda, ini adalah kebahagiaan kedua yang dirasakan Myungsoo setelah sebelumnya ia bertemu kembali dengan SungJong. Sungguh ia tidak ingin kehilangan momen bahagia seperti ini, Kyungsoo tidak membencinya, itu poin yang benar-benar membuat hati Myungsoo sangat senang. Dan Myungsoo memiliki alasan untuk kembali bersemangat dalam bekerja.

“Aku senang sekali Kyungsoo-ya…astagaa, putraku benar-benar sudah besar, mianhae aku tidak berada di dekatmu saat kau tumbuh besar…” ucap Myungsoo sembari mengecup pucuk kepala Kyungsoo dengan sayang.

“Seharusnya kau datang lebih cepat aboeji…aku membutuhkanmu, banyak yang ingin kuceritakan, selama ini Eomma selalu sibuk bekerja dan pulang dengan keadaan lelah sehingga aku tidak tega untuk menambah bebannya…”

“Aigoo, maafkan aboeji mu ini okey? Mulai sekarang apapun yang kau inginkan akan aboeji berikan, apapun itu…Kyungsoo mau apa hmm??”

“Hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan aboeji…”

“Baiklah, Pangeran kecil ini akan mendapatkan apa yang ia inginkan…”

Myungsoo kemudian mengangkat dan menggendong tubuh mungil Kyungsoo. Jika Kyungsoo sejak lahir ada bersamanya mungkin anak ini akan mempunyai berat badan yang sediki berisi.

“Woohyun-ah, gantikan aku untuk pertemuan hari ini, aku harus menemani pangeran kecil ini jalan-jalan…”

Woohyun tersenyum. “Tentu saja, bersenang-senanglah, Myungsoo-ya, Kyungsoo-ya, annyeong…” jawabnya. Tidak apa jika hari ini ia harus bekerja ekstra lagi. Baginya melihat Myungsoo yang sudah kembali untuk bersemangat membuat dirinya merasa lega.

 

*

*

Hubungan Myungsoo dan juga Kyungsoo setidaknya sudah semakin dekat dalam dua hari ini, Myungsoo selalu menyempatkan diri untuk menjemput dan juga mengantar Kyungsoo ke sekolah. Kemudian mengajaknya untuk bermain dan juga belajar bersama.

Namun, selama dua hari ini juga SungJong tidak terlihat mau untuk berbicara dengan Myungsoo, dia selalu nampak acuh ketika Myungsoo datang untuk menjemput Kyungsoo. Dan Myungsoo mencoba untuk memaklumi itu, yaah..tentu saja SungJong masih terikat dengan semua kebaikan Hoya, dan Myungsoo tidak berani untuk berharap lebih, setidaknya SungJong tidak melarangnya untuk bertemu Kyungsoo itu sudah sangat cukup.

“Woaah Kyungsoo-ya, kau dapat nilai bagus hari ini sayang…kau mau dapat hadiah apa dari aboeji hmm?” tanya Myungsoo sembari keluar dari lift. Kyungsoo yang selalu nyaman dalam gendongannya terlihat tersenyum ceria.

“Aku hanya ingin bersama Eomma dan Aboeji, itu sudah cukup…”

“Benarkah? Hanya itu?”

“Kau tidak berbicara dengan Eomma itu membuatku cemas…”

“Kami baik-baik saja Kyungsoo-ya, kau tidak perlu cemas…” ucap Myungsoo menenangkan. “Baiklah, kau ingin makan apa?”

“Pizza…” jawabnya cepat.

“Baiklah, tapi kita makan di ruangan saja ya, aboeji ada kerjaan yang belum selesai, nanti biar Woohyun ahjussi yang membelikan pizza untukmu…”

Kyungsoo mengangguk patuh. Jika Myungsoo ada pekerjaan yang belum selesai, anak itu menunggu dengan patuh di ruangan sembari belajar, terkadang ia bermain dengan Woohyun disana.

“Ohh??”

Wajah Myungsoo mendadak pucat ketika membuka pintu ruangannya dan mendapati seseorang yang duduk di kursi kebesarannya sana. Nampaknya ia sudah menunggu kedatangan Myungsoo sangat lama.

“Aboeji…?” gumamnya, Kyungsoo menatap Myungsoo sebentar karena mendengar gumaman itu.

Mr Kim berdiri lalu berjalan bersedekap tangan menuju ke arah mereka berdua. Lelaki paruh baya itu masih selalu nampak berwibawa dan juga tegas, Myungsoo sedikit merasa was-was.

“Kau mengatakan ingin menikah beberapa waktu lalu, kau juga mengatakan sudah memiliki putra…” celetuknya kemudian. “Namun setelah kutunggu kenapa kau tidak pulang ke rumah dan mengenalkan mereka berdua padaku?”

Myungsoo berdehem pelan kemudian menurunkan Kyungsoo dari gendongannya. “Kyungsoo-ya, beri salam pada haraboeji…” pintanya.

Mendengar itu Kyungsoo segera membungkuk sopan dan memberi salam. Mr Kim tampak tersenyum kemudian mengusap kepala Kyungsoo. “Anak pintar, siapa namamu?”

“Kyungsoo….”

“Nama yang bagus….” Mr Kim kemudian menatap Myungsoo. “Anakmu benar-benar tampan seperti mu, kenapa kau tidak membawanya pulang?”

“Mianhae aboeji…ada yang harus kuselesaikan lebih dahulu…” elaknya, sebenarnya itu bukan hal yang ditakutkan Myungsoo. Jika aboejinya bersikap baik pada Kyungsoo itu sudah pasti karena ia selalu menginginkan cucu, tapi yang Myungsoo cemaskan adalah nanti ketika ia tahu siapa yang telah melahirkan anak dari putra nya itu.

Mr Kim kemudian merundukkan tubuhnya dan menatap Kyungsoo lembut. “Nah Kyungsoo-ya, kau bisa memanggilku haraboeji mulai dari sekarang, kenapa kau dan Eomma mu tidak segera mengunjungiku hmm?” tanyanya sembari mencubit pipi Kyungsoo.

“Maafkan aku haraboeji… aboeji dan Eomma sepertinya sedang bertengkar, mereka bahkan tidak saling bicara selama dua hari ini…”

“Seperti itu..?” Mr Kim melirik Myungsoo yang nampaknya  menghindari tatapan darinya.

“Baiklah, aboejimu itu perlu mengurus masalahnya dengan Eomma-mu, apakah Kyungsoo sudah makan?”

Kyungsoo menggeleng. “Mau makan siang dengan haraboeji?” tanyanya. Kyungsoo mendongak dan menatap Myungsoo seolah meminta izin, Myungsoo tersenyum dan mengangguk.

“Baiklah, kkaja, kita makan banyak hari ini…” Mr Kim merangkul Kyungsoo dan mengajaknya untuk pergi. “Ingat, jika kau tidak segera membawa Eomma anak ini kehadapanku aku akan memaafkanmu…” ancam Mr Kim ketika melewati Myungsoo.

Myungsoo hanya mendengus kesal, sebenarnya dia tidak peduli jika ia harus dicopot jabatannya karena hal ini. Dia juga sudah memiliki penghasilan sendiri, namun setidaknya ia memikirkan juga ini tidak akan baik bagi SungJong jika ia membuat aboeji nya marah. Baiklah, untuk sementara dia akan memikirkan cara untuk membuat semua ketakutannya itu tidak terjadi.

 

“Myungsoo-ya, aku boleh pulang lebih awal…” tanya Woohyun yang dengan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.

“Pulang lebih awal? Kenapa?”

“Kau tahu…orang tua Key sepertinya datang, aku harus bertemu dengan mereka, jika tidak aku pasti tidak akan diizinkan menemui Key lagi…”

Myungsoo terdiam, sahabatnya memiliki kisah cinta yang lebih manis daripada dirinya. Tidak ada yang menentang hubungan mereka berdua, jarang bertengkar, dan saling mencintai. Woohyun memang yang terbaik dalam menjaga hubungannya dengan seseorang.

“Myungsoo-ya…kenapa malah diam? Boleh atau tidak?”

“Ohh…? Tentu boleh, pergilah…”

Woohyun tersenyum. “Kau yang terbaik Myungsoo-ya…” ucapnya, ia kemudian sedikit berlari keluar dari ruangan Myungsoo hingga tanpa sadar hampir saja bertabrakan dengan seseorang di pintu masuk. Woohyun terhenti sebentar. “SungJong-ahh..??”

Namja itu, Lee SungJong tersenyum. “Annyeong hyung….”

“Kau kemari? Apakah kau ingin bertemu dengan….ahh Myungsoo ada di dalam, masuk saja, aku terburu-buru…” celoteh Woohyun yang sebenarnya penasaran dengan kedatangan SungJong namun ia juga harus segera pergi untuk mengurus kepentingannya.

Ketika SungJong menapakkan kakinya di ruangan Myungsoo, dirinya langsung disambut dengan ekspresi terkejut dari Myungsoo yang seperti nya tidak menyangka akan kedatangan dirinya.

“Apakah kau kemari untuk…menjemput Kyungsoo…?” tanya Myungsoo hati-hati, dia tidak ingin salah bicara dan menambah kegundahan hati SungJong. Sebenarnya ia sudah sangat merindukan namja itu dan ingin sekali memeluknya.

SungJong hanya menggeleng pelan dan berjalan ke arah Myungsoo lebih dekat. Tubuh mereka berhadapan. Canggung, seperti baru mengenal satu dengan yang lainnya, Myungsoo pun tak dapat mengatakan apapun karena menunggu apa yang akan disampaikan oleh namja itu.

“Hyung aku….aku merindukanmu…”

Myungsoo membulatkan matanya dan mempertajam pendengarannya, dia tidak mungkin salah dengar. “Baby, kau…mengatakan apa tadi…?”

“Aku merindukanmu, kau tidak berencana untuk memelukku?”

“SungJong-ah….”

SungJong nampak menarik nafas panjang, tatapannya pada Myungsoo sudah kembali seperti semula. Tidak acuh dan dingin seperti beberapa waktu yang  lalu. Namja itu kemudian mendekat, sudah sangat lama Myungsoo ingin mendengar SungJong kembali berkata-kata manis padanya. Dan ia tidak tahu kenapa namun melihat SungJong kali ini ia seperti melihat ke masa yang lalu, saat dimana dirinya selalu memanjakan namja itu.

SungJong kemudian menatap Myungsoo lekat. “Lalu kapan kau akan menikahiku?”

“Ohh??” Myungsoo benar-benar tidak bisa untuk menyembunyikan rasa terkejutnya. Ini sungguh diluar dugaannya, bukannya SungJong beberapa waktu yang lalu masih meragukannya.

“Baby, aku sungguh tidak mengerti,apakah kau sudah memaafkanku dan mau untuk menerimaku?”

“Dasar bodoh! Jika aku tidak menerimamu lagi kenapa aku bisa berada disini sekarang??”

Jawaban itu cukup membuat hati Myungsoo benar-benar berbunga luar biasa, kebahagian yang beberapa hari ini terasa menghilang dari hidupnya seolah kembali lagi.

“Tapi…bagaimana dengan Hoya sajangnim? Bukankah kau…jika kau kembali padaku bagaimana dengan dia?” Myungsoo masih ingin meminta penjelasan lagi.

“Kenapa? Kau ingin Hoya hyung menikahiku?”

“Tidak bukan seperti itu…aku senang kau kembali padaku, tapi yang aku tidak mengerti….kenapa?”

“Karena aku mencintaimu, apakah itu tidak cukup?” ucap SungJong segera.

Namja itu segera mendekat lalu memeluk Myungsoo erat, menenggelamkan wajahnya jauh ke dalam dada Myungsoo. Dengan senang hati Myungsoo menerima dan membalas pelukan itu. Jika SungJong sudah seperti ini berarti ia telah melewati dan melepaskan beban pikirannya.

Myungsoo mengelus punggung namja itu dengan sayang.

“Aku sudah menyerahkan semua hidupku padamu, aku melepaskan semuanya untuk memilihmu, aku mohon jangan membuatku kecewa lagi, jangan menghianati kepercayaanku….” Ucap SungJong terdengar sungguh-sungguh dan penuh harapan.

Dengan cepat Myungsoo mengangguk. “Tentu baby, aku tidak akan pernah mengulangi kesalahanku lagi…aku janji…” balas Myungsoo tulus. Apa yang dialami olehnya beberapa tahun lalu membuat dirinya belajar banyak untuk lebih menghormati apa yang dilakukan orang lain untuknya.

Myungsoo kemudian menarik SungJong dari pelukannya, tersenyum sembari menangkupkan wajah SungJong lalu menyatukan bibir mereka. Ini benar-benar bahagia, Myungsoo kembali bisa merasakan bibir manis itu setelah sekian lama, dengan perasaan yang lebih membaik. Dan kebahagiaan yang seperti ini yang selama ini Myungsoo cari, kebahagiaan yang tidak bisa Myungsoo dapatkan meskipun itu dari Ren sekalipun.

Dan sama seperti apa yang Myungsoo rasakan, dirinya juga merasakan perasaan lega dan juga bahagia. Selama tujuh tahun ini tidak pernah ia merasakan perasaan bahagia seperti ini, yaah…mungkin memang pernah Hoya mencium dan juga memeluknya, namun setiap kali Hoya melakukannya, tidak ada perasaan yang bahagia penuh kehangatan. Sekarang ia menyadari, kalau sejak hari itu…sejak hari pertama ia bertemu denga Myungsoo, hidupnya sepenuhnya sudah menjadi milik Myungsoo.

“Hmmh….” SungJong sedikit tak siap ketika Myungsoo melumat bibirnya lebih dalam dan mendorognya ke tembok. Namja itu kemudian kembali menikmati bibirrnya, menyesap dan juga melumat secara bergantian. Tangan SungJong dengan otomatis melingkar di leher Myungsoo dan bibirnya berusaha untuk membalas setiap sensasi nikmat yang diberikan Myungsoo hanya dengan melumat bibirnya. Dia juga merasa jemari tangan Myungsoo menyusup dari pinggangnya kemudian beralih ke punggung dan membelainya penuh dengan sensasi, dan akhirnya jemari kekar itu berhenti di belang tengkuknya kemudian menekannya untuk memperdalam ciuman. Kaki SungJong hampir memelas menerima semua itu. Myungsoo benar-benar sangat handal, tidak heran jika dulu dia terjebak dengan pesona namja itu.

Selang beberapa saat kemudian Myungsoo melepaskan ciumannya, SungJong segera mengambil nafas banyak-banyak. Senyum Myungsoo mengembang melihatnya, ia kemudian menangkupkan wajah kekasihnya itu dengan lembut. “Aku mencintaimu baby…kau tidak pernah berubah, selalu nampak mempesona…”

“Kau juga masih sama seperti dulu, pervert…” balasnya yang disusul rona merah di wajahnya.

“Apakah kau merindukan Kim Myungsoo yang pervert hmm?” Myungsoo menggoda sembari menyusupkan jemarinya kebalik baju SungJong.

“Ahh..andwae….” tolak SungJong.

“Kenapa baby…?”

“Kyungsoo tidak ingin memiliki dongsaeng, jadi jangan menggodaku seperti ini….”

Myungsoo tertawa pelan lalu mengacak rambut SungJong. Hari ini ia akan benar-benar menghabiskan waktunya bersama dengan namja ini. dan sepertinya juga Kyungsoo asik bermain dengan Mr Kim.

Menjadi pemilik dari tempat sebesar ini terkdang membuat Myungsoo sangat bebas karena mengunjungi apapun bisa gratis. Dan ia ingin mengajak SungJong untuk menikmati pemandangan dari sudut Rainbow Mall yang jarang di ketahui oleh orang. Myungsoo benar-benar tidak sabar untuk mengatakan pada dunia bahwa SungJong adalah miliknya.

*

*

*

Setelah mengajaknya untuk berkeliling, Myungsoo akhirnya menuruti permintaan SungJong untuk beristirahat. Namja itu nampaknya sudah kelelahan, dan benar saja mereka sudah menghabiskan waktu hampir setengah hari. Myungsoo memutuskan untuk membawa SungJong ke apartementnya saja mumpung namja itu tertidur di dalam mobil. Kyungsoo juga sudah pasti aman bersama dengan aboejinya. Meskipun seseorang yang terlihat tegas, Mr Kim cukup menyayangi anak kecil, apalagi Kyungsoo adalah cucu nya sendiri.

“SungJong-ah, kau tiduran dulu ke kamar, aku akan membuatkan minuman hangat untukmu…” perintah Myungsoo.

SungJong hanya mengangguk saja sembari melihat sekeliling apartement Myungsoo dengan mata lelahnya. Mewah sekali, sangat berbeda dengan tempat tinggalnya. “Aaakh….” Tangan SungJong segera meremas perutnya keras dan tangan yang satunya bertumpu pada pinggiran sofa.

Perutnya sakit luar biasa, astaga, dia benar-benar lupa meminum obatnya hari ini. Pantas saja dia cepat sekali lelah. SungJong menggigit bibirnya kuat-kuat menahan rasa sakitnya, keringat dingin mulai membasahi wajahnya.

“SungJong-ah….kau baik-baik saja…?” Myungsoo menahan tubuh SungJong dan membimbingnya untuk duduk. “Minumlah…”

SungJong menggeleng lalu mencengkeram erat baju Myungsoo. “Tidak…j-jika aku minum akan bertambah sakit…”

“Oh…astaga…jika begitu berbaringlah…”

Tubuh lemah SungJong kemudian berbaring dengan perlahan, matanya sedikit terpejam dan keringat dinginnya mulai terlihat. Sungguh Myungsoo merasa sangat cemas, wajah yang pucat itu membuatnya berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kelelahan? Sangat lama ia tidak bersama dengan namja ini membuatnya tidak mengerti.

Myungsoo dengan sabar mengusap wajah SungJong untuk menenangkan, namun sepertinya rasa sakit di perutnya lebih terasa sangat sakit. “Jongie..apa yang harus kulakukan hmm?” tanyanya.

“S-sudah sedikit lebih baik..jangan cemas…” ucapnya sembari membuka matanya. “Hanya saja perutku terasa sakit sekali, sudah terbiasa, tidak apa-apa…”

Myungsoo tertegun, sepertinya Kyungsoo pernah mengatakan tentang ini padanya. Namun karena dirinya tidak dalam membicarakan topik itu ia lupa untuk meminta keterangan. Mata Myungsoo kemudian turun ke perut SungJong yang masih terbungkus kaosnya. Ia kemudian menggerakkan tangannya dan menyentuhnya. Jantungnya terasa berdegub begitu keras. Perlahan Myungsoo menyingkapkan kain yang menutupi perut SungJong itu ke atas.

Mata elang Myungsoo terlihat membulat dalam sekejab, dan perasaan campur aduk kembali bersarang pada hatinya. Dahulu kulit perut SungJong begitu putih, mulus tanpa cacat sedikit pun, namun sekarang sekarang disana begitu berbeda. Terlihat banyak sekali goresan-goresan bekas jahitan, bukan hanya itu tapi juga terlihat bekas memerah seperti memar.

“Jangan melihatnya terlalu lama…” SungJong segera menurunkan kembali bajunya. “Melihatnya hanya akan membuat sakit…”

Myungsoo kemudian menatap SungJong penuh rasa bersalah. “Mianhae…aku tidak ada saat kau sedang kesulitan…”

“Tidak apa, aku sudah bisa melewati semua itu…” sahutnya sembari tersenyum.

“Baby…sekarang aku ingin tanya padamu, apakah kau baik-baik saja? Kyungsoo mengatakan padaku kalau kau sering sekali kesakitan, apakah ada sesuatu yang terjadi padamu?”

SungJong terlihat terdiam dengan mata beningnya. Ia sebenarnya tidak ingin menceritakan pada Myungsoo, selain terhadap Hoya ia tidak pernah menceritakan semuanya. Namun karena Myungsoo adalah seseorang yang begitu penting baginya, sepertinya dia berhak tahu.

“Sebenarnya tidak ada sesuatu yang serius hyung…”

“Tidak, kau harus tetap mengatakannya padaku…” tegas Myungsoo. “Aku tidak bisa jika melihatmu kesakitan…”

“Ini hanya karena efek operasiku dulu…tentang Kyungsoo maksudku….”

Myungsoo mendengarkan dengan penuh perhatian. SungJong mengatakan jika ia tidak melakukan operasi di Rumah Sakit yang memiliki fasilitas bagus. Ia harus melewati beberapa operasi dan sempat tertunda juga. Tubuhnya sangat rentan karena dia adalah seorang namja yang akan menghadirkan seorang anak ke dunia.

“Dokter mengatakan jika aku akan sering mengalami sakit di bagian perut efek semua operasi yang melelahkan itu…”

Hati Myungsoo merasakan perih luar biasa seakan ia merasakan kesakitan yang selama ini SungJong alami. Dan dia sendirian melewatinya, sedangkan dirinya meskipun ia masih berusaha mencari SungJong namun ketika kesepian ia selalu bersenang-senang dengan Minki. Sungguh ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

“Kenapa jadi sedih seperti ini hyung?” SungJong kemudian bangkit sembari sedikit menahan rasa sakit yang masih sedikit terasa, ia menatap Myungsoo dengan lembut kemudian mengelus pipinya.

“Aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri telah membuatmu seperti ini..” gumam Myungsoo.

“Jangan membahasnya lagi…okey…?”

“Tapi Jongie…aku tidak bisa…aku…”

SungJong menghentikan ucapan itu dengan segera memeluk tubuh Myungsoo. “Lupakan saja okey? Aku sudah berusaha keras untuk melupakannya, dan kau juga harus seperti itu hyung…jebal…”

“SungJong-ah, kau benar-benar seseorang yang sangat berarti untukku, terima kasih sudah memaafkan ku baby…aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi…”

“Aku sudah mendengarnya dan kau harus menepatinya…” SungJong melepaskan pelukannya dan tersenyum.

Myungsoo membalas senyuman itu kemudian mengeluh wajah SungJong dengan sayang. Rasa cintanya semakin membesar, dan rasa tanggung jawabnya untuk melindunginya pun semakin tinggi.

“Hmm sudahlah, ini sudah sore…dimanakah Kyungsoo?” tanya SungJong. “Dia harus makan, apakah dia bersama dengan Woohyun hyung?”

“Tidak baby, dia ditempat yang aman, bersama dengan aboeji…”

Sesaat SungJong mempertajam pendengarannya dan menatap Myungsoo seolah-olah memintanya untuk mengulangi apa yang baru saja Myungsoo katakan.  “Aboeji…?” tanya SungJong memastikan. “Apakah maksudmu….Kim ahjussi?”

Myungsoo mengangguk. “Ne, dia bersama dengan aboeji…”

Wajah SungJong seketika memucat, tangannya bergetar dan refleks menjauhkannya dari Myungsoo. “K-Kim ahjussi? Bagaimana bisa….Kyungsoo bersama dengannya?”

“Aku sudah menceritakan semua pada aboeji, dan dia sangat menyukai Kyungsoo, Kyungsoo juga menyukainya, dia bahkan menegurku karena aku tidak segera membawamu dan Kyungsoo padanya…” jawab Myungsoo yang sepertinya tidak menyadari kegugupan SungJong.

“A-apakah…dia tahu….tentangku…?”

“Saat ini…aku belum menceritakannya, dia hanya tahu aku sudah memiliki seorang anak dan dia cukup senang mendengarnya, jangan cemas..aboeji akan menerimamu baby…”

SungJong kalut, masalah kembali menghantui dirinya. Mengingat tentang Mr Kim tentu membuatnya harus mengingat sesuatu yang ingin sekali ia lupakan. Saat ini mungkin ia menyayangi Kyungsoo, namun bagaimana jika tahu siapa yang melahirkan Kyungsoo? Sungguh, SungJong benar-benar cemas.

“Jebal, kita cari Kyungsoo, aku ingin membawanya pulang, jebal…telvon aboejimu sekarang juga…” pinta SungJong dengan gemetar.

“Baby…ada apa denganmu?” Myungsoo menyentuh tangannya. “Kyungsoo akan baik-baik saja, aboeji menyukainya….”

“Tidak, aboejimu tidak pernah menyukai Kyungsoo sejak awal..d-dia akan membencinya karena Kyungsoo adalah anakku….d-dia membenci Kyungsoo..”

Myungsoo menatap SungJong penuh curiga. “Baby, apakah aboeji melakukan sesuatu padamu dulu? Katakan padaku, kenapa kau takut seperti ini?”

“Kita cari Kyungsoo…jebal..” pinta SungJong hampir menangis, bagaimanapun ia mencoba untuk melupakannya semua ucapan Mr Kim di waktu dulu tetap saja selalu terbayang. Dia takut.

Myungsoo kemudian menarik SungJong ke pelukannya dan memeluk tubuh gemetar itu untuk menenangkan. Dia tidak tahu apa yang terjadi namun yang ia yakin, aboeji nya mengetahui apa yang terjadi dengan SungJong tujuh tahun yang lalu. Dan untuk sekarang apapun yang akan terjadi, Myungsoo tidak akan melepaskan SungJong sekalipun aboejinya memaksa. “Kita jemput Kyungsoo sekarang..kau jangan cemas…”

*

*

*

Myungsoo sedikit bisa meredam kepanikan SungJong dengan mengajaknya untuk membali peralatan sekolah baru untuk Kyungsoo. Tadi ia juga sudah menelvon aboejinya dan ia tahu bahwa Kyungsoo sedang asik bermain. Sebenarnya tidak ada yang perlu dicemaskan, Myungsoo tahu jika aboeji nya itu tidak akan menyakiti seseorang yang berhubungan dengannya. Apalagi ini adalah anaknya, yang merupakan cucu nya sendiri.

“Baby, sambil menunggu Kyungsoo kau ingin makan dulu?” tanya Myungsoo. saat ini ia mengajak SungJong kembali ke ruangannya di Rainbow Mall. Pekerjaan lembur Myungsoo sangatlah banyak, namun akhir-akhir ini ia tidak merasakan lelah menjalaninya.

“Aku tidak lapar hyung, ketika perutku sakit aku tidak bisa makan apapun…”

“Kau jangan cemas baby, aku akan mencari dokter yang terbaik untuk bisa menyembuhkan sakitmu ini..”

SungJong tersenyum. “Tidak perlu aku bisa menahannya…”

“Tidak baby, jangan meremehkan rasa sakit itu…”

SungJong akhirnya hanya mengangguk patuh. Lelaki di hadapannya ini terlihat tulus sekali akan menebus semua kesalahannya di masa lalu, dan ini membuat SungJong semakin yakin bahwa dia tidak salah untuk menerimanya kembali.

Myungsoo mengecup keningnya dengan lembut, disaat memiliki waktu berdua seperti ini merupakan kebahagiaan tersendiri baginya. Setelah sekian lama akhirnya bisa merasakan bahagia seperti ini. Myungsoo mulai mengecup bibirnya ketika pintu tiba-tiba terbuka dan seseorang masuk ke dalam.

Dengan refleks SungJong mendorong tubuh Myungsoo untuk menjauh, dan Myungsoo pun segera berbalik. Tidak jauh berbeda dari ekspresi Myungsoo maupun SungJong ketika melihat siapa yang baru saja datang kesana.

“A-aboeji….” Gumam Myungsoo.

Mr Kim berdiri disana menggendong Kyungsoo yang terlelap dan berhenti pada beberapa langkah di depan pintu ketika melihat Myungsoo dan SungJong. Myungsoo memiliki tatapan tajam yang mematikan, namun Mr Kim memiliki tatapan yang lebih dari sekedar tajam. SungJong benar-benar takut melihatnya, tubuhnya mulai gemetar.

“Aboeji kau datang….” sapa Myungsoo lagi.

“…dan mendapatkan kejutan seperti apa yang baru saja kulihat?” celetuknya dengan masih menatap tajam.

SungJong hampir tidak bsia bernafas dengan sempurna, tentu saja Mr Kim pasti melihat ketika Myungsoo menciumnya tadi. Dan ini tidak akan baik. Dia harus segera pergi dari sini. Namja itu kemudian berjalan mendekat ke arah Mr Kim kemudian mengambil Kyungsoo dari gendongannya dengan hati-hati. “Kyungsoo pasti sangat merepotkan, aku minta maaf…aku akan pergi…” ucap SungJong tanpa berani menatapnya.

“Kau mana bisa pergi sebelum menjelaskannya hah?” tahan Mr Kim sembari mencekal lengan SungJong. Dengan refleks lagi SungJong melepaskannya dan mundur ke belakang Myungsoo sembari menunduk dan mengelus punggung Kyungsoo gemetar. “A-aku akan pulang…jebal..biarkan a-aku pulang…”

“Tidak!!” Myungsoo berbicara dengan nada tegas. “Karena kalian sudah disini, aku tidak ingin menundanya lagi, aku ingin menyelesaikannya saat ini juga…”

Mr Kim menatap Myungsoo tajam. “Kau mengatakan padaku akan menikah, tapi kenapa kau masih berhubungan dengan namja ini? kupikir kau sudah berubah Myungsoo-ya..”

“Aboeji aku….”

“Chakkaman…” potong Mr Kim sembari menatap SungJong. “Apakah Kyungsoo anakmu?”

SungJong mengangkat kepalanya dan menatap Myungsoo sejenak, tanpa berani untuk menjawab pertanyaan itu. “Kau bisa mendengarku kan? Jawab! Apakah Kyungsoo anakmu??” Mr Kim mengulang pertanyaannya, dan hal ini semakin membuat SungJong gemetar.

“Aboeji…entah kau setuju atau tidak aku akan menikahi Lee SungJong…” sahut Myungsoo dengan cepat. “aku tidak apa jika kau mengusirku setelah ini atau bagaimana, tapi aku tetap akan menikahinya, aku akan menikahi seseorang yang sudah memberikan cucu untukmu..”

Mendengar itu Mr Kim segera menatap Myungsoo dan juga SungJong bergantian. Sungguh tatapannya itu tidak bisa ditebak, lelaki paruh baya itu mungkin saja marah, namun beberapa saat kemudian dia tampak menarik nafas panjang.

“Sudah kuduga kalau Kyungsoo itu anak dari Lee SungJong…”

Kini gantian Myungsoo dan SungJong yang terkejut, dan SungJong saat ini sudah berani untuk mengangkat kepalanya meskipun masih sedikit takut. Mr Kim lalu sedikit mendekat dan menatap SungJong. “Saat aku menyuruhmu untuk membunuhnya dulu…kenapa kau tidak melakukannya?” tanyanya. SungJong berdebar keras.

“A-aku…”

“Aku memang berpikir kau tidak membunuhnya karena kau bahkan pergi dari rumahmu…”

Jemari SungJong mengeratkan tubuh Kyungsoo dalam pelukannya dan mencoba untuk menjawabnya. “Mana mungkin…aku bisa membunuhnya…Kyungsoo adalah hasil cinta kami berdua..a-aku tidak bisa menurutimu, dan maaf…aku membesarkan Kyungsoo sampai saat ini…”

“Meskipun kau jatuh miskin karena kau pergi dari rumahmu?”

“Aku tidak menyesalinya…”

“Tunggu!!” Myungsoo merasa tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka. Dua orang ini terlihat seperti pernah memiliki cerita di masa lalu yang tidak ia ketahui. “Ada apa sebenarnya? Siapa yang kau suruh untuk membunuh siapa??” tanyanya dengan penasaran yang tinggi.

Karena SungJong masih gemetar tidak terlihat ada tanda-tanda untuk menjawab semua itu, Mr Kim kemudian melunakkan pandangannya. “Baiklah, sebenarnya aku tahu masalahmu itu Myungsoo-ya….” Ucapnya. “Tujuh tahun yang lalu saat SungJong mengatakan padamu kalau di dalam dirinya ada anakmu aku mendengar pembicaraan kalian..”

“APA??”

“Tentu aku tidak bisa menerimanya, apalagi setelah aku membaca hasil tes dari Lee SungJong yang mengatakan semua itu benar, kau satu-satunya putra ku, apa kata semua rekan bisnis ku jika tahu anakku memiliki hubungan yang tidak normal dengan seorang pria, jadi aku memutuskan untuk menyuruh SungJong….membunuh calon anaknya itu…”

“Aboeji kau…..!”

“Aku tahu aku salah, saat itu aku hanya memikirkan kebaikanmu saja, kau masih sangat muda…”

Myungsoo hampir tidak percaya mendengar semua itu, pantas saja SungJong sangat ketakutan ketika ia menyebut aboejinya. Dan yang lebih membuatnya terharu adalah, meskipun diancam oleh aboejinya SungJong lebih memilih untuk pergi jauh dari mereka dan mempertahankan anaknya. Myungsoo benar-benar berhutang banyak pada SungJong.

“Aboeji…sekarang aku tidak peduli, kau menyukainya atau tidak, aku tetap akan menebus semua kesalahanku dan bertanggung jawab dengan mereka berdua, aku benar-benar tidak peduli jika kau akan mengusirku!” tegas Myungsoo sembari mendekap pinggang SungJong.

Mr Kim lagi-lagi menarik nafas panjang. “Aku tahu, menjauhkanmu dari Lee SungJong tidak akan membuatmu kembali normal, malah akan memperburuk keadaanmu….”

“Maksudmu aboeji…?”

“Aku sudah tua, memiliki seorang cucu adalah keinginanku, dan keinginan itu sudah terpenuhi, dan kau sudah memberikan cucu laki-laki seperti apa keinginanku, tidak ada alasan untuk menghalangi kalian berdua lagi, kalian boleh menikah, dan Myungsoo kau harus merawat mereka berdua dengan baik…”

Sejenak SungJong dan Myungsoo saling berpandangan tidak percaya mendengar hal itu. “Aboeji…kau serius…

“Aku tidak pernah main-main…” jawabnya kemudian menatap SungJong. “Tidak perlu takut lagi padaku, dan terima kasih kau sudah menjaga cucuku dan membesarkannya dengan baik..” sambungnya sembari menepuk bahu SungJong.

SungJong mengangguk pelan. “N-ne…”

“Baiklah…Myungsoo-ya, segara bawa SungJong dan Kyungsoo ke rumah, cucu ku harus mendapatkan tempat dan pendidikan yang layak, aku tidak menerima penolakan, besok mereka berdua harus sudah berada di rumah denganmu juga!”

Myungsoo tersenyum senang. “Aku akan melakukan itu, terima kasih aboeji…”

“Dan soal keluargamu…” ucap Mr Kim pada SungJong. “Jangan cemas, Lee Sungmin-ssi bukan orang yang keras seperti ku, dan aku yakin ia akan senang bertemu denganmu lagi saat dia kembali dari China nanti…”

“G-gomawo….aboeji…” ucap SungJong dengan sedikit senang.

“Jika begitu aku pulang dulu, jangan lupa pesan ku tadi…”

Myungsoo dan SungJong mengantar Mr Kim sampai ke depan pintu. Entah apa yang terjadi dengan hari ini yang pasti mereka berdua benar-benar senang. Myungsoo memang sempat marah karena aboeji nya dulu pernah mengancam SungJong, namun sekarang semua berbeda. Sungguh ini kebahagiaan yang tidak bisa untuk diungkapkan dengan kata-kata.

“Aku besok akan berbicara pada Hoya sajangnim dan mengucapkan banyak terima kasih karena ia sudah menjaga mu selama ini…” ucap Myungsoo sembari menyelimuti Kyungsoo dengan jas miliknya.

“Ne, aku berhutang banyak dengannya…”

Myungsoo kemudian berdiri lalu melingkarkan tangannya pada pinggang SungJong dan sedikit mengangkat namja itu. “Aku sangat mencintaimu…”

“Kau tidak perlu mengatakan semua itu, aku sudah tahu….”

“Baby….” Myungsoo tersenyum kemudian mengecup bibir SungJong sekilas kemudian mereka berpelukan dengan sangat erat. Hari ini dunia serasa milik mereka.  Apa yang selama ini mereka inginkan telah tercapai hari ini.

 

*

*

*

Langkah kecil Kyungsoo berlarian menyusuri ruang tengah kemudian mencapai taman belakang dan akhirnya sampai pada bangku taman di dekat kolam renang. Disana ia melihat SungJong tengah menanam beberapa tanaman dengan telaten. Kyungsoo segera berlari mendekat.

“Eomma!!”

SungJong menghentikan aktifitasnya dan menengok. “Hmm? Ada apa sayang? Kau tidak bermain dengan haraboeji?”

“Ne, aku hanya ingin menyampaikan hadiah dari aboeji?”

“Aboeji? Myungsoo aboeji sudah pulang?”

Kyungsoo mengangguk. “Ne, dan dia memintaku untuk memberikan ini padamu Eomma…” Kyungsoo memberikan sebuah kertas yang terlipat dua pada SungJong kemudian berlari pergi dari sana.

SungJong membukanya kemudian tersenyum.

“Haloo manis, tidak ingin menyambut suamimu yang baru pulang hmm? Kemarilah, aku lelah, aku butuh sentuhanmu, kutunggu di tempat tidur.. –suami tampanmu- Myungsoo”

Namja itu kemudian melipat kertas tersebut dan memasukkan ke dalam sakunya lalu mencuci tangannya dengan segera. Wajahnya cerah dan perasaannya bahagia. Ahh dia harus segera ke kamarnya, sekarang juga.

 

-End-

∞Where You At∞ #Chapter2

*

*

* *

 “Jangan membolos dan jangan pulang sebelum aku menjemputmu!” 

SungJong berpesan pada anak kecil yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah itu. Sudah sangat biasa jika ucapannya itu hanya ditanggapi ringan oleh sang anak kecil. SungJong menarik nafas panjang dan bersiap untuk pergi, namun baru beberapa langkah, di rasanya si anak kembali berlari menghampirinya. 

“Kenapa Kyungsoo-ya?” tanyanya sembari merunduk dan menatap putranya itu. 

“Sebaiknya nanti jangan menjemputku…”

“Kenapa?” 

“Karena aku bisa pulang sendiri..” 

“Tapi kau langsung pulang jangan main kemana-mana…” 

Kyungsoo cemberut mulai kesal. “Eomma!!” 

“Aboeji!! Minta baik-baik lalu aku akan memenuhinya…” 

“Tidak mau! Pokoknya Eomma tidak boleh menjemputku!” tegas Kyungsoo lalu berbalik dan berlari pergi. 

“Heiss!! Keras kepala! Siapa yang kau panut hah??” 

SungJong hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lelah. Sudah sangat biasa menghadapi Kyungsoo yang keras kepala. Sebenarnya anak itu anak yang baik, namun terkadang keras kepalanya itu membuatnya terlihat seperti anak yang berontak. 

Sudah hampir siang, dan SungJong harus segera kembali bekerja. Pekerjaannya saat ini sebenarnya tidak terlalu menghasilkan banyak uang, namun dia masih berusaha untuk bertahan selama itu bisa mencukupi kebutuhan Kyungsoo. Tidak mudah baginya untuk memenuhi kebutuhannya dan juga anaknya sementara ia hanya hidup berdua saja. Tapi namja itu tidak mau berpikir yang macam-macam, sejak ia memutuskan semua ini dia sudah siap dengan apa yang akan ia hadapi. 

** 

Hari ini sudah cukup banyak pelanggan yang datang ke toko baju tempat SungJong bekerja. Sudah lima bulan ia pindah kesini, dan ia lumayan betah karena boss nya adalah orang yang sangat baik. 

Setelah selesai mengganti pakaiannya, SungJong segera bersiap untuk pulang. Jaket hitam dan celana jeans-nya membuat SungJong terlihat lebih segar. Rasa capeknya memang sangat terasa namun ia harus segera pulang untuk menyiapkan makan Kyungsoo. Kyungsoo akan susah makan jika ia terlambat memasak. 

“SungJong-ah…” 

Seorang namja dengan pakaian jas hitam rapi nampak berdiri di sebelah sebuash mobil. Wajahnya sumringah begitu melihat kehadiran SungJong. 

“Oh…hyung?” berbeda dengannya, SungJong terlihat sedikit canggung ketika menghampirinya. Wajah manisnya terlihat lebih lelah dari yang tadi. “Hoya hyung kau sedang apa disini? kau ada urusan ?” 

Namja itu tersenyum dan menarik tangan SungJong untuk mendekat. “Untuk menjemputmu tentu saja, dan aku ingin mengatakan sesuatu padamu…” 

“Oh ya?” SungJong mencoba untuk tersenyum meskipun itu sedikit dipaksakan. 

“Tentu saja, masuklah….” Hoya membukakan pintu mobil dan mempersilahkan SungJong untuk masuk. Tidak ada pilihan lain SungJong segera masuk ke dalam mobil mewah itu. Dan lagi jika ia tidak menerima tawaran Hoya ini dia akan sampai lebih lambat ke rumah. Kyungsoo akan marah lagi jika ia terlambat menyiapkan makanan. 

Tak ada sepatah kata pun yang keluar sepanjang perjalanan, meskipun Hoya mengajaknya untuk bicara berkali-kali. Ia lebih asik tenggelam ke dalam pikirannya menatap keluar jendela. Ini mungkin memang sudah bertahun-tahun, tetapi disaat dia sendiri, ia selalu mengingat semua masa lalunya. 

Masa lalu yang indah namun kemudian harus berubah menjadi pahit dan menghancurkan hidupnya. Setiap kali menatap Kyungsoo dia akan teringat semuanya, karena wajah itu mengingatkan dirinya akan seseorang yang membuatnya hidup seperti ini, menderita dan jauh dari semua keluarga yang ia cintai. 

“SungJong-ah….” 

“hyung kau duduk dulu, aku akan membuatkanmu kopi…” ucap SungJong sembari melepaskan jaketnya. Namun Hoya menarik pergelangan tangannya untuk duduk disampingnya. 

“Hmm…? Kenapa hyung…?” tanyanya sedikit canggung, meskipun Hoya sudah sering melakukan ini namun dirinya selalu merasa tak nyaman. 

Hoya mendekatkan tubuhnya kemudian menggenggam tangan SungJong. “Aku sudah mengurus surat izin untuk membuka toko di Mall, dan semuanya sudah selesai, mulai besok kau sudah bisa mengambil alihnya, kau siap kan??” 

“hyung…kau serius?” mata bening SungJong membulat sempurna. 

“Tentu saja aku serius..aku sudah mengatakan padamu jika aku akan menyerahkan toko itu untuk kau urus, mulai besok kau sudah bisa untuk mulai bekerja…” ucapnya sungguh-sungguh. 

SungJong tersentuh dan menatap namja di hadapannya itu. Dia selalu terbantu dengan hadirnya Hoya di dalam hidupnya yang sampai kapan pun tak akan mampu ia membalasnya. Hoya kemudian meraih SungJong dan memeluknya. Perasaannya pada SungJong memang tulus namun sampai saat ini perasaan itu sama sekali belum terbalas. 

Hoya melepas pelukan kemudian menggenggam tangan SungJong. Wajah SungJong sedikit tersipu, sungguh dia tidak bisa menolaknya karena Hoya banyak membantu selama ini, namun ia pun juga tidak bisa menerima setiap kali Hoya menyatakan perasaannya. Karena namja manis itu masih menyimpan perasaannya pada orang lain.

“SungJong-ah, aku tidak akan bosan mengatakan ini….” ucap Hoya. “Namun, aku sangat mencintaimu, menikahlah denganku, dan aku berjanji akan membuatmu bahagia, dan juga aku akan menyayangi Kyungsoo seperti anak ku sendiri…jebal…” 

Sangat berat hati SungJong harus kembali menggeleng pelan, dia tahu sikapya ini  akan menyakiti Hoya yang sudah sangat bai padanya, namun ia tidak punya pilihan lain. 

“hyung…mianhae, kau sudah banyak membantuku selama ini, kau juga selalu menyayangi Kyungsoo….” Ucapnya. “Namun, aku benar-benar tidak bisa, aku tidak siap,aku takut malah akan membuatmu menderita, aku….sangat tidak pantas untukmu, jika kau menikahiku, apa kata orang-orang nanti? Kau tidak boleh hancur karena diriku…” 

Raut kekecewaan jelas sekali terlihat, namun Hoya masih memberikan senyuman tulusnya. “Baiklah tidak apa, aku bisa mengerti, tapi aku tidak akan pernah berhenti untuk mengejarmu SungJong-ah…” 

SungJong tersenyum, setidaknya Hoya tidak pernah marah, Hoya selalu memperlakukannya dengan baik dan lembut. Setiap kali Hoya memeluknya seperti sekarang ini, SungJong merasa sangat aman. Seperti dalam perlindungan seorang keluarga, karena selama ini ia memang hanya menganggap Hoya sebagai saudaranya, tidak lebih. 

Brak! “Eomma!” 

Mendengar suara itu, SungJong segera melepaskan peluka Hoya dan berdiri. Kyungsoo nampak sudah pulang dengan menggendong tas kecilnya. “Oh kau sudah pulang? Segera ganti bajumu dan makan, okey?” 

Namun anak itu tidak bergeming, dia menatap SungJong dan juga Hoya secara tajam, tatapan tidak suka pada Hoya selalu ia berikan. Namun Hoya tersenyum ramah dan mendekatinya. “Annyeong Kyungsoo-ya, Paman membelikanmu Pizza tadi, kau suka kan…? segera ganti baju mu dan kita makan bersama…” 

“Tidak mau! Aku tidak suka pizza!!” ucapnya ketus. 

“Kyungsoo-ya!! Astaga dimana sopan santunmu??” SungJong benar-benar merasa tidak enak pada Hoya. 

“Tidak apa SungJong-ah…” ucap Hoya sembari menepuk bahu Kyungsoo pelan. “Sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi untuk meluluhkan hati si kecil ini..” 

Kyungsoo melepaskan tangan Hoya dari bahunya dan memberikannya tatapan tidak suka. “Paman jangan seperti ini! sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau untuk menerima Paman sebagai ayahku!!” ucapnya membuat Hoya sedikit terkejut. 

“Kyungsoo!!” bahkan SungJong pun sangat terkejut mendengar semua itu, ini bukan yang pertama anaknya itu berkata seperti itu namun sudah berkal-kali. 

“Dan Eomma juga!! Jika Eomma sayang padaku, Eomma tidak akan pernah membawa Paman ini pulang!!!” 

“YAA!! KIM KYUNGSOO KAU BENAR-BENAR!!!” 

Hoya mencegah SungJong yang hendak berjalan menuju Kyungsoo penuh emosi, semetara anak itu hanya menatap angkuh dan berjalan masuk ke dalam ke kamarnya. “YAA!! Anak nakal!! Kembali kemari dan minta maaf!! Kau benar-benar keras kepala!! Kenapa sikap seperti itu harus menurun padamu hah????’ teriak SungJong namun hanya di balas dengan bantingan pada pintu oleh Kyungsoo dengan keras. 

“Sudahlah SungJong-ah…dia hanya anak kecil…” Hoya menenangkan. 

“Oh hyung…Aku benar-benar minta maaf, Kyungsoo semakin besar semakin sering melawan, maafkan dia,aku benar-benar minta maaf…” ucap SungJong dengan nada yang begitu penuh sesal. 

Hoya kembali tersenyum dan menggenggam tangannya. “Sudahlah aku tidak apa-apa, bukankah dia memang tidak menyukaiku sejak dulu? Dia hanya takut aku merebutmu darinya….” 

“Tapi tidak seharusnya ia tidak sopan padamu, kau bahkan sangat baik selama ini, aku salah mendidiknya, sifat Ayah-nya benar-benar semakin terlihat dalam anak itu!” ucap SungJong terdengar kesal luar biasa. 

Untuk sesaat Hoya terdiam. Ketika sedang marah SungJong selalu saja kelepasan bicara menyebut Ayah dari Kyungsoo tanpa sadar. Namun ia tidak ingin memperpanjangnya, Kyungsoo pasti akan menyukainya suatu saat nanti. 

*

*

Biasanya pertengkaran SungJong dengan Kyungsoo akan bertahan lama,Kyungsoo menolak untuk diajak bicara, dan SungJong pun tidak tahu lagi harus bagaimana lagi menghadapi anaknya itu. Semakin dia dewasa jiwa berontaknya selalu saja muncul. 

“Kyungsoo-ya!! Kau tidak ingin makan? Kau tega membiarkanku mencemaskanmu???” SungJong masuk ke dalam kamar anaknya dan melihatnya tengah membaca buku. Tidak menghiraukan SungJong. 

SungJong mendekat. “Kyungsoo-ya!! Aku sedang berbicara denganmu!!” 

“Aku tidak mau makan pemberian Paman Hoya!! Buang saja!!” balasnya. 

“Mwoo??” mata SungJong membelalak kaget. “Kau bilang apa?? Makanan itu bukan dari Paman Hoya dan jika benar itu dari dia memangnya kenapa? Dia sudah banyak membantu kita selama ini…”

“Eomma!!!”  “Aboeji!! Aku aboejimu!!” 

Kyungsoo membanting bukunya. “Tidak, kau Eomma ku dan bukan aboeji! Jangan memaksaku untuk memanggilmu seperti itu!!” ucapnya bersungguh-sungguh. 

“Okey!! Kita tidak sedang membahas itu sekarang tapi kita membahas sikap sopan santunmu pada Paman Hoya, kau harus minta maaf padanya besok, katakan padanya kalau kau menyesal!!”

“Kenapa aku harus minta maaf?” 

“Karena kau tidak sopan padanya!” 

“Aku tidak mau!” 

“Kyungsoo!!!” 

Kyungsoo menghentakkan kakinya dan segera berdiri. “Aku tidak mau!! Apakah Eomma benar-benar berencana menikah dengannya?? Kau egois! Kau tidak pernah memikirkan perasaanku! Aku tidak menyukai Paman Hoya, tapi kenapa kau malah ingin menikahinya?” 

“Astaga Kyungsoo-ya..itu tidak benar, aku tidak akan menikah dengannya…” 

“Kau bohong!! Dan aku benci pembohong!!” 

“Kau benar-benar keras kepala!! Kenapa kau mempunyai sifat yang sama seperti orang itu hah??? Kau benar-benar….” 

“Entahlah, mungkin karena yang kau maksud dengan ‘orang itu’ adalah aboeji ku maka aku sudah pasti mewarisi sifatnya!!” sahut Kyungsoo dengan cepat. SungJong benar-benar terkejut. 

Dia masih ingin berbicara dengan Kyungsoo namun tiba-tiba saja dia merasa pusing dan perutnya sakit bukan main. Dia menekannya sesaat. “Baiklah, jika kau lapar makanan sudah Eomma siapkan di meja…” 

Tanpa membuang waktu SungJong segera bergegas pergi dari sana dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Namja itu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dan meremas perutnya dengan kuat. Rasanya sakit bukan main, dan setiap kali rasa sakit itu datang SungJong selalu merasa hidupnya benar-benar menderita. 

Sedikit ia menyingkapkan bajunya dan menatap ke arah perutnya, ada banyak sekali bekas jahitan disana, perutnya terlihat sangat penuh. Sejak SungJong memberikan kehidupan dan membawa Kyungsoo hadir ke dunia ini, ia sudah menyadari dan tidak akan pernah heran jika tubuhnya ini berbeda. Rasanya sangat sakit jika mengingat semua itu. Dan mungkin saja saat itu dengan operasi yang sangat sederhana sedikit meninggalkan sesuatu untuknya, perutnya selalu terasa sakit, dan kepalanya pusing. Beruntung dia masih bisa untuk bertahan selama ini. 

“hyung…sakit…dimana kau saat aku butuh dirimu….” Air mata SungJong mengalir, tangannya terus menekan perutnya dengan kuat. “Myungsoo hyung…” gumamnya. 

“Eomma…kau baik-baik saja…” Kyungsoo tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dan menghampirinya. Baiklah, bagaimanapun marahnya Kyungsoo tadi, ia juga tahu bahwa SungJong dalam kondisi tidak baik. Dan ia pun tidak akan pernah bisa untuk mengabaikan Eomma-nya yang sedang sakit.

SungJong tersenyum dan menggumam bahwa ia baik-baik saja, namun Kyungsoo tidak percaya. Anak itu segera membimbing SungJong untuk berbaring dengan posisi yang benar, kemudian menggenggam tangannya. “Eomma, apa yang sakit? Katakan padaku…dan apa yang harus kulakukan…?” tanya dengan nada yang terdengar cemas namun wajahnya menunjukkan rasa tenang. Melihat itu SungJong benar-benar merasa seperti sedang bersama dengan orang yang juga telah membawa Kyungsoo ke dunia ini. 

“Tak apa Kyungsoo-ya…aku baik-baik saja….” 

“Maafkan ucapanku tadi Eomma, aku tidak bermaksud untuk membentakmu, aku hanya takut Eomma akan lebih mencintai Paman Hoya dibandingkan dengan aku…” 

SungJong tersenyum, sudah ia duga, Kyungsoo sebenarnya memang anak yang baik. Hanya saja ia tidak bisa untuk mengungkapkannya dengan baik. “Kyungsoo-ya, kau satu-satu nya yang aku cintai, tidak ada yang lain, kau tidak perlu untuk mencemaskan hal itu….”

Kyungsoo mengangguk, anak itu kemudian berbaring disamping SungJong kemudian memeluknya. Kyungsoo tahu, Eomma nya itu sedang menahan sakit yang luar biasa di perutnya karena itu sudah sering sekali terjadi. Anak itu kemudian menurunkan tangannya dan mengelus perut Eomma-nya dengan lembut, mencoba memberikan kenyamanan.

Benar saja, SungJong merasa sangat nyaman dan tidak berapa lama kemudian namja itu terlelap. 

“Maafkan aku Eomma…” 

 ****  ****   Satu yang sepertinya SungJong sesali karena telah mengelola toko pakaiannya. Hoya ternyata mengambil tempat di Rainbow Mall, SungJong harus berkali-kali menguatkan hatinya kalau semua akan baik-baik saja. Dia sangat tahu siapa pemilik dari Rainbow Mall ini, Kim Myungsoo, seseorang yang sangat berpengaruh di masa lalunya. Dia benar-benar berada di satu tempat yang sama dengan namja itu, nama yang sangat ingin lupakan. 

Hari pertama mungkin semuanya berjalan lancar. Kim Myungsoo adalah seorang Direkur Utama jadi kesempatan untuk bertemu mungkin akan sangat sedikit.Dan SungJong bisa bernafas lega setiap kali memikirkannya. Dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya, disini benar-benar lebih nyaman,SungJong tidak tahu bagaimana Hoya nanti akan memberikannya gaji namun ia mempunyai firasat jika Hoya memberikan toko ini pada nya. Dan jika sudah seperti ini SungJong akan merasa semakin banyak berhutang. 

Karena kualitas pakaian dari toko nya memang sangat bagus, tak butuh waktu yang lama bagi SungJong untuk menarik pelanggan. Hoya pun juga senang melihat semua itu, dan setiap waktu namja itu selalu datang untuk menengoknya. 

Dan hal yang membuat SungJong merasa hampir membeku adalah hari dimana ia melihat Myungsoo berada di sekitaran lantai dua mengecek toko-toko. Namun beruntung saja ia tidak mampir ke tokonya. Dan SungJong bisa menatap dengan jelas meskipun itu dari kejauhan. Myungsoo terlihat semakin tampan dan penuh pesona, maklum saja dia pewaris dari semua kekayaan itu, sudah pasti dia juga semakin keren saja. 

Di hari lain, SungJong dapat melihat Myungsoo berjalan dengan seorang namja yang berpostur hampir sama dengannya di parkiran. Myungsoo keliatan sangat menyayangi namja itu dari cara ia memperlakukannya. Baiklah, ini sudah tujuh tahun lamanya, Myungsoo pasti juga sudah memiliki pengganti dirinya, memang sudah seharusnya ia melupakan Myungsoo. 

“Eomma! Kenapa kau melamun?” tegur Kyungsoo. 

SungJong segera mengusap matanya dan buru-buru tersenyum. “Tidak, aku baik-baik saja, dan kenapa kau menyusul kemari huh?” 

“Aku bosan di rumah…” 

“Lalu putraku ini sudah makan?” tanya SungJong menarik Kyungsoo untuk mendekat. 

Kyungsoo mengangguk, namun dia tidak mungkin mengatakan pada SungJong bahwa ia tadi sudah makan bersama dengan ahjussi baik hati yang beberapa waktu lalu ia buat kesal. 

SungJong terdiam dan menatap putra satu-satunya itu, Kyungsoo benar-benar mirip dengan orang itu, bahkan dari sifatnya pun tidak jauh berbeda. Sebenarnya hanya anak ini satu-satunya hal yang sangat berharga yang Myungsoo berikan untuknya. Sayangnya Myungsoo tidak pernah tahu, dia lebih mementingkan egonya dari pada menerima anak ini dulu.

“Eomma, kau kenapa menangis sih??” tegur Kyungsoo. “Kenapa setiap menatapku kau menangis, apa ada yang salah denganku?”

“Tidak sayang….tidak…” ucap SungJong cepat. “Hanya saja….kau tumbuh begitu cepat, rasanya baru kemarin kau hadir di dunia ini…” 

“Aku kan sudah bilang aku akan cepat dewasa dan melindungi,juga menggantikanmu untuk bekerja…” 

SungJong tersenyum kemudian menarik Kyungsoo ke pelukannya. Andai ia masih di tengah-tengah keluarga Lee mungkin Kyungsoo akan mendapatkan semuanya yang terbaik. Atau mungkin jika dahulu Myungsoo tidak mengabaikannya, sudah tentu pula Kyungsoo akan hidup lebih baik. 

.

.
Sudah hampir satu bulan SungJong bekerja di Rainbow Mall dengan aman, dia bisa menghindar setiap kali ada Kim Myungsoo meskipun beberapa kali ia yakin Myungsoo telah melihatnya, namun dengan gerakannya yang tergolong sudah ia persiapkan ia bisa lolos dengan mudah darinya. 

Namun hari ini bukan hari yang beruntung bagi SungJong. Myungsoo melihatnya! Namja itu masih mengenalinya, SungJong mati-matian untuk berkelit, ini sudah sangat lama, namun perasaannya belum hilang, SungJong masih sangat mencintainya. Tetapi ia tidak mau mengakuinya, ia sudah bertekat untuk melupakan Myungsoo dan juga semua kenangannya. Tetapi sepertinya Myungsoo juga tidak menyerah, namja itu selalu menemui dan juga mengawasinya, satu yang pasti, Myungsoo tidak pernah berubah. Selalu memaksakan kehendaknya. Hingga saat Myungsoo menyeretnya menjauh, SungJong tidak bisa mengelak, benar Myungsoo memeluknya dan ia merasakan nyaman, namun Myungsoo selalu membuatnya kecewa. Hingga saat ini bahkan Myungsoo masih menganggap apa yang ia katakan waktu itu adalah mustahil. Myungsoo menganggap omong kosong perihal Kyungsoo saat itu. 

“SungJong-ah…sudah sampai, bangunlah…” ucap Hoya membangunkan namja itu. Namun…ada yang aneh, SungJong terlihat memejamkan matanya erat seperti menahan sakit, keringat dingin terlihat mengalir di sekitaran wajahnya. 

“Astaga, kau baik-baik saja…?? kau kenapa, bukankah  tadi kau tidak seperti ini?” tanyanya cemas. 

“Perutku sakit…” 

Hoya segera keluar dari mobil dan membukakan pintu SungJong. “Kau bisa jalan?” SungJong mencoba untuk bangkit dan melangkahkan kakinya, namun belum sempurna berdiri, namja itu sudah terhuyung. “Baikah, aku akan menggendongmu..” ucap Hoya lagi dan segera mengangkat tubuh yang lumayan ringan itu untuk menuju ke apartement. Dia sudah sering melihat SungJong sakit seperti ini, dan hingga sekarang ia tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. 

“Eomma!! Dia kenapa Paman???” Kyungsoo begitu cemas melihat SungJong yang terlihat dalam kondisi yang kurang baik. “Dia sakit Kyungsoo-ya, segera ambilkan obatnya dan antar ke kamar!” 

Hoya membawa SungJong masuk ke kamar lalu membaringkan ke tempat tidur perlahan, menyelimuti tubuh yang masih menahan sakit itu dengan rapat. Namja itu kemudian duduk di tepi tempat tidur dan menggenggam tangannya. 

“M-Myungsoo hyung….” 

“Ne? Kyungsoo?” 

Awalnya Hoya mengira yang SungJong gumamkan adalah nama Kyungsoo, namun setelah ia coba untuk mendengarkan lagi nama Myungsoo yang terdengar. Di dunia ini ia hanya mengenal satu nama Myungsoo, yaitu rekan bisnisnya, Kim Myungsoo. 

“Paman, kau pulang saja, aku yang akan menjaga Eomma….” Tegur Kyungsoo. Ia sangat tidak suka setiap kali melihat Hoya berdekatan dengan SungJong. 

“Tidak apa Kyungsoo-ya, Paman akan menemaninya disini…” 

“Paman! Aku bisa menjaga Eomma, kau pulang saja!” 

“Tapi bagaimana jika kau butuh sesuatu?” 

“Paman!” 

Hoya tersenyum, tidak ada yang bisa menang ketika berdebat dengan Kyungsoo. Anak itu benar-benar tidak ingin ia bersama dengan SungJong. Hoya kemudian bangkit setelah mengelus wajah SungJong dan memberikan kecupan ringan di pipi nya.  “Baiklah Kyungsoo-ya, Paman pulang, jika kau butuh sesuatu telvon Paman saja okey?” 

Kyungsoo hanya mengangguk meskipun sebenarnya dia tidak ada niat untuk menelvon Hoya. Ia lebih baik meminta bantuan pada Paman baik hati yang ia kenal beberapa waktu ini, Paman Myungsoo.

.

.

.

SungJong benar-benar tidak bisa menghindari lagi ketika setiap waktu Myungsoo selalu mengunjunginya. Ia takut Myungsoo akan bertemu dengan Kyungsoo. Memang dia sudah tidak peduli namun ketika mereka berdua bertemu yang pasti itu tidak akan baik. SungJong bahkan sudah melarang Kyungsoo untuk datang ke Mall, namun ia juga tahu bahwa anak itu tidak mungkin akan terus menurutinya. 

Hingga saat itu tiba, sudah hampir malam namu Kyungsoo tidak kunjung datang. Anak itu tidak pamit padanya, entah ada kelas tambahan atau main ke tempat temannya. SungJong harus menanti anak itu di luar sembari menelvon beberapa teman Kyungsoo yang ia tahu. Namun Kyungsoo tidak ada bersama dengan mereka. 

Dan namja berwajah manis itu bertambah terkejut ketika melihat Kyungsoo pulang bersama dengan orang itu. Orang itu! Orang yang sudah membuatnya seperti ini, orang yang juga membuat Kyungsoo hadir di dunia ini. Kim Myungsoo. 

SungJong gusar dan marah, Myungsoo sampai saat ini masih tidak percaya dengan semunya, padahal dia penyebabnya. Dia yang melakukan semua itu padanya, namun dia seolah tidak ingin mengakuinya. 

“Kyungsoo-ya!!! Sejak kapan kau kenal dengan orang itu hah??” tanya SungJong dengan membanting pintu begitu keras. 

“Sudah lama…” 

“Mwoo?? Darimana kau mengenalnya? Kenapa kau bisa mengenalnya?? Dan yang pasti kenapa kau tidak bercerita padaku??” 

“Eomma! Apakah aku harus menceritakan semuanya padamu? Myungsoo ahjussi orang nya baik, dan tidak ada salahnya aku berteman dengannya!” 

SungJong bertambah gusar, dia benar-benar seperti kehilangan sebagian dirinya. Myungsoo sekarang tahu jika Kyungsoo adalah anaknya, bagaimana jika ia mengambil Kyungsoo darinya?? 

“Jauhi dia Kyungsoo-ya!” 

“Tidak mau!” 

“Kau mau melawanku?? 

“Terserah Eomma, tapi Myungsoo ahjussi orang yang baik, jauh lebih dari Hoya ahjussi!!” teriak Kyungsoo.

Tanpa sadar SungJong menendang kursi dengan sangat keras. “JANGAN MEMBANDINGKAN MEREKA BERDUA!!! Dimana rasa sopanmu???” bentak SungJong dengan emosi. Kyungsoo hanya mendengus kesal, ia sebenarnya ingin sekali menjawabnya namun ia takut SungJong akan kembali sakit. Sudahlah, lebih baik dia pergi saja ke kamarnya. 

“Kyungsoo-ya!! Aku belum selesai bicara!! Kembali kesini!!” teriak SungJong lagi namun Kyungsoo tidak menyahut dan terus masuk ke dalam kamar. 

SungJong menjatuhkan dirinya ke kursi, jantungnya berdebar keras. Perasaan takut benar-benar mulai menyelimuti hatinya. Dia takut dengan Myungsoo, dia takut dengan semuanya, takut dengan keluarga Myungsoo, dan juga takut dengan keluarganya sendiri. “Apa yang harus kulakukan…?” 

.

.

.

.

Myungsoo pagi ini sudah menyuruh Woohyun untuk menggantikan semua rapatnya. Setelah mengetahui kenyataan kemarin dia sama sekali tidak bisa berhenti memikirkannya. Dia masih belum bisa mempercayai semua ini, SungJong itu namja, tapi kenapa dia bisa….ahh Myungsoo sangat pusing. 

Dan disini dia sekarang masih di dalam mobil menunggu Kyungsoo keluar dari apartementnya, da berharap tidak bertemu SungJong untuk hari ini. Tak berapa lama kemudian nampak sosok kecil itu keluar. Myungsoo segera memanggilnnya untuk mengantarkan ke sekolah. 

“Paman, aku minta maaf, Eomma kemarin mungkin memarahimu…” celetuknya. 

“Tidak apa, kurasa wajar jika dia marah karena aku mengajakmu bermain hingga menjelang malam…” Ucapnya seraya tersenyum . 

“Terima kasih Paman…” 

Myungsoo mengangguk dan berpikit sejenak, dia sesekali menengon ke arah Kyungsoo. Benarkah anak ini anaknya? Jika benar tentu dia merasa senang, namun kenapa bisa? SungJong adalah seorang namja tapi kenapa dia bisa melahirkan anaknya? 

“Kyungsoo-ya, boleh paman bertanya sesuatu?”

“Apa Paman..” 

“Lee SungJongie….dia Eomma mu? Maksudkuu….kenapa kau memanggilnya Eomma dan bukan aboeji? Kau tahu kan jika….” Myungsoo benar-benar berusaha keras mencari kata yang pas. 

Namun sepertinya Kyungsoo sama sekali tidak bingung dengan pertanyaan itu. “Karena dia Eomma ku…” Jawabnya kemudian, ini membuat Myungsoo benar-benar harus berpikir keras. 

“Maksudmu Kyungsoo-ya..?” 

“Dia Eomma ku Paman, aku sama seperti anak yang lainnya, aku berasal dari perut Eomma, kau bisa melihatnya ada banyak sekali bekas jahitan disana, Eomma bilang untung mengeluarkanku butuh banyak sekali operasi, hingga akhirnya aku bisa hidup….”

“…..” 

“Makanya aku memanggil dia Eomma meskipun dia menyuruhku memanggil aboeji, sudah banyak sekali yang menanyakan ini padaku jadi aku sudah terbiasa menjawabnya…” Lanjut Kyungsoo lagi. 

Myungsoo benar-benar kehilangan kata-kata. Ucapan Kyungsoo seolah mengingatkan dirinya akan masa lalu, semua ucapan SungJong benar, SungJong tidak berbohong, tetapi dia tidak mempercayainya. Astaga, selama ini dia pasti sangat menderita, sendirian mengurus Kyungsoo. Myungsoo merasa benar-benar namja yang tidak bertanggung jawab. 

“Lalu….kau tahu dimana….aboejimu?” Tanya Myungsoo serak, tanpa sadar dia memperlambat laju mobilnya. 

“Aku tidak tahu, Eomma hanya mengatakan kalau aboeji orangnya baik dan tampan sepertiku, jadi aku harus mengenangnya sebagai orang baik meskipun aku belum pernah bertemu bahkan melihat wajahnya….” 

Sekali lagi Myungsoo membeku, perasaannya seperti ditusuk ribuan jarum yang sangat menyakitkan. Dia tidak pernah bisa membayangkan betapa menderitanya SungJong selama ini, semua itu karena dirinya. Namun ia tetap mengajarkan pada Kyungsoo untuk selalu mencintainya. Myungsoo akan melakukan cara apapun untuk menebus semua kesalahannya. 

“Baiklah Kyungsoo-ya, belajar yang rajin!” ucap Myungsoo sembari mengusap rambut Kyungsoo pelan sebelum anak itu masuk ke dalam halaman sekolah. 

“Terima kasih ahjussi, oh ya, jika nanti kau bertemu Eomma di tempat bekerja tolong katakan padanya kalau aku minta maaf…” celetuknya. “Aku selalu membuatnya marah….” 

Myungsoo tersenyum, anak ini sebenarnya sangat manis meskipun terkadang angkuh. Oh astaga sekarang Myungsoo mengerti sifat angkuh dan dingin siapa yang menurun pada Kyungsoo. “Kyungsoo-ya…bolehkah…Paman memelukmu?” 

Kyungsoo sedikit heran, namun dia segera mengangguk cepat. Myungsoo memeluk tubuh yang kecil itu dengan erat. Perasaannya campur aduk, sesak dan sangat perih. Dia belum pernah merasakan yang seperti ini, air matanya seolah ingin keluar namun sekuat tenaga ia menahannya. Dia berhutang banyak pada Lee SungJong. 

Myungsoo bahkan tidak bisa melepaskan pandangan matanya sebelum Kyungsoo benar-benar menghilang masuk ke dalam gedung sekolahnya. Beberapa saat kemudian namja itu mengusap matanya lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Dia benar-benar butuh seseorang untuk mencurahkan isi hatinya dan juga minta pendapat. 

“Woohyun hyung….aku ingin berbicara denganmu…Aku akan ke kantor sekarang..” 

.

.

.

.

Baiklah, hidup harus berlanjut. SungJong tidak ingin berlarut-larut dalam pemikirannya yang dilanda ketakutan, ia lebih baik menyibukkan diri di toko. Hoya sudah memberikan kepercayaan pada dirinya yang tentu saja tidak boleh ia kecewakan. Ada banyak stok pakaian baru yang datang hari ini, SungJong harus bekerja ekstra, apalagi dia hanya bersama dengan satu pegawai yang Hoya suruh untuk menemaninya. Tetapi tidak apa, dia selalu mencintai apapun pekerjaannya. 

“Lee SungJong-ssi…” 

Konsentrasi SungJong segera berbagi begitu seseorang masuk ke dalam tokonya dan memanggil namanya. “Ne, ada yang bisa kubantu??” tanya nya ramah. SungJong sesaat menatapnya, mata yang tadi menyorot ramah kini telah membulat sedikit kaget melihat seseorang di hadapannya itu. 

“Woohyun sunbae…?” gumamnya. Namja itu, Nam Woohyun tersenyum. 

“Apa kabar? Lama sekali kita tidak bertemu…” 

“Ahh…aku baik-baik saja…” jawab SungJong sedikit canggung. Dia kemudian mempersilahkan Woohyun duduk di kursi tempat ia mengemas pakaian tadi. Tentu saja ia sedikit kaget karena Woohyun menyapa dan menghampirinya kemari. 

“Baiklah, aku tidak ingin berlama-lama, aku sudah mendengar semuanya dari Kim Myungsoo…” 

SungJong sesaat mengetukkan jemarinya resah, hatinya terus menebak apa yang akan Woohyun katakan nanti. Namun untuk beberapa kalimat, Woohyun mengucapkan permintamaafannya karena dulu dia juga menjadi salah satu teman yang memberikan tantangan pada Myungsoo, taruhan yang melibatkan Lee SungJong. Sedikit banyak Woohyun juga bersalah. 

“Aku sudah tidak mempermasalahkan itu…” SungJong menyahut. “Itu sudah lama sekali dan aku ingin melupakannya…” 

“Aku sangat menghargai itu, kau memang baik. Tapi SungJong-ah…tidak bisakah kali ini kau memaafkan lagi Myungsoo atas kesalahannya padamu…ngg maksudku tentang…kau dan…anak kalian…” 

“Hyung jika kau kemari karena Myungsoo hyung yang menyuruhmu untuk meminta maaf aku lebih baik….” 

“Tidak bukan itu sungguh! Aku kemari karena keinginanku sendiri, Myungsoo sama sekali tidak menyuruhku…” 

“Lalu…?” 

Woohyun terlihat menarik nafas panjang. “Myungsoo benar-benar merasa bersalah padamu, dia sangat kacau, sungguh Myungsoo tidak pernah menyangka jika semua yang kau ucapkan padanya waktu itu adalah benar, sekarang dia sangat menyesali perbuatannya…” 

“Itu sudah terlambat….” 

“Benar, karena sikap Myungsoo yang sangat angkuh waktu itu, tapi SungJong-ah, tidak pernahkah sekali saja kau merasakan ketulusan dari Myungsoo? Begitu tahu Kyungsoo adalah anaknya…dia..benar-benar merasa bersalah, seumur hidup aku belum pernah melihat Myungsoo sekacau itu, dia ingin menebus kesalahannya padamu…” 

“Lalu kau ingin aku melakukan apa??” 

“Setidaknya….temui dia, kalian bisa membicarakannya baik-baik, kalian sudah dewasa, aku menderita karena Myungsoo, oleh sebab itu kau harus membiarkan dia untuk menebus kesalahannya…” jelas Woohyun. “Temui dia, seharian ini dia hampir tidak keluar dari ruangannya…dan pikirkan SungJong-ah, kalian sudah bukan anak kecil lagi….” 

Woohyun bangkit lalu pergi meninggalkan SungJong yang masih tertegun merenungi semua ucapan dari Woohyun tadi. Dia bukan orang jahat, dia tidak akan membiarkan orang lain depresi karena dirinya. SungJong sudah bisa untuk berpikir lebih dewasa sejak ia melahirkan Kyungsoo. Dan Myungsoo…bagaimanapun namja itu adalah namja yang pernah dan selalu ia cintai. 

Dan disinilah, SungJong akhirnya berdiri di ruangan utama Direktur Rainbow Mall. Dia sejenak menarik nafas panjang sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan itu. Hawa dingin begitu terasa, SungJong yang memakai pakaian yang tebal pun bahkan masih merasakan dingin menusuk tulang. Ia curiga pendingin ruangan ini di setel dalam mode maximum. 

“Myungsoo hyung…” gumamnya. Namja yang ia cari terlihat duduk di kursi kebesarannya sembari melamun. Jas nya ia biarkan tergeletak di sebelah mejanya, wajah sayu dan dasi yang berantakan. Begitu mendengar suara itu ia mendongak. 

“SungJong-ah…” 

Sungguh, Myungsoo tidak tahu harus mengatakan apalagi, dia tidak bisa menatap wajah SungJong terlalu lama, rasa bersalahnya sangat besar. Bagaimana bisa selama bertahun-tahun ia menelantarkan SungJong dan juga anaknya. 

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya SungJong. Sejenak tatapan mereka kembali beradu. Myungsoo perlahan bangkit lalu berjalan dengan begitu pelan mendekati SungJong. Kim Myungsoo benar-benar seperti bukan ia seperti biasanya. 

“Hyung!! Astaga!!!” SungJong memekik kaget saat Myungsoo tiba-tiba menjatuhkan dirinya berlutut sembari memegang kakinya. 

“SungJong-ah…hiks…aku benar-benar minta maaf, aku bersalah padamu…aku sangat keterlaluan, aku membuatmu hancur…kau boleh membunuhku sekarang, hiks….Tapi kurasa apapun itu tidak akan bisa menghapus dosa ku padamu…” 

SungJong sedikit panik kemudian merendahkan tubuhnya berusaha untuk membangkitkan Myungsoo, namun sepertinya namja itu benar-benar ingin berlutut di hadapannya. “hyung…” 

“Saat itu kau pasti sangat membutuhkanku, tapi aku malah meragukanmu dan mengatakan hal yang sangat menyakitkan, jeongmal mianhae…aku brengsek SungJong-ah…apa yang harus kelakukan untuk membayar semua itu…” rancaunya. 

“Myungsoo hyung….hyung dengarkan aku…” SungJong kemudian menangkupkan pipi Myungsoo dengan lembut kemudian mengusap air matanya. Sungguh dia dapat melihat penyesalan yang sangat dalam dari sorot mata Myungsoo, dan itu membuatnya ikut merasa sesak. 

“Jangan seperti ini…semua ini sudah berlalu…” 

“Kau sudah sangat menderita…dan semua itu karena perbuatanku…” 

“Itu sudah berlalu, a-aku….aku sudah memaafkanmu…” ucap SungJong setelah memejamkan mata untuk sesaat menguatkan hatinya. 

“Tidak, kau bodoh jika kau memaafkanku, aku bahkan tidak pantas kau maafkan, aku sudah menghancurkan hidupmu, aku…” 

SungJong menggeleng cepat, mau tidak mau air matanya turut mengalir, memang sangat berat namun tidak ada gunanya terus menyimpan rasa dendam. “Kau sudah menyesali perbuatanmu itu yang terpenting…” 

“Tapi SungJong-ah…” 

“Ssst…jangan berkata apapun, aku…aku sudah memaafkanmu, kumohon hyung…jangan seperti ini, aku masih sangat membutuhkanmu, aku dan Kyungsoo…anakmu…” 

Myungsoo tertegun dan menatap kekasihnya itu tak percaya, SungJong terlihat seperti malaikat di matanya, wajah manisnya itu benar-benar sempurna diimbangi dengan kebaikan hatinya. Myungsoo segera merengkuh namja itu dan memeluknya erat. Perasaan rindu, bersalah, bercampur aduk menjadi satu. Setelah sekian lama, perasaan ini bisa terbalaskan, bertemu kembali merupakan salah satu keajaiban yang luar biasa. “Gomawo SungJong-ah, aku sangat mencintaimu….” 

.

.

Untuk beberapa saat mereka terdiam, tidak ada yang saling membuka suara. SungJong dengan nyaman menyandarkan tubuhnya di dada Myungsoo, sementara Myungsoo mendekap tubuhnya dari belakang dengan sesekali mengelus tangannya. Dinginnya lantai tak mereka rasakan karena kehangatan cinta kebersamaan mereka telah mengalahkan semuanya. 

“Katakan padaku…apakah…keluargamu mengusirmu?” tanya Myungsoo kemudian, dia merasa tubuh SungJong sangat kurus sekarang, ia bahkan bisa mendekapnya dengan erat. 

“Tidak, kecuali hyung ku mereka menerimaku sebenarnya, tapi..aku tidak ingin membuat aboeji malu…aku memutuskan untuk pergi, jauh dari kalian semua…” 

“Lalu…dari mana kau mendapatkan semua uang untuk….” 

“Aku bekerja, dan aku sempat tidur di jalanan untuk beberapa waktu, hingga akhirnya aku bisa menyewa tempat tinggal meskipun itu sangat sederhana…” 

“Ceritakan padaku baby, aku ingin mendengarnya…” 

Sesaat SungJong menarik nafas panjang, mengingat kembali masa-masa itu sangat menyakitkan hatinya, namun ketika ia mengingat Kyungsoo semua rasa sakit itu menjadi hilang. 

“Aku benar-benar sendirian, hanya Kyungsoo yang masih ada di dalam perutku yang menjadi temanku, aku bekerja setiap hari aku tidak ingin anakku nanti kelaparan dan menderita, aku sangat beruntung karena tubuhku sangatlah kuat, hingga…saat itu tiba, Kyungsoo sangat lah nakal, bahkan saat ia akan hadir di dunia ini…dia membuat ku koma terbaring di Rumah sakit selama seminggu…” 

Myungsoo membelalakkan matanya kaget. “Mwo…kau apa baby? Koma?” 

“Ternyata aku salah, tubuhku tidak sekuat itu…” SungJong tersenyum. “Jantungku lemah, tekanan darahku sangat rendah, dan entahlah, kurasa aku sudah sangat siap untuk meninggal waktu itu, namun…tangisan Kyungsoo menyadarkanku untuk hidup lebih lama, aku harus bertahan…” 

Dekapan Myungsoo semakin erat seolah dia tidak ingin terjadi sesuatu lagi terhadap SungJong. Sungguh, apa yang dialami kekasihnya tujuh tahun terakhir ini sangat membuatnya merasa bersalah. Kekasihnya ini hebat karena melalui semua itu sendirian dan bisa bertahan. 

“Kyungsoo itu sangat manis saat dia masih bayi, juga lucu, dan yang pasti dia sangat mirip denganmu…” SungJong tersenyum. “Tapi ketika dia semakin besar sifat keras kepala dan acuhnya muncul, meskipun begitu dia anak yang baik serta cerdas…kurasa semua yang ada di dalam dirinya meniru sifatmu…” 

“Yaah, dia sungguh tidak beruntung karena mempunyai sikap yang dingin dan keras kepala sepertiku…”

“Cerita selesai…” putus SungJong tidak ingin menggali masa lalu lebih banyak lagi. Dan ia rasa Myungsoo mengerti. 

Myungsoo kemudian menarik wajah SungJong untuk menghadapnya, dikecupnya kening SungJong lembut, kemudian turun pada kedua pipinya, lalu hidung dan terakhir bibir manis itu. SungJong tersenyum, dia cukup merindukan perlakuan manis Myungsoo seperti ini, ketika tangan Myungsoo dengan lembut membelainya. Kembali mengecup keningnya beberapa kali seolah melepaskan rindu yang selama ini telah mereka pendam. 

SungJong menarik tangan Myungsoo kemudian menggenggamnya, wajahnya sedikit ia tengadahkan untuk bisa membalas mengecup bibir Myungsoo. 

“Kyungsoo…bagaimana aku harus mengatakan padanya tentang siapa diriku?” gumam Myungsoo kemudian, SungJong menanggapinya dengan tersenyum. 

“Jangan memikirkan hal itu, aku akan menjelaskannya, apalagi kau sudah mendapatkan hatinya…” 

“Tapi apakah Kyungsoo mau untuk menerimaku?” 

“Kyungsoo anak yang baik, percayalah….” 

Meski telah berkata seperti itu, sebenarnya SungJong sedikit agak cemas. Reaksi nya pada Hoya sangat luar biasa menolak, kini…jika dia mengatakan yang sebenarnya apakah Kyungsoo akan menerimanya?

“Baby…Mulai sekarang kau jangan cemas…aku akan bertanggung jawa padamu, secepatnya aku akan membawamu menemui keluargaku, dan aku akan menikahimu…” 

Wajah SungJong seketika pucat pasi, keluarga Myungsoo ? Itu berarti aboeji nya? SungJong menggelengkan kepala beberapa kali. “Tidak, aku tidak bisa…aku tidak siap jika harus bertemu dengan aboeji-mu, aku tidak mau….” Ucapnya beberapa kali, ada satu hal yang belum ia katakan dengan jujur pada Myungsoo. Mengenai aboeji Myungsoo yang juga menyebabkan dia mengambil keputusan pergi dari Myungsoo dan juga keluarganya. 

“Kenapa SungJong-ah….? Apa ada sesuatu..?” 

“T-tidak….” SungJong mengeratkan pelukannya pada Myungsoo mencari kenyamanan disana. “Aku hanya takut mereka tidak bisa untuk menerimaku…” 

Myungsoo tersenyum kemudian mendekap tubuh itu dengan erat. Meskipun aboeji nya sangat menbenci orientasi nya yang menyukai namja, namun dia punya anak sekarang, bukankah itu yang selama ini yang aboeji nya inginkan? Anak dari Kim Myungsoo, yang akan meneruskan dan mewarisi semua kekayaannya. 

.

.

.
“OH?? Kau pulang? Tumben sekali? Wae? Ada masalah??” 

Myungsoo menghempaskan dirinya ke sofa lalu melepas jas nya dan melemparkannya asal. Sementara lelaki paruh baya disana terlihat menatap penuh selidik dan seolah meminta penjelasan dari Myungsoo. 

“Apakah kau tidak senang jika pulang aboeji?” tanya Myungsoo kesal. 

“Bukan begitu, hanya saja jika kau pulang pasti kau membawa masalah yang serius…” 

“Aku tidak memiliki masalah!” 

“Oh baiklah Tuan Kim, sepertinya kau memang tidak memiliki masalah…” 

Myungsoo hanya mendengus kesal, jujur dia sangat merindukan Ibu nya yang akan membela dirinya saat bertengkar dengan sang aboeji. Namun semua itu mustahil, semenjak perceraian mereka, Myungsoo dituntut untuk tinggal bersama dengan aboejinya disini. 

“Hmm….aboeji…” Myungsoo menegakkan tubuhnya dan mulai serius. “Aboeji, sepertinya aku…ingin menikah…” 

Wajah lelaki paruh baya itu berbinar. “Benarkah?? Dengan siapa? Apakah dia cantik? Ahh tidak aboeji tidak peduli dia siapa, yang penting kau harus segera menikah dan memiliki anak…astaga Myungsoo-ya kenapa tidak dari dulu??” 

“Tapi masalahnya…” Myungsoo terdiam sejenak. “Masalahnya…aku sudah melakukan kesalahan…” 

“Maksudmu?” 

“Well…kau tahu aku bukan orang baik, aku melakukan kesalahan padanya hingga kesalahan itu sekarang membuatku menjadi seorang ayah dari anak yang berumur tujuh tahun sekarang….” 

Mr Kim terdiam mencoba untuk mencerna ucapan Myungsoo, namun dia cukup cepat tanggap untuk mengerti maksudnya. “Apakah kau ingin mengatakan bahwa kau sudah memiliki seorang anak dengan kekasihmu itu…” 

“Ahh….seperti itu…dan anak itu sudah berumur tujuh tahun…aku ingin bertanggung jawab menjadi ayah yang yang baik dan….” 

“Anakmu itu….laki-laki atau perempuan?” 

“Ne..? Ngg…laki-laki…” 

Tanpa di duga, Mr Kim tersenyum puas kemudian menepuk bahu Myungsoo beberapa kali. “Baguslah, akhirnya kau bisa memberikanku cucu laki-laki, segeralah ajak dia kemari, dan Eomma nya juga, aku tidak peduli dia siapa, entah itu miskin atau kaya, yang pasti dia telah memberikan cucu untukku…” 

“Tapi aboeji…” 

“Sudahlah, aku akan menyuruh asisten untuk menyiapkan semuanya…” ucapnya sembari berdiri dan pergi. 

Myungsoo mendesah pelan kemudian menghempaskan dirinya berbaring di atas sofa. “Masalahnya yang telah melahirkan anakku adalah seorang namja aboeji, apakah kau tetap akan menerimanya begitu mengetahuinya??” 
.

.

∞Where You At∞ #Chapter1

.

.

,

“Yak!! Nam Woohyun kau benar-benar!!!”

Myungsoo benar-benar murka dengan sekretaris sekaligus sahabatnya itu.Namja yang masih memakai piyama berwarna putih itu segera turun dari ranjang nya dan berlari ke tempat tidur. Di harus segera pergi ke kantor namun entah kenapa sekretarisnya itu membangunkannya dengan begitu lambat pagi ini, Myungsoo akan mengurus Woohyun nanti setelah kerjaannya beres.

“Kau sudah menghubungi Park Sajangnim untuk menghadiri rapat  hari ini?” Tanya Myungsoo sembari membaca file laporan di tabletnya. Saat ini ia tengah dalam perjalanan menuju tempat kerjanya.

Woohyun yang sedang berkonsentrasi mengemudi menjawab dengan sekenanya. “Sudah, dia bilang akan dating…”

“Lalu bagaimana dengan persiapan yang lainnya kau tidak lupa dengan apa yang aku minta kemarin kan?”

“Gossh, Myungsoo-ya…kau sudah mempelajarinya semalaman dan juga aku sudah mengatakan padamu jika semuanya beres, kau…astaga lebih baik kau istirahat saja!” sahut Woohyun menggeleng-gelengkan kepalanya setiap kali melihat Myungsoo yang terlalu mengutamakan pekerjaannya.

“Kau tahu aku tidak bisa, dan berbicaralah padaku dengan sopan, saat ini jam kerja dan aku adalah sajangnimmu!”

Woohyun tidak menjawab dan hanya menambah kecepatan laju mobilnya.Sebenarnya dia tadi sudah sedikit menunda rapat karena dia ingin membiarkan Myungsoo untuk tidur sedikit lebih lama lagi.Namun sepertinya Myungsoo hanya memikirkan tentang rapat yang penting itu.

Brukkk!”“Aww!!”

“Yaa!! Kau tidak apa??”

Myungsoo terkejut luar biasa dan segera menutup pintu mobil.Ketika dirinya membuka pintu mobil tadi tak sengaja seseorang yang berdiri disana terdorong olehnya dan terjatuh.

“Hey, Kau tidak apa-apa nak??” Tanya Myungsoo kembali terkejut karena yang ia jatuhkan ternyata seorang anak kecil yang berseragam sekolah dan menggendong ransel hitam. “Dan lagi apa yang kau lakukan disini?Kau tidak sekolah? Dimana orang tua mu hah??” Myungsoo sedikit kesal karena ceroboh sekali orang tua anak ini membiarkan anaknya berkeliaran di parkiran Mall tanpa pengawasan apalagi di jam sekolah.

Anak itu yang semula masih terduduk mengusap lengannya yang kotor segera menatap Myungsoo. Mata kecilnya terlihat tidak menyukai dengan cara Myungsoo bicara, terdengar seperti marah.

“Ya ya ya…kau ini kenapa memarahinya?”Woohyun segera menghampiri anak itu dan membantunya untuk berdiri. “Hey nak, kau tidak apa? Dimana orang tuamu hmm?Perlu kuantarkan ke mereka?”Tanya Woohyun dengan lebih lembut.Myungsoo hanya mendengus kesal.

“Tidak perlu, aku bisa mencari Eomma ku sendiri…” sahutnya, anak yang berumur sekitar 7 tahunan itu segera bergegas pergi tanpa memberikan hormat pada Woohyun apalagi dengan Myungsoo.

“Astaga lihatlah!Dia benar-benar tidak diajarkan sopan santun oleh kedua orang tuanya!”

“Sudahlah, bukannya kau harus bergegas…” Woohyun menyadarkan.“Kkaja!!”
** Rapat berjalan dengan lancar meskipun terdapat beberapa pertentangan. Myungsoo memang terkadang selalu berbeda pendapat dengan beberapa petinggi yang lain, ketika ia sudah mengatakan sesuatu maka itu harus terjadi. Tidak jarang tempat rapat menjadi sangat ramai dan tidak terkendali.Jika sudah seperti ini Woohyun yang harus turun tangan untuk menenangkan.

“Myungsoo-ya, ahh maksudku sajangnim…” Woohyun meralat ucapannya. “Aku harus membatalkan pertemuanmu dengan beberapa pemilik kios baru di Mall, kau besok memiliki acara yang lebih mendesak…”

“Itu terserah kau saja, kau bebas mengatur jadwalku…” sahutnya masih focus menghitung jumlah angkat yang berderet di tabletnya.Mereka berjalan menyusuri beberapa bagian di Mall.Seorang sajangnim berjalan hanya dengan sekretarisnya itu sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi karyawan disana.Myungsoo sangat menyukai ini karena dengan memantau dia bisa langsung melihat betapa ramainya Mall miliknya ini oleh pengunjung.

Woohyun kembali menyusul langkah Myungsoo.“Dan…..Choi Minki memintamu untuk menemuinya hari ini…” ucapnya perlahan. Dan benar saja apa yang dipikirkan oleh Woohyun, Myungsoo segera menghentikan langkahnya dan menatap Woohyun. “Choi Minki?”

“Ayolah Myungsoo, jangan terus kau mengurus pekerjaanmu, kau butuh bersenang-senang dengan kekasihmu juga…”

“Ciih, kau mulai berlagak seperti aboejiku…” cibir Myungsoo.

“Tapi kau harus menikah, berapa umurmu sekarang huh? Kau butuh seseorang untuk melahirkan anakmu yang akan meneruskan pekerjaanmu sebagai direktur utama Rainbow Mall…”

Satu jitakan pelan segera mengarah ke jidat Woohyun membuatnya meringis kesakitan.“Lalu aku harus menikahi Minki? Dia itu namja meskipun aku menikahinya dia tidak akan pernah bisa melahirkan anakku, kau ini benar-benar…”

“Kalau begitu kau bisa menikahi perempuan, kurasa banyak yang tergila-gila padamu….” Sungut Woohyun kesal.

“Ck, kau jadi sahabatku berapa lama hah?Kau tahu aku tidak menyukai perempuan, dan jika kau memang ingin kau saja yang menikah, jangan memaksaku!”

“Myungsoo-ya…kau benar-benar keras kepala, kau anak tunggal, pada siapa lagi kau akan mewariskan semua kekayaan ini nanti…”

“Entahlah mungkin aku akan memungut anak jalanan dan menjadikan pewarisku!” sahutnya asal.“Dan lagi aku pun tidak berencana untuk….YAAA!!!”

Teriakan Myungsoo membuat Woohyun tersentak. Betapa terkejutnya ia ketika melihat tablet hitam kesayangan Myungsoo yang penuh dengan file pekerjaan jatuh disana dengan tidak eltnya kemudian tersiram segelas jus lemon dingin, rupanya seseorang menabrak Myungsoo

“Tabletku!!Astaga!!” Seperti anak kecil yang kehilangan mainannya, Myungsoo segera menunduk dan mengambil benda itu kemudian mengusap-usapnya membersihkan dari jus lemon, benda itu sudah mati seperti nya, layarnya ada retak di bagian tengah, dan Myungsoo benar-benar cemas, karena ini tablet kesayangannya, okey ini seperti berlebihan bagi seorang sajangnim sepertinya.

“Ahjussi, kau berjalan tidak dengan mata huh??”

Ucapan itu membuat Myungsoo sadar dan tersulut emosinya. “YAA KAU YANG……!!! Kau…..” sekali lagi dirinya dibuat terkejut oleh seseorang yang membuat  kerusakan pada tablet nya tadi. Seorang anak kecil. YA!! Anak kecil tadi pagi!! Myungsoo sangat yakin.

“Kau anak kecil yang juga membuat kerusuhan tadi pagi???” ucap Myungsoo dengan tajam, tatapannya benar-benar menakutkan.

Namun bukannnya takut, anak itu berbalik membalas tatapa Myungsoo dengan tak kalah tajam kemudian bersedekap tangan. Dia sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah karena telah menabrak Myungsoo. “Ahjussi kau yang bersalah, kau berdiri dimana orang lewat dan kau menghalangi jalan!”

“Mwoo???”Myungsoo tercengang mendengar jawban itu, sementara Woohyun terkikik geli.“Kau harusnya minta maaf padaku bocah!!Kau merusak tabletku!!”

“Aku tidak bersalah, kau yang bersalah karena berdiri di tengah jalan!!”

“Dasar keras kepala!! Tidakkah kau tahu kalau aku adalah pemilik tempat ini dan apa yang sedari tadi kau lakukan disini? Apakah kau membolos?Bagaimana aboeji mu jika kau membolos seperti ini??”

“Aboejiku sudah mati aku tidak perlu takut hal dengan hal itu!”

“Astaga…” Myungsoo memijit kepalanya pusing, bukan hanya karena anak ini berkata tidak sopan padannya, namun juga ucapannya benar-benar dingin dan terkesan tidak peduli dengan sekitar.

“Dasar keras kepala!!Tunggu saja, Woohyun-ah, antar anak ini ke bagian barang hilang dan umumkan!!”

Woohyun kembali tertawa, sementara anak itu masih menatap Myungsoo dingin.Anak yang kira-kira masih kelas satu itu benar-benar tidak memiliki rasa takut sedikitpun.“Kenapa harus terburu-buru? Anak ini cukup manis….” Ucapnya sambil mengelus kepalanya, namun dengan cepat anak itu menyingkirkan tangan Woohyun.

“Lihat..lihat! seperti itu kau bilang manis???” ucap Myungsoo jengkel. “Dia anak yang keras kepala, dan menyebalkan…”

“Dan kurasa dia mirip sekali dengan seseorang….” Woohyun cepat menyahut. “Kau juga seperti itu Myungsoo-ya, keras kepala dan menyebalkan…”

“MWO????”

Woohyun kembali tertawa dan segera menatap anak itu lagi. “Nah anak kecil, jadi siapa namamu nak…?”

“Kyungsoo….” Jawabnya ketus.Dan jawaban itu sejenak membuat Myungsoo dan Woohyun melotot untuk beberapa saat, detik selanjutnya tawa Woohyun kembali terdekat.“Kyungsoo? Namamu Kyungsoo?? Ahahahh lihatlah Myungsoo-ya…bahkan nama kalian sangat mirip!”

Myungsoo mendengus kesal dan kembali beradu pandang dengan anak itu yang juga masih menatapnya dengan tidak kalah dingin.Anak sekecil itu kenapa sudah mempunyai watak seperti itu, orang tua nya benar-benar tidak bisa mendidiknya dengan baik.

Oh? Raut wajah Myungsoo berubah dan segera menajamkan pandangannya ke arah beberapa pengunjung yang datang.Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar, langkah kakinya segera berlari menuju salah satu pengunjung itu, tidak peduli dengan Woohyun yang memanggilnya.

Namja berwajah tampan itu yakin dirinya tidak salah lihat, dia benar-benar ada disana, Myungsoo yakin.Tetapi….kemana? Myungsoo mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, namun percuma, apa yang dilihatnya tadi seperti hilang di telan bumi. “Aku benar-benar sudah gila…”
*

*
“Kau kapan pulang ke rumah hah? Dan kapan kau akan menikah? Tidak kah kau…..”

Myungsoo melemparkan ponselnya dan segera menghempaskan tubuhnya ke sofa empuknya.Alasan kenapa dia tidak mau pulang ke rumah dan lebih memilih apartementnya adalah karena malas terus dihujani dengan pertanyaan yang memuakkan baginya.Sekarang begini, aboeji nya tidak pernah peduli padanya, tapi kenapa akhir-akhir ini dia menjadi sok peduli, ini benar-benar menyebalkan. Dan satu lagi Myungsoo tidak akan mau menikah jika hanya menuruti keinginan aboejinya saja.

“hyung, kau pulang terlambat lagi, aku sudah menunggumu…”

Namja itu menengok, dan mendapati sosok namja manis yang menghampirinya. Myungsoo menyeringai. “Ren….” Gumamnya. “Kemarilah sayang….” Dengan cepat Myungsoo menarik tangan namja itu kemudian menidurkannya di sofa, dengan sekejab Myungsoo sudah berada di atas namja itu, dia mulai memeluk dan menciuminya dari bibir, pipi, dan juga lehernya.Yang menerima itu hanya bisa melenguh dan pasrah.

“Katakan padaku sayang, bukankah kau sedang berkencan dengan Minhyun, tapi kenapa kau datang lagi padaku hari ini hmm…??”Tanya Myungsoo sembari mengecupi kulit leher yang putih itu dengan penuh gairah.

“Nggh… dari…manah….kau tahu..akkh…”

Myungsoo mencibir kemudian meremas benda mungil di dada Ren hingga membuat namja di bawahnya itu kembali mendesah keras. “Siapa  yang tidak tahu hah? Aktor terkenal Hwang Minhyun sedang mengencani seorang model cantik, Choi Minki…berita itu dimana-mana sayangku…”

“Ouh…itu benar hyung…berita itu benar sekali…”

“Lalu kenapa kau menemuiku? Kau tahu kau mungkin tidak akan bisa berjalan dengan sempurna lagi setelah menemuiku hari ini…”

“Aku tidak peduli, karena aku sangat menginginkan itu…”

Seringai kembali muncul dari wajah Myungsoo, tanpa banyak bicara lagi dia segera segera mengangkat tubuh mungil itu kemudian melemparkannya ke tempat tidur, dan tak butuh waktu yang lama bagi Myungsoo untuk melepas semua pakaiannya dan menikmati santapan manis di depan matanya.

Choi Minki, atau Myungsoo biasa memanggilnya Ren, sebenarnya bukan lagi kekasih Myungsoo, Myungsoo sadar namja itu pasti masih ingin mengejar karir nya ketimbang terkekang terus bersama nya, namun ada saat saat tertentu bagi Myungsoo untuk melampiaskan hasratnya, dan Ren selalu datang ketika itu terjadi. Cinta?Tidak, Myungsoo tidak pernah mencintai kekasih-kekasihnya, mereka hanya saling membutuhkan, Myungsoo hanya butuh pelampiasan dan mereka butuh uangnya, hanya itu.

Namun akhir-akhir ini Myungsoo hanya nyaman dengan Ren karena namja itu tidak pernah menuntut banyak darinya, mereka sama-sama menbutuhkan.
“S-SungJong-ah…SungJong-ahh….aku mencintaimu….” Gumam Myungsoo ketika sudah sampai pada titik akhirnya kemudian ambruk di samping Ren.Dia mengecup bahu nya kemudian memeluknya posesif.Myungsoo terlelap.

Meskipun hampir tidak sadarkan diri karena tidak kuat mengimbangi permainan Myungsoo yang begitu luar biasa, namun Ren masih sangat bisa mendengar jelas nama yang selalu di desahkan Myungsoo ketika ia sampai pada kenikmatannya. SungJong, selalu nama itu, bukan dirinya, Ren tidak tahu siapa dia dan ia tidak pernah menanyakan karena sepertinya Myungsoo pun tidak akan menjawabnya, dia kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang nya dan Myungsoo kemudian terlelap dalam dekapan Myungsoo.

***

***

***

“Haah….Benar-benar merepotkan…” Myungsoo menarik nafas kesal.Dia sedang resah, kerjaannya sudah beres sebenarnya namun hatinya selalu merasa tidak tenang. Dan salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan berkeliling melihat-lihat Mall nya.

Myungsoo selalu tertegun, hasil kerja kerasnya selama ini mengubah tempat ini menjadi lebih megah dan sukses. Bahkan ia telah melampaui apa yang telah dilakukan oleh aboeji nya. Dan disaat seperti ini Myungsoo mulai berpikir, siapa yang akan meneruskan semua ini, dia belum menikah dan dia tidak memiliki keturunan.

Ayolah ini tidak semudah itu, menikah itu sesuatu yang sebenarnya tidak Myungsoo inginkan, dia tidak ingin menikahi seseorang yang tidak ia cintai, membayangkanm saja sudah membuatnya muak.

“Selamat siang sajangnim….” Sapa beberapa karyawan dan Myungsoo hanya menanggapinya dengan mengangguk.

Oh…Namun mata elang sajangnim itu menyipit sempurna ketika melihat seorang anak yang berdiri disana. Anak yang beberapa hari yang lalu membautnya kesal, Myungsoo menggerutu kenapa harus dipertemukan lagi dengan anak itu, anak yang keras kepala dan menyebalkan. Myungsoo ingin pergi saja, namun perasaan heran menyelimutinya, apa yang sedang anak itu lakukan disana? Diam dan hanya berdiri.

Myungsoo melihat kearah apa yang di tatapnya, sebuah tempat makan di Mall-nya, apakah anak itu lapar? Kemana sebenarnya orang tuanya kenapa membiarkan anak itu kelaparan disini.

“Hey nak…” Myungsoo menghampiri dan menepuk bahunya.“Apa yang kau lakukan disini?Dimana orang tuamu?”

Anak itu mendongak Myungsoo sekilas kemudian menatap apa yang di pandangnya tadi. Myungsoo kesal, bisa-bisanya diacuhkan seperti ini, hell..dia ini adalah pemilik tempat semewah ini.

Namun entah kenapa dia jadi sangat penasaran.“Apakah kau lapar?Kau ingin menemaniku makan?” tanyanya sekali lagi, awalnya anak itu terlihat ragu, namun akhirnya mengangguk juga.Entah karena insting dari mana, Myungsoo menggandeng pergelangan tangan anak itu dan mengajaknya turun menuju tempat makan.

Rasanya aneh sekali menggandeng anak kecil seperti ini, Myungsoo mulai berpikir mungkin memang sudah saatnya dirinya mempunyai seorang anak, cukup satu saja yang bisa diatur yang bisa menjadi penerusnya di masa depan.

“Jadi kau ingin makan apa? Pesanlah apa saja, kau tidak perlu cemas, aku akan mentraktirmu….”

Anak itu memesan Es Lemon dan juga spaggetthi, ketika Myungsoo menawarkan lagi dia bilang sudah cukup , dia hanya ingin dua makanan itu saja. Dan baiklah, anak ini rupanya tidak berlebihan juga.

“Jadi namamu adalah Kyungsoo?”Tanya Myungsoo mencoba lunak sembari menyeruput kopi manisnya.

Anak itu mengangguk, asik menikmati spaggetthi, bumbunya sudah belepotan di sekitar pipi, Myungsoo gemas untuk mengelapnya, ini aneh sekali, dirinya mulai suka dengan anak kecil ini aneh.“Lalu…siapa ahjussi?” Tanya.

“Aku? Kim Myungsoo, aku pemilik tempat ini, jadi kau tidak boleh kurang ajar denganku seperti kemarin okey??”

“Aku tidak pernah bersikap kurang ajar…” sahutnya ketus tanpa menghiraukan Myungsoo.Hal ini membuat sajangnim itu sedikit terkejut, namun tanpa alasan yang jelas dirinya tersenyum dan segera mengacak rambutanak itu.

Myungsoo sering sekali bertemu dengan anak seusia Kyungsoo ini karena teman-temannya kebanyakan telah memiliki anak, namun tidak ada yang seberani dan sedingin Kyungsoo.Kyungsoo terlihat seperti bukan anak kecil biasa.

“Rumahmu dimana Kyungsoo-ya?Dan kenapa kau ada disini?Apakah kau bersama dengan orangtuamu?”

Kyungsoo mengangguk. “Iya dia bekerja disini, aku menyusulnya karena aku bosan di rumah…”

“Wahh….” Myungsoo mulai tertarik.“Aboeji mu bekerja disini?Sungguh?Di bagian mana??”

“Aku tidak bilang aboeji, aboeji ku sudah mati!!” jawab Kyungsoo kembali ketus, dia terlihat tidak suka sekali ketika menyebut nama aboeji. Dan dari sini Myungsoo menangkap bahwa mungkin Eomma anak ini bekerja disini sebagai karyawan biasa.

Myungsoo kemudian tersenyum lalu mengambil tissue dan mengelap pipi Kyungsoo yang penuh dengan saus.“Makan yang banyak okey, ahjussi pergi bekerja dulu, setelah ini jangan lupa segera kembali ke Eomma mu, okey?” ucapnya sembari berdiri dan beranjak untuk kembali bekerja.

Namun, baru beberapa langkah sesosok tangan lembutmenahan jemari Myungsoo membuat sajangnim itu menoleh, mata anak itu menatapnya dengan lebih lembut dan tidak sedingin tadi.Hati Myungsoo tiba-tiba merasa aneh.

“Ada apa hmm??” Tanya.

“Ahjussi….Gomawo….”

Manis. Singkat.Myungsoo kaget, namun sesaat kemudian Myungsoo segera tersenyum dan mengelus kepala anak itu pelan. “Baiklah anak kecil, segera habiskan makananmu…”
***

*** Dan hari ini Myungsoo benar-benar sudah lelah dengan semua pekerjaannya. Ada beberapa hal yang harus ia urus, dan satu-satunya hiburan dia ingin kembali berjalan-jalan di memantau para pengunjung di Mall nya, ada banyak sekali yang baru disana sehingga Myungsoo senang sekali melihat mereka bergembira.

“Myungsoo-ya, aku ingin pulang dulu, kau tahu, Key sedang sakit dan dia sendirian…”

Myungsoo hanya menganggukkan kepalanya dan membuat sekretarisnya itu senang.Sesungguhnya ia tidak pernah melarangnya untuk pulang lebih awal jika pekerjaannya sudah selesai, Woohyun itu sahabatnya, sahabatnya sejak dulu. Melihat para remaja yang saling mengambil foto disana membuat Myungsoo senang, masa remajanya lebih banyak ia habiskan untuk menekuni belajar bisnisnya.

Namja itu tiba-tiba teringat dengan anak kecil itu, Kyungsoo.Kemana dia?Apakah tidak kesini?Terkadang Myungsoo sedikit merasa kesepian ketika pekerjaannya sudah selesai, dia menginginkan sesuatu yang bisa melepaskan rasa penatnya.

“Oh??”

Lagi-lagi jantung namja itu serasa berdetak dengan begitu keras, matanya tidak salah, dia yakin tidak salah lihat.Namja itu, namja yang memakai kaos berwarna biru itu benar-benar dia. Myungsoo tidak ingin kehilangannya lagi, dia harus menemuinya, dia ingin memastikan dengan matanya.

Sajangnim itu segera berlari dengan cepat tanpa mempedulikan beberapa orang yang menhindarinya karena tidak ingin tertabrak dirinya. Mata elang Myungsoo hanya tertuju pada satu orang saja, dan ia yakin itu pasti dia.

“Chakkaman!” dengan gerakan cepat, Myungsoo meraih pergelangan tangan namja itu kemudian menariknya.Namja itu berbalik, mata mereka bertemu, mata yang begitu bening dan masih indah. Kaki Myungsoo seolah melemas, perasaannya campur aduk dan seolah menjadi apa yang ia tahan selama ini ingin berontak keluar.

“SungJong-ah…Lee SungJong…? Ini kau??”

Namja yang memiliki wajah manis, bibir yang sedikit tebal dan merah serta mata beningnya menatap Myungsoo dengan pandangan yang datar.

“SungJong-ah, ini benar kau?Kau kemana saja??”

Masih terdiam dengan pandangan datar dan sepertinya tidak mempunyai perasaan yang meluap-luap seperti Myungsoo saat ini.Namja itu kemudian melepaskan tangan Myungsoo dan segera membungkuk hormat.

“Mianhae sajangnim, apakah anda ada perlu denganku?” tanyanya sopan.

“Mwo?Sajangnim??”Myungsoo menatapnya dengan tidak mengerti.“Ada apa denganmu hah? Ini aku Kim Myungsoo, kau tidak mengingatku hah?”

Namja itu tersenyum. “Ne, kau adalah sajangnim, pemilik tempat ini, dan aku bekerja di salah satu toko di Mall ini, bagaimana bisa aku tidak mengenalmu sajangnim, terima kasih telah memberikan izin menempati salah satu tempat disini…” ucapnya lagi.

Myungsoo menggelengkan kepalanya tidak percaya, dia kemudian menarik tangan namja itu lagi dan membuat tubuhnya lebih dekat. Dia tidak salah, namja ini Lee SungJong, yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya, dan di hadapannya kini…oh ayolah, SungJong memang sudah berbeda, jauh lebih dewasa dan lebih manis, bukan lagi seorang anak sekolahan seperti beberapa tahun yang lalu. Tapi Myungsoo tidak mungkin salah mengenali. Ini Lee SungJong-nya!! Dia yakin.

“Sajangnim…..” namja itu segera melepaskan dirinya dari cengekeraman Myungsoo kemudian menunduk hormat.“Saya harus kembali bekerja, selamat siang…” ucapnya sembari perlahan mundur dan berbalik pergi.

“Yaa Lee SungJong!!!”

Myungsoo benar-benar gusar, kenapa Lee SungJong tidak mengenalinya seperti itu?Dia yakin tidak salah, dia sangat mengenalnya, jika pun matanya salah perasaannya tidak pernah salah.

“Woohyun-ah!! Kembali ke kantor sekarang juga!!” teriaknya ketika sambungan pada ponselnya terhubung. Myungsoo harus mencaritahu, dia sajangnim di sini dan Lee SungJong berada disini, itu berarti selama ini dia tidak salah lihat karena beberapa kali melihatnya.Tapi sajangnim itu sungguh tidak mengerti kenapa SungJong terlihat tidak mengenalinya.Ini memang sudah bertahun-tahun lamanya, namun bukan alasan untuk melupakan semuanya.
***

*** 
“Kalau dari data yang di berikan, namanya benar Lee SungJong, dia mengurus salah satu toko pakaian di lantai dua Mall kita, Tokonya adalah yang baru saja kau setujui untuk buka disana…” 

Woohyun menatap Myungsoo yang sedang membaca sebuah dokumen yang ia berikan dengan was-was. Masalahnya selama ini Myungsoo tidak pernah semarah dan segusar itu, dan ketika ia menyebut Lee SungJong tadi, Woohyun cukup terkejut. Apapun tentang Myungsoo dia sangat tahu, termasuk kisahnya dengan Lee SungJong itu yang menurutnya…..sangat rumit.

BRAKKK!! Woohyun benar-benar terkejut ketika sajangnim di hadapannya itu menggebrak meja dengan sekuat tenaganya.“Dia Lee SungJong!! Tapi kenapa dia bertingkah seperti dia tidak mengenalku hah??” bentaknya sembari membuang dokumen itu.

“Myungsoo-ya….” 

“Ini memang sudah tujuh tahun, tapi itu bukan alasan!! Aku seperti orang gila mencarinya selama ini, namun apa yang ia lakukan sekarang hah?? Tidak mengenaliku…” 

Ini sedikit membuat Woohyun mengerutkan dahinya sejenak, Myungsoo mencari namja itu selama  ini? Ia tidak pernah tahu, Myungsoo tidak pernah mengungkit nama itu selama ini, dan dia juga sudah berpacaran dengan banyak namja, Woohyun pikir Myungsoo sudah lupa. 

“Myungsoo-ya…” ucapnya pelan. “Mungkin dia bersiap seperti itu karena status kalian, kau sajangnim disini sedangkan ia hanya….kau tahu sendiri…” 

“Tidak!!Itu bukan alasan!!” bantahnya.“Mulai sekarang aku ingin kau mencaritahu dan mengawasinya!! Laporkan padaku setiap jam-nya!! Dan suruh ia untuk menemuiku, seret jika perlu!!”

“Tapi…..oh baiklah…” Woohyun mengalah.Ini akan sangat rumit, Myungsoo sudah dipusingkan dengan urusan pekerjaan dan sekarang harus mulai diganggu oleh masa lalunya. Woohyun sepertinya harus siap-siap lembur.

**

**

Meskipun ia telah memberikan perintah pada Woohyun, namun Myungsoo benar-benar tidak bisa berdiam diri. Di sela-sela pekerjaannya ia menyempatkan diri untuk mengawasi dan juga memperhatikan Lee SungJong itu. Dia bekerja dengan tekun sekali, tidak heran jika banyak sekali pelanggan yang dapat ke toko pakaiannya. SungJong sangat ramah, dan senyumnya itu, Myungsoo benar-benar bisa gila, setengah mati ia menahan perasaan rindunya. 

Lee SungJong dulu tidak seperti ini, lebih tepatnya tidak mengabaikannya kapanpun, Sajangnim dari Mall terbesar itu benar-benar rindu, sesungguhnya hanya pada namja itu ia bisa merasakan perasaan cinta yang sesungguhnya. 

“Oh….sajangnim?selamat siang, apakah ada sesuatu?” SungJong terlihat begitu terkejut melihat Myungsoo yang tiba-tiba hadir di tokonya.Wajahnya benar-benar datar dengan ekspresi hormat pada seorang sajangnim.

Myungsoo menggelengkan kepalanya dan tersenyum miris.“Mau sampai kapan kau berpura-pura hah?”

“Maksudnya…?” tanyanya menatap Myungsoo dengan mata beningnya.Sial! Myungsoo benar-benar harus menahan dirinya untuk tidak mencium namja di depannya. Lee SungJong, apakah kau sengaja menggoda dengan mata beningmu itu??

“Lee SungJong kau…!!”Myungsoo mendekat kemudian menarik lengan SungJong untuk lebih dekat dengannya. Dan sungguh sial!! Kulitnya lembut sekali, benar-benar lembut.“Kau…apa maksudmu hah? Kenapa kau seperti ini??”

“Sajangnim….” 

“Aktingmu bagus sekali Lee SungJong!” sahut Myungsoo lagi. “Sudah hentikan, aku tahu ini kau, jangan membohongiku…” 

Kini giliran SungJong yang menatap Myungsoo dengan begitu dalam, namun dari tatapan itu Myungsoo masih bisa melihat SungJong bukan seseorang yang mengenal dirinya selama ini. “Sajangnim….” Ucapnmya kemudian. “Mianhae, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau maksudkan, apakah kau….tertarik padaku…?” 

“Tertarik??”Myungsoo kemudian menggerakkan tangannya dan menangkupkan kedua pipi SungJong, kemudian namja itu merundukkan wajahnya hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa senti saja.“Yaa, aku sangat tertarik padamu, tidak pernah berubah, dari dulu hingga sekarang….” 

Cukup terkejut SungJong mendengar semua itu, namun ia tidak mengatakan apapun, dan membuat sajangnim itu kecewa. Ia kemudian menegakkan tubuhnya kembali. “Baiklah, aku akan mengikuti permainanmu baby, kapanpun kau siap menemuiku, pintuku selalu terbuka lebar untukku…” ucapnya lagi beranjak pergi, meninggalkan SungJong yang mungkin terheran-heran dengan ucapannya barusan, namun Myungsoo sama sekali tidak peduli. 
**** 

****

Hari ini perasaan Myungsoo sedikit lebih baik, dan Woohyun cukup senang karena itu berarti sajangnim-nya itu bisa mengerjakan pekerjaan yang tertunda selama tiga hari ini, karena sibuk mengawasi namja itu Myungsoo jadi lupa segalanya.

“Karena Manager Yoon sedang tidak bisa hadir jadi dia mengusulkan untuk memberikan beberapa persen jatah iklan pada perusahaan X…dan juga bla..bla..” 

Myungsoo mendengarkan penjelasan Woohyun dengan teliti meskipun saat ini mereka sedang berjalan di sekitar lantai tiga Mall. Banyak yang memberi salam hormat dan hanya ia balas dengan anggukan kecil. 

“Oh?” Langkah Myungsoo terhenti.“Kyungsoo-ya?” panggilnya ketika melihat anak kecil itu beberapa meter di depannya.Namun raut wajah Myungsoo berubah, kenapa Kyungsoo berdiri disana? Di hadapan seorang wanita dan juga anak kecil lain disampingnya. Wanita itu terlihat marah, namun Kyungsoo menatapnya tanpa ekspresi.

Dan beberapa saat kemudian terlihat wanita itu mendorong Kyungsoo ke dinding pembatas. Mata Myungsoo membelalak sempurna, darahnya benar-benar mendidih melihat hal itu, tanpa banyak bicara ia segera menghampirinya dan menghentikan wanita itu tepat sebelum tangannya mendarat pada wajah mungil Kyungsoo. 

“Yaa!! Kau pikir apa yang kau lakukan hah??” tanyanya dengan sorotan mata yang tajam. Wanita itu terlihat wanita kaya yang sombong.“Jika dia jatuh apa kau mau bertanggung jawab?Asal kau tahu ini lantai tiga!!”Myungsoo benar-benar emosi.

“Ohh jadi kau aboejinya? Bagus lah! Anakmu itu telah menjatuhkan mainan anakku, kau harus menggantinya!!”

Myungsoo memberikan tatapan sinis.“Yak Nam Woohyun!!!” teriaknya, Woohyun segera mendekat.“Kemarikan kartu VIP ku!!” tanpa banyak bertanya Woohyun segera memberikan sebuah kartu pada Myungsoo.

“Kau bisa mengambil mainan di toko mainan lantai dua dengan kartu ini tanpa membayar, tapi sekali lagi kau berani menyentuh anak ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan bebas!!”

Wanita itu terlihat tersenyum menerimanya, dan tanpa mengucapkan terima kasih ia segera menggandeng anak kecil di sampingnya dan pergi. Myungsoo menggelengkan kepalanya beberapa kali.“Kyungsoo-ya, kau tidak apa-apa?” Tanya Myungsoo menatap anak itu.

Namun Kyungsoo hanya terdiam dan menatap Myungsoo dalam, kemudian anak itu menunduk, tanpa mengatakan apapun.Namun sesaat kemudian Myungsoo melihat ada sebuah aliran bening yang keluar dari sudut mata Kyungsoo dan jatuh ke pipi.

“Hey..kau tak apa?” Myungsoo segera berjongkok kemudian merengkuh bahu Kyungsoo dan menegakkan wajahnya. Kyungsoo jelas sekali menangis namun sama sekali tidak mengeluarkan suara, dia memang bukan anak kecil yang biasa, namun ia juga memiliki perasaan sedih dan ingin menangis, akan tetapi sepertinya Kyungsoo ingin menyembunyikannya. 

Myungsoo kemudian menyeka air mata anak kecil itu dan tersenyum.“Gwanchana, tak usah dipikirkan, jika ada yang seperti itu lagi kau bilang pada ahjussi, okey?Anak hebat tidak boleh menangis…sudah ya…” ucap Myungsoo menenangkan. Tangannya mengelus lembut kepala Kyungsoo. Namun anak itu masih terdiam dan air matanya malah terus mengalir.

“Kyungsoo-ya…sudahlah, anak lelaki tidak boleh menangis, bagaimana kau akan melindungi Eomma-mu nanti jika kau cengeng seperti ini hmm??” Myungsoo masih berusaha menenangkan, tidak disangka ucapan itu membuat Kyungsoo buru-buru menghapus air matanya.“Bagus, kau sudah makan?Bagaimana kalau makan bersama ahjussi lagi?Kyungsoo mau?”

“Ne…” jawabnya mengangguk pelan.

Myungsoo tersenyum, kemudian menggenggam pergelangan tangan mungil itu.“Kkaja, ikut ke ruangan ahjussi, kita makan disana…” ucapnya sembari menariknya dan berjalan pergi.

Woohyun tercengang melihat pemandangan itu, tanpa bisa berkata apapun.Myungsoo tumben sekali bersikap lembut, terlebih pada anak kecil.Aneh sekali. “Myungsoo-ya kau memang harus segera menikah…” 
**** 

****

Setelah makan banyak  dan melihat Myungsoo bekerja, akhirnya Kyungsoo tertidur di sofa. Myungsoo tersenyum melihatnya, dia melepas jas hitamnya kemudian menyelimuti tubuh mungil itu.Anak kecil benar-benar sangat polos, bahkan ketika terlelap seperti ini wajahnya terlihat damai sekali.Kyungsoo mempunyai wajah yang kecil dan lembut, rambutnya hitam serta bulu matanya yang lentik. Myungsoo juga tidak bisa melupakan tatapan dingin Kyungsoo ketika bertemu dengannya waktu itu, juga ucapannya yang ketus juga tidak mau tahu dengan urusan orang lain. Sajangnim itu sedikit menyukai anak ini.

“Kurasa kau benar-benar harus segera memiliki bayi Myungsoo-ya…” tegur Woohyun.Namun Myungsoo tidak menghiraukan dan hanya kembali memandangi wajah Kyungsoo serta mengelus pipinya.

“Anak ini berbeda Woohyun-ah, dia bercerita padaku…bahwa sebenarnya mainan anak yang tadi rusak bukan karena dirinya, namun karena kesalahan anak itu sendiri…” tuturnya. “Namun Kyungsoo diam karena tidak ingin anak itu dimarahi oleh Eomma nya, dia ini….hatinya baik sekali…” 

Woohyun tersenyum.“Tapi sebenarnya dia anak yang dingin dan terlihat acuh…” 

“Meskipun begitu dia sesungguhnya peduli dan anak yang baik…” 

“Yaah mirip sekali dengan seseorang yang ada disini…” sahut Woohyun membuat Myungsoo seketika menatapnya horror. “Apa maksudmu??”

Woohyun tertawa pelan.“Kalau kau ingin tahu masa kecilmu seperti apa dulu, kau bisa melihat anak ini, hahahah, dingin, acuh, dan tidak sopan pada orang lain!” 

“Yaaa….kau sialan!!”
**** 

****

***
Hal yang menjadi kegiatan setiap hari Myungsoo selain sibuk dengan urusan pekerjaannya adalah mengawasi dan melihat apa yang dilakukan oleh namja itu, Lee SungJong. Setidaknya Myungsoo sedikit bisa melepas rasa rindunya pada namja itu hanya dengan menatapnya. Sajangnim itu tidak tahu kenapa kekasih di masa lalu nya itu tidak mengenalinya atau berpura-pura tidak mengenalnya. 

Selama Myungsoo mengawasinya, dia tahu toko itu bukan milik SungJong sendiri,dengan kata lain SungJong hanya bekerja disana. Heran, tentu saja. Setahu Myungsoo, SungJong bukan dari keluarga yang miskin, namun apa yang telah terjadi selama tujuh tahun ini? Myungsoo benar-benar penasaran. 

Ada yang aneh, SungJong tampak akrab sekali dengan seseorang yang merupakan pemilik asli toko itu, dia adalah Lee Hoya, Myungsoo mengenalnya sebagai rekan bisnis, Hoya memiliki banyak sekali toko di dalam mall nya. Tetapi hubungan apa yang ia miliki dengan kekasihnya itu? 

Kemarahan Myungsoo selalu meledak ketika melihat mereka berdua sedang bersama seperti saat ini. Hoya terlihat bicara dengan manis sekali pada SungJong, dan SungJong nampak sangat bahagia, tidak boleh. SungJong hanya miliknya, sekalipun itu Lee Hoya, seseorang yang sangat berpengaruh di Mall nya, Myungsoo tak peduli.

“Ikut aku sebentar!” Myungsoo mencengkeram pergelangan tangan SungJong dan menariknya. 

“Sajangnim…? Ada apa???” SungJong begitu terkejut dengan perlakuan itu. 

Namun Myungsoo tak peduli, ia memaksa namja itu untuk mengikuti langkah dengan cepatnya, beberapa pengunjung dan juga karyawan yang melihat itu hanya bisa menghindar sembari memberikan tatapan heran mereka.

Braak! 

“Sajangnim…..” 

Namja itu begitu terkejut dengan perlakuan Myungsoo yang tiba-tiba mendorongnya ke tembok penuh dengan emosi. Jangan lupakan mata yang menatap dengan tajam itu, nafas yang naik turun menahan emosi. 

“Sajangnim…k-kenapa….?”

Brak! Myungsoo mengunci pergerakan SungJong dengan kedua tangannya, tubuh mereka kini sangat dekat hingga SungJong dapat merasakan hembusan nafas emosi dari sajangnim-nya, dan dengan ini Myungsoo semakin yakin jika Lee Sungjong ini adalah seseorang yang ia tunggu selama ini. 

“Mau sampai kapan kau berpura-pura? Ini aku Kim Myungsoo!! kekasihmu! kemana saja kau selama tujuh tahun ini hah? Apa yang terjadi padamu?” tanya Myungsoo menuntut penjelasan. 

“A-apa maksudmu sajangnim…?? Aku tidak mengerti, kekasih? A-aku tidak punya kekasih….” 

Myungsoo tersenyum sinis. “Tidak punya? Apakah maksudmu kau kini sudah menjadi milik Lee Hoya sajangnim sehingga kau ingin melupakan aku hah???” Myungsoo menatap SungJong tajam. “JAWAB!!” 

“S-sajangnim…” 

Satu gelagat aneh dapat Myungsoo tangkap, gelagat yang tiba-tiba Myungsoo yakin namja manis ini sudah kehilangan kata-kata untuk mengelaknya. Myungsoo kemudian menggerakkan tangannya dan menangkupkan pipi yang terasa lembut di tangannya itu. “Kau tahu aku sangat merindukanmu, kemana saja kau selama ini, apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi hmm?” tanyanya lembut. 

“K-Kim sajangnim…” SungJong mencoba untuk melepaskan tangan Myungsoo dari wajahnya, namun Myungsoo tidak membiarkan itu, tangan kekarnya menyentuh wajah lembut itu semakin dalam lagi. Hingga SungJong berhenti untuk mengelak dan menatap Myungsoo. Mata mereka saling beradu, Myungsoo benar-benar merindukannya, Myungsoo merindukan seorang Lee SungJong, kekasihnya. 

Tak butuh beberapa lama, Myungsoo segera merendahkan wajahnya dan mencium bibir SungJong. Namja itu diam sejenak, seolah membiarkan bibirnya menyatu dengan bibir sajangnim itu, namun detik selanjutnya, dengan cepat SungJong mendorong tubuh Myungsoo menjauh. 

PLAAAK! Satu tamparan keras mendarat di pipi Myungsoo. “Hyung!!!! Kau tidak pernah berubah!! Kau tetap brengsek!!” bentaknya keras. Myungsoo terkejut bukan main, namun bukan terkejut karena tamparan dan juga bentakan SungJong, tetapi kata-kata yang keluar tadi, Lee SungJong dihadapannya ini benar-benar kekasihnya. Myungsoo tersenyum dan menatapnya, benar sekali, SungJong yang menatapnya penuh emosi ini adalah SungJong yang sangat dikenalnya. 

“SungJong-ah…” 

“Jangan sentuh!!” Namja itu menghentakkan tangan Myungsoo yang berusaha menyentuhnya. “Aku ingin melupakanmu!! Tapi kenapa??? Kenapa kau muncul lagi??” 

“SungJong-ah, apa maksudmu? Kenapa kau ingin melupakanku? Apa yang terjadi denganmu selama ini? tidak tahukah kau tujuh tahun ini aku seperti orang gila mencarimu!!” Myungsoo menatap nya heran. 

SungJong menggelengkan kepala beberapa kali, ada raut yang tiba-tiba menjadi sedih, emosinya menghilang. Namja manis itu memundurkan langkahnya kemudian merosot jatuh ke lantai. “hiks….’ 

“Hey….kau kenapa baby….?? Apa aku menyakitimu??” Myungsoo mendekat merengkuh bahunya, masih berusaha untuk melepaskan tangan Myungsoo. Hal ini membuat sang sajangnim menjadi heran. 

“H-harusnya memang aku tidak mempercayaimu….sejak…sejak kau menjebakku, aku benar-benar bodoh, hiks…kenapa kita harus bertemu lagi??” raung nya terdengar sangat sedih. 

Myungsoo terkejut, kenapa SungJong mengungkit hal itu lagi? Itu sudah lama sekali, bahkan mereka sudah menjadi sepasang kekasih. “baby, aku tidak mengerti, kenapa kau seperti ini…katakan padaku!” 

“K-kau bahkan sudah melupakannya??” SungJong menatap Myungsoo lekat, air mata dari sudut matanya terus mengalir. “Aku bahkan tak pernah sekalipun lupa, kau memang keterlaluan, tidak….aku yang bodoh, aku yang bodoh….yah…aku benar-benar bodoh…” rancaunya. 

“Lee SungJong!” Myungsoo menangkap pergelangan tangan SungJong lalu menatapnya. “Apa yang kau bicarakan? Hal yang kau katakan itu…bukankah sudah berlalu? Aku menjebakmu itu memang benar, tapi aku benar-benar jatuh cinta padamu, kau bahkan sudah memaafkanku, kita ini sepasang kekasih, tapi…tiba-tiba kau mengatakan hal mustahil itu lalu pergi, tanpa kabar, aku benar-benar mencarimu, aku merindukanmu….” 

SungJong menatap Myungsoo dengan tatapan tak percaya. “Ucapanku waktu itu bagimu mustahil…? Sampai saat ini….?” 

“Ngg….” Myungsoo tampak bingung. “Baby aku rasa…yaah…benar itu mustahil, namun aku paham saat itu kau pasti sangat takut aku meninggalkanmu, tetapi…kau yang ternyata meninggalkanku, baby sebenarnya ada apa..?” tanya Myungsoo lagi. 

Namun SungJong hanya menggelengkan kepala dan menatap Myungsoo kecewa, air mata namja itu kembali mengalir. Setelah sekian lama harusnya Myungsoo bisa melihat kegembiraan darinya, namun yang ada hanyalah air mata. Namja itu segera menariknya dan mendekapnya dengan erat. SungJong tak menolak namun juga tak membalas, seolah membiarkan tubuhnya di dalam dekapan erat Myungsoo. Isakan kecil masih beberapa kali terdengar. 

Myungsoo memang tidak tahu apa yang terjadi namun, dia sangat bahagia bertemu kembali dengan kekasihnya itu, entah ini sudah sangat lama sejak terakhir kali ia memeluknya. 
*** 

Sejak waktu itu, Myungsoo tidak pernah berhenti untuk mengunjungi SungJong ke toko-nya. Meskipun yang di dapat Myungsoo hanyalah sikap dingin dan tidak peduli SungJong. Myungsoo tidak ingin kembali menyerah, setelah sekian lama ia harus bisa mengembalikan SungJong ke pelukannya. 

“Sajangnim, kau harus menghadiri pertemuan hari ini…” 

“Tolong diundur saja Woohyun-ah, pertemuan itu sama sekali tidak penting, mereka terus membicarakan omong kosong….” 

Woohyun sesaat terdiam lalu segera memberikan tanda silang pada salah satu daftar yang tertera di tablet nya. Dia harus mulai maklum dengan kegiatan baru dari sajangnim nya itu yang sangat gemar mengunjungi toko pakaian di lantai dua. 

Dirinya bersahabat dengan Myungsoo sudah sangat lama, ia tahu siapa Lee SungJong dan apa hubungannya dengan Myungsoo. Yaah memang benar, Myungsoo pada awalnya menggunakan SungJong sebagai taruhan dengan teman-temannya yang lain, Myungsoo menjebak namja manis itu hingga berhasil menidurinya. Namun, Woohyun tidak tahu apa yang terjadi, yang pasti Myungsoo merasa sangat bersalah dan akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Sangat akrab, dan saling mencintai, Myungsoo bahkan sering pulang cepat hanya untuk menjemput SungJong. Hingga saat itu terjadi, SungJong pergi tanpa kabar.

Sebenarnya Woohyun dapat menebak kenapa sikap SungJong sekarang yag begitu dingin dengan Myungsoo, ada sesuatu yang dilakukan Myungsoo tidak bisa dimaafkan.  

“Kau akan pulang? Biarkan aku mengantarmu?” tawar Myungsoo pada SungJong yang terlihat berkemas. 

“Tidak perlu, sudah ada yang menjemputku….” 

Myungsoo menarik pergelangan tangannya dan menatap penuh selidik. “Dengan Hoya sajangnim? Apa hubunganmu dengannya hah??” 

“Itu bukan urusanmu!!” jawabnya keras sembari menghentakkan tangan Myungsoo. “Kumohon jauhi aku, kita sudah berakhir, jebal…aku hanya seorang karyawan bawahanmu, tidak lebih….” 

“Tidak! Kau yang memutuskan untuk berakhir, aku tidak akan melepaskan mu!!” tegas Myungsoo membuat namja di depan itu menghentikan aktifitasnya sejenak kemudian menarik nafas panjang. Sepertinya dia menyimpan begitu banyak emosi di dalam dirinya, namun dia juga ragu untuk melepaskannya. 

SungJong kemudian berbalik dan menatap sajangnim-nya itu. “Sajangnim, aku benar-benar memohon padamu, jebal, jauhi aku…kita tidak saling mengenal, jangan seperti ini, hubungan kita sudah lama berakhir, kau sendiri penyebabnya…” 

“Lalu katakan alasannya! Katakan alasan kenapa kau seperti ini! Kau sudah tidak mencintaiku???” 

“Tidak bukan sepeti itu..” SungJong menggeleng. “Ini bukan masalah perasaanku padamu sajangnim, tapi..kau…sudahlah, lebih baik kita lupakan masa lalu kita…” 

Myungsoo mengerutkan keningnya tak mengerti. Ia terus mencoba mengingat kesalahan yang pernah ia lakukan. Jika masalah taruhan, SungJong sudah memaafkannya, tidak ada yang lain. Hanya satu hal yang memang mengganjal hati Myungsoo, namun disisi lain ia juga tidak bisa membenarkan jika memang itu masalahnya. 

“Aku pergi, Hoya sajangnim sudah menungguku…” ucapnya sembari berlalu. 

Tapi bagaimanapun Myungsoo memikirkanya dia tidak bisa menemukan kesalahannya. Selain memang hanya hal itu, sehari sebelum SungJong pergi meninggalkannya, mereka bertengkar hebat, tidak, lebih tepatnya Myungsoo yang marah besar karena sesuatu yang dikatakan SungJong. Namun itu hanya kemarahan sesaat, bahkan tidak bertahan lama, Myungsoo segera meminta maaf begitu kemarahannya reda. Apalagi kesalahannya? 

“Paman…” 

Lamunan Myungsoo buyar ketika seseorang menarik-narik ujung jas nya. Namja itu segera menoleh. “Ohh, hai….” Senyumnya segera mengembang. “Kyungsoo-ya, apa kabar hmm? Kau lama tidak main kemari…”ucap Myungsoo sebari mengacak pelan rambut anak itu. 

“Eomma melarangku kesini….” 

“Lalu jika dia melarangmu kenapa kau hari ini main kesini hmm??” Myungsoo tersenyum gemas, padahal beberapa saat yang lalu suasana hatinya benar-benar buruk. Anak kecil memang berbeda. 

Kyungsoo tampak cemberut. “Aku bosan dirumah tidak ada teman, aku sebenarnya ingin menjemput Eomma, tapi..kulihat dia sudah pergi dengan Paman menyebalkan itu…” ucapnya terdengar kesal. 

“Baiklah anak manis, kau ingin pulang juga atau masih ingin bermain disini?” 

“Tidak Paman, bermain disini sangat mahal,mungkin aku akan pulang saja dan kembali ke kamarku…” 

Myungsoo tertegun. Tidak semua anak seperti Kyungsoo, Kyungsoo mungkin kurang beruntung karena orangtuanya bukan rekan kerjanya yang bisa bermain sepuasnya disini. Ada sesuatu yang mengganggu hati Myungsoo. 

“Kalau begitu aku akan menemanimu berkeliling di tempat ini, kau bisa melakukan apa saja yang kau mau…bagaimana?” 

“Benarkah paman?” Kyungsoo berbinar. 

Myungsoo mengangguk. “Tentu aja, aku pemilik tempat ini, coba aku pikir kemana kita akan pergi lebih dulu, hmm…kita pergi membeli beberapa baju untukku dulu, kkaja!!” Myungsoo menggenggam pergelangan tangan Kyungsoo kemudian mereka berlari-larian kecil menuju pusat pakaian di lanta dua. 

*

Myungsoo ingin sesuatu yang bagus dan mahal untuk Kyungsoo, dia menyuruh karyawan untuk memilihkan semua pakaian yang terbaik. Kyungsoo sebenarnya menolak, namun Myungsoo terus mengatakan tidak apa-apa, sebagai hadiah karena menjadi anak yang baik. Dan jika dipikir-dipikir Kyungsoo memang pantas mendapakan semua itu. 

“Woaah, dia tampak sepertimu..” komentar Woohyun ketika melihat Kyungsoo memakai beberapa baju yang dipilihkan karyawan. “Sebaiknya kau memang segera harus menikah dan memiliki anak Myungsoo-ya, lalu kau bisa memanjakannya seperti itu, ini kau malah memanjakan anak orang…” 

“Diamlah! Kau pikir aku akan menikah setelah aku bertemu kembali dengan Lee SungJong?” 

“Ayolah Myungsoo-ya, dia tidak akan bisa memberikanmu anak, kau butuh anak untuk meneruskan semuanya…”

Myungsoo mengayunkan kakinya dan menendang Woohyun. “Jika aku tidak salah, kau lebih tua satu tahun dariku, kau juga butuh untuk segera menikah, oh bisakah Key memberikan anak juga untukmu? Kulihat kau sangat memujanya?” sindir Myungsoo dan seketika membuat Woohyun kalah telak dari perdebatan kecil itu. 

“Sudahlah, lebih baik kau segera antarkan berkasku tadi pada aboeji…” Tidak ingin menunggu lama Woohyun segera pergi. Sajangnim itu menggeleng-gelengkan kepalanya geli, harusnya dari dulu saja dia membalas ucapan Wohyun itu, seenaknya saja dia menyuruhnya untuk menikah. 

“Paman…” 

“Ne?” 

Kyungsoo tersenyum. “Terima kasih paman, baju ini sangat bagus, Eomma bahkan harus menabung dulu untuk membelikanku baju, tapi Paman dengan cepat memberikan semua ini padaku…” 

Myungsoo berjongkok kemudian merengkuh bahu Kyungsoo dan tersenyum. “Tidak perlu mengatakan itu, kau pantas mendapatkannya…” 

“Andai saja aku mempunyai aboeji sepertimu…” 

“Ahhaha kau ini sangat menggemaskan..” Myungso mencubit pipi lucu itu pelan. “Kkaja kita ke pusat bemain, kau bisa bermain apapun yang kau inginkan, setelah itu kita pergi makan…” 

****

****

Ini hampir menjelang pukul lima sore, Myungsoo dan juga Kyungsoo masih asik bermain, Kyungsoo benar-benar terlihat bahagia. Disetiap waktu ucapan terima kasih selalu Kyungsoo katakan. Myungsoo terlihat seperti seorang ayah yang sedang menemani anaknya bermain, dia juga lebih ramah terhadap para karyawannya. 

Tidak masalah baginya untuk bersantai hari ini karena nanti malam dia juga akan lembur, Myungsoo lebih bisa berkonsentrasi bekerja di malam hari. 

“Kyungsoo-ya, setelah ini aku akan mengantarmu pulang, sudah hampir malam, ooh..??” Myungsoo sedikit merendahkan nada bicaranya karena Kyungsoo terlihat terlelap di bangku ketika menunggu dirinya membeli minuman. Anak itu mungkin saja kelelahan karena seharian bermain. Myungsoo sedikit merasa bersalah karena pasti Eomma nya sedang mencari Kyungsoo saat ini. 

Sajangnim itu segera melepaskan jas-nya kemudian menyelimutkan pada tubuh kecil Kyungsoo. Tidak baik jika anak itu tertidur disini, lebih baik ia membawanya ke ruangannaya, dan lagi sepertinya Myungsoo harus segera menyelesaikan pekerjaannya. 

Tak butuh tenaga yang banyak untuk Myungsoo mengangkat dan membopong tubuh kecil itu. Kyungsoo sangat ringan. 

“Astaga Myungsoo-ya…” Woohyun muncul. “Biarkan aku yag menggendongnya, kau kembali saja ke ruanganmu…” tawarnya, 

Myungsoo menggeleng. “Tidak Woohyun-ah, biar aku saja…” 

“Baiklah, ngg…Ren ada di ruanganmu, dia menunggumu, ada sesuatu yang penting yang haru dia katakan padamu…?” 

“Ren?” 

Myungsoo sedikit mengerutkan keningnya, apa yang akan dia lakukan pada namja itu? Ia sudah bertemu lagi dengan SungJong, dia tidak boleh menjalin hubungan dengan siapapun lagi, karena ia tidak ingin mengecewakan SungJong. 

Benar sekali, ketika masuk ke dalam ruanganya, Ren sudah menunggunya. Myungsoo membaringkan Kyungso terlebih dahulu ke sofa ruangannya dan merapatkan jas-nya kembali di tubuh mungil itu. 

“Siapa dia hyung?” tanya Ren. Myungsoo tersadar kemudian bangkit setelah mengusap perlahan kepala Kyungsoo. Myungsoo sebenarnya ingin langsung berbicara pada Ren namun dia urungkan karena dia melihat sesuatu yang berbeda dari raut wajahnya. Matanya sayu dan juga sembab. 

Myungsoo kemudian menarik namja itu untuk sedikit menjauh dari sana lalu menatapnya. “Ada apa? Kau baik-baik saja?” tanyanya sembari bersedekap tangan. 

“hyung aku…” Ren menunduk nampak ragu-ragu, dan Myungsoo dapat melihat semua itu. 

“Minki-ya, ada apa? Kau ada masalah, dan kenapa dengan wajahmu ini?” tanya Myungsoo mengusap pipi Ren yang sedikit membiru. 

“Sepertinya ku harus pergi…” ucapnya seketika membuat Myungsoo membeku. “Minhyun…mengajakku untuk pergi, dia ingin pindah ke Jepang….” 

Untuk sesaat Myungsoo tak menjawab, karena da tidak tahu harus menjawab bagaimana. Dia memang ingin memutuskan hubungannya dengan Ren, namun tidak dengan seperti ini. 

“hyung…” 

“Kau mencintai Minhyun…?” potong Myungsoo. 

Ren mengangguk.

“Jika seperti itu….pergilah, ikuti dia, kau tidak bisa melepaskan seseorang yang sangat kau cintai, apa kau paham?” 

“Tapi…” 

“Apa yang kau ragukan…?” 

Menunduk. Ren kembali menunduk, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh namja itu, karena Myungsoo sangat hafal dengan sifat namja itu. Myungsoo tidak sebulan dua bulan mengenal Ren, tapi sudah bertahun-tahun. 

“Katakan padaku Ren, apa yang membuatmu ragu….?” 

“Kau hyung…Aku sudah bergantung padamu selama ini, aku takut…Minhyun tidak bisa memperlakukanku seperti kau memperlakukanku….” 

“Astaga Ren, kau tau kan kau selalu bisa menemuiku kapan saja, kau bisa mengatakan padaku jika dia berani menyakitimu…” ucap Myungsoo membelai kepala Ren lembut. 

“Tapi..dia akan membawaku pergi jauh…” 

“Dan dia sangat mencintaimu Ren…” 

“Lalu kau…tidak mencemaskanku hyung?” 

Myungsoo tersenyum. “Kau adalah salah satu orang yang sangat berharga untukku, jika sesuatu yang buruk terjadi padamu aku akan sangat marah, tapi aku pun juga yakin kalau kau akan aman bersama dengan Minhyun, kalian Saling mencintai…” 

Ren terdiam sesaat, memikirkan semua ucapan Myungsoo tadi, memang sangat berat untu berpisah dengan seseorang yang selama ini sangat penting dari hidupnya. 

“Aku akan berangkat besok siang..” ucapnya kemudian. “Kau mau mengantarku sampai bandara?” 

“Tentu saja sayang, jika itu keinginanmu, aku benar-benar akan merindukanmu…” 

“Myungsoo hyung…” 

Bohong jika Myungsoo tidak sedih, namun dia harus menyembunyikannya karena Ren akan pergi untuk kebahagiaannya juga. Myungsoo kemudian menarik tubuh Ren lalu memeluknya. “Terima kasih untuk selama ini, kapanpun kau butuh aku akan selalu ada untukmu…” bisiknya. 

“Semoga berhasil dengan Lee SungJong, kau pun juga harus segera menemukan kebahagiaanmu hyung…” 

Myungsoo tersenyum, kemudian melepaskan pelukan dan mengecup kening Ren dengan sayang. “Jaga dirimu…” 

“Kau juga hyung, aku pergi, kau harus menelvonku setiap hari ini…” ucap Ren. 

Myungsoo tersenyum dan mengantar Ren keluar dari ruangannya. Takdir mempertemukan kembali dengan SungJong namun dia juga harus kehilangan Ren. Myungsoo menyadari jika dirinya tidak boleh serakah, Ren akan bahagia dengan seseorang yang ia cintai, dan sudah pasti Ren akan aman bersama dengannya. 

“Ohh…Nak, kau sudah bangun?” Myungsoo segera menghampiri Kyungsoo yang telihat bangkit sembari mengucek matanya. 

“Paman ini sudah malam sekali, aku harus pulang, Eomm pasti mencariku….” Ucapnya terdengar panik. 

“Baiklah, Aku akan mengantarmu, kkaja….” 
**

**

Myungsoo tidak tahu jika tempat tinggal Kyungsoo lumayan jauh dari Mall-nya, anak itu hebat sekali karena bisa pulang pergi sendirian. Jika Myungsoo adalah ayah-nya maka ia tidak akan membiarkan anak ini berkeliaran sendirian. 

Tiba di gedung apartement yang sedikit kumuh, Myungsoo menatapnya sejenak, sangat berbeda dengan tempat tinggalnya, Kyungsoo seharusnya tinggal di tempat yang baik dari pada ini. 

“Okey, lalu yang mana apartmentmu hmm?” 

“Di lantai dua Paman…” 

Myungsoo tidak bisa membiarkan Kyungsoo sendirian kesana, dan lagi ia harus menjelaskan pada Eomma-nya kalau dia lah penyebab Kyungsoo pulang terlambat. Tangga dan juga lorong tidak memiliki fasilitas yang baik. Myungsoo benar-benar gemas melihatnya. Dan bahkan tempat ini sangat kotor, astaga, apakah pengelolanya ini sama sekali tidak perhatian. 

“Baiklah Kyungsoo-ya, aku akan berbicara dengan Eomma mu nanti, memita maaf…”

“YAA!! KYUNGSOO-YA!! KEMANA SAJA KAU??” Suara nyaring itu terdengar dan menganggetkan mereka berdua. Myungsoo segera membalikkan badannya untuk meminta maaf. 

Namun…untuk sesaat Myungsoo terpaku, matanya bertatapan dengan mata seseorang yang baru saja berteriak itu. Bukan karena terpesona namun ia lebih merasa terkejut yang sangat luar biasa. “SungJong-ah….?” Gumamnya. 

Namja itu, Lee SungJong juga awalnya terlihat terkejut namun sesaat kemudian dia acuh dan segera menatap Kyungsoo tajam. “Kemana saja kau? Ini sudah malam, kau berencana membuatku mati karena mencemaskanmu hah???

Kyungsoo mendesah pelan. “Kau selalu berlebihan, aku sudaj besar dan aku bisa menjaga diriku sendiri!!” 

“Sudah berani melawan?? Siapa yang mengajarimu seperti itu?”

“Eomma kau sangat cerewet!! Yang penting aku pulang dengan selamat kan??” 

Myungsoo tanpa sadar terhuyung beberapa langkah ke belakang. “Eomma? Apa maksudnya…?” Tanyanya tak mengerti. 

SungJong sesaat seperti tersadar jika disitu ada Myungsoo. “Kyungsoo-yaa masuk ke dalam dan kerjakan tugasmu, dan berhenti memanggilku Eomma!!! Sudah kukatakan untuk memanggil aboeji!” 

Kyungsoo mencibir. “Kau ingin sekali aku memanggilnu seperti itu padahal pada kenyataan nya kau yang…..” 

“KYUNGSOO-YA!!!!” bentakan SungJong membuat Kyungsoo akhirnya mengalah. 

“Paman…” Panggil Kyungsoo pada Myungsoo. “Eomma sangat cerewet, aku masuk dulu, terima kasih untuk hari ini…” Ucap Kyungsoo lalu berlari masuk. 

Myungsoo tertegun dan menatap SungJong, dia benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Yang bisa ia tangkap adalah Kyungsoo ini adalah anak dari SungJong namin yang tidak ia mengerti kenapa Kyungsoo memanggil SungJong seperti itu? Eomma? Astaga, kepala Myungsoo tiba-tiba pusing. 

“Dia anakmu?” Tanya nya kemudian. 

“Bukan urusanmu!!”

“Itu berarti kau sudah menikah?” 

“Kubilang itu bukan urusanmu!!” SungJong mulai marah. Namun Myungsoo menginginkan kejelasan. 

“Katakan padaku!!! Kau sudah menikah?? Dengan siapa???” Bentaknya mencengkeram tangan SungJong. 

SungJong terlihat bertambah marah. “Aku tidak pernah menikah!!! Aku hanya dicampakkan oleh seseorang hingga hidupku hancur!!!” 

“Tapi Kyungsoo anakmu??” 

“Sudah kukatakan itu bukan urusanmu!! Tapi benar, dia anakku!!!” 

“Lalu….kenapa dia memanggilmu Eomma?? Dia juga mengatakan padaku kalau aboeji nya sudah mati, apa maksudnya??” 

“Karena aku memang Eomma nya!!!” Bentak SungJong benar-benar marah. “Aku yang membawanya hadir ke dunia ini!!!”

Myungsoo benar benar seperti tersambar petir di malam hari. Tiba-tiba ingatannya terputar pada pertengkarannya dengan SungJong pada hari sebelum SungJong meninggalkannya. “Mustahil….” Myungsoo menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Apakah saat itu….yang kau ucapkan pada ku adalah benar SungJong-ah.?” 

SungJong menatap Myungsoo penuh emosi, nafasnya naik turun menahan amarahnya

“Sudah berakhir, kau tidak perlu mengetahuinya! Karena kau selalu berpikir semua itu mustahil!!” 

“Itu berarti….Kyungsoo anak ku??” Tanya Myungsoo meninggikan suaranya. “Aku ayah nya???” 

“Bukan!! Dia anakku!! Lebih baik kau pergi dari sini!!!”  SungJong segera berbalik dan hendak masuk ke dalam apartment nya. Namun dengan cepat Myungsoo mencekal tangannya. 

“JANGAN BOHONG PADAKU!!! KATAKAN YANG SEBENARNYA!!!” bentak Myungsoo. 

SungJong menghentakkan tangan Myungsoo dan mendorong tubuhnya menjauh. 

“KAU YANG TIDAK MENGINGINKAN KYUNGSOO DULU, KAU MEMBUANG KAMI, KAU BAHKAN MENGANGGAPKU TIDAK WARAS!!! KAMI TIDAK BUTUH DIRIMU! KYUNGSOO TIDAK BUTUH AYAH SEPERTI MU!!!” 
Dan entah kenapa kaki Myungsoo melemas luar biasa. 

-tbc-

∞Where You At∞ #Chapter1

.

.

,

“Yak!! Nam Woohyun kau benar-benar!!!”

Myungsoo benar-benar murka dengan sekretaris sekaligus sahabatnya itu.Namja yang masih memakai piyama berwarna putih itu segera turun dari ranjang nya dan berlari ke tempat tidur. Di harus segera pergi ke kantor namun entah kenapa sekretarisnya itu membangunkannya dengan begitu lambat pagi ini, Myungsoo akan mengurus Woohyun nanti setelah kerjaannya beres.

“Kau sudah menghubungi Park Sajangnim untuk menghadiri rapat  hari ini?” Tanya Myungsoo sembari membaca file laporan di tabletnya. Saat ini ia tengah dalam perjalanan menuju tempat kerjanya.

Woohyun yang sedang berkonsentrasi mengemudi menjawab dengan sekenanya. “Sudah, dia bilang akan dating…”

“Lalu bagaimana dengan persiapan yang lainnya kau tidak lupa dengan apa yang aku minta kemarin kan?”

“Gossh, Myungsoo-ya…kau sudah mempelajarinya semalaman dan juga aku sudah mengatakan padamu jika semuanya beres, kau…astaga lebih baik kau istirahat saja!” sahut Woohyun menggeleng-gelengkan kepalanya setiap kali melihat Myungsoo yang terlalu mengutamakan pekerjaannya.

“Kau tahu aku tidak bisa, dan berbicaralah padaku dengan sopan, saat ini jam kerja dan aku adalah sajangnimmu!”

Woohyun tidak menjawab dan hanya menambah kecepatan laju mobilnya.Sebenarnya dia tadi sudah sedikit menunda rapat karena dia ingin membiarkan Myungsoo untuk tidur sedikit lebih lama lagi.Namun sepertinya Myungsoo hanya memikirkan tentang rapat yang penting itu.

Brukkk!”“Aww!!”

“Yaa!! Kau tidak apa??”

Myungsoo terkejut luar biasa dan segera menutup pintu mobil.Ketika dirinya membuka pintu mobil tadi tak sengaja seseorang yang berdiri disana terdorong olehnya dan terjatuh.

“Hey, Kau tidak apa-apa nak??” Tanya Myungsoo kembali terkejut karena yang ia jatuhkan ternyata seorang anak kecil yang berseragam sekolah dan menggendong ransel hitam. “Dan lagi apa yang kau lakukan disini?Kau tidak sekolah? Dimana orang tua mu hah??” Myungsoo sedikit kesal karena ceroboh sekali orang tua anak ini membiarkan anaknya berkeliaran di parkiran Mall tanpa pengawasan apalagi di jam sekolah.

Anak itu yang semula masih terduduk mengusap lengannya yang kotor segera menatap Myungsoo. Mata kecilnya terlihat tidak menyukai dengan cara Myungsoo bicara, terdengar seperti marah.

“Ya ya ya…kau ini kenapa memarahinya?”Woohyun segera menghampiri anak itu dan membantunya untuk berdiri. “Hey nak, kau tidak apa? Dimana orang tuamu hmm?Perlu kuantarkan ke mereka?”Tanya Woohyun dengan lebih lembut.Myungsoo hanya mendengus kesal.

“Tidak perlu, aku bisa mencari Eomma ku sendiri…” sahutnya, anak yang berumur sekitar 7 tahunan itu segera bergegas pergi tanpa memberikan hormat pada Woohyun apalagi dengan Myungsoo.

“Astaga lihatlah!Dia benar-benar tidak diajarkan sopan santun oleh kedua orang tuanya!”

“Sudahlah, bukannya kau harus bergegas…” Woohyun menyadarkan.“Kkaja!!”
** Rapat berjalan dengan lancar meskipun terdapat beberapa pertentangan. Myungsoo memang terkadang selalu berbeda pendapat dengan beberapa petinggi yang lain, ketika ia sudah mengatakan sesuatu maka itu harus terjadi. Tidak jarang tempat rapat menjadi sangat ramai dan tidak terkendali.Jika sudah seperti ini Woohyun yang harus turun tangan untuk menenangkan.

“Myungsoo-ya, ahh maksudku sajangnim…” Woohyun meralat ucapannya. “Aku harus membatalkan pertemuanmu dengan beberapa pemilik kios baru di Mall, kau besok memiliki acara yang lebih mendesak…”

“Itu terserah kau saja, kau bebas mengatur jadwalku…” sahutnya masih focus menghitung jumlah angkat yang berderet di tabletnya.Mereka berjalan menyusuri beberapa bagian di Mall.Seorang sajangnim berjalan hanya dengan sekretarisnya itu sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi karyawan disana.Myungsoo sangat menyukai ini karena dengan memantau dia bisa langsung melihat betapa ramainya Mall miliknya ini oleh pengunjung.

Woohyun kembali menyusul langkah Myungsoo.“Dan…..Choi Minki memintamu untuk menemuinya hari ini…” ucapnya perlahan. Dan benar saja apa yang dipikirkan oleh Woohyun, Myungsoo segera menghentikan langkahnya dan menatap Woohyun. “Choi Minki?”

“Ayolah Myungsoo, jangan terus kau mengurus pekerjaanmu, kau butuh bersenang-senang dengan kekasihmu juga…”

“Ciih, kau mulai berlagak seperti aboejiku…” cibir Myungsoo.

“Tapi kau harus menikah, berapa umurmu sekarang huh? Kau butuh seseorang untuk melahirkan anakmu yang akan meneruskan pekerjaanmu sebagai direktur utama Rainbow Mall…”

Satu jitakan pelan segera mengarah ke jidat Woohyun membuatnya meringis kesakitan.“Lalu aku harus menikahi Minki? Dia itu namja meskipun aku menikahinya dia tidak akan pernah bisa melahirkan anakku, kau ini benar-benar…”

“Kalau begitu kau bisa menikahi perempuan, kurasa banyak yang tergila-gila padamu….” Sungut Woohyun kesal.

“Ck, kau jadi sahabatku berapa lama hah?Kau tahu aku tidak menyukai perempuan, dan jika kau memang ingin kau saja yang menikah, jangan memaksaku!”

“Myungsoo-ya…kau benar-benar keras kepala, kau anak tunggal, pada siapa lagi kau akan mewariskan semua kekayaan ini nanti…”

“Entahlah mungkin aku akan memungut anak jalanan dan menjadikan pewarisku!” sahutnya asal.“Dan lagi aku pun tidak berencana untuk….YAAA!!!”

Teriakan Myungsoo membuat Woohyun tersentak. Betapa terkejutnya ia ketika melihat tablet hitam kesayangan Myungsoo yang penuh dengan file pekerjaan jatuh disana dengan tidak eltnya kemudian tersiram segelas jus lemon dingin, rupanya seseorang menabrak Myungsoo

“Tabletku!!Astaga!!” Seperti anak kecil yang kehilangan mainannya, Myungsoo segera menunduk dan mengambil benda itu kemudian mengusap-usapnya membersihkan dari jus lemon, benda itu sudah mati seperti nya, layarnya ada retak di bagian tengah, dan Myungsoo benar-benar cemas, karena ini tablet kesayangannya, okey ini seperti berlebihan bagi seorang sajangnim sepertinya.

“Ahjussi, kau berjalan tidak dengan mata huh??”

Ucapan itu membuat Myungsoo sadar dan tersulut emosinya. “YAA KAU YANG……!!! Kau…..” sekali lagi dirinya dibuat terkejut oleh seseorang yang membuat  kerusakan pada tablet nya tadi. Seorang anak kecil. YA!! Anak kecil tadi pagi!! Myungsoo sangat yakin.

“Kau anak kecil yang juga membuat kerusuhan tadi pagi???” ucap Myungsoo dengan tajam, tatapannya benar-benar menakutkan.

Namun bukannnya takut, anak itu berbalik membalas tatapa Myungsoo dengan tak kalah tajam kemudian bersedekap tangan. Dia sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah karena telah menabrak Myungsoo. “Ahjussi kau yang bersalah, kau berdiri dimana orang lewat dan kau menghalangi jalan!”

“Mwoo???”Myungsoo tercengang mendengar jawban itu, sementara Woohyun terkikik geli.“Kau harusnya minta maaf padaku bocah!!Kau merusak tabletku!!”

“Aku tidak bersalah, kau yang bersalah karena berdiri di tengah jalan!!”

“Dasar keras kepala!! Tidakkah kau tahu kalau aku adalah pemilik tempat ini dan apa yang sedari tadi kau lakukan disini? Apakah kau membolos?Bagaimana aboeji mu jika kau membolos seperti ini??”

“Aboejiku sudah mati aku tidak perlu takut hal dengan hal itu!”

“Astaga…” Myungsoo memijit kepalanya pusing, bukan hanya karena anak ini berkata tidak sopan padannya, namun juga ucapannya benar-benar dingin dan terkesan tidak peduli dengan sekitar.

“Dasar keras kepala!!Tunggu saja, Woohyun-ah, antar anak ini ke bagian barang hilang dan umumkan!!”

Woohyun kembali tertawa, sementara anak itu masih menatap Myungsoo dingin.Anak yang kira-kira masih kelas satu itu benar-benar tidak memiliki rasa takut sedikitpun.“Kenapa harus terburu-buru? Anak ini cukup manis….” Ucapnya sambil mengelus kepalanya, namun dengan cepat anak itu menyingkirkan tangan Woohyun.

“Lihat..lihat! seperti itu kau bilang manis???” ucap Myungsoo jengkel. “Dia anak yang keras kepala, dan menyebalkan…”

“Dan kurasa dia mirip sekali dengan seseorang….” Woohyun cepat menyahut. “Kau juga seperti itu Myungsoo-ya, keras kepala dan menyebalkan…”

“MWO????”

Woohyun kembali tertawa dan segera menatap anak itu lagi. “Nah anak kecil, jadi siapa namamu nak…?”

“Kyungsoo….” Jawabnya ketus.Dan jawaban itu sejenak membuat Myungsoo dan Woohyun melotot untuk beberapa saat, detik selanjutnya tawa Woohyun kembali terdekat.“Kyungsoo? Namamu Kyungsoo?? Ahahahh lihatlah Myungsoo-ya…bahkan nama kalian sangat mirip!”

Myungsoo mendengus kesal dan kembali beradu pandang dengan anak itu yang juga masih menatapnya dengan tidak kalah dingin.Anak sekecil itu kenapa sudah mempunyai watak seperti itu, orang tua nya benar-benar tidak bisa mendidiknya dengan baik.

Oh? Raut wajah Myungsoo berubah dan segera menajamkan pandangannya ke arah beberapa pengunjung yang datang.Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar, langkah kakinya segera berlari menuju salah satu pengunjung itu, tidak peduli dengan Woohyun yang memanggilnya.

Namja berwajah tampan itu yakin dirinya tidak salah lihat, dia benar-benar ada disana, Myungsoo yakin.Tetapi….kemana? Myungsoo mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, namun percuma, apa yang dilihatnya tadi seperti hilang di telan bumi. “Aku benar-benar sudah gila…”
*

*
“Kau kapan pulang ke rumah hah? Dan kapan kau akan menikah? Tidak kah kau…..”

Myungsoo melemparkan ponselnya dan segera menghempaskan tubuhnya ke sofa empuknya.Alasan kenapa dia tidak mau pulang ke rumah dan lebih memilih apartementnya adalah karena malas terus dihujani dengan pertanyaan yang memuakkan baginya.Sekarang begini, aboeji nya tidak pernah peduli padanya, tapi kenapa akhir-akhir ini dia menjadi sok peduli, ini benar-benar menyebalkan. Dan satu lagi Myungsoo tidak akan mau menikah jika hanya menuruti keinginan aboejinya saja.

“hyung, kau pulang terlambat lagi, aku sudah menunggumu…”

Namja itu menengok, dan mendapati sosok namja manis yang menghampirinya. Myungsoo menyeringai. “Ren….” Gumamnya. “Kemarilah sayang….” Dengan cepat Myungsoo menarik tangan namja itu kemudian menidurkannya di sofa, dengan sekejab Myungsoo sudah berada di atas namja itu, dia mulai memeluk dan menciuminya dari bibir, pipi, dan juga lehernya.Yang menerima itu hanya bisa melenguh dan pasrah.

“Katakan padaku sayang, bukankah kau sedang berkencan dengan Minhyun, tapi kenapa kau datang lagi padaku hari ini hmm…??”Tanya Myungsoo sembari mengecupi kulit leher yang putih itu dengan penuh gairah.

“Nggh… dari…manah….kau tahu..akkh…”

Myungsoo mencibir kemudian meremas benda mungil di dada Ren hingga membuat namja di bawahnya itu kembali mendesah keras. “Siapa  yang tidak tahu hah? Aktor terkenal Hwang Minhyun sedang mengencani seorang model cantik, Choi Minki…berita itu dimana-mana sayangku…”

“Ouh…itu benar hyung…berita itu benar sekali…”

“Lalu kenapa kau menemuiku? Kau tahu kau mungkin tidak akan bisa berjalan dengan sempurna lagi setelah menemuiku hari ini…”

“Aku tidak peduli, karena aku sangat menginginkan itu…”

Seringai kembali muncul dari wajah Myungsoo, tanpa banyak bicara lagi dia segera segera mengangkat tubuh mungil itu kemudian melemparkannya ke tempat tidur, dan tak butuh waktu yang lama bagi Myungsoo untuk melepas semua pakaiannya dan menikmati santapan manis di depan matanya.

Choi Minki, atau Myungsoo biasa memanggilnya Ren, sebenarnya bukan lagi kekasih Myungsoo, Myungsoo sadar namja itu pasti masih ingin mengejar karir nya ketimbang terkekang terus bersama nya, namun ada saat saat tertentu bagi Myungsoo untuk melampiaskan hasratnya, dan Ren selalu datang ketika itu terjadi. Cinta?Tidak, Myungsoo tidak pernah mencintai kekasih-kekasihnya, mereka hanya saling membutuhkan, Myungsoo hanya butuh pelampiasan dan mereka butuh uangnya, hanya itu.

Namun akhir-akhir ini Myungsoo hanya nyaman dengan Ren karena namja itu tidak pernah menuntut banyak darinya, mereka sama-sama menbutuhkan.
“S-SungJong-ah…SungJong-ahh….aku mencintaimu….” Gumam Myungsoo ketika sudah sampai pada titik akhirnya kemudian ambruk di samping Ren.Dia mengecup bahu nya kemudian memeluknya posesif.Myungsoo terlelap.

Meskipun hampir tidak sadarkan diri karena tidak kuat mengimbangi permainan Myungsoo yang begitu luar biasa, namun Ren masih sangat bisa mendengar jelas nama yang selalu di desahkan Myungsoo ketika ia sampai pada kenikmatannya. SungJong, selalu nama itu, bukan dirinya, Ren tidak tahu siapa dia dan ia tidak pernah menanyakan karena sepertinya Myungsoo pun tidak akan menjawabnya, dia kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang nya dan Myungsoo kemudian terlelap dalam dekapan Myungsoo.

***

***

***

“Haah….Benar-benar merepotkan…” Myungsoo menarik nafas kesal.Dia sedang resah, kerjaannya sudah beres sebenarnya namun hatinya selalu merasa tidak tenang. Dan salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan berkeliling melihat-lihat Mall nya.

Myungsoo selalu tertegun, hasil kerja kerasnya selama ini mengubah tempat ini menjadi lebih megah dan sukses. Bahkan ia telah melampaui apa yang telah dilakukan oleh aboeji nya. Dan disaat seperti ini Myungsoo mulai berpikir, siapa yang akan meneruskan semua ini, dia belum menikah dan dia tidak memiliki keturunan.

Ayolah ini tidak semudah itu, menikah itu sesuatu yang sebenarnya tidak Myungsoo inginkan, dia tidak ingin menikahi seseorang yang tidak ia cintai, membayangkanm saja sudah membuatnya muak.

“Selamat siang sajangnim….” Sapa beberapa karyawan dan Myungsoo hanya menanggapinya dengan mengangguk.

Oh…Namun mata elang sajangnim itu menyipit sempurna ketika melihat seorang anak yang berdiri disana. Anak yang beberapa hari yang lalu membautnya kesal, Myungsoo menggerutu kenapa harus dipertemukan lagi dengan anak itu, anak yang keras kepala dan menyebalkan. Myungsoo ingin pergi saja, namun perasaan heran menyelimutinya, apa yang sedang anak itu lakukan disana? Diam dan hanya berdiri.

Myungsoo melihat kearah apa yang di tatapnya, sebuah tempat makan di Mall-nya, apakah anak itu lapar? Kemana sebenarnya orang tuanya kenapa membiarkan anak itu kelaparan disini.

“Hey nak…” Myungsoo menghampiri dan menepuk bahunya.“Apa yang kau lakukan disini?Dimana orang tuamu?”

Anak itu mendongak Myungsoo sekilas kemudian menatap apa yang di pandangnya tadi. Myungsoo kesal, bisa-bisanya diacuhkan seperti ini, hell..dia ini adalah pemilik tempat semewah ini.

Namun entah kenapa dia jadi sangat penasaran.“Apakah kau lapar?Kau ingin menemaniku makan?” tanyanya sekali lagi, awalnya anak itu terlihat ragu, namun akhirnya mengangguk juga.Entah karena insting dari mana, Myungsoo menggandeng pergelangan tangan anak itu dan mengajaknya turun menuju tempat makan.

Rasanya aneh sekali menggandeng anak kecil seperti ini, Myungsoo mulai berpikir mungkin memang sudah saatnya dirinya mempunyai seorang anak, cukup satu saja yang bisa diatur yang bisa menjadi penerusnya di masa depan.

“Jadi kau ingin makan apa? Pesanlah apa saja, kau tidak perlu cemas, aku akan mentraktirmu….”

Anak itu memesan Es Lemon dan juga spaggetthi, ketika Myungsoo menawarkan lagi dia bilang sudah cukup , dia hanya ingin dua makanan itu saja. Dan baiklah, anak ini rupanya tidak berlebihan juga.

“Jadi namamu adalah Kyungsoo?”Tanya Myungsoo mencoba lunak sembari menyeruput kopi manisnya.

Anak itu mengangguk, asik menikmati spaggetthi, bumbunya sudah belepotan di sekitar pipi, Myungsoo gemas untuk mengelapnya, ini aneh sekali, dirinya mulai suka dengan anak kecil ini aneh.“Lalu…siapa ahjussi?” Tanya.

“Aku? Kim Myungsoo, aku pemilik tempat ini, jadi kau tidak boleh kurang ajar denganku seperti kemarin okey??”

“Aku tidak pernah bersikap kurang ajar…” sahutnya ketus tanpa menghiraukan Myungsoo.Hal ini membuat sajangnim itu sedikit terkejut, namun tanpa alasan yang jelas dirinya tersenyum dan segera mengacak rambutanak itu.

Myungsoo sering sekali bertemu dengan anak seusia Kyungsoo ini karena teman-temannya kebanyakan telah memiliki anak, namun tidak ada yang seberani dan sedingin Kyungsoo.Kyungsoo terlihat seperti bukan anak kecil biasa.

“Rumahmu dimana Kyungsoo-ya?Dan kenapa kau ada disini?Apakah kau bersama dengan orangtuamu?”

Kyungsoo mengangguk. “Iya dia bekerja disini, aku menyusulnya karena aku bosan di rumah…”

“Wahh….” Myungsoo mulai tertarik.“Aboeji mu bekerja disini?Sungguh?Di bagian mana??”

“Aku tidak bilang aboeji, aboeji ku sudah mati!!” jawab Kyungsoo kembali ketus, dia terlihat tidak suka sekali ketika menyebut nama aboeji. Dan dari sini Myungsoo menangkap bahwa mungkin Eomma anak ini bekerja disini sebagai karyawan biasa.

Myungsoo kemudian tersenyum lalu mengambil tissue dan mengelap pipi Kyungsoo yang penuh dengan saus.“Makan yang banyak okey, ahjussi pergi bekerja dulu, setelah ini jangan lupa segera kembali ke Eomma mu, okey?” ucapnya sembari berdiri dan beranjak untuk kembali bekerja.

Namun, baru beberapa langkah sesosok tangan lembutmenahan jemari Myungsoo membuat sajangnim itu menoleh, mata anak itu menatapnya dengan lebih lembut dan tidak sedingin tadi.Hati Myungsoo tiba-tiba merasa aneh.

“Ada apa hmm??” Tanya.

“Ahjussi….Gomawo….”

Manis. Singkat.Myungsoo kaget, namun sesaat kemudian Myungsoo segera tersenyum dan mengelus kepala anak itu pelan. “Baiklah anak kecil, segera habiskan makananmu…”
***

*** Dan hari ini Myungsoo benar-benar sudah lelah dengan semua pekerjaannya. Ada beberapa hal yang harus ia urus, dan satu-satunya hiburan dia ingin kembali berjalan-jalan di memantau para pengunjung di Mall nya, ada banyak sekali yang baru disana sehingga Myungsoo senang sekali melihat mereka bergembira.

“Myungsoo-ya, aku ingin pulang dulu, kau tahu, Key sedang sakit dan dia sendirian…”

Myungsoo hanya menganggukkan kepalanya dan membuat sekretarisnya itu senang.Sesungguhnya ia tidak pernah melarangnya untuk pulang lebih awal jika pekerjaannya sudah selesai, Woohyun itu sahabatnya, sahabatnya sejak dulu. Melihat para remaja yang saling mengambil foto disana membuat Myungsoo senang, masa remajanya lebih banyak ia habiskan untuk menekuni belajar bisnisnya.

Namja itu tiba-tiba teringat dengan anak kecil itu, Kyungsoo.Kemana dia?Apakah tidak kesini?Terkadang Myungsoo sedikit merasa kesepian ketika pekerjaannya sudah selesai, dia menginginkan sesuatu yang bisa melepaskan rasa penatnya.

“Oh??”

Lagi-lagi jantung namja itu serasa berdetak dengan begitu keras, matanya tidak salah, dia yakin tidak salah lihat.Namja itu, namja yang memakai kaos berwarna biru itu benar-benar dia. Myungsoo tidak ingin kehilangannya lagi, dia harus menemuinya, dia ingin memastikan dengan matanya.

Sajangnim itu segera berlari dengan cepat tanpa mempedulikan beberapa orang yang menhindarinya karena tidak ingin tertabrak dirinya. Mata elang Myungsoo hanya tertuju pada satu orang saja, dan ia yakin itu pasti dia.

“Chakkaman!” dengan gerakan cepat, Myungsoo meraih pergelangan tangan namja itu kemudian menariknya.Namja itu berbalik, mata mereka bertemu, mata yang begitu bening dan masih indah. Kaki Myungsoo seolah melemas, perasaannya campur aduk dan seolah menjadi apa yang ia tahan selama ini ingin berontak keluar.

“SungJong-ah…Lee SungJong…? Ini kau??”

Namja yang memiliki wajah manis, bibir yang sedikit tebal dan merah serta mata beningnya menatap Myungsoo dengan pandangan yang datar.

“SungJong-ah, ini benar kau?Kau kemana saja??”

Masih terdiam dengan pandangan datar dan sepertinya tidak mempunyai perasaan yang meluap-luap seperti Myungsoo saat ini.Namja itu kemudian melepaskan tangan Myungsoo dan segera membungkuk hormat.

“Mianhae sajangnim, apakah anda ada perlu denganku?” tanyanya sopan.

“Mwo?Sajangnim??”Myungsoo menatapnya dengan tidak mengerti.“Ada apa denganmu hah? Ini aku Kim Myungsoo, kau tidak mengingatku hah?”

Namja itu tersenyum. “Ne, kau adalah sajangnim, pemilik tempat ini, dan aku bekerja di salah satu toko di Mall ini, bagaimana bisa aku tidak mengenalmu sajangnim, terima kasih telah memberikan izin menempati salah satu tempat disini…” ucapnya lagi.

Myungsoo menggelengkan kepalanya tidak percaya, dia kemudian menarik tangan namja itu lagi dan membuat tubuhnya lebih dekat. Dia tidak salah, namja ini Lee SungJong, yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya, dan di hadapannya kini…oh ayolah, SungJong memang sudah berbeda, jauh lebih dewasa dan lebih manis, bukan lagi seorang anak sekolahan seperti beberapa tahun yang lalu. Tapi Myungsoo tidak mungkin salah mengenali. Ini Lee SungJong-nya!! Dia yakin.

“Sajangnim…..” namja itu segera melepaskan dirinya dari cengekeraman Myungsoo kemudian menunduk hormat.“Saya harus kembali bekerja, selamat siang…” ucapnya sembari perlahan mundur dan berbalik pergi.

“Yaa Lee SungJong!!!”

Myungsoo benar-benar gusar, kenapa Lee SungJong tidak mengenalinya seperti itu?Dia yakin tidak salah, dia sangat mengenalnya, jika pun matanya salah perasaannya tidak pernah salah.

“Woohyun-ah!! Kembali ke kantor sekarang juga!!” teriaknya ketika sambungan pada ponselnya terhubung. Myungsoo harus mencaritahu, dia sajangnim di sini dan Lee SungJong berada disini, itu berarti selama ini dia tidak salah lihat karena beberapa kali melihatnya.Tapi sajangnim itu sungguh tidak mengerti kenapa SungJong terlihat tidak mengenalinya.Ini memang sudah bertahun-tahun lamanya, namun bukan alasan untuk melupakan semuanya.
***

*** 
“Kalau dari data yang di berikan, namanya benar Lee SungJong, dia mengurus salah satu toko pakaian di lantai dua Mall kita, Tokonya adalah yang baru saja kau setujui untuk buka disana…” 

Woohyun menatap Myungsoo yang sedang membaca sebuah dokumen yang ia berikan dengan was-was. Masalahnya selama ini Myungsoo tidak pernah semarah dan segusar itu, dan ketika ia menyebut Lee SungJong tadi, Woohyun cukup terkejut. Apapun tentang Myungsoo dia sangat tahu, termasuk kisahnya dengan Lee SungJong itu yang menurutnya…..sangat rumit.

BRAKKK!! Woohyun benar-benar terkejut ketika sajangnim di hadapannya itu menggebrak meja dengan sekuat tenaganya.“Dia Lee SungJong!! Tapi kenapa dia bertingkah seperti dia tidak mengenalku hah??” bentaknya sembari membuang dokumen itu.

“Myungsoo-ya….” 

“Ini memang sudah tujuh tahun, tapi itu bukan alasan!! Aku seperti orang gila mencarinya selama ini, namun apa yang ia lakukan sekarang hah?? Tidak mengenaliku…” 

Ini sedikit membuat Woohyun mengerutkan dahinya sejenak, Myungsoo mencari namja itu selama  ini? Ia tidak pernah tahu, Myungsoo tidak pernah mengungkit nama itu selama ini, dan dia juga sudah berpacaran dengan banyak namja, Woohyun pikir Myungsoo sudah lupa. 

“Myungsoo-ya…” ucapnya pelan. “Mungkin dia bersiap seperti itu karena status kalian, kau sajangnim disini sedangkan ia hanya….kau tahu sendiri…” 

“Tidak!!Itu bukan alasan!!” bantahnya.“Mulai sekarang aku ingin kau mencaritahu dan mengawasinya!! Laporkan padaku setiap jam-nya!! Dan suruh ia untuk menemuiku, seret jika perlu!!”

“Tapi…..oh baiklah…” Woohyun mengalah.Ini akan sangat rumit, Myungsoo sudah dipusingkan dengan urusan pekerjaan dan sekarang harus mulai diganggu oleh masa lalunya. Woohyun sepertinya harus siap-siap lembur.

**

**

Meskipun ia telah memberikan perintah pada Woohyun, namun Myungsoo benar-benar tidak bisa berdiam diri. Di sela-sela pekerjaannya ia menyempatkan diri untuk mengawasi dan juga memperhatikan Lee SungJong itu. Dia bekerja dengan tekun sekali, tidak heran jika banyak sekali pelanggan yang dapat ke toko pakaiannya. SungJong sangat ramah, dan senyumnya itu, Myungsoo benar-benar bisa gila, setengah mati ia menahan perasaan rindunya. 

Lee SungJong dulu tidak seperti ini, lebih tepatnya tidak mengabaikannya kapanpun, Sajangnim dari Mall terbesar itu benar-benar rindu, sesungguhnya hanya pada namja itu ia bisa merasakan perasaan cinta yang sesungguhnya. 

“Oh….sajangnim?selamat siang, apakah ada sesuatu?” SungJong terlihat begitu terkejut melihat Myungsoo yang tiba-tiba hadir di tokonya.Wajahnya benar-benar datar dengan ekspresi hormat pada seorang sajangnim.

Myungsoo menggelengkan kepalanya dan tersenyum miris.“Mau sampai kapan kau berpura-pura hah?”

“Maksudnya…?” tanyanya menatap Myungsoo dengan mata beningnya.Sial! Myungsoo benar-benar harus menahan dirinya untuk tidak mencium namja di depannya. Lee SungJong, apakah kau sengaja menggoda dengan mata beningmu itu??

“Lee SungJong kau…!!”Myungsoo mendekat kemudian menarik lengan SungJong untuk lebih dekat dengannya. Dan sungguh sial!! Kulitnya lembut sekali, benar-benar lembut.“Kau…apa maksudmu hah? Kenapa kau seperti ini??”

“Sajangnim….” 

“Aktingmu bagus sekali Lee SungJong!” sahut Myungsoo lagi. “Sudah hentikan, aku tahu ini kau, jangan membohongiku…” 

Kini giliran SungJong yang menatap Myungsoo dengan begitu dalam, namun dari tatapan itu Myungsoo masih bisa melihat SungJong bukan seseorang yang mengenal dirinya selama ini. “Sajangnim….” Ucapnmya kemudian. “Mianhae, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau maksudkan, apakah kau….tertarik padaku…?” 

“Tertarik??”Myungsoo kemudian menggerakkan tangannya dan menangkupkan kedua pipi SungJong, kemudian namja itu merundukkan wajahnya hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa senti saja.“Yaa, aku sangat tertarik padamu, tidak pernah berubah, dari dulu hingga sekarang….” 

Cukup terkejut SungJong mendengar semua itu, namun ia tidak mengatakan apapun, dan membuat sajangnim itu kecewa. Ia kemudian menegakkan tubuhnya kembali. “Baiklah, aku akan mengikuti permainanmu baby, kapanpun kau siap menemuiku, pintuku selalu terbuka lebar untukku…” ucapnya lagi beranjak pergi, meninggalkan SungJong yang mungkin terheran-heran dengan ucapannya barusan, namun Myungsoo sama sekali tidak peduli. 
**** 

****

Hari ini perasaan Myungsoo sedikit lebih baik, dan Woohyun cukup senang karena itu berarti sajangnim-nya itu bisa mengerjakan pekerjaan yang tertunda selama tiga hari ini, karena sibuk mengawasi namja itu Myungsoo jadi lupa segalanya.

“Karena Manager Yoon sedang tidak bisa hadir jadi dia mengusulkan untuk memberikan beberapa persen jatah iklan pada perusahaan X…dan juga bla..bla..” 

Myungsoo mendengarkan penjelasan Woohyun dengan teliti meskipun saat ini mereka sedang berjalan di sekitar lantai tiga Mall. Banyak yang memberi salam hormat dan hanya ia balas dengan anggukan kecil. 

“Oh?” Langkah Myungsoo terhenti.“Kyungsoo-ya?” panggilnya ketika melihat anak kecil itu beberapa meter di depannya.Namun raut wajah Myungsoo berubah, kenapa Kyungsoo berdiri disana? Di hadapan seorang wanita dan juga anak kecil lain disampingnya. Wanita itu terlihat marah, namun Kyungsoo menatapnya tanpa ekspresi.

Dan beberapa saat kemudian terlihat wanita itu mendorong Kyungsoo ke dinding pembatas. Mata Myungsoo membelalak sempurna, darahnya benar-benar mendidih melihat hal itu, tanpa banyak bicara ia segera menghampirinya dan menghentikan wanita itu tepat sebelum tangannya mendarat pada wajah mungil Kyungsoo. 

“Yaa!! Kau pikir apa yang kau lakukan hah??” tanyanya dengan sorotan mata yang tajam. Wanita itu terlihat wanita kaya yang sombong.“Jika dia jatuh apa kau mau bertanggung jawab?Asal kau tahu ini lantai tiga!!”Myungsoo benar-benar emosi.

“Ohh jadi kau aboejinya? Bagus lah! Anakmu itu telah menjatuhkan mainan anakku, kau harus menggantinya!!”

Myungsoo memberikan tatapan sinis.“Yak Nam Woohyun!!!” teriaknya, Woohyun segera mendekat.“Kemarikan kartu VIP ku!!” tanpa banyak bertanya Woohyun segera memberikan sebuah kartu pada Myungsoo.

“Kau bisa mengambil mainan di toko mainan lantai dua dengan kartu ini tanpa membayar, tapi sekali lagi kau berani menyentuh anak ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan bebas!!”

Wanita itu terlihat tersenyum menerimanya, dan tanpa mengucapkan terima kasih ia segera menggandeng anak kecil di sampingnya dan pergi. Myungsoo menggelengkan kepalanya beberapa kali.“Kyungsoo-ya, kau tidak apa-apa?” Tanya Myungsoo menatap anak itu.

Namun Kyungsoo hanya terdiam dan menatap Myungsoo dalam, kemudian anak itu menunduk, tanpa mengatakan apapun.Namun sesaat kemudian Myungsoo melihat ada sebuah aliran bening yang keluar dari sudut mata Kyungsoo dan jatuh ke pipi.

“Hey..kau tak apa?” Myungsoo segera berjongkok kemudian merengkuh bahu Kyungsoo dan menegakkan wajahnya. Kyungsoo jelas sekali menangis namun sama sekali tidak mengeluarkan suara, dia memang bukan anak kecil yang biasa, namun ia juga memiliki perasaan sedih dan ingin menangis, akan tetapi sepertinya Kyungsoo ingin menyembunyikannya. 

Myungsoo kemudian menyeka air mata anak kecil itu dan tersenyum.“Gwanchana, tak usah dipikirkan, jika ada yang seperti itu lagi kau bilang pada ahjussi, okey?Anak hebat tidak boleh menangis…sudah ya…” ucap Myungsoo menenangkan. Tangannya mengelus lembut kepala Kyungsoo. Namun anak itu masih terdiam dan air matanya malah terus mengalir.

“Kyungsoo-ya…sudahlah, anak lelaki tidak boleh menangis, bagaimana kau akan melindungi Eomma-mu nanti jika kau cengeng seperti ini hmm??” Myungsoo masih berusaha menenangkan, tidak disangka ucapan itu membuat Kyungsoo buru-buru menghapus air matanya.“Bagus, kau sudah makan?Bagaimana kalau makan bersama ahjussi lagi?Kyungsoo mau?”

“Ne…” jawabnya mengangguk pelan.

Myungsoo tersenyum, kemudian menggenggam pergelangan tangan mungil itu.“Kkaja, ikut ke ruangan ahjussi, kita makan disana…” ucapnya sembari menariknya dan berjalan pergi.

Woohyun tercengang melihat pemandangan itu, tanpa bisa berkata apapun.Myungsoo tumben sekali bersikap lembut, terlebih pada anak kecil.Aneh sekali. “Myungsoo-ya kau memang harus segera menikah…” 
**** 

****

Setelah makan banyak  dan melihat Myungsoo bekerja, akhirnya Kyungsoo tertidur di sofa. Myungsoo tersenyum melihatnya, dia melepas jas hitamnya kemudian menyelimuti tubuh mungil itu.Anak kecil benar-benar sangat polos, bahkan ketika terlelap seperti ini wajahnya terlihat damai sekali.Kyungsoo mempunyai wajah yang kecil dan lembut, rambutnya hitam serta bulu matanya yang lentik. Myungsoo juga tidak bisa melupakan tatapan dingin Kyungsoo ketika bertemu dengannya waktu itu, juga ucapannya yang ketus juga tidak mau tahu dengan urusan orang lain. Sajangnim itu sedikit menyukai anak ini.

“Kurasa kau benar-benar harus segera memiliki bayi Myungsoo-ya…” tegur Woohyun.Namun Myungsoo tidak menghiraukan dan hanya kembali memandangi wajah Kyungsoo serta mengelus pipinya.

“Anak ini berbeda Woohyun-ah, dia bercerita padaku…bahwa sebenarnya mainan anak yang tadi rusak bukan karena dirinya, namun karena kesalahan anak itu sendiri…” tuturnya. “Namun Kyungsoo diam karena tidak ingin anak itu dimarahi oleh Eomma nya, dia ini….hatinya baik sekali…” 

Woohyun tersenyum.“Tapi sebenarnya dia anak yang dingin dan terlihat acuh…” 

“Meskipun begitu dia sesungguhnya peduli dan anak yang baik…” 

“Yaah mirip sekali dengan seseorang yang ada disini…” sahut Woohyun membuat Myungsoo seketika menatapnya horror. “Apa maksudmu??”

Woohyun tertawa pelan.“Kalau kau ingin tahu masa kecilmu seperti apa dulu, kau bisa melihat anak ini, hahahah, dingin, acuh, dan tidak sopan pada orang lain!” 

“Yaaa….kau sialan!!”
**** 

****

***
Hal yang menjadi kegiatan setiap hari Myungsoo selain sibuk dengan urusan pekerjaannya adalah mengawasi dan melihat apa yang dilakukan oleh namja itu, Lee SungJong. Setidaknya Myungsoo sedikit bisa melepas rasa rindunya pada namja itu hanya dengan menatapnya. Sajangnim itu tidak tahu kenapa kekasih di masa lalu nya itu tidak mengenalinya atau berpura-pura tidak mengenalnya. 

Selama Myungsoo mengawasinya, dia tahu toko itu bukan milik SungJong sendiri,dengan kata lain SungJong hanya bekerja disana. Heran, tentu saja. Setahu Myungsoo, SungJong bukan dari keluarga yang miskin, namun apa yang telah terjadi selama tujuh tahun ini? Myungsoo benar-benar penasaran. 

Ada yang aneh, SungJong tampak akrab sekali dengan seseorang yang merupakan pemilik asli toko itu, dia adalah Lee Hoya, Myungsoo mengenalnya sebagai rekan bisnis, Hoya memiliki banyak sekali toko di dalam mall nya. Tetapi hubungan apa yang ia miliki dengan kekasihnya itu? 

Kemarahan Myungsoo selalu meledak ketika melihat mereka berdua sedang bersama seperti saat ini. Hoya terlihat bicara dengan manis sekali pada SungJong, dan SungJong nampak sangat bahagia, tidak boleh. SungJong hanya miliknya, sekalipun itu Lee Hoya, seseorang yang sangat berpengaruh di Mall nya, Myungsoo tak peduli.

“Ikut aku sebentar!” Myungsoo mencengkeram pergelangan tangan SungJong dan menariknya. 

“Sajangnim…? Ada apa???” SungJong begitu terkejut dengan perlakuan itu. 

Namun Myungsoo tak peduli, ia memaksa namja itu untuk mengikuti langkah dengan cepatnya, beberapa pengunjung dan juga karyawan yang melihat itu hanya bisa menghindar sembari memberikan tatapan heran mereka.

Braak! 

“Sajangnim…..” 

Namja itu begitu terkejut dengan perlakuan Myungsoo yang tiba-tiba mendorongnya ke tembok penuh dengan emosi. Jangan lupakan mata yang menatap dengan tajam itu, nafas yang naik turun menahan emosi. 

“Sajangnim…k-kenapa….?”

Brak! Myungsoo mengunci pergerakan SungJong dengan kedua tangannya, tubuh mereka kini sangat dekat hingga SungJong dapat merasakan hembusan nafas emosi dari sajangnim-nya, dan dengan ini Myungsoo semakin yakin jika Lee Sungjong ini adalah seseorang yang ia tunggu selama ini. 

“Mau sampai kapan kau berpura-pura? Ini aku Kim Myungsoo!! kekasihmu! kemana saja kau selama tujuh tahun ini hah? Apa yang terjadi padamu?” tanya Myungsoo menuntut penjelasan. 

“A-apa maksudmu sajangnim…?? Aku tidak mengerti, kekasih? A-aku tidak punya kekasih….” 

Myungsoo tersenyum sinis. “Tidak punya? Apakah maksudmu kau kini sudah menjadi milik Lee Hoya sajangnim sehingga kau ingin melupakan aku hah???” Myungsoo menatap SungJong tajam. “JAWAB!!” 

“S-sajangnim…” 

Satu gelagat aneh dapat Myungsoo tangkap, gelagat yang tiba-tiba Myungsoo yakin namja manis ini sudah kehilangan kata-kata untuk mengelaknya. Myungsoo kemudian menggerakkan tangannya dan menangkupkan pipi yang terasa lembut di tangannya itu. “Kau tahu aku sangat merindukanmu, kemana saja kau selama ini, apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi hmm?” tanyanya lembut. 

“K-Kim sajangnim…” SungJong mencoba untuk melepaskan tangan Myungsoo dari wajahnya, namun Myungsoo tidak membiarkan itu, tangan kekarnya menyentuh wajah lembut itu semakin dalam lagi. Hingga SungJong berhenti untuk mengelak dan menatap Myungsoo. Mata mereka saling beradu, Myungsoo benar-benar merindukannya, Myungsoo merindukan seorang Lee SungJong, kekasihnya. 

Tak butuh beberapa lama, Myungsoo segera merendahkan wajahnya dan mencium bibir SungJong. Namja itu diam sejenak, seolah membiarkan bibirnya menyatu dengan bibir sajangnim itu, namun detik selanjutnya, dengan cepat SungJong mendorong tubuh Myungsoo menjauh. 

PLAAAK! Satu tamparan keras mendarat di pipi Myungsoo. “Hyung!!!! Kau tidak pernah berubah!! Kau tetap brengsek!!” bentaknya keras. Myungsoo terkejut bukan main, namun bukan terkejut karena tamparan dan juga bentakan SungJong, tetapi kata-kata yang keluar tadi, Lee SungJong dihadapannya ini benar-benar kekasihnya. Myungsoo tersenyum dan menatapnya, benar sekali, SungJong yang menatapnya penuh emosi ini adalah SungJong yang sangat dikenalnya. 

“SungJong-ah…” 

“Jangan sentuh!!” Namja itu menghentakkan tangan Myungsoo yang berusaha menyentuhnya. “Aku ingin melupakanmu!! Tapi kenapa??? Kenapa kau muncul lagi??” 

“SungJong-ah, apa maksudmu? Kenapa kau ingin melupakanku? Apa yang terjadi denganmu selama ini? tidak tahukah kau tujuh tahun ini aku seperti orang gila mencarimu!!” Myungsoo menatap nya heran. 

SungJong menggelengkan kepala beberapa kali, ada raut yang tiba-tiba menjadi sedih, emosinya menghilang. Namja manis itu memundurkan langkahnya kemudian merosot jatuh ke lantai. “hiks….’ 

“Hey….kau kenapa baby….?? Apa aku menyakitimu??” Myungsoo mendekat merengkuh bahunya, masih berusaha untuk melepaskan tangan Myungsoo. Hal ini membuat sang sajangnim menjadi heran. 

“H-harusnya memang aku tidak mempercayaimu….sejak…sejak kau menjebakku, aku benar-benar bodoh, hiks…kenapa kita harus bertemu lagi??” raung nya terdengar sangat sedih. 

Myungsoo terkejut, kenapa SungJong mengungkit hal itu lagi? Itu sudah lama sekali, bahkan mereka sudah menjadi sepasang kekasih. “baby, aku tidak mengerti, kenapa kau seperti ini…katakan padaku!” 

“K-kau bahkan sudah melupakannya??” SungJong menatap Myungsoo lekat, air mata dari sudut matanya terus mengalir. “Aku bahkan tak pernah sekalipun lupa, kau memang keterlaluan, tidak….aku yang bodoh, aku yang bodoh….yah…aku benar-benar bodoh…” rancaunya. 

“Lee SungJong!” Myungsoo menangkap pergelangan tangan SungJong lalu menatapnya. “Apa yang kau bicarakan? Hal yang kau katakan itu…bukankah sudah berlalu? Aku menjebakmu itu memang benar, tapi aku benar-benar jatuh cinta padamu, kau bahkan sudah memaafkanku, kita ini sepasang kekasih, tapi…tiba-tiba kau mengatakan hal mustahil itu lalu pergi, tanpa kabar, aku benar-benar mencarimu, aku merindukanmu….” 

SungJong menatap Myungsoo dengan tatapan tak percaya. “Ucapanku waktu itu bagimu mustahil…? Sampai saat ini….?” 

“Ngg….” Myungsoo tampak bingung. “Baby aku rasa…yaah…benar itu mustahil, namun aku paham saat itu kau pasti sangat takut aku meninggalkanmu, tetapi…kau yang ternyata meninggalkanku, baby sebenarnya ada apa..?” tanya Myungsoo lagi. 

Namun SungJong hanya menggelengkan kepala dan menatap Myungsoo kecewa, air mata namja itu kembali mengalir. Setelah sekian lama harusnya Myungsoo bisa melihat kegembiraan darinya, namun yang ada hanyalah air mata. Namja itu segera menariknya dan mendekapnya dengan erat. SungJong tak menolak namun juga tak membalas, seolah membiarkan tubuhnya di dalam dekapan erat Myungsoo. Isakan kecil masih beberapa kali terdengar. 

Myungsoo memang tidak tahu apa yang terjadi namun, dia sangat bahagia bertemu kembali dengan kekasihnya itu, entah ini sudah sangat lama sejak terakhir kali ia memeluknya. 
*** 

Sejak waktu itu, Myungsoo tidak pernah berhenti untuk mengunjungi SungJong ke toko-nya. Meskipun yang di dapat Myungsoo hanyalah sikap dingin dan tidak peduli SungJong. Myungsoo tidak ingin kembali menyerah, setelah sekian lama ia harus bisa mengembalikan SungJong ke pelukannya. 

“Sajangnim, kau harus menghadiri pertemuan hari ini…” 

“Tolong diundur saja Woohyun-ah, pertemuan itu sama sekali tidak penting, mereka terus membicarakan omong kosong….” 

Woohyun sesaat terdiam lalu segera memberikan tanda silang pada salah satu daftar yang tertera di tablet nya. Dia harus mulai maklum dengan kegiatan baru dari sajangnim nya itu yang sangat gemar mengunjungi toko pakaian di lantai dua. 

Dirinya bersahabat dengan Myungsoo sudah sangat lama, ia tahu siapa Lee SungJong dan apa hubungannya dengan Myungsoo. Yaah memang benar, Myungsoo pada awalnya menggunakan SungJong sebagai taruhan dengan teman-temannya yang lain, Myungsoo menjebak namja manis itu hingga berhasil menidurinya. Namun, Woohyun tidak tahu apa yang terjadi, yang pasti Myungsoo merasa sangat bersalah dan akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Sangat akrab, dan saling mencintai, Myungsoo bahkan sering pulang cepat hanya untuk menjemput SungJong. Hingga saat itu terjadi, SungJong pergi tanpa kabar.

Sebenarnya Woohyun dapat menebak kenapa sikap SungJong sekarang yag begitu dingin dengan Myungsoo, ada sesuatu yang dilakukan Myungsoo tidak bisa dimaafkan.  

“Kau akan pulang? Biarkan aku mengantarmu?” tawar Myungsoo pada SungJong yang terlihat berkemas. 

“Tidak perlu, sudah ada yang menjemputku….” 

Myungsoo menarik pergelangan tangannya dan menatap penuh selidik. “Dengan Hoya sajangnim? Apa hubunganmu dengannya hah??” 

“Itu bukan urusanmu!!” jawabnya keras sembari menghentakkan tangan Myungsoo. “Kumohon jauhi aku, kita sudah berakhir, jebal…aku hanya seorang karyawan bawahanmu, tidak lebih….” 

“Tidak! Kau yang memutuskan untuk berakhir, aku tidak akan melepaskan mu!!” tegas Myungsoo membuat namja di depan itu menghentikan aktifitasnya sejenak kemudian menarik nafas panjang. Sepertinya dia menyimpan begitu banyak emosi di dalam dirinya, namun dia juga ragu untuk melepaskannya. 

SungJong kemudian berbalik dan menatap sajangnim-nya itu. “Sajangnim, aku benar-benar memohon padamu, jebal, jauhi aku…kita tidak saling mengenal, jangan seperti ini, hubungan kita sudah lama berakhir, kau sendiri penyebabnya…” 

“Lalu katakan alasannya! Katakan alasan kenapa kau seperti ini! Kau sudah tidak mencintaiku???” 

“Tidak bukan sepeti itu..” SungJong menggeleng. “Ini bukan masalah perasaanku padamu sajangnim, tapi..kau…sudahlah, lebih baik kita lupakan masa lalu kita…” 

Myungsoo mengerutkan keningnya tak mengerti. Ia terus mencoba mengingat kesalahan yang pernah ia lakukan. Jika masalah taruhan, SungJong sudah memaafkannya, tidak ada yang lain. Hanya satu hal yang memang mengganjal hati Myungsoo, namun disisi lain ia juga tidak bisa membenarkan jika memang itu masalahnya. 

“Aku pergi, Hoya sajangnim sudah menungguku…” ucapnya sembari berlalu. 

Tapi bagaimanapun Myungsoo memikirkanya dia tidak bisa menemukan kesalahannya. Selain memang hanya hal itu, sehari sebelum SungJong pergi meninggalkannya, mereka bertengkar hebat, tidak, lebih tepatnya Myungsoo yang marah besar karena sesuatu yang dikatakan SungJong. Namun itu hanya kemarahan sesaat, bahkan tidak bertahan lama, Myungsoo segera meminta maaf begitu kemarahannya reda. Apalagi kesalahannya? 

“Paman…” 

Lamunan Myungsoo buyar ketika seseorang menarik-narik ujung jas nya. Namja itu segera menoleh. “Ohh, hai….” Senyumnya segera mengembang. “Kyungsoo-ya, apa kabar hmm? Kau lama tidak main kemari…”ucap Myungsoo sebari mengacak pelan rambut anak itu. 

“Eomma melarangku kesini….” 

“Lalu jika dia melarangmu kenapa kau hari ini main kesini hmm??” Myungsoo tersenyum gemas, padahal beberapa saat yang lalu suasana hatinya benar-benar buruk. Anak kecil memang berbeda. 

Kyungsoo tampak cemberut. “Aku bosan dirumah tidak ada teman, aku sebenarnya ingin menjemput Eomma, tapi..kulihat dia sudah pergi dengan Paman menyebalkan itu…” ucapnya terdengar kesal. 

“Baiklah anak manis, kau ingin pulang juga atau masih ingin bermain disini?” 

“Tidak Paman, bermain disini sangat mahal,mungkin aku akan pulang saja dan kembali ke kamarku…” 

Myungsoo tertegun. Tidak semua anak seperti Kyungsoo, Kyungsoo mungkin kurang beruntung karena orangtuanya bukan rekan kerjanya yang bisa bermain sepuasnya disini. Ada sesuatu yang mengganggu hati Myungsoo. 

“Kalau begitu aku akan menemanimu berkeliling di tempat ini, kau bisa melakukan apa saja yang kau mau…bagaimana?” 

“Benarkah paman?” Kyungsoo berbinar. 

Myungsoo mengangguk. “Tentu aja, aku pemilik tempat ini, coba aku pikir kemana kita akan pergi lebih dulu, hmm…kita pergi membeli beberapa baju untukku dulu, kkaja!!” Myungsoo menggenggam pergelangan tangan Kyungsoo kemudian mereka berlari-larian kecil menuju pusat pakaian di lanta dua. 

*

Myungsoo ingin sesuatu yang bagus dan mahal untuk Kyungsoo, dia menyuruh karyawan untuk memilihkan semua pakaian yang terbaik. Kyungsoo sebenarnya menolak, namun Myungsoo terus mengatakan tidak apa-apa, sebagai hadiah karena menjadi anak yang baik. Dan jika dipikir-dipikir Kyungsoo memang pantas mendapakan semua itu. 

“Woaah, dia tampak sepertimu..” komentar Woohyun ketika melihat Kyungsoo memakai beberapa baju yang dipilihkan karyawan. “Sebaiknya kau memang segera harus menikah dan memiliki anak Myungsoo-ya, lalu kau bisa memanjakannya seperti itu, ini kau malah memanjakan anak orang…” 

“Diamlah! Kau pikir aku akan menikah setelah aku bertemu kembali dengan Lee SungJong?” 

“Ayolah Myungsoo-ya, dia tidak akan bisa memberikanmu anak, kau butuh anak untuk meneruskan semuanya…”

Myungsoo mengayunkan kakinya dan menendang Woohyun. “Jika aku tidak salah, kau lebih tua satu tahun dariku, kau juga butuh untuk segera menikah, oh bisakah Key memberikan anak juga untukmu? Kulihat kau sangat memujanya?” sindir Myungsoo dan seketika membuat Woohyun kalah telak dari perdebatan kecil itu. 

“Sudahlah, lebih baik kau segera antarkan berkasku tadi pada aboeji…” Tidak ingin menunggu lama Woohyun segera pergi. Sajangnim itu menggeleng-gelengkan kepalanya geli, harusnya dari dulu saja dia membalas ucapan Wohyun itu, seenaknya saja dia menyuruhnya untuk menikah. 

“Paman…” 

“Ne?” 

Kyungsoo tersenyum. “Terima kasih paman, baju ini sangat bagus, Eomma bahkan harus menabung dulu untuk membelikanku baju, tapi Paman dengan cepat memberikan semua ini padaku…” 

Myungsoo berjongkok kemudian merengkuh bahu Kyungsoo dan tersenyum. “Tidak perlu mengatakan itu, kau pantas mendapatkannya…” 

“Andai saja aku mempunyai aboeji sepertimu…” 

“Ahhaha kau ini sangat menggemaskan..” Myungso mencubit pipi lucu itu pelan. “Kkaja kita ke pusat bemain, kau bisa bermain apapun yang kau inginkan, setelah itu kita pergi makan…” 

****

****

Ini hampir menjelang pukul lima sore, Myungsoo dan juga Kyungsoo masih asik bermain, Kyungsoo benar-benar terlihat bahagia. Disetiap waktu ucapan terima kasih selalu Kyungsoo katakan. Myungsoo terlihat seperti seorang ayah yang sedang menemani anaknya bermain, dia juga lebih ramah terhadap para karyawannya. 

Tidak masalah baginya untuk bersantai hari ini karena nanti malam dia juga akan lembur, Myungsoo lebih bisa berkonsentrasi bekerja di malam hari. 

“Kyungsoo-ya, setelah ini aku akan mengantarmu pulang, sudah hampir malam, ooh..??” Myungsoo sedikit merendahkan nada bicaranya karena Kyungsoo terlihat terlelap di bangku ketika menunggu dirinya membeli minuman. Anak itu mungkin saja kelelahan karena seharian bermain. Myungsoo sedikit merasa bersalah karena pasti Eomma nya sedang mencari Kyungsoo saat ini. 

Sajangnim itu segera melepaskan jas-nya kemudian menyelimutkan pada tubuh kecil Kyungsoo. Tidak baik jika anak itu tertidur disini, lebih baik ia membawanya ke ruangannaya, dan lagi sepertinya Myungsoo harus segera menyelesaikan pekerjaannya. 

Tak butuh tenaga yang banyak untuk Myungsoo mengangkat dan membopong tubuh kecil itu. Kyungsoo sangat ringan. 

“Astaga Myungsoo-ya…” Woohyun muncul. “Biarkan aku yag menggendongnya, kau kembali saja ke ruanganmu…” tawarnya, 

Myungsoo menggeleng. “Tidak Woohyun-ah, biar aku saja…” 

“Baiklah, ngg…Ren ada di ruanganmu, dia menunggumu, ada sesuatu yang penting yang haru dia katakan padamu…?” 

“Ren?” 

Myungsoo sedikit mengerutkan keningnya, apa yang akan dia lakukan pada namja itu? Ia sudah bertemu lagi dengan SungJong, dia tidak boleh menjalin hubungan dengan siapapun lagi, karena ia tidak ingin mengecewakan SungJong. 

Benar sekali, ketika masuk ke dalam ruanganya, Ren sudah menunggunya. Myungsoo membaringkan Kyungso terlebih dahulu ke sofa ruangannya dan merapatkan jas-nya kembali di tubuh mungil itu. 

“Siapa dia hyung?” tanya Ren. Myungsoo tersadar kemudian bangkit setelah mengusap perlahan kepala Kyungsoo. Myungsoo sebenarnya ingin langsung berbicara pada Ren namun dia urungkan karena dia melihat sesuatu yang berbeda dari raut wajahnya. Matanya sayu dan juga sembab. 

Myungsoo kemudian menarik namja itu untuk sedikit menjauh dari sana lalu menatapnya. “Ada apa? Kau baik-baik saja?” tanyanya sembari bersedekap tangan. 

“hyung aku…” Ren menunduk nampak ragu-ragu, dan Myungsoo dapat melihat semua itu. 

“Minki-ya, ada apa? Kau ada masalah, dan kenapa dengan wajahmu ini?” tanya Myungsoo mengusap pipi Ren yang sedikit membiru. 

“Sepertinya ku harus pergi…” ucapnya seketika membuat Myungsoo membeku. “Minhyun…mengajakku untuk pergi, dia ingin pindah ke Jepang….” 

Untuk sesaat Myungsoo tak menjawab, karena da tidak tahu harus menjawab bagaimana. Dia memang ingin memutuskan hubungannya dengan Ren, namun tidak dengan seperti ini. 

“hyung…” 

“Kau mencintai Minhyun…?” potong Myungsoo. 

Ren mengangguk.

“Jika seperti itu….pergilah, ikuti dia, kau tidak bisa melepaskan seseorang yang sangat kau cintai, apa kau paham?” 

“Tapi…” 

“Apa yang kau ragukan…?” 

Menunduk. Ren kembali menunduk, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh namja itu, karena Myungsoo sangat hafal dengan sifat namja itu. Myungsoo tidak sebulan dua bulan mengenal Ren, tapi sudah bertahun-tahun. 

“Katakan padaku Ren, apa yang membuatmu ragu….?” 

“Kau hyung…Aku sudah bergantung padamu selama ini, aku takut…Minhyun tidak bisa memperlakukanku seperti kau memperlakukanku….” 

“Astaga Ren, kau tau kan kau selalu bisa menemuiku kapan saja, kau bisa mengatakan padaku jika dia berani menyakitimu…” ucap Myungsoo membelai kepala Ren lembut. 

“Tapi..dia akan membawaku pergi jauh…” 

“Dan dia sangat mencintaimu Ren…” 

“Lalu kau…tidak mencemaskanku hyung?” 

Myungsoo tersenyum. “Kau adalah salah satu orang yang sangat berharga untukku, jika sesuatu yang buruk terjadi padamu aku akan sangat marah, tapi aku pun juga yakin kalau kau akan aman bersama dengan Minhyun, kalian Saling mencintai…” 

Ren terdiam sesaat, memikirkan semua ucapan Myungsoo tadi, memang sangat berat untu berpisah dengan seseorang yang selama ini sangat penting dari hidupnya. 

“Aku akan berangkat besok siang..” ucapnya kemudian. “Kau mau mengantarku sampai bandara?” 

“Tentu saja sayang, jika itu keinginanmu, aku benar-benar akan merindukanmu…” 

“Myungsoo hyung…” 

Bohong jika Myungsoo tidak sedih, namun dia harus menyembunyikannya karena Ren akan pergi untuk kebahagiaannya juga. Myungsoo kemudian menarik tubuh Ren lalu memeluknya. “Terima kasih untuk selama ini, kapanpun kau butuh aku akan selalu ada untukmu…” bisiknya. 

“Semoga berhasil dengan Lee SungJong, kau pun juga harus segera menemukan kebahagiaanmu hyung…” 

Myungsoo tersenyum, kemudian melepaskan pelukan dan mengecup kening Ren dengan sayang. “Jaga dirimu…” 

“Kau juga hyung, aku pergi, kau harus menelvonku setiap hari ini…” ucap Ren. 

Myungsoo tersenyum dan mengantar Ren keluar dari ruangannya. Takdir mempertemukan kembali dengan SungJong namun dia juga harus kehilangan Ren. Myungsoo menyadari jika dirinya tidak boleh serakah, Ren akan bahagia dengan seseorang yang ia cintai, dan sudah pasti Ren akan aman bersama dengannya. 

“Ohh…Nak, kau sudah bangun?” Myungsoo segera menghampiri Kyungsoo yang telihat bangkit sembari mengucek matanya. 

“Paman ini sudah malam sekali, aku harus pulang, Eomm pasti mencariku….” Ucapnya terdengar panik. 

“Baiklah, Aku akan mengantarmu, kkaja….” 
**

**

Myungsoo tidak tahu jika tempat tinggal Kyungsoo lumayan jauh dari Mall-nya, anak itu hebat sekali karena bisa pulang pergi sendirian. Jika Myungsoo adalah ayah-nya maka ia tidak akan membiarkan anak ini berkeliaran sendirian. 

Tiba di gedung apartement yang sedikit kumuh, Myungsoo menatapnya sejenak, sangat berbeda dengan tempat tinggalnya, Kyungsoo seharusnya tinggal di tempat yang baik dari pada ini. 

“Okey, lalu yang mana apartmentmu hmm?” 

“Di lantai dua Paman…” 

Myungsoo tidak bisa membiarkan Kyungsoo sendirian kesana, dan lagi ia harus menjelaskan pada Eomma-nya kalau dia lah penyebab Kyungsoo pulang terlambat. Tangga dan juga lorong tidak memiliki fasilitas yang baik. Myungsoo benar-benar gemas melihatnya. Dan bahkan tempat ini sangat kotor, astaga, apakah pengelolanya ini sama sekali tidak perhatian. 

“Baiklah Kyungsoo-ya, aku akan berbicara dengan Eomma mu nanti, memita maaf…”

“YAA!! KYUNGSOO-YA!! KEMANA SAJA KAU??” Suara nyaring itu terdengar dan menganggetkan mereka berdua. Myungsoo segera membalikkan badannya untuk meminta maaf. 

Namun…untuk sesaat Myungsoo terpaku, matanya bertatapan dengan mata seseorang yang baru saja berteriak itu. Bukan karena terpesona namun ia lebih merasa terkejut yang sangat luar biasa. “SungJong-ah….?” Gumamnya. 

Namja itu, Lee SungJong juga awalnya terlihat terkejut namun sesaat kemudian dia acuh dan segera menatap Kyungsoo tajam. “Kemana saja kau? Ini sudah malam, kau berencana membuatku mati karena mencemaskanmu hah???

Kyungsoo mendesah pelan. “Kau selalu berlebihan, aku sudaj besar dan aku bisa menjaga diriku sendiri!!” 

“Sudah berani melawan?? Siapa yang mengajarimu seperti itu?”

“Eomma kau sangat cerewet!! Yang penting aku pulang dengan selamat kan??” 

Myungsoo tanpa sadar terhuyung beberapa langkah ke belakang. “Eomma? Apa maksudnya…?” Tanyanya tak mengerti. 

SungJong sesaat seperti tersadar jika disitu ada Myungsoo. “Kyungsoo-yaa masuk ke dalam dan kerjakan tugasmu, dan berhenti memanggilku Eomma!!! Sudah kukatakan untuk memanggil aboeji!” 

Kyungsoo mencibir. “Kau ingin sekali aku memanggilnu seperti itu padahal pada kenyataan nya kau yang…..” 

“KYUNGSOO-YA!!!!” bentakan SungJong membuat Kyungsoo akhirnya mengalah. 

“Paman…” Panggil Kyungsoo pada Myungsoo. “Eomma sangat cerewet, aku masuk dulu, terima kasih untuk hari ini…” Ucap Kyungsoo lalu berlari masuk. 

Myungsoo tertegun dan menatap SungJong, dia benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Yang bisa ia tangkap adalah Kyungsoo ini adalah anak dari SungJong namin yang tidak ia mengerti kenapa Kyungsoo memanggil SungJong seperti itu? Eomma? Astaga, kepala Myungsoo tiba-tiba pusing. 

“Dia anakmu?” Tanya nya kemudian. 

“Bukan urusanmu!!”

“Itu berarti kau sudah menikah?” 

“Kubilang itu bukan urusanmu!!” SungJong mulai marah. Namun Myungsoo menginginkan kejelasan. 

“Katakan padaku!!! Kau sudah menikah?? Dengan siapa???” Bentaknya mencengkeram tangan SungJong. 

SungJong terlihat bertambah marah. “Aku tidak pernah menikah!!! Aku hanya dicampakkan oleh seseorang hingga hidupku hancur!!!” 

“Tapi Kyungsoo anakmu??” 

“Sudah kukatakan itu bukan urusanmu!! Tapi benar, dia anakku!!!” 

“Lalu….kenapa dia memanggilmu Eomma?? Dia juga mengatakan padaku kalau aboeji nya sudah mati, apa maksudnya??” 

“Karena aku memang Eomma nya!!!” Bentak SungJong benar-benar marah. “Aku yang membawanya hadir ke dunia ini!!!”

Myungsoo benar benar seperti tersambar petir di malam hari. Tiba-tiba ingatannya terputar pada pertengkarannya dengan SungJong pada hari sebelum SungJong meninggalkannya. “Mustahil….” Myungsoo menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Apakah saat itu….yang kau ucapkan pada ku adalah benar SungJong-ah.?” 

SungJong menatap Myungsoo penuh emosi, nafasnya naik turun menahan amarahnya

“Sudah berakhir, kau tidak perlu mengetahuinya! Karena kau selalu berpikir semua itu mustahil!!” 

“Itu berarti….Kyungsoo anak ku??” Tanya Myungsoo meninggikan suaranya. “Aku ayah nya???” 

“Bukan!! Dia anakku!! Lebih baik kau pergi dari sini!!!”  SungJong segera berbalik dan hendak masuk ke dalam apartment nya. Namun dengan cepat Myungsoo mencekal tangannya. 

“JANGAN BOHONG PADAKU!!! KATAKAN YANG SEBENARNYA!!!” bentak Myungsoo. 

SungJong menghentakkan tangan Myungsoo dan mendorong tubuhnya menjauh. 

“KAU YANG TIDAK MENGINGINKAN KYUNGSOO DULU, KAU MEMBUANG KAMI, KAU BAHKAN MENGANGGAPKU TIDAK WARAS!!! KAMI TIDAK BUTUH DIRIMU! KYUNGSOO TIDAK BUTUH AYAH SEPERTI MU!!!” 
Dan entah kenapa kaki Myungsoo melemas luar biasa. 

-tbc-

∞Accidentally∞ #Chapter 3

∞Tittle      : ∞Accidentally∞

∞Author  : Jung Yoojin

∞Cast       : -Kim Myungsoo -Lee SungJong, others

∞Genre    : boyslove, friendship

∞Rate       : M

∞Disc        : Their self but this fict is mine,

∞Warning :  boyslove, typos, don’t like don’t read.

Please no silent reader :’3

*

*

*
Bukan hanya sekedar kehangatan yang terasa, namun juga kenyamana dan kedamaian mulai menyelimuti hari itu. Myungsoo masih nyenyak dalam tidurnya. Namja berwajah yang tampan juga mata tajam itu masih berselancar di dalam alam mimpinya. Mungkin dia tidak ingat kapan terakhir bisa tidur dengan nyenyak seperti ini. Padahal jika di pikir tugasnya sedang sangat menumpuk, sebelumnya dia akan selalu begadang di depan komputernya untuk menyelesaikannya. Namun kali ini Myungsoo merasa sedikit lebih tenang saja. 

Pergerakan kecil yang ia rasakan sedikit mengusik mimpi indahnya. Myungsoo mulai mengerjabkan matanya beberapa kali. Hal pertama yang bisa ia tangkap oleh matanya adalah sesuatu yang putih dan bersih. Awalnya Myungsoo mengira itu adalah selimutnya, namun ketika pandangannya semakin jernih, ia kemudian tersenyum. Sesuatu yang putih bersih itu adalah bahu seseorang yang saat ini tengah tertidur di pelukannya. Myungsoo kemudian merendahkan wajahnya dan melihatnya, masih tertidur, wajahnya sangat damai. 

Myungsoo lalu menggerakkan tangannya dan mengelus kepalanya. Sampai saat ini Myungsoo seperti belum percaya jika Lee SungJong ini sudah menjadi kekasihnya. Sama sekali tidak ia sangka. SungJong sangat manis dan berbeda, jauh berbeda dari mantan kekasihnya dahulu. dan Myungsoo benar-benar mencintai namja ini. 

SungJong mulai bergerak dan beberapa saat kemudian matanya terbuka dan berpandangan dengan Myungsoo. “Pagi manis, apakah tidurmu nyenyak…?’ sapa Myungsoo kemudian mengecup keningnya. 

Namja yang lebih kecil darinya itu tidak menjawab, dia segera melirik jam yang tergantung di dinding lalu berusaha untuk bangun. “Ini sudah siang…kenapa kau tidak membangunkanku…?” 

“Masih jam enam sayang, kita tidak ada kuliah pagi…” ucap Myungsoo sembari meraih pinggang SungJong lagi. 

“Tidak, aku harus bangun…” 

“Kenapa…?” 

“Karena aku harus membuat sarapan untuk kita berdua…” 

“Sudahlah kita beli saja nanti…” 

“Tidak Kim Myungsoo-ssi…sarapan di rumah itu lebih baik…” tegas SungJong. 

Myungsoo tersenyum. “Baiklah-baiklah, mana mungkin aku bisa menang berdebat denganmu…” tuturnya. SungJong hanya tersenyum. “Tapi kau yakin bisa sendiri? Tidak perlu kubantu?” 

“Yaa!! Aku kan bukan anak kecil…” 

“Tidak, aku pikir kau kesusahan berjalan seperti waktu itu, sehingga aku harus membantumu untuk beraktifitas…” sahut Myungsoo tersenyum licik, untuk sesaat SungJong tampak tidak mengerti, namun tidak lama, hanya beberapa saat kemudian namja itu membelalakkan matanya lebar dan segera memukul Myungsoo dengan bantal. 

“Dasar!! Itu tidak lucu! Kau menyebalkan!!” omelnya.

“Aku juga mencintaimu baby….” 

SungJong mendengus berpura-pura kesal, ia kemudian mengambil piyamanya dan memakai asal kemudian turun dari tempat tidur. Myungsoo tertawa pelan kemudian kembali berbaring lagi di tempat tidurnya. Paginya benar-benar indah. 

“Dimana kau menyimpan handukmu? Aku lupa tidak membawa handuk…” SungJong kembali muncul. Myungsoo membuka mata. “Ada di tempat pengeringan di dalam kamar mandi…” 

“Baiklah…” 

“SungJongie…” 

“Hmmm?” 

“Mau aku temani mandi? Aku bisa menggosok punggungmu…” 

SungJong mendengus kesal. “Aku bisa mandi sendiri!” ucapnya lalu dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Lagi-lagi Myungsoo tidak bisa untuk menahan tawanya, menggoda SungJong itu sangat menyenangkan. Dan sembari menunggu kekasihnya itu selesai mandi, Myungsoo ingin kembali terlelap barang sebentar saja, matanya masih sangat mengantuk dan berat. 

*

*

*

Myungsoo mungkin setiap pagi selalu memanggang roti untuk sarapan, SungJong tidak bisa menemukan bahan makanan yang bisa untuk ia masak, hanya ada beberapa sayuran instan, kare instan dan juga beberapa bungkus ramen. Sungguh, SungJong tidak bisa habis pikir bagaimana Myungsoo bisa  kenyang hanya dengan memakan semua ini.Dan Myungsoo bukan anak orang yang miskin, dia ini kaya sekali, jika tidak mana mungkin mempunya apartement semewah ini, namun sayang Myungsoo kurang meperhatikan dirinya sendiri. Setidaknya itu yang ada di pikiran SungJong pagi itu. 

Ya sudahlah, SungJong lebih memilih untuk mengambil beberapa helai roti, mengisinya dengan selai coklat dan memanggangnya. Nanti siang mungkin ia akan menyeret Myungsoo berbelanja. 

“SungJongie…”

“hmm…” 

Myungsoo muncul dengan rambut basah dan masih berkalung handuk di lehernya.

“Kau sedang apa sayang?” 

“Membuat sarapan untukmu…” 

“Wahh, istriku ini perhatian sekali hmm…” puji Myungsoo sembari mengusap kepala SungJong dari belakang. 

“Siang nanti antar aku belanja, kau sama sekali tidak memiliki beras, tidak ada sayur dan lainnya, apakah setiap hari kau hanya makan makanan instan seperti itu huh?” Omel SungJong berbalik menghadap Myungsoo dan menatapnya dengan pandangan seorang istri yang sedang memarahi suaminya. 

Myungsoo terperangah dan sedikit tersadar, kemudian tersenyum. “Ahh, itu aku…” 

“Kau tidak memperhatikan makananmu dengan benar!” potong SungJong. “Saat ini ada banyak sekali tugas dan ujian setiap minggu, kau harus makan dengan baik, jika kau hanya makan seperti ini tidak akan bisa memenuhi nutrisimu…” 

“Baiklah sayang…aku mengerti…” ucap Myungsoo cepat kemudian meraih pinggang SungJong dan mendekapnya. “Sekarang ada dirimu, kau harus selalu memberikan nutrisi dan vitamin yang cukup untukku…” godanya sembari mengecup ujung hidung SungJong. 

“Iya, maka dari itu kau harus mengantarku untuk berbelanja nanti siang, aku akan memasak untukmu…” 

“Bukan vitamin dan nutrisi seperti itu yang aku butuhkan baby…” 

Mata SungJong menyipit tak mengerti. Itu membuatnya semakin manis. “Lalu…?” 

Myungsoo tersenyum kemudian merendahkan wajahnya dan mengecup bibir SungJong beberapa detik. “Yang kubutuhkan adalah kau sebagai vitaminku jangan pernah pergi dariku, hanya itu yang aku butuhkan…” ucapnya. SungJong masih terdiam beberapa saat mencerna apa yang baru saja Myungsoo katakan dan lakukan. 

“Ahh, jangan seperti ini…” tutur SungJong mendorong dada Myungsoo pelan. 

“Kenapa? Kau malu?” 

“Aku tidak malu….” Tepisnya. 

“Jika seperti itu tanggapi ucapanku tadi dan katakan padaku jika kau tidak akan pernah pergi dariku…” 

“Itu tidak perlu untuk dikatakan lagi, sudahlah…” 

“Tapi aku ingin mendengarnya baby…” Myungsoo berkeras. 

SungJong mempoutkan bibirnya beberapa senti dan menatap Myungsoo dengan mata beningnya, Myungsoo bersumpah itu manis sekali, jantungnya selalu berdebar saat SungJong menatapnya seperti ini. 

“Kau…benar-benar keras kepala…” gerutunya. 

“Jika ini tentang dirimu aku akan selalu keras kepala baby…” balas Myungsoo yang disambutnya dengan gelengan kepala oleh SungJong 

“Aku tidak pandai merangkai kata-kata manis sepertimu…” SungJong berucap. “Yang hanya bisa aku lakukan ketika mencintai seseorang hanyalah melakukan apapun untuk membuat orang itu bahagia…” sambungnya, namja itu kemudian merebahkan kepalanya di dada Myungsoo kemudian memeluknya dengan erat. Rasanya nyaman sekali bagi Myungsoo, dia membalas pelukan itu dengan lembut. 

Sungguh SungJong benar-benar berbeda, memang tidak sering mengucapkan kata-kata cinta, namun setiap kali SungJong menunjukkan ketulusannya Myungsoo selalu tersentuh, dan bagaimana bisa ada seseorang yang tega menyakiti ketulusannya itu. 

*

*

*
Hari ini Myungsoo ada kelas pagi sedangkan SungJong hanya mengikuti kelas siang saja. Maka dari itu setelah selesai dengan kelasnya, Myungsoo segera bergegas untuk menjemput kekasihnya itu. Mempunyai kekasih yang satu fakultas dengannya itu sangat menyenangkan, karena bisa bersama setiap saat. Ketika Myungsoo masih bersama dengan Minki dulu ia harus bolak-balik karena Minki berada di fakultas teknik. 

“Menurutmu ujian besok kau akan lulus?” tanya Myungsoo sembari menggandeng mesra tangan SungJong di koridor. Saat ini mungkin seluruh mahasiswa hukum sudah tahu akan hubungan mereka, Myungsoo menegaskan bahwa SungJong sudah menjadi miliknya saat ini sehingga semuanya tahu. 

SungJong menggeleng. “Entahlah, aku tidak mau mengulang kurasa aku harus belajar dengan rajin…” 

“Tentu saja kau harus belajar dengan rajin baby, aku akan menemanimu…” 

“Itu benar, dan seseorang yang menemaniku itu akhirnya juga yang mengganggu konsentrasi belajarku…” sindir SungJong. 

Myungsoo tertawa pelan kemudian merangkul SungJong. Benar sekali, dirinya tidak tahan untuk tidak menggoda SungJong sekejab saja, apalagi ketika sedang belajar,ketika SungJong mulai kesal baru dia mengalah. 

“Ooh baiklah, aku sekarang benar-benar sendirian, semua temanku entah kemana…” Sunggyu segera bermonolog ketika Myungsoo dan SungJong memasuki kelas dan mendekati tempat duduk nya. 

Sunggyu memang sendirian jika Myungsoo dan SungJong sedang bersama, di lain sisi Woohyun sudah tidak pernah bergabung dengan mereka lagi sejak kejadian itu, otomatis Sunggyu hanya bisa mengeluh dengan semua itu. 

“Mianhae hyung…” ucap SungJong sembari duduk. “Sebagai gantinya aku akan mentraktirmu nanti…” 

Mata sipit Sunggyu segera melebar. “ Benarkah? Lalu aku akan memintamu mentraktir di tempat yang mahal…” 

“Tidak masalah…” 

“Wooah kau memang yang terbaik Lee SungJong!” 

“Jangan terlalu banyak makan hyung, lihat pipi mu sudah semakin tembem saja…” sahut Myungsoo. 

Sunggyu hanya mencibir. “Diam kau bodoh!” 

SungJong tertawa pelan, setelah ia berpacaran dengan Myungsoo ia semakin dekat dengan Sunggyu, dan Sunggyu adalah orang yang sangat menyenangkan. Selama ini meskipun mereka berteman SungJong tidak terlalu dekat, di matanya hanya ada satu orang saja. 

Lama mereka bergurau, tiba-tiba suasana menjadi hening ketika seseorang masuk ke dalam kelas. Nam Woohyun! Yaah, dia sudah cukup lama tidak terlihat, bohong jika SungJong tidak penasaran dengannya. Woohyun terlihat terluka, ada sebuah plester kecil di kepalanya, kemudian di wajah sebelah kirinya terdapat goresan yang cukup dalam. Woohyun juga tidak berjalan dengan sempurna. 

SungJong kemudian menangkap pembicaraan Myungsoo yang sedang menanyakan apa yang terjadi terhadap Woohyun pada Sunggyu. Dan Sunggyu menjawab jika namja itu kemarin baru saja terlibat kecelakaan, namun detailnya ia tidak tahu. 

Diam-diam Myungsoo melirik ke arah SungJong, kekasihnya itu memang tidak mengatakan apapun, namun dari tingkahnya, dia sepertinya sangat gelisah. Dan sesekali melihat ke arah Woohyun yang duduk jauh di depan mereka. 

“SungJong-ah, keluarkan bukumu, aku ingin menyalin…” pinta Myungsoo, namun SungJong tidak menyahut. “Lee SungJong!” Myungsoo menggeraskan suaranya. 

“Eoh? Iya? Ada apa?” SungJong tersadar. 

Myungsoo menggeleng. “Tidak, tidak apa…” ucapnya dengan murung, kemudian segera mengeluarkan bukunya. Dan SungJong pun terlihat tidak peduli. 
*

*

Kelas selesai tepat pukul dua siang, Jung Seonsaenim keluar lebih cepat dan ini membuat semuanya lega sekali. 

“Ohh sial!!” 

SungJong segera menengok, terlihat di sana Woohyun menjatuhkan semua buku-bukunya yang akan ia kemas ke dalam tas. Sepertinya ia kesusahan untuk melakukannya karena tangannya yang terluka. SungJong mencoba untuk mengalihkan pandangannya, banyak orang disana dan salah satunya mau untuk membantu Woohyun. 

“Yaa!!” 

Namun lagi-lagi SungJong harus terusik karena  Woohyun kembali menjatuhkannya kali ini bersama dengan ponselnya. “Aissh!! Benar-benar!!” namja itu kemudian berjalan dengan cepat untuk menghampiri Woohyun. 

“Jika kau butuh bantuan orang lain harusnya kau mengatakannya hyung…” ucap SungJong sembari membungkuk dan membantu mengemasi buku Woohyun. Woohyun mengangkat kepalanya sebentar dan menatap SungJong, kemudian kembali meraih tasnya. 

“Kenapa kau mau menghampiriku?” 

“Karena kau butuh bantuan, kau sedang sakit!” tegas SungJong. Dia kemudian menatap Woohyun, namja itu terlihat lesu dan sedikit pucat. SungJong menggerakkan tangannya dan segera menyentuh dahi Woohyun. “Kau demam?” 

Woohyun menggeleng. “Tidak, aku sudah sembuh…” 

“Itu berarti kemarin kau sakit?” 

“hmm…aku masih sangat membutuhkanmu…” ucap Woohyun sembari menarik tangan SungJong dan menggenggamnya. Pandangan mereka beradu untuk beberapa saat. Woohyun selalu menatapnya seperti itu, entah itu tulus atau tidak yang pasti SungJong pernah terperangkap masuk ke dalam nya. 

Namja itu segera menggelengkan kepalanya, tidak, ini tidak baik, Myungsoo sedang melihat dirinya. “Sudah ada Key hyung, dia akan merawatmu…” sergahnya sembari menarik tangannya kembali, namun Woohyun tidak mengizinkannya. 

“Tapi tidak ada yang seperti dirimu, Key tidak sepenuhnya mengertiku, kau berbeda, hanya kau yang bisa mengerti …” 

“Hyung sudahlah…aku harus pulang….” 

“Jebal, tinggallah lebih lama seperti ini, aku cukup merindukanmu….” 

SungJong benar-benar tidak bisa menuruti Woohyun lagi, dia tidak mau membuat Myungsoo salah paham. Namun Woohyun terlihat sangat membutuhkannya, Woohyun juga sedang sakit. “Tidak hyung, aku…aku harus pergi, jaga dirimu dengan baik okey? Telvonlah Key hyung…” 

“SungJong-ah…” Woohyun masih enggan untuk melepaskan SungJong. 

“Mianhae hyung…aku harus pergi, mianhae…” 

Tidak ingin berlama-lama lagi SungJong segera menjauh dari Woohyun dan kembali menghampiri Myungsoo. Dia sungguh tidak ingin menyakiti siapapun, nalurinya hanya ingin menolong Woohyun yang sedang kesusahan saja, tidak ada yang lain. Namun, Woohyun sepertinya masih berharap banyak padanya. Dia sudah memiliki Key, harusnya ia bahagia. 

*

*
“Kenapa tidak jalan? Ada sesuatu?” tanya SungJong menatap Myungsoo yang juga tidak segera menghidupkan mesin mobil. Ini sudah hampir sepuluh menit mereka di dalam mobil. Ketika keluar dari kelas tadi Myungsoo tidak mengatakan apapun. 

“Yaa! Kenapa? Kau sakit?” SungJong berubah cemas. 

Myungsoo menggeleng dan dengan cepat menengok SungJong, mata elangnya itu terlihat sedang kesal sekali. “Tidak bisakah kau memanggilku dengan lembut? Kau memanggil ku Myungsoo hyung hanya sekali, setelah itu kau tidak pernah memanggil dengan menyebut namaku…” ucap Myungsoo kesal, awalnya dia tidak mempermasalahkan hal ini, namun ketika mendengar SungJong menyebut Woohyun hyung dirinya sedikit merasa terusik. 

“Kau marah?” 

“Benar aku marah!!” 

“Tapi itu hanya panggilan saja!” 

“Tapi aku kekasihmu!” 

SungJong sedikit terkejut, Myungsoo sedikit seram juga jika sedang marah. Tidak ingin menambah keruh suasana, SungJong segera tersenyum kemudian menggenggam tangan Myungsoo. “Mianhae, lain kali aku akan memanggilmu lebih lebih lembut lagi…aku akan berusaha…” 

“Bukan hanya itu, kau tidak tahu apa kesalahan yang lain??” tanya Myungsoo masih dengan raut kesal. 

“Benar aku mengerti…” sahut SungJong cepat, namja itu kemudian menarik nafas panjang. “Woohyun hyung tadi sakit, kau lihat sendiri kan keadaannya, dia butuh bantuan, aku hanya ingin membantunya…” 

“Tapi dia punya kekasih sendiri, kenapa harus kekasihku yang membantunya??” 

“Key hyung kan di fakultas kedokteran, dan dia tidak mungkin berada di kelas kita untuk menemani Woohyun hyung…” ucap SungJong dengan sabar. “Percayalah, aku hanya ingin membantu, tidak lebih, kau tidak akan mencegah kekasihmu untuk berbuat baik kan??” 

Myungsoo sebenarnya masih merasa kesal, namun demi melihat wajah SungJong yang begitu manis dirinya kemudian tersenyum lalu membalas genggaman SungJong. “Baiklah, kenapa kau sangat manis hmm, kau selalu bisa melunakkan hatiku dengan tatapanmu itu…” ucap Myungsoo sembari menarik pipi SungJong. 

“Tidak marah lagi?” 

“Aku tidak bisa lama-lama marah pada kekasih manis ku ini, kemarilah….” Myungsoo sedikit merenggangkan tangannya, SungJong tersenyum dan bergeser lalu menjatuhkan dirinya di pelukan Myungsoo. Pelukan Myungsoo memang sangat nyaman. 

“Aku seperti ini karena aku mencintaimu baby…” ucap Myungsoo sembari mengecup pucuk kepala SungJong. 

“Aku tahu…” balas SungJong. 

SungJong pun juga memiliki perasaan yang sama, Myungsoo telah mengubah harinya, dan Myungsoo sangatlah perhatian,  namja itu tidak tahu apakah Myungsoo juga memperhatikan kekasihnya terdahulu seperti ini, betapa beruntungnya mereka terutama Minki. Tapi SungJong tidak ingin memikirkan hal itu, yang terpenting sekarang namja ini sudah menjadi kekasihnya. 

Ohh? Di sela-sela pelukan Myungsoo, SungJong melihat ke tempat parkir tak jauh dari mobil Myungsoo, Woohyun terlihat berjalan dengan tertatih menuju mobilnya, namja itu terlihat kesusahan. 

“Ada apa?” Myungsoo menarik tubuh SungJong dari pelukannya, kemudian melihat ke arah yang di pandang oleh SungJong. 

Raut wajah Myungsoo seketika berubah. “Well…” 

SungJong menatap Myungsoo penuh harap. “Jebal, aku tidak tega…izinkan aku untuk….” 

“Pergilah…” 

“Ne…?” SungJong terkejut. 

“Aku tidak ingin menghalangi kekasihku berbuat baik!” 

SungJong sebenarnya tidak bisa meninggalkan Myungsoo seperti itu, namun…Woohyun butuh bantuannya sekarang, sudahlah, dia segera turun dan berlari menghampiri Woohyun. 

Myungsoo kembali pada tatapannya yang tajam melihat SungJong yang mendekati Woohyun, membantunya membawa buku dan masuk ke dalam mobil Woohyun. Dengan keras dan kesal Myungsoo memukul stir mobilnya. Nam Woohyun, dia benar-benar membenci namja itu.

*

*

*

SungJong kembali sekitar pukul enam sore, Myungsoo tidak menjawab pesan maupun panggilannya, jadi ia hanya membelikan kimbab saja. Sungguh dia hanya sebentar di rumah Woohyun, dia tidak mau berlama-lama, dan lagi SungJong sudah menghubungi Key untuk menemui Woohyun. 

“Ohh?” Mata SungJong menyipit, sepi sekali, apakah Myungsoo sedang pergi? Bahkan ruang tengah begitu berantakan, biasanya selalu rapi dan bersih. 

“Myungsoo hyung…” panggilnya. Langkah namja itu segera masuk ke dalam kamar, dan benar saja, Myungsoo terlihat berbaring di tempat tidur terlelap. Tumben sekali sudah tidur, Myungsoo setidaknya harus makan dahulu. 

SungJong mendekat. “Bangunlah, kau harus makan….” Bisiknya tepat di telinga Myungsoo. “Myungsoo hyung….” Tanpa sengaja tangan SungJong menyentuh kulit namja itu. “Astaga, panas sekali, hyung kau sakit???” tanya SungJong sembari mengecek dahi Myungsoo sekali lagi. 

Panas, mata Myungsoo juga terpejam rapat sekali namun terlihat gelisah, tadi siang Myungsoo baik-baik saja, kenapa sekarang seperti ini, namun SungJong tidak peduli, yang ia harus lakukan sekarang adalah membantu Myungsoo mengurangi rasa sakitnya. Bahkan namja itu masih memakai pakaian yang tadi digunakan untuk kuliah. Sungguh, SungJong tidak tahu jika Myungsoo akan sakit seperti ini. 
“hyung, kau baik-baik saja?” ucap SungJong sembari mengompres dahi Myungsoo. sepertinya panasnya belum juga turun, namun Myungsoo sudah terlihat mulai bergerak gelisah berusaha membuka matanya. 

SungJong kemudian menggenggam tangan Myungsoo erat. Hatinya cemas sekali melihat Myungsoo yang terlihat kesakitan seperti itu. Jika dia bisa memutar ulang, mungkin ia akan turun menemani Myungsoo tadi, Myungsoo pasti kecewa dengannya. 

“SungJong-ah….” Myungsoo menggumam. 

“Aku disini, aku disini, disampingmu…” 

Mata Myungsoo perlahan membuka dan langsung bertatapan dengan mata teduh SungJong. “Jongie….” Panggilnya lagi. 

“Apa yang kau butuhkan? Apakah kepala mu sakit? Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu…” 

“Kau sudah kembali?” sahut Myungsoo lesu. “Woohyun hyung, bagaimana dia? Kenapa kau meninggalkannya? Bukankah kau sangat cemas?” 

SungJong menggeleng lalu membalas Myungsoo yang berusaha untuk menggenggam tangannya. “Jangan memikirkan itu tolong, aku tidak ada perasaan apapun untuknya, aku ini sekarang milikmu, kau jangan terlalu memikirkan sesuatu yang tidak penting hingga membuatmu sakit seperti ini…” 

“Benarkah? Tapi kau terlihat bahagia sekali saat…” 

“Saat aku bersamamu, ya aku sangat bahagia…” potong namja manis itu dengan cepat, ia tidak ingin Myungsoo mempunyai pemikiran-pemikiran yang bisa membuatnya semakin sakit lagi. 

Myungsoo terlihat tersenyum. “Jika begitu kemarilah, aku ingin memelukmu…” pintanya. SungJong mengangguk kemudian mencopot jacketnya dan segera berbaring di samping Myungsoo. Myungsoo memeluk pinggangnya dengan erat, dan disaat itu SungJong dapat merasakan jika tubuh Myungsoo benar-benar panas, namun demi menyenangkan Myungsoo, namja itu merebahkan kepalanya di dada hangatnya. Rasanya sangat nyaman, dibandingkan dengan Woohyun, SungJong selalu merasa nyaman ketika bersama dengan namja ini. 

“Jangan membuatku merasa cemas lagi hmm…” ucap Myungsoo sembari mengecup kulit leher SungJong. 

SungJong tersenyum lalu mendongakkan wajahnya dan mengecup bibir Myungsoo. “Apapun yang ku lakukan…itu semua tidak pernah bisa menghapuskan rasa cintaku padamu…aku hanya bisa mengatakan hal ini…” balasnya. 

Myungsoo pun juga nampaknya sangat puas dan mengelus kepala mereka kekasihnya itu dengan sayang. Bibir mereka kembali bertemu dan berciuman untuk beberapa saat hingga akhirnya rasa kantuk menyerang. Awal yang sangat rumit bagi mereka, banyak sekali timbul rasa keraguan dalam hati Myungsoo tentang perasaan SungJong padanya, namun…ia burusaha untuk mengabaikannya, karena SungJong saat ini sudah sepenuhnya menjadi miliknya. 

*

*

*


Pagi hari seperti biasa, Myungsoo bangun paling awal, SungJong masih terlelap. Myungsoo tahu jika namja itu semalam menjaganya dengan baik, dia sudah sedikit merasa lebih baik sekarang, sakitnya hanya karena ia merasa kelelahan dan banyak pikiran. 

Sekarang dia sudah merasa lebih segar, SungJong mungkin memang hanya berniat menolong Woohyun saja, mereka itu dulu dekat sekali, dan mustahil SungJong bisa mengabaikan begitu saja ketika Woohyun sedang sakit. Myungsoo sudah bisa berpikir lebih jernih. 

“Selamat pagi sayang…tidurlah lagi jika kau masih mengantuk…” sapa Myungsoo sembari mengecup ujung kepala SungJong. 

SungJong mengucek matanya yang terlihat lelah sekali. “Ohh, kau sudah sembuh? Kepalamu masih sakit?” tanyanya lalu mengecek dahi Myungsoo. “Sudah tidak sepanas kemarin, tapi sebaiknya jangan masuk dulu hari ini, istirahatlah…” 

“Tidak baby, aku tidak mau jauh-jauh darimu…” 

“Ohh ternyata benar kau sudah sembuh….” Sahut SungJong cepat. Myungsoo hanya tersenyum dan mendekap pinggang SungJong posesif. “Sudah, lepaskan, aku ingin mandi, badanku lengket sekali…” 

“Mandi bersama yah…” 

Mata SungJong membulat. “Tidak, mandi sendiri-sendiri…” 

“Ohh ayolah baby..kita mandi bersama…itu akan lebih cepat…” 

“Tapi kau masih sakit….” 

“Aku sudah sembuh…kita mandi pakai air hangat…”

“Bagaimana jika kau sakit lagi?” 

“Aku tidak akan sakit aku sudah sembuh….” 

SungJong tersenyum dan akhirnya mengangguk, mana bisa dirinya menolak jika Myungsoo sudah seperti ini, kekasihnya itu benar-benar keras kepala. Namun SungJong menyukainya, sangat menyukai. Namja itu segera bangkit untuk menyiapkan semuanya. 

*

*

Setelah mengganti pakaiannya dengan bathrobe, Myungsoo segera masuk ke dalam kamar mandi. SungJong sudah menyiapkan air hangat satu bathup penuh dan namja itu sekarang sedang sibuk menuang sabun cair. 

Myungsoo tersenyum, SungJong kekasihnya itu terlihat manis sekali dengan bathrobe berwarna biru muda. Tubuhnya yang kecil juga menarik itu selalu membuatnya tertarik. Myungsoo berpikir, kekasihnya selalu mempunyai tubuh yang seperti itu, mulai dari Taemin, Minki, dan sekarang SungJong. Namun ia harus mengakui, hanya pada Lee SungJong dirinya merasakan cinta yang tulus. SungJong berbeda, sangat berbeda. 

“Baby…” 

Myungsoo memeluk tubuh ramping SungJong dari belakang dan mencium punggungnya. “Aihh…Jangan lakukan itu….” Elak SungJong yang terkadang terkejut menerima perlakuan manis Myungsoo. “Airnya sudah siap, kau bisa mandi sekarang…” 

“hmm…baiklah….” 

Myungsoo melepaskan pelukannya kemudian membuka bathrobe nya, bentuk tubuhnya yang atletis dan sempurna mulai terlihat, namja itu kemudian mulai naik dan masuk ke dalam bathup. Sensasi hangat dan juga segar saat ini mulai terasa. Biasanya Myungsoo tidak pernah mandi dengan seperti ini. 

“Kenapa diam? Cepatlah kemari, kau tidak ingin mandi hmm?” tegur Myungsoo pada SungJong. 

“Ehh…??” SungJong tergugup, dirinya untuk beberapa saat terpesona dengan bentuk tubuh yang dimiliki oleh Myungsoo. 

“Kemarilah baby…disini nyaman sekali, dan lepas bathrobe mu, kau tidak berencana mandi menggunakan itu kan?” 

“Tapi aku…” 

Myungsoo tersenyum. “Kenapa? Tidak usah malu, aku juga sudah melihat bagaimana bentuk seluruh tubuhmu, kenapa harus merasa malu?” 

“YAA!!” wajah SungJong seketika memerah dan disambut dengan tawa pelan dari Myungsoo.  SungJong segera melepas bathrobe nya dan buru-buru masuk ke dalam bathup tanpa membiarkan Myungsoo melihat tubuhnya lebih lama lagi. 

Air yang hangat serta sensasi aromatherapy yang menyegarkan mulai terasa. Baik Myungsoo dan SungJong bersandar di ujung bathup saling berhadapan, sebenarnya SungJong sedikit tidak nyaman seperti ini, namun Myungsoo mempunyai selera humor yang tinggi sehingga dirinya tidak bosan. Myungsoo adalah seseorang yang sangat menyenangkan, dia pencair suasana. Sebenarnya sejak dulu Myungsoo begitu, namun SungJong tidak terlalu memperhatikan, matanya selalu tertuju pada Woohyun. Dan lagi dirinya dan Myungsoo selalu bertengkar setiap kali ada kesempatan. 

“Kenapa kau menatapku seperti itu hmm?” tanya Myungsoo. Sebenarnya ia sangat menyukai ketika SungJong menatapnya dengan tatapan indahnya itu. 

“Aku hanya berpikir…kenapa dulu kita sering sekali bertengkar, pada akhirnya sekarang kita saling mencintai…” 

“Kau dulu membenciku…” 

“Tidak, aku tidak membencimu…” sahut SungJong cepat. 

Myungsoo tersenyum. “Tapi setiap kali aku bertanya baik-baik kau selalu marah, kupikir kau memang ada masalah denganku…”

“Benarkah? Aku tidak seperti itu…” 

“Aigoo, kekasihku rupanya sudah mulai amnesia huh? Mau aku bantu mengingatkannya kembali?” 

“Sudahlah, itu telah berlalu, kenapa kau suka sekali membicarakan masa lalu…” ucap SungJong sembari mengusap dadanya dengan busa. 

Myungsoo sedikit menelan ludahnya, manis sekali, dia benar-benar manis. Kulitnya terlihat sangat bersih dan lembut, Myungsoo tak pernah bosan menatap dan mengaguminya, selama namja itu tinggal dengannya, ia tidak terlihat melakukan hal khusus untuk merawat tubuhnya, namun semakin lama Myungsoo lihat, kulit SungJong semakin terlihat menarik. 

Namja itu kemudian bergerak menciptakan gelombang air yang sedikit besar, ia kemudian mendekat ke arah SungJong yang berada di ujungnya. Dia dapat merasakan lututnya sudah berdekatan dengan lutut SungJong di balik air sana. SungJong pun menghentikan pergerakannya dan menatap Myungsoo, wajahnya yang masih dibasahi air menambah kesan seksi pada namja itu. 

“Kenapa? Perlu aku bantu?” tanya SungJong ketika Myungsoo sudah berada tepat di depannya. 

“Aku hanya selalu terpesona dengan wajah manis ini…” ucapnya. 

Tangan kekar nya kemudian bergerak menyusuri kulit wajah SungJong yang basah, bahkan setelah tersiram oleh air kulit itu masih terasa sangat lembut. Myungsoo tidak pernah bosan dan selalu mengaguminya. Sejak ia kenal dengan namja ini, ia tahu bahwa SungJong itu sangat manis, namun saat itu dia belum terlalu menganggapnya serius karena SungJong selalu dekat dengan Woohyun. 

Belaian Myungsoo kemudian turun menuju kulit leher dan dada nya, sedikit menghapus jejak busa yang menempel disana. “Kau pasti sering melakukan perawatan kulit…” ucapnya. 

“Tidak, aku tidak pernah…” 

“Tapi kulitmu begitu halus dan lembut..”  Myungsoo kembali mengelus dada SungJong. Hal ini membuat sang namja manis menjadi sedikit merasa aneh. 

“Kulitku seperti ini sudah sejak lahir, sebaliknya, kau pasti yang lebih banyak melakukan perawatan wajah…” balas SungJong sembari mengalungkan tangannya ke leher Myungsoo. 

Myungsoo merendahkan tubuhnya dan tersenyum. “Wajahku? Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk melakukannya, kenapa? Apakah wajahku ini tampan?” tanya Myungsoo dengan sedikit nada menggoda. Dan seketika satu percikan air mengarah ke arahnya. “Dasar narsis! Kau jelek, kau itu tidak tampan sama sekali!!” balas SungJong dengan terus memercikkan air ke wajah Myungsoo. 

“Oh ya, jika seperti itu, kenapa kau jatuh cinta padaku hmm??” balas Myungsoo memercikkan air ke wajahnya. 

“Aku mencintaimu bukan karena wajahmu…” 

“Lalu? Keahlianku di tempat tidur??” 

“SIAL!! Bukan itu!” gerutunya.

Myungsoo tertawa lagi. “Lalu?” 

“Karena kebaikan hatimu…” 

“Itu artinya aku baik…?” 

“Kim Myungsoo kau benar-benar!!” 

SungJong terlampau kesal kemudian berhambur menubruk Myungsoo hingga namja itu terjerembab masuk ke dalam air, SungJong menyusulnya sembari melampiaskan kekesalannya dengan mencubit dan memukul-mukul tubuh Myungsoo. Air di bath up bergelombang hebat karena pergerakan dua orang itu. 

Myungsoo tertawa dan berusaha menahan serangan-serangan SungJong itu dengan tangannya. Busa-busa yang semula tertata rapi disana sudah berantakan tidak karuan. 

“Yaa!! Hentikan…Jongie hahha…sudah cukup…” Myungsoo memundurkan tubuhnya kembali bersandar pada ujung bath up dan menarik pinggang SungJong. Tubuh mereka bersentuhan, Myungsoo dapat merasakan kulit lembut SungJong bersentuhan dengan kulit tubuhnya. 

Namja itu kemudian tersenyum, lalu menarik SungJong semakin mendekat hingga dada mereka menempel.  SungJong secara otomatis melingkarkan tangannya pada bahu Myungsoo, belum pernah dirinya berada dalam keadaan se mesra ini dengan seseorang. 

Wajah Myungsoo sedikit merendah, kemudian dia menuju pipi SungJong menciumannya, ciumannya kemudian turun turun kebawah pada kulit leher SungJong, namja yang berada di pangkuannya itu refleks mendongakkan kepalanya memberi akses pada Myungsoo untuk menciumnya. Bibir Myungsoo menyusuri kulit leher itu memberikan kecupan-kecupan mesranya. 

“Nggh…” erangan SungJong mendadak terdengar ketika bibir Myungsoo dengan kuat menyesap kulit lehernya dan sedikit menggigitnya. Jemari tangan namja itu mulai menggenggam dengan erat. Setiap kali Myungsoo menyentuhnya seperti ini, namja itu selalu teringat dengan malam itu, malam dimana semuanya berawal. Namun entah kenapa semua itu sekarang menjadi kenangan yang indah bagi SungJong, meski dirinya saat itu sangat mabuk, namun ia masih ingat apa yang Myungsoo lakukan padanya

SungJong tersadar dari lamunannya dan sedikit merintih ketika Myungsoo yang entah sudah berapa lama menciumi lehernya kini telah turun ke dada nya dan menghisap nipple kanannya dengan gigitan kecil. 

“Ngh..hentikan…s-sudah…” ucap SungJong sembari mendorong perlahan Myungsoo. “Aishh….ckk, kau membuatnya lagi…” SungJong sedikit menggosok kulit lehernya dengan busa beberapa kali, Myungsoo tersenyum melihatnya tingkahnya. 

“Kenapa baby? Kali ini apa salahku?” tanya Myungsoo manja mendekap pinggang SungJong mesra. 

SungJong mendengus kesal. “Kita ada kelas sebentar lagi, tapi kenapa kau memberikan banyak kissmark, astaga…ini pasti akan lama hilangnya…” keluhnya sembari terus menggosok lehernya. 

“Baguslah, jika ada yang bertanya katakan jika itu aku yang melakukannya…” 

“Apa kau gila???” 

“Hmm? Lalu apakah kau ingin mengatakan jika ini hasil dari perbuatan orang yang tidak kau kenal baby?” tanya Myungsoo sembari mendekatkan kembali tubuh SungJong ke tubuhnya. “Apa kata orang-orang nanti…” 

SungJong kembali menggumam kesal namun juga sedikit merasa geli, namja itu kemudian memukul dada Myungsoo pelan. “Dasar menyebalkan!!” 

“Aku juga mencintaimu sayang….” 

“Kim Myungsoo…..kau benar-benar….” SungJong tidak habis pikir dengan kekasihnya itu, menjengkelkan juga menyebalkan, namun sangat romantis. Senyum SungJong berkembang, namja itu kemudian merendahkan wajahnya kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir Myungsoo. Kali ini ia yang memulai, ia menginginkan bibir Myungsoo yang seksi itu. Yang sudah sangat sangat basah dengan air. 

Myungsoo membiarkan lebih dulu SungJong mendominasi, dirinya sedikit merebahkan tubuhnya kembali pada bathup hingga tubuh SungJong tepat di atasnya, sementara tangannya melingkar indah di pinggang namja itu. SungJong memang bukan pencium yang handal, namun juga ciumannya tidak buruk. Dan beberapa menit kemudian, Myungsoo mengambil alih, bibirnya berganti melumat bibir manis SungJong dengan cepat, dan SungJong pun kini didominasi oleh Myungsoo. Ketika Myungsoo sudah memulai ciumannya, waktu yang sedang berputar tidak mereka hiraukan, suhu di dalam bath up mulai memanas. 

*

*

*

*

“Aku tidak bisa jika harus menghafal semua pasal-pasal ini…” Sunggyu akhirnya meletakkan buku yang super tebal itu dengan gusar. Namja itu kemudian meraih gelas minumannya dan segera meneguk habis. 

“hyung kau tidak perlu menghapalnya…” sahut SungJong. “Ingat saja bagian yang penting…” 

“Tapi semuanya penting, aku harus bagaimana…jika tidak lulus bisa-bisa aku dikeluarkan dari daftar warisan…” 

SungJong tertawa pelan dan segera mengambil buku Sunggyu, kemudian namja itu melingkari bagian-bagian tertentu dengan pulpen berwarna. SungJong ini termasuk salah satu mahasiswa jurusan hukum yang paling pintar, jadi jika hanya materi ini baginya sangat mudah. 

“Pelajari yang aku lingkari hyung, itu akan membantumu nanti, sudahlah jangan terlalu dipikirkan…” 

Sunggyu menepuk-nepuk bahu SungJong berterima kasih, meskipun SungJong ini lebih muda darinya tapi Sunggyu banyak belajar darinya. Dan namja bermata sipit itu sedikit senang karena sekarang SungJong sifatnya sudah terbuka dan mau bertukar pikiran dengan yang lain, sangat berbeda ketika masih bersama dengan Woohyun dulu. Namun Sunggyu juga harus mengakui, tanpa kehadiran Woohyun diantara mereka suasana sedikit berbeda. 

“Coba ini baby, rasanya nikmat sekali…” Myungsoo duduk dan segera menyendokkan kuah makanan yang baru saja ia bawa ke mulut SungJong. “Bagaimana? Enakkan..” 

SungJong hanya mengangguk dan meneruskan menandai buku Sunggyu. Myungsoo mengambil sesendok lagi kemudian menyodorkan pada Sunggyu. “hyung, kau coba juga, bagaimana rasanya??” tanyanya. 

“Eumm…nikmat, tapi rasa manisnya sedikit mengganggu…” 

“Aku rasa juga seperti itu….” 

“Tapi pasti masakan SungJong lebih nikmat dari ini kan?” Goda Sunggyu pada Myungsoo. 

“Tentu saja, SungJong adalah yang terbaik…” sahut Myungsoo yang langsung mendapat cibiran dan SungJong. Sunggyu tertawa pelan, menggoda mereka berdua sangat menyenangkan apalagi sejak ia tahu dua sahabatnya itu telah tinggal bersama. 

 “SungJong-ah….” 

Keceriaan dan juga kesenangan yang baru saja tercipta tiba-tiba menjadi sebuah keheningan ketika seseorang datang dan berdiri di depan meja mereka sembari membawa sebuah laptop. Wajah Myungsoo seketika kesal, SungJong bahkan tertegun tanpa bisa bersuara. Mungkin hanya Sunggyu yang mencoba bersikap sewajarnya saja. 

“Woohyun-ah, kau datang? duduklah kesini…” sapa Sunggyu. 

Namun Woohyun tidak menjawab, tatapan namja itu terarah pada SungJong yang juga tengah menatapnya. Matanya menyorotkan sebuah pandangan yang sulit untuk di artikan. 

“SungJong-ah…” panggilnya. “Bantu aku menyelesaikan ini, tanganku masih sakit…” lanjutnya. Pandangan mata itu, tentu saja SungJong sangat mengenalnya, Woohyun tidak berbohong ketika mengatakan tangannya sedang sakit. 

Sunggyu melihat Myungsoo mengepalkan tangannya kesal dan ini pertanda tidak baik. “Woohyun-ah, duduklah, kerjakan disini saja, kami akan membantumu…” sergahnya mencoba mencari jalan tengah. 

“Aku hanya butuh Lee SungJong…” tegasnya. 

Tak.Myungsoo berdiri dan menghadap Woohyun, mata mereka bertemu, emosi jelas sekali terpancar dari mereka berdua. Sungguh jika mereka berdua bertengkar tidak akan baik. 

“Kau butuh seseorang maka minta tolonglah dengan baik!!” ucap Myungsoo. “Dan jika kau belum menyelesaikan tugasmu, kerjakan disini, bersama kami!” 

Woohyun tersenyum sinis. “ Apakah kau tuli? Aku hanya butuh Lee SungJong! Tidakkah kau dengar itu??” 

“Kenapa SungJong? Aku dan Sunggyu hyung juga bisa membantumu!” balas Myungsoo. Woohyun mendekat dan menatap tajam Myungsoo. Selama mereka berteman selama ini belum pernah baik Myungsoo maupun Woohyun saling berhadapan penuh emosi seperti ini. 

“Kau melarangku? Siapa kau hingga berani melarangku bertemu dengan SungJong hah?? Kau pikir kau siapa??” 

Tangan Myungsoo benar-benar mengepal erat. “Aku? Aku kekasihnya! Dan jika kau berani bermacam-macam dengannya aku tidak akan membiarkanmu!!” 

“Oh, apakah sekarang kau mengekang Lee SungJong-ku?” 

“Mwo??” 

“Kau menjadikannya kekasihmu agar kau bisa mengatur hidupnya?” 

“Nam Woohyun!!” 

Woohyun terkekeh sinis dan menepul pundak Myungsoo. “Aku benar-benar kasihan padamu, dan aku yakin SungJong pun menerima mu hanya karena kasihan!” 

“MWOO??? YA!!! KAU….” 

“Hentikan!” SungJong berdiri dan segera berjalan untuk menengahi mereka. “Jangan bertengkar, kalian bisa mendapat masalah, ingat kata Jung Seonsaenim, satu kesalahan kecil kalian tidak bisa lulus dari ujian minggu ini!!” ucapnya menatap Myungsoo dan Woohyun secara bergantian. 

Namun baik Woohyun dan juga Myungsoo masih terlihat emosi sekali dan siap menyerang satu dengan yang lainnya. 

“SungJong-ah…” Woohyun kemudian menatap SungJong. “Aku membutuhkanmu…jebal, bersama dengan Myungsoo selama ini tidak membuatmu berubah menjadi seseorang yang jahat kan…?” 

SungJong terperanjat, ia menatap Woohyun dari atas hingga bawah, Woohyun masih terlihat sakit, tangan kanannya juga masih belum bisa bergerak leluasa. Mungkin ia memang membutuhkan bantuannya. Namun ketika namja itu hendak menjawab, Myungsoo tiba-tiba menggenggam tangannya dan menggelengkan kepala padanya. SungJong tahu Myungsoo tidak ingin ia berdekatan dengan Woohyun lagi, tetapi…SungJong pun tidak bisa mengabaikan Woohyun yang sedang sakit dan butuh bantuannya. 

“Jebal…dia sedang butuh bantuanku…” ucap SungJong menatap Myungsoo memohon pengertiannya. Dan sekilas SungJong dapat melihat kekecewaan pada mata Myungsoo disana. 

“SungJongie…” Myungsoo masih belum rela, SungJong kembali menggenggam tangannya dengan lembut. “Jangan biarkan Woohyun hyung menganggap kau menyebabkanku berubah menjadi buruk, jebal…aku tetap milikmu…” ucapnya lagi. Kali ini SungJong benar-benar meminta pengertian dari Myungsoo. 

Woohyun segera mendekati SungJong dan menggandeng lengannya. “Kkaja!” pintanya. SungJong pun berbalik dan mengikuti Woohyun untuk pergi. 

Nafas Myungsoo naik turun, bagaimana bisa? Bagaimana bisa SungJong lebih memilih menemani Woohyun dari pada mendengarkannya. Hati Myungsoo tiba-tiba merasa sedih, SungJong bahkan tidak menolak ketika Woohyun memegang tangannya. 

“Myungsoo-ya….” Sunggyu menepuk bahu Myungsoo. “Sudahlah, SungJongie pasti hanya berniat untuk membantu Woohyun saja tidak lebih…” 

Myungsoo menggeleng. “Tidak, SungJong memang masih punya perasaan terhadapnya, aku tahu itu, tidakkah kau melihatnya hyung??” 

“Aku percaya pada SungJongie, Woohyun yang sedikit keterlaluan, sudahlah, kau awasi dia saja jika kau memang cemas…” 

“Aku memang akan melakukan itu…”

Mata tajam Myungsoo tak bisa lepas untuk mengawasi mereka berdua, ada perasaan emosi yang begitu dalam setiap kali Woohyun mencoba untuk menyentuh kekasihnya itu, meskipun SungJong berusaha sebaik mungkin untuk menjaga jarak. Dan Myungsoo benar-benar diatas dalam emosinya yang sangat tinggi. 
-TBC-

 ∞Accidentally∞ #chapter 2

∞Tittle      : ∞Accidentally∞

∞Author  : Jung Yoojin

∞Cast       : -Kim Myungsoo -Lee SungJong, others

∞Genre    : boyslove, friendship

∞Rate       : M

∞Disc        : Their self but this fict is mine,

∞Warning :  boyslove, typos, don’t like don’t read.

Please no silent reader :’3

*

Ini sudah hampir setengah jam sejak SungJong berbaring mencoba untuk tidur di tempat tidur Myungsoo. Namun sepertinya namja itu masih belum bisa untuk memejamkan matanya. Sementara Myungsoo sibuk di meja belajarnya mengerjakan sesuatu. SungJong tahu, sedang ada banyak sekali tugas di kelas mereka, Myungsoo  mungkin sedang mencoba untuk menyelesaikannya. SungJong sudah menyelesaikan semua itu jauh-jauh hari. 

“Kenapa? Kau tidak tidur?” tegur Myungsoo yang mendapati SungJong masih belum juga terlelap. Namja itu kemudian berdiri dan berjalan mendekat ke tempat tidur. Jujur saja, Myungsoo sudah lelah sekali. 

Ketika Myungsoo semakin dekat dengannya dan duduk di tempat tidur, SungJong refleks sedikit bangun dan menggeser tubuhnya menjauh sembari menyelimuti dirinya dengan selimut semakin erat. Myungsoo sedikit terkejut mendapat refleks seperti itu, mata mereka sesaat berpandangan. 

“M-maaf, aku tidak bermaksud….” SungJong tersadar jika refleksnya tadi menyinggung Myungsoo. 

Myungsoo hanya tersenyum, maklum saja, tempat ini mungkin menjadi kenangan buruk untuk SungJong karena kejadian malam itu. Kejadian yang sampai saat ini masih sering terbayang. 

“Kenapa kau belum tidur..? Ada yang kau pikirkan..?” tanya Myungsoo kemudian. Wajah manis SungJong masih tampak murung dan belum ceria seperti biasanya. Terkadang Myungsoo merasa dirinya yang menjadi penyebab kemurungan SungJong itu.  

“Sedang memikirkan Woohyun?” sekali lagi Myungsoo bertanya. Diamnya SungJong sudah menjawab seluruh pertanyaan yang ada di dalam benaknya. SungJong sedari tadi memikirkan Woohyun, begitu berartinya kah Woohyun bagi namja ini? 

Myungsoo menarik nafas panjang, dulu ketika ia melihat SungJong begitu akrab dengan Woohyun  dia biasa saja, tidak ada suatu perasaan apapun yang berarti. Namun sekarang, dia merasakan sesuatu yang aneh, jantungnya selalu berdebar setiap kali menatapnya. 

“Jangan mengatakan pada Woohyun hyung…tentang sesuatu yang terjadi diantara kita…malam itu..” celetuk SungJong tiba-tiba. 

Myungsoo terperangah. “Apa? Ohh..aku paham…” jawabnya. “SungJong-ah…” 

“Hmm…?” 

“Boleh aku bertanya sesuatu?” 

“Katakanlah…” 

“Kau menyukai Woohyun…?” 

Malam itu Myungsoo pernah menanyakan hal ini pada SungJong, namun Myungsoo kurang puas, dia ingin jawaban dari SungJong saat namja itu sedang sadar. Namun sepertinya SungJong pun terlihat bimbang dengan pertanyaan itu. 

“Kau tahu jawabannya…” 

“Aku ingin mendengarnya langsung darimu..” 

SungJong terlihat menarik nafas panjang.”Dia lebih memilih Key hyung dari pada aku, aku…tidak mempunyai hak untuk menyukainya…” 

“Tapi selama ini kau sudah melakukan apapun untuknya, jika kau tidak menyukainya kau tidak akan melakukannya…” 

“Karena mungkin aku terlalu bodoh, mau dimanfaatkan olehnya…” 

Myungsoo tersentuh, tidak, SungJong tidak bodoh, Woohyun tidak pernah peka. Dia menganggap SungJong sebagai miliknya, namun dia sendiri memilih orang lain sebagai pendampingnya. 

“Sudah malam, lebih baik kau tidur saja, aku juga sudah mengantuk, besok kita ada kuliah pagi kan…” ucap Myungsoo kemudian. “Oh..aku..tidak akan tidur disini, aku akan tidur di sofa, selamat malam SungJong-ah..” ralat Myungsoo dengan cepat, namja itu segera mengambil satu bantal dan beranjak dari sana. 

Myungsoo memilih berbaring di sofa yang tak jauh dari sana dan segera memejamkan mata. SungJong sebenarnya sedikit merasa tidak enak, karena Myungsoo masih menjaga perasaannya dan mengalah tidur di sofa. Harusnya dia saja yang tidur disana, namun sepertinya Myungsoo sudah kelelahan dan terlelap, SungJong pun segera berbaring dan mencoba untuk tidur juga. Setidaknya dia merasa sangat aman di tempat ini. Meskipun kejadian malam itu selalu terbayang..namun ada sesuatu yang berbeda. 
*

*

Esok telah datang, SungJong bangun lebih dulu kali ini, dan Myungsoo beberapa saat kemudian. Suasana sedikit canggung, karena ini kali kedua kalinya mereka bertemu di pagi hari di dalam kamar yang sama. 

Selagi SungJong masih berada di kamar mandi, Myungsoo menyiapkan beberapa roti bakar untuk mereka sarapan, entah kenapa hati Myungsoo senang sekali melakukan hal ini. 

Ting…terdengar seseorang membunyikan bel dari depan pintunya. Myungsoo segera bergegas untuk membukanya, pasti pengantar roti yang ia pesan kemarin. 

“Myungsoo hyung…” seseorang segera menyeruak masuk begitu Myungsoo membuka pintunya. 

“Minki-ya? Kenapa kau disini??” Myungsoo cukup terkejut menerima kedatangan namja itu. 

“Mwo? Kenapa? Tumben sekali kau bertanya kenapa hyung?” tanya Minki sembari tersenyum. Myungsoo sedikit membenarkan hal itu, biasanya juga dia tidak peduli jika namja itu datang. 

Minki segera mendekat dan mengalungkan tangannya di leher Myungsoo. “hyung, aku menunggumu akhir-akhir ini, tapi kenapa kau tidak datang?” tanyanya dengan lembut, biasanya Myungsoo akan langsung luluh jika Minki bersikap manja seperti itu. 

“hyuuung…apakah kau tidak merindukanku..?” tanya Minki lagi sembari mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Myungsoo lekat. Myungsoo tidak membalas, dia hanya merasa tidak ada apapun yang harus ia bicarakan dengan Minki. Perasaannya terhadap namja ini sudah menghilang. 

Tak… 

“Oh SungJong-ah…” Myungsoo segera menjauhkan tubuh Minki begitu melihat SungJong sudah berdiri disana. Minki yang kaget dengan refleks Myungsoo segera berbalik. Matanya menyipit begitu melihat SungJong. 

“Kau disini? Tumben sekali? Apa yang kalian lakukan?” 

SungJong tidak menjawab Minki, namja itu segera menatap Myungsoo. “Aku..akan pergi dulu, terima kasih malam ini..” 

“Aku akan mengantarmu, kita berangkat bersama…” 

“Tidak, aku harus pulang, mengganti pakaianku dan mengambil tas…” 

“Itu bukan masalah, aku akan menemanimu….” Tegas Myungsoo menghampiri SungJong kemudian menarik tangannya untuk pergi. “Minki-ya..mianhae, aku ada kuliah pagi hari ini, jika kau masih ingin disini, tidak masalah, lagian kau sudah sangat hapal dengan kamarku ini…” 

Myungsoo menarik SungJong untuk pergi. Mata SungJong dan juga Minki bertabrakan, jelas sekali Minki sangat kesal, namun SungJong hanya menatapnya datar. Sungguh SungJong hanya mengikuti apa yang terjadi, tanpa bisa ia menolak. 

*

*

Tidak ada percakapan selama perjalanan menuju kampus. SungJong terdiam dan terus tenggelam dalam pikirannya. Myungsoo sesekali melirik wajah manis itu, ingin sekali mengajaknya berbicara namun Myungsoo takut mengganggunya. Entahlah, hanya dengan  meliriknya sekilas telah membuatnya merasa senang. 

Mata kuliah pertama akan dimulai beberapa saat lagi, dan sepertinya banyak yang membolos hari ini karena mata kuliah yang membosankan. Namun bagi Myungsoo membolos dengan alasan membosankan itu sangat tidak masuk akal. Setidaknya dia bisa menghabiskan waktunya mencari bahan referensi untuk tugas akhirnya. 

“Woaa, tumben sekali kalian datang bersama? Sudah mempunyai hubungan yang baik?” goda Sunggyu begitu melihat dua temannya itu masuk ke kelas bersamaan. Myungsoo dan SungJong berpandangan sekejab. Namun SungJong segera duduk tanpa berniat untuk membalas ucapan itu.

“Semalam kau tidak menjawab panggilanku, padahal aku ingin bertanya tentang referensimu…” 

Myungsoo segera menatap namja bermata sipit itu. “Oh benarkah? Aku…hmm sibuk akan sesuatu, mianhae hyung…” ucapnya kemudian. 

“Sibuk?” Sunggyu menatapnya penuh selidik. “Apa yang kau kerjakan dengan SungJong semalam hingga kau tidak memeriksa ponselmu?”

“Aku hanya mengobrol sebentar dan…hey!!! hyung, kau bicara apa??” Myungsoo tercekat dengan wajah yang memerah, sementara Sunggyu tertawa pelan. 

“Kenapa Woohyun belum datang?” tanya Myungsoo mengalihkan topik. 

“Kau pikir Woohyun akan masuk ke kelas hari ini?” 

“Kenapa?” 

“Key datang, dan kurasa mereka akan menghabiskan waktu bersama lagi, dia bahkan sudah menyerahkan tugasnya tadi padaku…” 

Myungsoo menengok SungJong, dia tahu namja itu pasti mendengar apayang baru saja dia bicarakan dengan Sunggyu meskipun dia berpura-pura sibuk dengan ponselnya. 

“SungJong-ah, kau masih murung terus, tidak berencana untuk berdebat seperti biasanya?” tanya Sunggyu yang sebenarnya sudah tidak tahan melihat SungJong yang biasanya banyak bicara jadi pendiam seperti itu. 

“Ahh aku hanya sedang bingung memikirkan tugas akhir saja hyung…” ucap SungJong tersenyum meskipun jawabannya itu sepenuhnya bohong. 

“Benar seperti itu…?” 

SungJong mengangguk. “Tentu saja, aku pergi keluar sebentar…” lanjutnya lagi sembari berdiri dan melangkah. Myungsoo segera menahan tangannya, dan mau tidak mau SungJong menengok dan tatapan mereka beradu.

“Mau kemana? Perlu kutemani?” tanyanya. 

“Tidak, tidak perlu, aku akan segera kembali…” jawabnya lalu melepaskan tangan Myungsoo dan bergegas pergi. Sikap SungJong yang sudah lunak padanya itu membuat Myungsoo merasa sangat senang. Setidaknya SungJong tidak mencoba untuk menghindari dirinya lagi. 

Mata sipit Sunggyu menatap lekat Myungsoo dengan penuh selidik. Ada sesuatu yang tidak beres yang namja itu rasakan terhadap dua temannya itu. 

“Tatapan matamu pada SungJong sangat berbeda, apakah ada sesuatu yang terjadi diantara kalian?” selidiknya. Myungsoo tersenyum. “Tidak ada apapun hyung, kau ini kenapa? Aku selalu baik pada SungJong, tidak ada yang aneh..” 

“Wooaa,,alasanmu benar juga, kau memang selalu baik pada anak itu, tapi…dia sejak kapan bersikap baik padamu? Apa yang terjadi? SungJong sangat murung beberapa waktu ini, dan kau selalu berusaha untuk berbicara dengannya, ada apa? Sepertinya kau sangat merasa bersalah…” 

“………..” Myungsoo terdiam. 

“Kalian semua temanku, jangan coba-coba berbohong padaku, apa yang terjadi? Dan SungJong yang mulai menjauhi Woohyun itu…aku sedikit tidak mengerti…” 

Myungsoo menarik nafas panjang, Itu benar juga, tidak ada alasan untuk menyembunyikan semuanya dari Sunggyu, namja itu sangat perhatian dan peduli, dia pasti juga akan mengerti apa yang ia rasakan saat ini. 

“Well hyung…aku telah melakukan kesalahan pada SungJongie…” 

“Kesalahan…?” 

“Aku…malam itu…aku menidurinya…” 

Jika saat ini Sunggyu sedang makan mungkin ia akan langsung tersedak. Mata sipit namja itu seketika membulat lebar sekali. “M-MWO?? Kau bilang apa tadi…? Bagaimana…? Bagaimana kau melakukannya…?” suara namja itu benar-benar terdengar kaget. 

“Awalnya dia hanya ingin membantuku…dan mulai mencium tubuhku, tapi aku tidak bisa mengendalikan diri, kami melakukannya..berkali-kali, dengan berbagai macam pose dan…” 

“Myungsoo-ya stop!!” Sunggyu menggelengkan kepalanya beberapa kali dan mengangkat tangannya. “Entah kau terlalu semangat bercerita atau apa, tapi aku tidak mau tahu bagaimana kalian melakukannya…namun yang kutanyakan adalah…kenapa? kenapa bisa?? Kalian…kalian tidak sedekat itu untuk…untuk ahh bahkan aku tidak bisa membayangkannya…” 

Myungsoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tentu saja dia dapat mengerti betapa terkejutnya Sunggyu dengan semua itu. “Kami sama-sama sedang banyak pikiran hyung, kami di bar, minum terlalu banyak dan mabuk, tapi sebenarnya SungJong yang lebih mabuk, aku…tidak bisa mabuk dengan cepat….” 

“Mwoo??? Kau…kau..itu berarti kau…memanfaatkan kesempatan saat SungJongie sedang mabuk???” 

“hyung jebal…aku sangat menyesal melakukan itu, aku..tidak bisa menahannya, SungJongie..malam itu aku ingat dia mengizinkanku untuk berbuat lebih, tapi keesokan hari nya dia sangat marah…” 

“Dasar bodoh!” Sunggyu menjitak kepala Myungsoo. “Tentu saja dia marah, SungJong sedang mabuk, dia akan berkata apapun, kau seharusnya bisa menahan dirimu, astaga Kim Myungsoo bagaimana bisa kau…meniduri SungJong, pantas SungJong sangat murung dan tersiksa…”

“Kalian bicara apa tadi??” 

Suara berat yang juga terdengar emosi itu menghentikan percakapan dua namja ber-marga Kim itu. Woohyun yang entah sejak kapan sudah berdiri disana dan menatap Myungsoo marah. Entah kenapa Myungsoo tidak peduli dengan hal itu dan membuang muka. 

Woohyun berjalan cepat kemudian menarik kerah Myungsoo dan memaksanya untuk berdiri. “KAU BILANG APA TADI???” bentaknya. “Kau…apa yang kau lakukan pada SungJongie…?” 

“Well, kau sudah mendengarnya tadi, aku sudah menyentuhnya, aku menidurinya, dan…” 

“KAU BRENGSEK!!!” satu pukulan mendarat tepat di wajah Myungsoo. 

“Ya!!!! Woohyun-ah…!” Sunggyu benar-benar terkejut melihat hal itu dan segera menghampiri Myungsoo. 

Emosi Woohyun tidak main-main, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, jika Sunggyu tidak mencegah dan menghalanginya mungkin namja itu sudah kembali menyerang Myungsoo. 

“Kenapa kau marah hah? Aku tidak menyentuh Key kekasihmu…” balas Myungsoo dengan berani, entah kenapa dia bisa seberani ini dengan Woohyun. Biasanya Myungsoo selalu menghormati Woohyun seperti dirinya menghormati Sunggyu. 

“Lee  SungJong itu milikku!! Kau berani menyentuhnya!! Aku tidak akan mengampunimu! Aku..akan menghajarmu!! Yaa!! Kau brengsek!!” 

“Nam Woohyun!!!” Sunggyu benar-benar berusaha dengan keras. 

Myungsoo mendekat, dirinya benar-benar merasa tidak habis pikir dengan namja itu, bagaimana bisa mengklaim seseorang menjadi miliknya sedangkan dirinya sendiri sudah memiliki kekasih. 

“Aku melakukannya karena aku sedikit terpengaruh dengan alkohol!!” bentak Myungsoo. “Sedangkan kau, kau sudah menyakiti hatinya dengan melakukan hal itu padanya padahal kau sudah memiliki kekasih, kau hanya memanfaatkannya saja!! Sekarang siapa yang brengsek? Aku atau kau???”

“Kau bilang apa???” Woohyun kembali tersulut, tidak ada yang tahu tentang apa yang terjadi antara dirinya dan SungJong selain mereka berdua sendiri. “Itu bukan urusanmu!! SungJongie milikku! Aku berhak melakukan apapun padanya, dan dia tidak pernah keberatan!!!” 

“Dasar bodoh!!!!” Myungsoo benar-benar marah sekarang. “Sekarang aku semakin ingin mengeluarkan SungJong dari jeratmu itu, kau lihat saja!! Orang egois seperti mu aku tidak takut, Lee SungJong…kau sudah menyakitinya, kau tidak mengerti perasaannya!!” 

Woohyun tersenyum sinis. “Aku? Aku sangat mengerti Lee SungJong, tidak ada yang mengertinya sebaik aku, kau…!! Kau kurang ajar sekali sudah menyakitinya!!!!” 

“Kau mengerti?? Lalu kau juga pasti tahu kalau SungJong itu menyukaimu!!”

Raut wajah Woohyun berubah. “Apa?” kini giliran Myungsoo yang tersenyum masam. “Kau bahkan tidak tahu jika semua perlakuanmu padanya itu membuat SungJong jatuh cinta padamu!! Dia berharap padamu, tapi kenapa kau menyakiti hatinya dengan membawa kekasih lain???” 

“Kau jangan mengarang cerita!! Lee SungJong tidak  mungkin memiliki perasaan itu terhadapku!!” 

Kali ini bukan hanya Myungsoo namun Sunggyu yang semula menahannya kini melepaskan Woohyun dan menatapnya dengan heran. “Dengan tatapan SungJong yang ditujukan padamu dan juga tingkahnya itu apakah kau tidak menyadarinya Woohyun-ah? Aku sudah curiga sejak awal jika SungJong menyukaimu dan kupikir kau juga menyukainya…..” ucap Sunggyu yang tanpa ia sadari membantu Myungsoo berdebat dengan Woohyun. 

“Lihat! Bahkan kami semua tahu, tapi kau yang setiap hari bersama dengannya tidak tahu sama sekali, kau tidak peka dan kau itu kurang ajar! Memanfaatkan temanmu sendiri seperti itu!” 

“Kalian berdua benar-benar gila!!!” 

Woohyun mendang kursi di hadapannya kemudian berbalik pergi. Myungsoo benar-benar gusar dengan kejadian tersebut, jelas sekali Woohyun kaget dengan apa yang didengar darinya dan Sunggyu, bisa-bisanya ia tidak sadar jika SungJong jatuh cinta padanya. 

 “Nam Woohyun itu terkadang dia….tidak peka….” celetuk Sunggyu tiba-tiba. Dia kemudian kembali duduk dan menatap Myungsoo. “Dan sekarang aku juga dapat melihat…temanku yang satunya juga menyukai teman kecilku itu…”

Myungsoo terperangah dan segera menengok. Senyum Sunggyu yang ditujukan padanya itu seolah sudah menjawab semuanya, ya tentu saja Sunggyu sangat pengertian, dan Myungsoo beruntung bisa berbagi masalah dengan namja itu. 
*

*

*

Sebenarnya SungJong tadi berniat untuk tidur saja di ruang kesehatan, dia sangat malas masuk kelas, apalagi jika nanti bertemu dengan Woohyun. Namun niat itu ia urungkan ketika tiba-tiba dia teringat seseorang di kelasnya sana. SungJong tidak tahu apa yang saat ini rasakan namun dia sangat ingin melihat dan berada di dekatnya. Dia merasa aman. 

“SungJong-ah…” 

Suara itu, SungJong sudah sangat hafal dengan panggilan seperti itu. Kepalanya mendongak dan melihat seseorang yang berdiri di hadapannya. Benar sekali, Nam Woohyun, SungJong tidak ingin tahu jenis tatapan apa yang saat ini Woohyun berikan padanya. SungJong tersadar saat Woohyun menarik pergelangan tangannya dan menyuruhnya untuk mengikuti langkahnya. 

SungJong tidak bertanya dan hanya menuruti maunya, dan semakin jauh dia tahu, Woohyun menariknya ke arah UKS, dia mengusir semua mahasiswa yang ada disana dan tidak perlu berkata dua kali semuanya segera pergi. 

Masih belum berucap, SungJong menatap Woohyun yang saat ini juga menatapnya dengan lekat, dia sangat hafal, tatapan itu adalah tatapan dimana Woohyun sedang serius dan semua ucapannya nanti tidak boleh untuk dibantah. 

Beberapa detik kemudian Woohyun mendekat kemudian menarik pinggang SungJong untuk lebih dekat padanya. “SungJong-ah…” panggilnya. SungJong hanya mengguman pelan dan menanti apa yang akan dikatakan oleh Woohyun selanjutnya. 

Namun…Woohyun tidak segera berucap, dia sedikit mendorong tubuh SungJong bersandar pada dinding kemudian menyatukan bibir mereka. SungJong terdiam tidak menolak dan juga tidak membalas, ini aneh, biasanya dia akan merasa senang sekali setiap Woohyun menciumnya, tetapi kali ini SungJong merasa hambar, jantungnya tidak berdebar seperti apa yang ia rasakan ketika bersama dengan Myungsoo beberapa waktu ini. 

Woohyun mungkin merasaa jika SungJong begitu dingin, namja itu terasa mulai menggerakkan bibirnya dan mencoba menuntut ciuman yang dalam. Untuk beberapa saat SungJong masih diam, namun…ketika Woohyun melumat bibirnya lebih dalam lagi, dia dengan perlaham mendorong dada Woohyun dan melepaskan tautan mereka. 

Tatapan mereka kembali beradu, Woohyun kemudian mengangkat tangannya dan mengelus kepala SungJong lembut. “Kenapa kau tidak mengatakannya?” ucapnya kemudian. SungJong sedikit melebarkan matanya tak mengerti, sebenarnya apa yang sedang di katakan oleh namja ini?

“Jika kau mengatakan sejak awal, tentu aku tidak akan membuatmu seperti sekarang ini, kau pasti menderita sekali…” 

Okey!! SungJong benar-benar tidak mengerti maksud dari namja yang selalu memperlakukannya dengan lembut itu. “hyung aku..aku tidak mengerti…” 

“Kau mencintaiku…itu benar kan? Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku…?” 

Bola mata SungJong membulat seolah ingin keluar mendengar hal itu. Katakan Woohyun memang mengetahui bahwa ia menyukainya, namun ucapan Woohyun tersebut sedikit menyinggung perasaannya, bukankah seharusnya Woohyun yang peka? Dia mempunyai perasaan itu karena sikap Woohyun sendiri. 

“SungJong-ah…semua itu benarkan?” 

SungJong memberanikan diri untuk menatap Woohyun. “Kenapa kau baru menanyakannya sekarang hyung? Semua perlakuanmu padaku…bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padamu??” ucapnya. “Kupikir kau juga mencintaiku karena kau berani selalu menciumku dan bahkan…hari itu kau…kau menyentuhku…”

Woohyun tertegun dan mata yang selalu menatap penuh kelembutan itu kini kembali menatap sang namja manis di hadapannya. Woohyun kemudian menggerakkan tangannya kembali dan mengelus pipi SungJong. Semua perlakuannya itu tidak bisa untuk dimengerti, tatapan Woohyun terkadang menjerumuskan dan tidak berkata yang sebenarnya. 

Namja itu kemudian melingkarkan tangannya di pinggang SungJong dan mendekapnya. Pandangan mereka bertatapan lekat dan dalam. 

“Kalau begitu jadilah kekasihku…” 

Ucapan itu sungguh membuat SungJong seperti tersambar petir di siang hari. Harusnya dia merasa senang, harusnya ia bergembira karena ucapan itu adalah ucapan yang sangat ia tunggu selama ini, namun…SungJong merasa tidak ada kebahagiaan pun di hatinya. “Kau bilang apa tadi hyung…?” 

“Jadilah kekasihku, kita sudah sangat dekat selama ini, aku selalu mengagumi betapa manisnya dirimu baby…” Woohyun membelai kepala SungJong. “Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya sehingga aku bebas melakukan apapun padamu, dan tentu saja semua orang tidak akan berani mengganggumu…” 

“Lalu Key hyung? Kau akan memutuskannya untukku?” 

Woohyun tersenyum kemudian mendekap SungJong semakin erat. “Kenapa aku harus memutuskannya? Aku mencintai kalian berdua, dan kalian berdua harus menjadi milikku…” 

“APA??” 

“Kita rahasiakan hubungan kita darinya, Key tidak akan tahu, dan dengan ini kau bebas mengatakan jika aku adalah milikmu dan kau adalah milikku…” 

Ada perasaan lebih dari sekedar perih saat ini di  hati SungJong. Ucapan Woohyun sama berarti dengan menjadikan dirinya sebagai simpanan. Jika Woohyun mencintainya tidak mungkin ucapan itu bisa terucap, Woohyun beanr-benar sudah tidak waras. 

SungJong kemudian melepaskan tangan Woohyun. “Aku ingin sendiri hyung, jangan menghubungiku sampai aku mengizinkanmu untuk bicara denganku…”

“SungJong-ah….” 

“Aku benar-benar ingin sendiri…” tegasnya. 

SungJong melangkah pergi begitu saja, tidak peduli dengan panggilan Woohyun yang memintanya untuk kembali. Woohyun kali ini sudah menegaskan bahwa dia namja yang tidak pantas ia harapkan, Myungsoo mungkin benar, dirinya terlalu bodoh terlalu mempercayai dan menuruti Woohyun selama ini. 
*

*

*
“Kau yakin tidak ingin aku antar?” tawar Myungsoo pada Sunggyu ketika mereka baru saja selesai mengerjakan tugas di caffe favoritnya. Hari ini hanya mereka berdua saja, Woohyun tentu saja memusuhi SungJong sejak kejadian itu, sementara SungJong dia pamit pulang lebih awal karena lelah. Myungsoo memakluminya. 

“Tidak, aku harus bertemu dengan aboeji di kantor…” 

“Baiklah, sampai nanti hyung!” 

“Yuup, segera dapatkan dia sebelum kau keduluan orang lain….” 

“Ahahaha doakan saja aku mampu menaklukkan hatinya!” 

Myungsoo segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju dengan kencang untuk pulang. Dirinya benar-benar lelah, ingin segera tidur di kasur empuknya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan semua tugasnya yang ia inginkan hanyalah tidur saja. 

“Lhoh? Sedang apa kau disini?” 

Demi tugasnya yang mendapatkan nilai buruk dari Jung Seonsaenim, mata berat dan mengantuk Myungsoo tiba-tiba terbuka lebar begitu melihat seseorang yang sedang berdiri di depan pintu apartementnya seolah sedang menunggu kedatangan dirinya. Lee SungJong. Myungsoo segera mempercepat langkahnya dan menghampiri. 

“Bukankah kau bilang kau tadi lelah dan ingin segera pulang, tapi apa yang kau lakukan disini?” tanyanya tidak bisa menyembunyikan rasa herannya. 

“Ngg…” SungJong tampak ragu-ragu. “Aku memang berniat untuk tidur, tapi aku lapar, kupikir aku bisa makan makanan ini bersamamu, tapi saat aku samoai disini aku baru ingat jika kau masih mengerjakan tugas…” 

Myungsoo mengalihkan pandangannya pada bungkusan di tangan SungJong, hanya berselang beberapa detik, rasa lelah Myungsoo tiba-tiba menghilang entah kemana. Tanpa berpikir panjang lagi namja itu segera membuka pintu apartementnya dan mempersilahkan SungJong untuk masuk. Sungguh, ini pertama kalinya Myungsoo merasa sangat senang ketika pulang. Minki memang terkadang sering menunggunya seperti itu,namun kehadiran Minki tidak seperti saat kehadiran SungJong ini. 
Setelah menuang dua gelas minuman, Myungsoo segera kembali ke ruang tengah, dia menyeret kursi dan duduk di samping SungJong. Meskipun ia sudah makan banyak tadi namun demi Lee SungJong tentu ia tidak akan keberatan untuk makan lagi. Kebetulan juga SungJong membawa makanan kesukaannya. 

“Kapan kau akan pulang ke rumah keluargamu? Kupikir sudah sangat lama kau tidak menengok mereka?” Myungsoo berbasa-basi, ia tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. 

“Tidak tahu, aku lebih suka untuk tinggal di Korea, aku cukup merindukan mereka, tapi..China terlalu jauh…” 

Myungsoo mengangguk-angguk, sama seperti dirinya, orang tuanya berada diluar negeri, dan hanya ketika libur panjang saja akan mengunjungi mereka. Kakak tertua SungJong juga sudah pergi dua bulan lalu ke China, dan otomatis namja itu tinggal sendirian. 

“Ngg…tapi….” SungJong menghentikan acara mengunyah kimbab-nya dan menatap Myungsoo. “Apakah aku tidak mengganggu??” 

Alis kanan Myungsoo terangkat. “Mengganggu? Kenapa aku harus terganggu? Aku bahkan senang sekali kau datang kemari…” 

“Tidak, hanya saja berpikir kau memiliki acara dengan…nggg…Minki-ssi, dan karena aku datang aku mengganggunya…” jelas namja itu. 

Senyum Myungsoo terlukis dengan cepat. Hatinya hangat sekali mendengar ucapan itu, bukankah itu berarti SungJong peduli padanya? Ucapannya juga sedikit lebih lunak dan bersahabat, tidak seperti biasanya yang selalu kasar dan memusuhinya. 

“Aku tidak memiliki janji dengan siapapun, dan aku pun sudah tidak memiliki hubungan dengan Minki, kami hanya berteman…” 

“Jangan bohong…”  

“Aku tidak berbohong…” balas Myungsoo. 

“Tapi aku melihatnya…” 

“Melihat apa?” 

SungJong buru-buru menelan kimbab-nya kemudian meneguk air minumnya. Sepertinya tidak ingin melanjutkan apa yang ia bicarakan tadi, tapi Myungsoo menatapnya lekat masih menunggu penjelasan dari SungJong.

“Baiklah…” ucapnya kemudian. “Aku melihat kalian masih sangat mesra dan tidak canggung untuk saling berciuman, kupikir kalian sudah kembali menjadi sepasang kekasih…”

“Hanya itu?” tanya Myungsoo dan disambut anggukan dari SungJong. Myungsoo kembali tersenyum dan mencomot satu kimbab. Rupanya sekarang SungJong yang penasaran dengan menanti jawaban darinya. 

“Kau cemburu?” Myungsoo menggoda sembari mendekatkan wajahnya pada SungJong. Seketika SungJong meronda dan mengalihkan pandangan. Myungsoo tertawa pelan, tumben sekali SungJong tidak langsung menyerangnya ketika ia goda. Myungsoo benar-benar menyukai keadaan ini. 

Mereka diam beberapa detik, hanya suara SungJong yang sedang membuka kimbab yang terdengar. 

“Aku dan Minki sudah tidak memiliki hubungan apapun…” celetuk Myungsoo. “Yahh yang kau lihat itu mungkin benar, tapi aku sudah membatasi semuanya, aku berusaha untuk berteman dengan normal, lebih menghormatinya lagi…” 

“Maksudnya?” SungJong tak mengerti. 

“SungJong-ah, hubunganku dengan Minki itu kurasa tidak normal, tidak ada yang namanya teman tapi selalu melakukan sesuatu seperti kekasih, berciuman, bercinta, aah aku benar-benar menyesal jika mengingat semua itu…” 

Keheningan terjadi, SungJong memainkan jemarinya pada bungkus kimbab seperti tertegun mendengar penjelasan Myungsoo tadi. Tentu saja dia juga sedikit tersindir, hubungannya dengan Woohyun itu juga merupakan sesuatu yang salah, Woohyun sudah memiliki kekasih, namun SungJong masih tidak bisa menolak ketika Woohyun mencium dan mencoba untuk menyentuhnya. Bagaimana perasaan Key ketika tahu? Key itu orang yang baik, tidak seharusnya dia bersikap seperti ini terus. Dia harus bisa tegas pada Woohyun. 

“Sekarang…izinkan aku yang bertanya…” 

SungJong tersadar dan segera menengok. “Yah?” 

“Tentang malam itu…” 

Sepertinya SungJong sudah mengerti arah pembicaraan Myungsoo. Kejadian itu sebenarnya dia tidak ingin membahasnya lagi.”Jika kau ingin menanyakan bagaimana keadaanku, aku sudah baik-baik saja …jangan membahasnya…” 

“Dan…apakah aku boleh jujur padamu?” ucapan itu membuat SungJong segera saja menatap Myungsoo dengan penasaran. Seolah Myungsoo ini tengah menimbang-nimbang, apakah yang akan ia katakannya itu membuat dirinya marah atau tidak. 

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu…” 

“Hmm?” 

“Tentang malam itu ….” 

“Jika kau ingin mengatakan….” 

“Tidak bukan itu…” Myungsoo menyahut dengan cepat. “Tentang malam itu, meskipun semuanya adalah salah, tapi aku merasakan sesuatu yang beda…” 

Hening. 

“Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, ini lebih dari sekedar rasa bersalahku padamu, namun ada perasaan lain yang tidak bisa aku jelaskan, saat melihatmu menangis, hatiku terasa sangat sedih, juga ketika kau sedang berdekatan dengan Woohyun aku merasa marah…” 

Myungsoo terus menatap mata SungJong yang juga tengah menatap dirinya dengan tatapan yang seolah menunggu kata-kata apa lagi yang akan diucapkan olehnya. Wajahnya yang putih dan juga polos terkadang membuat Myungsoo selalu ingin untuk melindunginya. Myungsoo telah terpesona ke dalam mata bulat yang itu. 

“Kau mungkin menganggapku brengsek atau apa, karena malam itu aku memang benar-benar keterlaluan, hanya memikirkan kesenanganku sendiri…” Myungsoo menarik nafas sejenak. “Tapi beberapa hari sebelum itu, aku…mataku ini selalu tertuju padamu, aku bisa merasakan bagaiman rasa kecewamu saat Woohyun mengenalkan kekasihnya pada kita…aku sangat mengerti…” 

“………” 

“Dan…ketika aku melihatmu kembali ceria lagi, hatiku…bahagia…” 

Tidak ada satu patah pun kata yang keluar dari mulut SungJong. Namun pandangannya tetap mengarah pada Myungsoo dengan lekat. Myungsoo bahkan tidak bisa merasakan lagi bagaimanakah saat ini jantungnya sedang berdebar, entah SungJong dapat mendengarnya atau tidak. SungJong memang tidak menyahut apa yang ia katakan, namun namja itu juga tidak terlihat marah seperti pada saat kejadian itu. 

Untuk beberapa detik masih sunyi, namun mata elang Myungsoo tiba-tiba menangkap satu tarikan kecil dan sudut bibir SungJong, dan itu adalah garis senyum kecil. Rasa hangat mulai menjalari hati Myungsoo. Tanpa kata apapun dan hanya isyarat itu sudah mampu membuatnya begitu bahagia.  Dengan mengikuti naluri mereka, dua namja itu saling mendekatkan wajah mereka masing-masing, hingga jarak diantara mereka semakin dekat. Hembusan nafas saling menerpa wajah mereka, sampai…kedua benda lembut itu menempel dengan erat. 

Myungsoo tertegun, ini sangat berbeda, perasaannya begitu bahagia. Bukan, dia tidak membandingkan bibir SungJong dengan bibir Minki, namun mencium SungJong dengan sangat lembut seperti ini terasa sangat berbeda dibandingkan dengan ciuman malam itu yang penuh dengan nafsu. Lembut sekali, Myungsoo dapat mengecapnya dengan lebih dalam. 

Selang beberapa saat, tautan mereka terlepas, namun wajah mereka masih saling berdekatan, menatap satu dengan yang lainnya. SungJong tetap memberikan tatapan teduhnya, tidak ada kemarahan apapun, matanya benar-benar indah, Myungsoo sudah sangat lama berteman dengan anak ini, namun dia baru menyadari betapa manisnya dia. Tanpa bisa ditahan lagi, jemari Myungsoo bergerak kemudian mengelus lembut pipi SungJong, kembali ia rasakan desiran aneh dalam dadanya. 

“Manis sekali…kemana saja aku selama ini….” ucap Myungsoo tulus. Hal ini mendapatkan senyuman kecil dari SungJong. Dan tangan dari namja manis itu pun juga terangkat dan menyentuh wajah Myungsoo. “Dan ini…begitu tampan…” 

Seperti sudah disepakati sebelumnya, dua namja itu sama-sama tersenyum. Perasaan yang mereka rasakan saat ini adalah sama. Bibir mereka kembali bertemu, kali ini hanya untuk beberapa saat saja, Myungsoo menarik tubuh SungJong ke dalam pelukannya dan memeluknya erat. Satu ikatan yang seharusnya memang belum terucap, namun hari ini mungkin semuanya akan berubah. Tidak ada paksaan dari siapapun, semua ini murni dari hati mereka. 
*

*

“Kau sedang bermimpi atau bagaimana? Tumben sekali kau mengizinkanku menyalin tugasmu…” Sunggyu menatap Myungsoo dengan tidak habis pikir. Katakanlah Myungsoo memang selalu baik padanya, namun jika itu urusan dengan tugas kampus Myungsoo selalu perhitungan. 

Menanggapi itu Myungsoo hanya tersenyum saja. 

“Lihat-lihat , kau bahkan hanya tersenyum saja?” selidiknya lagi. “Ada apa? Sesuatu terjadi? Kau tidak ingin bercerita padaku…?” 

“Apa yang harus diceritakan hyung?” 

“Yaa! Kau mulai berbohong padaku…? Kim Myungsoo, kau…” 

Ucapan Sunggyu terhenti karena SungJong masuk ke dalam kelas membawa tas hitamnya, namja itu memberi salam pada Sunggyu dan juga Myungsoo. Myungsoo berseri begitu melihatnya. SungJong memang bersikap seperti biasanya, dan Myungsoo menyukainya, karena itu adalah memang sifatnya. Myungsoo tidak mempermasalahkan itu. Entah lah saat ini hubungannya dengan namja itu seperti apa, hanya hatinya dan hati SungJong yang tahu. 

“Halo manis, kau melewatkan jam pertama mata kuiah Jung Seonsaenim…” ucap Myungsoo sedikit mendekat ke arah SungJong yang memang selalu duduk di kursi sebelahnya. 

SungJong hanya tersenyum dan menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas. “Aku sedang mengunjungi fakultas sains, urusan organisasi…” jawabnya. 

“Rajin sekali…waktuku bertemu denganmu semakin singkat saja…” 

“hmm? Kenapa?” 

“Karena aku selalu merindukan wajah manismu ini…” sahut Myungsoo sembari mengelus pipi SungJong. SungJong mengelak dan segera menunduk karena dia mungkin merasa tidak enak dengan Sunggyu dan yang lainnya. 

“Diamlah..” 

Myungsoo tersenyum. “Manisnya…” 

Semua itu tiba-tiba terhenti ketika sosok Nam Woohyun yang muncul dari balik pintu sana. Wajahnya tidak hangat seperti biasanya. Myungsoo melirik SungJong, tidak bisa dipungkiri, SungJong memperhatikan Woohyun yang baru datang itu. Dia tidak tahu apa maksud pandangan SungJong itu, namun untuk pertama kalinya Myungsoo merasa takut. 

“Woohyun-ah! Kemarilah! Ada yang harus kita selesaikan!” panggil Sunggyu. Woohyun hanya menatap Sunggyu sekilas dan dingin, tanpa menyahut, namja itu meletakkan tas nya di barisan paling depan. Ini aneh, biasanya dia akan bergabung dengan Sunggyu dan yang lainnya. 

Woohyun kemudian terlihat berjalan menghampiri mereka, Myungsoo terus memperhatikan, ini bukan Woohyun seperti yang ia kenal selama ini. Langkah Woohyun berhenti di hadapan SungJong. Merasa saling menatap sejenak. 

“Ingin tetap disini atau ikut denganku?” suara Woohyun begitu berat dan tegas. Myungsoo melirik SungJong, namja itu terlihat bingung juga, namun SungJong segera menatapnya sejenak, kemudian menatap Woohyun. Untuk beberapa saat Myungsoo merasa kalau SungJong ini masih benar-benar menyukai Woohyun, kenapa hatinya sakit sekali. Sial.

“Hyung aku…” 

“Jawab aku!” 

Ketegasan Woohyun membuat SungJong nampak terkejut. Sebelum ia menjawab, Woohyun telah kembali mengatakan terserah dan segera berbalik pergi. Myungsoo hanya berharap namja itu pergi dan membiarkan SungJong sendirian, namun yang terjadi…sungguh diluar dugaan. SungJong berdiri dan mengejar Woohyun, namja itu berusaha untuk mencegah Woohyun pergi namun Woohyun mengabaikannya. 

Myungsoo termenung, ini tidak benar, apa mungkin dia sudah salah mengharapkan sesuatu yang lebih dari SungJong?

**

Dan sampai mata kuliah ketiga baik SungJong maupun Woohyun tidak ada yang kembali ke kelas. Myungsoo seperti telah kehilangan semangatnya, baru beberapa saat yang lalu ia merasa senang, namun dengan begitu cepat ia harus kehilangan semua itu. Sudahlah, lebih baik Myungsoo segera berkemas dan pulang, tidak ada niat baginya untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya. 

“Kau akan pergi?” 

Myungsoo mengangkat kepalanya dan mendapati SungJong tengah berdiri di hadapannya. “Yeah, kau sudah selesai dengan Woohyun? Ahh aku tidak ingin ikut campur, sepertinya semuanya telah selesai…” 

SungJong tidak terdengar menyahut, dia masih mengikuti Myungsoo yang sedang mengemasi bukunya dangan tatapannya. 

“Aku harus pulang, katakan pada Seonsaenim aku sedang ada urusan…” 

Sebelum Myungsoo melangkah untuk pergi, SungJong terlebih dahulu untuk menahan tangannya. Pandangan  mereka beradu untuk beberapa saat. “Aku ingin bicara…sebentar saja…” gumam SungJong. 

“Tapi….” 

“Kumohon…” 

Demi melihat betapa tulus nya pandangan SungJong, Myungsoo tak bisa untuk menolaknya lagi. Dia pun juga penasaran apa yang akan dikatakan oleh namja itu sebenarnya. Myungsoo sudah siap mendengar apabila SungJong akan mengatakan bahwa ia dan Woohyun sudah memutuskan akan bersama. 

Masih saling terdiam di belakang ruang laboratorium, SungJong sepertinya masih memikirkan sesuatu, dan Myungsoo dapat melihat wajah yang gundah itu. 

“Well, apa yang ingin kau katakan?” tanya Myungsoo akhirnya. “Kurasa aku harus memberikan ucapan selamat padamu…” 

SungJong segera menengok. “Selamat? Kenapa?” 

“Kurasa..dan Woohyun, baiklah…kalian berdua saling menyukai, memang lebih baik kalian memang bersama…” sebenarnya sedikit berat Myungsoo mengatakan hal itu, namun ia tidak ingin terus menanggungnya. Mungkin akan lebih baik jika ia mengatakannya saja. 

“Kau bilang apa…?” 

Myungsoo memberanikan diri untuk memandang namja ini, benar juga, jika ia ingat-ingat lagi, SungJong tidak pernah menyebut ataupun memanggil namanya. Kim Myungsoo, Myungsoo hyung, atau pun yang lainnya. 

“Sudahlah..” ucapnya kemudian. “Kau harus berbahagia dengan Woohyun jika itu memang pilihanmu, dan ketika kau bertemu denganku lain kali, panggil namaku, aku pun juga punya nama SungJong-ah…” 

Alis kanan SungJong nampak terangkat, bukan marah, namun dia terlihat tersenyum geli. “Apa yang terjadi denganmu? Kau sedang marah? Marah padaku?” 

“Ahh sudahlah…” Myungsoo juga tidak tahu kenapa dirinya bisa sewot seperti ini. 

SungJong mendekat persis kehadapan Myungsoo dan menatapnya. Uuugh, Manis sekali, Myungsoo bersumpah SungJong sangat manis. Matanya itu benar-benar indah. 

“Aku sudah bicara dengan Woohyun hyung tadi…” 

“Lalu…”

“Dia marah padaku, Woohyun hyung…apapun yang ia inginkan harus ia dapatkan, kemarin ia memintaku untuk menjadi kekasihnya…” 

Myungsoo tidak berharap sesuatu yang bisa membuatnya bahagia. Selama ini hal itu adalah yang selalu ditunggu oleh SungJong. 

“Dan aku menolaknya…” 

Okey, ucapan itu sukses membuat Myungsoo membelalakkan matanya tidak percaya. Itu tidak mungkin, bagaimana bisa SungJong menolaknya? Bukankah namja ini sangat menyukai Woohyun? 

“Kenapa? Kenapa menolaknya?” 

SungJong menggelengkan kepala. “Aku hanya tidak merasakan kebahagiaan apapun ketika Woohyun hyung mengucapkan hal itu padaku…” ucapnya. Rasa hangat tiba-tiba menyelimuti hatinya, Sedikit harapan mulai muncul. Namun tiba-tiba sorot mata SungJong meredup kemudian menunduk. 

“Tapi…kenapa kau terlihat tidak senang? Apakah kau menyesal telah menolaknya?” 

SungJong menggeleng. “Tidak..” 

“Lalu…?” 

“Karena Woohyun hyung marah, dia tidak mau melihat dan bertemu denganku lagi karena aku menolaknya, aku tidak bisa…aku berteman dengannya sudah sangat lama, aku hanya ingin kami berteman dengan baik, tanpa harus bermusuhan seperti ini…” jelasnya yang rupanya Myungsoo mulai mengerti. 

Myungsoo kemudian tersenyum dengan lembut. “Kau baik sekali masih mau berusaha untuk berhubungan baik dengannya, hatimu itu terbuat dari apa hmm?” ucapnya sembari mengacak rambut SungJong. 

“Aku tidak sebaik itu…” tepisnya memajukan bibirnya beberapa senti yang itu imut sekali bagi Myungsoo. “Aku bahkan pernah membuat seseorang dari fakultas teknik patah tulang…” 

“Itu sisi lain mu yang membuatmu cantik SungJong-ah…” 

SungJong merenggut kemudian memukul perut Myungsoo pelan. “Hentika, itu tidak lucu…” 

“ahahha, kau sudah bisa ceria sekarang…” ucap Myungsoo sembari kembali mengacak rambut SungJong. “Sekarang aku boleh menanyakan sesuatu…?” 

“Hmm?” 

“Apa alasanmu menolak Woohyun? Bukankah kau sangat mencintainya?” 

“Aku sudah memberitahu alasannya tadi…” 

“Tidak, aku yakin ada alasan lain…” Myungsoo berkeras.

SungJong mendongak dan menatap Myungsoo, jarak mereka cukup dekat sehingga ia dapat merasakan hembusan nafas Myungsoo. 

“SungJong-ah…” 

“Karena…” 

“Ya?” 

“Karena aku jatuh cinta dengan orang lain..” 

Sejenak terdiam. Myungsoo tiba-tiba dapat melihat sorotan yang sama seperti waktu itu dari mata SungJong. Bukan tatapan yang marah, kesal maupun penuh emosi, namun begitu lembut dan penuh cinta. Sekarang bolehkah Myungsoo kembali berharap? 

“Orang itu sudah mengajariku akan sesuatu, selama aku mengenalnya….” Lanjut SungJong. “Kami tidak pernah berhubungan dengan baik, aku selalu mengabaikan perlakuan baiknya, dan aku kasar, namun…sekarang aku sadar, orang yang aku butuhkan saat ini adalah dirinya…” 

“Lalu…? Siapakah dia Jongie?” 

SungJong tersenyum, senyumnya benar-benar manis. “Orang itu adalah…orang yang telah menyatakan cintanya padaku di apartementnya beberapa hari yang lalu..” tuturnya. 

Suasana hangat dan penuh bahagia tiba-tiba mengelilingi mereka, Myungsoo tersenyum dan SungJong pun juga tersenyum. Myungsoo mengingatnya, Myungsoo sangat ingat ia telah mengucapkan kata cinta pada SungJong ketika namja itu di apartemennya. SungJong tidak mengatakan apapun untuk membalasnya, namun sekarang…Myungsoo benar benar merasa bahagia. Hatinya sudah penuh dengan kebahagiaan hingga dia tidak bisa menahannya lagi, Myungsoo kemudian mengangkat pinggang SungJong kemudian memutar tubuhnya beberapa kali. 

“Yaa!! Lepaskan aku, apa yang kau lakukan? Bagaimana jika ada yang melihat??” tentu saja SungJong sangat terkejut dan segera mengalungkan lehernya pada Myungsoo takut terjatuh. Dirinya sedikit berontak namun Myungsoo enggan untuk melepaskannya. 

“Hmm? Aku tidak akan melepaskanmu, katakan padaku, sejak kapan kau jatuh cinta padaku?” 

Wajah SungJong merona merah. “Aihh, lepaskan aku dulu, yaa!!” 

“Tentu saja tidak tuan muda, jawab dulu pertanyaanku…” goda Myungsoo sembari mengangkat pinggang SungJong lebih tinggi lagi. 

“Jika aku tidak mau??” 

“Ohh, mungkin aku akan menggendongmu seperti ini ke fakultas sebelah dan menciummu disana…” 

“Yaaaa!!!!” 

Myungsoo tertawa pelan. “Kalau begitu jawab pertanyaanku tuan muda…” ucap Myungsoo lagi, namja di pelukannya itu kembali merenggut. 

“Baiklah…ngg…” SungJong masih tampak ragu-ragu. “Setelah melihat usahamu untuk meminta maaf padaku…” 

“Ne…?” 

“Kau tahu kejadian malam itu, aku benar-benar marah, tapi aku benar-benar kagu, dengan usaha mu meminta maaf dariku, padahal jika dipikir itu bukan murni kasalahanmu, kejadian itu tidak akan terjadi jika aku tidak…tidak menggodamu lebih dahulu…” 

Myungsoo mendengarkannya dengan baik. 

“Tapi…kau bahkan menganggap semua itu kesalahanmu, kau sangat baik masih mau peduli dan memperhatikanku…” ucap SungJong dengan sedikit malu-malu. Berbeda sekali dengan sikapnya selama ini. 

“Aku sudah mengatakannya, sekarang turunkan aku…” pinta SungJong lagi, dirinya sudah mulai merasa malu jika ada orang lain yang tiba-tiba melihat mereka disini. 

Namun Myungsoo sepertinya masih enggan untuk melepaskannya. “SungJong-ah, aku benar-benar bahagia…” ucapnya sembari mengecup kening SungJong. “Jika ada yang bertanya tentangmu, katakan jika kau sudah menjadi milikku, mulai sekarang aku akan melindungimu..” 

SungJong tersenyum. “Akan sangat merepotkan menjagaku, kau tidak keberatan?”

“Tentu saja tidak, mulai sekarang, tinggallah di bersamaku, aku ingin selalu dekat denganmu…” ucap Myungsoo lagi. “Aku mencintaimu sayang…” 

“Aku juga…” 

“Juga apa?” 

SungJong tersenyum. “Juga mencintaimu….” Balasnya yang langsung disambut senyuman oleh Myungsoo. Namja itu segera mengecup bibir SungJong lekat, rasanya ini benar-benar bahagia. SungJong, akan ia jaga dengan baik dan tidak akan pernah ia lepaskan. 
*

*

*
“hyung kau jangan cemas aku akan baik-baik saja…” SungJong memasukkan baju terakhirnya ke dalam tas kemudian tersenyum mendengarkan nasehat yang datang dari seberang sana. 

“Bukan Woohyung hyung, dia Kim Myungsoo teman sekelasku juga, percayalah tidak ada apapun hyung…hmmm? Baiklah, sampai jumpa, aku merindukanmu Sungyeol hyung…” 

Sambungan terputus, SungJong segera menyimpan kembali ponselnya, hari ini dia sudah cukup melepas kangen pada hyung nya sedang berada di negara lain. Myungsoo memintanya untuk tinggal bersamanya hari ini, dan SungJong pun tidak keberatan karena memang dia sudah cukup lama tinggal sendirian setelah hyung nya pindah. 

Dan untuk sementara dia akan mengosongkan apartementnya ini. Sebenarnya jarak tempat tinggalnya dan Myungsoo tidak begitu jauh, hanya saja hubungan mereka selama ini yang kurang baik membuat mereka tidak mengunjungi satu dengan yang lain. 

*

Klek…pintu terbuka, Myungsoo telah memberikan hak akses dirinya untuk keluar masuk apartement milik Myungsoo, dan SungJong cukup tersentuh dengan itu. 

“huh?” Sepertinya sedang tamu, ruang tengan Myungsoo terdengar beberapa percakapan. SungJong meletakkan jacketnya di kursi dan menuju ruang tengah. Sepertinya SungJong mengenal suara itu, benar saja, ketika kakinya menuju ruang tengah ia dapat melihat seorang namja yang sedang berbicara dengan Myungsoo. SungJong tiba-tiba menarik dirinya dan bersembunyi di balik dinding. 

Dia tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, namun Myungsoo dan namja itu, Choi Minki terlihat bahagia sekali. SungJong cemberut, kenapa Myungsoo masih berhubungan dengannya? Itu menyebalkan sekali, mereka berdua selalu terlihat serasi. 

“Ouh…SungJongie, kau disana?” tegur Minki membuat SungJong tersadar. 

Minki berdiri kemudian berjalan mendekatinya. “Baiklah jika begitu aku pergi Myungsoo hyung, selamat bersenang-senang…” ucapnya. “Sampai jumpa SungJongie..bilang saja padaku jika Myungsoo hyung menyakitimu…” Minki menepuk bahu SungJong kemudian segera pergi dari sana. 

Myungsoo tersenyum menatap SungJong yang berdiri disana. “Kau sudah datang? kemarilah..” pinta Myungsoo, namun SungJong belum bergerak dan hanya berdiri disana. Myungsoo berjalan mendekat. “Kenapa? Hmm? Kenapa cemberut seperti itu?” tanyanya. 

“Aku tidak apa-apa…” 

“SungJong-ah…” Myungsoo meraih tangan SungJong dan menariknya. “Kau kenapa hmm??” 

SungJong menggeleng, sedikit merajuk mungkin akan menyenangkan. “Apa yang kau lakukan dengan Minki? Kupikir kau sudah tidak memiliki hubungan lagi dengannya…” renggutnya. 

“Minki?” Myungsoo mendadak tersenyum kemudian menatap SungJong lekat. “Cemburu?” 

“Mwoo? Tidak!! Untuk apa aku cemburu?? Itu tidak penting!!” ucap SungJong sembari melepaskan tangan Myungsoo dan segera mengambil tasnya untuk ia rapikan. 

Myungsoo terkikik geli, SungJong mempunyai sisi yang seperti ini membuatnya sedikit merasa terhibur, ia tidak percaya bahwa namja ini adalah kekasihnya sekarang. “SungJong-ah, kau marah?” 

“Tidak!!” jawabnya cuek. 

“Lihatlah, kau sedang merajuk sekarang, hey…bicaralah…” 

SungJong tidak menghiraukannya, dirinya sibuk dengan tas baju-bajunya. Hal ini membuat Myungsoo semakin gemas saja. Sikapnya yang seperti itu membuatnya jatuh cinta. 

Myungsoo kemudian menarik pinggang SungJong, kemudian dengan tanpa menunggu kesiapan SungJong, Myungsoo sedikit mendorong tubuh itu hingga terjerembab ke sofa putih di sampingnya. 

“Awwh…Yaa!!” 

Dengan hitungan detik saja Myungsoo sudah mengunci tubuh SungJong disana. Mata mereka saling menatap dan selalu terpesona satu dengan yang lainnya. Myungsoo tak hentinya menatap namja di bawahnya ini, tangan nya tergerak dan membelai wajah manis itu. “Minki dan aku benar-benar sudah tidak memiliki hubungan apapun…” katanya. “Dia datang karena ingin memberikan ucapan selamat padaku, tidak lebih…” 

Kedipan mata SungJong yang memperhatikan dirinya membuat Myungsoo benar-benar tidak bisa menahannya. Myungsoo kemudian menurunkan wajahnya dan mengecup kening SungJong, pipi, dan terakhir bibirnya. 

“Mulai sekarang, aku hanya akan mencintaimu saja SungJong-ah, tidak ada yang lain…” janji Myungsoo sembari mengelus kepala SungJong. 

“Apakah kau serius?” 

“Aku tidak pernah bermain-main…” 

“Jika berbohong…aku akan membuat ini menjadi tidak tampan lagi…” ucap SungJong sembari menyentuh wajah Myungsoo. 

“hmm…jadi menurutmu sekarang aku tampan…?” 

Rona merah mulai menghiasi pipi SungJong, satu hal yang Myungsoo paham, SungJong gampang sekali tersipu. 

“Diamlah, kau tidak perlu menegasnya itu lagi hyung…” 

Myungsoo terbelalak. “Kau memanggilku apa tadi?” 

“hyung, Myungsoo hyung, apa itu salah?” SungJong balik bertanya. Dan itu membuat Myungsoo senang sekali. 

“Ini pertama kali nya memanggil namaku dengan lembut….” 

SungJong mencibir. “Aku tidak pernah memanggilmu dengan kasar…” 

“Oh ya? Lalu Yaa Kim Myungsoo! Myungsoo-yaa!! Kim Myungsoo sialan, itu semua bukan kasar hmm??” 

“Oh baiklah, aku minta maaf, aku sudah mengatakan padamu, aku bukan orang yang baik, maafkan aku…” 

Myungsoo tersenyum dan kembali mengelus wajah manis itu. Lee SungJong benar-benar menjadi miliknya, dia tidak pernah sekalipun membayangkan hal ini sebelumnya, SungJong yang selalu bermusuhan dengannya, SungJong yang selalu diklaim sebagai milik Nam Woohyun. Cinta mereka telah menyatukan sesuatu yang sebelumnya tidak bisa untuk disatukan. 

“Sekali lagi, aku mencintaimu….” Bisik Myungsoo kemudian menarik SungJong ke dalam pelukannya dan memeluknya. 

“Aku juga mencintaimu, Myungsoo hyung….” 

-END-
Maaf kurang manis atau apaaa, kurang feel seriusan u,u masih agak memikirkan Hoya jadinya ga bisa konsen~~~